Serang, Propertyandthecity.com — Bagi masyarakat yang bekerja di kawasan industri, memiliki rumah dengan harga terjangkau juga berkaitan dengan kemudahan menjangkau tempat kerja. Kedekatan dengan pusat aktivitas ekonomi menjadi bagian penting dari kebutuhan hunian, terutama bagi pekerja yang membutuhkan tempat tinggal dengan harga sesuai kemampuan.
Kebutuhan tersebut kemudian dijawab melalui pengembangan Hunian Warisan Bangsa (HWB) Purwakarta. Indonesia Property Watch (IPW) melalui Indonesia Property Record memberikan pengakuan kepada HWB Purwakarta sebagai Rumah Komersial (Non-Subsidi) 2 Lantai dengan Harga Paling Terjangkau se-Indonesia. Dikembangkan LippoLand, HWB Purwakarta menawarkan rumah mulai Rp98 juta di kawasan yang berkembang sebagai salah satu pusat industri dan logistik di Jawa Barat.
Penghargaan prestisius tersebut diserahkan CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda kepada Partner HWB Purwakarta Iwang Prejady di HWB Serang, Banten, Selasa (22/9). Penyerahan turut disaksikan Chief Operating Officer HWB Purwakarta & Serang, I Putu Adi Sastrawan, Chief Executive Officer LippoLand, David Iman Santosa, dan Chief Marketing Officer LippoLand, Jopy Rusli, pada Selasa (22/9) di kawasan HWB Serang, Banten.
Menurut Ali Tranghanda, penyediaan rumah tidak cukup hanya dilihat dari jumlah unit yang dibangun. Akses masyarakat terhadap hunian serta lokasi yang mendukung aktivitas sehari-hari juga perlu diperhatikan.
“Persoalan perumahan bukan hanya mengenai berapa banyak rumah yang dibangun, tetapi bagaimana rumah tersebut dapat dijangkau oleh masyarakat yang membutuhkan dan berada di lokasi yang mendukung kehidupan mereka. Model seperti HWB menunjukkan bahwa hunian komersial yang terjangkau dapat dikembangkan dengan pendekatan yang terukur dan tetap memperhatikan kualitas lingkungan serta kebutuhan masyarakat,” ujar Ali Tranghanda.
Pengakuan tersebut sekaligus memperkuat posisi HWB Purwakarta sebagai salah satu proyek hunian komersial yang menyasar masyarakat dengan kemampuan beli terbatas, tanpa menggunakan skema subsidi pemerintah. Konsepnya tidak hanya menawarkan harga rumah yang lebih rendah, tetapi juga menghadirkan kawasan yang terhubung dengan aktivitas ekonomi di sekitarnya.
Bagi LippoLand, pengalaman mengembangkan HWB Purwakarta menunjukkan bahwa memperluas akses kepemilikan rumah tidak sekadar menambah jumlah unit. Rumah juga perlu sesuai dengan kemampuan masyarakat, berada di lokasi yang relevan dengan aktivitas mereka, serta didukung lingkungan yang dapat menunjang kehidupan keluarga dalam jangka panjang.
HWB Purwakarta dikembangkan PT Hunian Warisan Bangsa bersama LippoLand dan didukung melalui Program Kemitraan UMKM LippoLand. Proyek ini diperkenalkan pada akhir 2025 dan mulai dipasarkan pada awal 2026.
Pada tahap pertama yang dipasarkan Februari 2026, HWB Purwakarta mencatat penjualan lebih dari 1.000 unit. Hingga saat ini, total penjualan telah mencapai lebih dari 2.000 unit.
Purwakarta dipilih sebagai salah satu lokasi pengembangan karena wilayah ini berkembang sebagai koridor industri dan logistik di Jawa Barat. Sejumlah kawasan industri dan pusat aktivitas ekonomi membuat kebutuhan hunian bagi pekerja juga terus tumbuh.

CEO LippoLand David Iman Santosa mengatakan, pengakuan dari IPW menjadi apresiasi terhadap upaya menghadirkan hunian terjangkau dengan tetap memperhatikan kelayakan dan kualitas lingkungan.
“Penghargaan ini menjadi pengakuan penting terhadap upaya menghadirkan hunian yang terjangkau tanpa mengabaikan kelayakan dan kualitas lingkungan. Pengalaman HWB Purwakarta juga memberikan pembelajaran bahwa penyediaan hunian perlu dikembangkan bersama ekosistem kawasan dan kebutuhan masyarakat. Apa yang kami bangun bukan hanya rumah, tetapi lingkungan tempat keluarga dapat membangun kehidupan dan masa depan mereka. HWB Purwakarta dibangun untuk manusia, diilhami oleh komunitas, dan dibentuk untuk masa depan,” ujar David Iman Santosa.
Menurut David, kebutuhan perumahan di Indonesia memiliki skala yang besar sehingga tidak dapat dijawab oleh satu perusahaan saja. LippoLand ingin mengambil bagian melalui pengembangan hunian yang dapat dijangkau masyarakat.
“Kami tidak melihat diri kami sebagai satu-satunya jawaban atas kebutuhan perumahan Indonesia. Kami ingin menjadi bagian dari jawabannya. Bagi kami, keberhasilan bukan hanya ketika sebuah rumah terjual, tetapi ketika sebuah keluarga dapat memiliki tempat yang memberi rasa aman, mendukung kehidupan mereka, dan menjadi awal bagi masa depan yang lebih baik,” tambahnya.
Dalam pengembangan jangka panjang, HWB Purwakarta dirancang menjadi kawasan tempat tinggal bagi lebih dari 30.000 orang. Sejumlah fasilitas telah tersedia untuk mendukung aktivitas warga, mulai dari Masjid Tajug Istimewa Nusantara, Toko MAMA, FmX convenience store, Bank Nobu, fasilitas komunitas, hingga sentra kuliner dan UMKM.
Dari sisi hunian, HWB Purwakarta menawarkan beberapa pilihan rumah dengan satu, dua, dan tiga kamar tidur. Harga rumah dimulai dari Rp98 juta dengan tata ruang yang dirancang fungsional, dilengkapi pencahayaan dan ventilasi alami serta area parkir.
Skema pembayaran juga diarahkan agar tetap dapat dijangkau masyarakat dengan kemampuan finansial terbatas. Angsuran rumah ditawarkan sekitar Rp600.000 per bulan dengan skema cicilan flat selama 40 bulan.
Setelah Purwakarta, konsep serupa dikembangkan di Banten melalui HWB Serang yang diperkenalkan pada Juli 2026. Hunian tersebut ditawarkan mulai Rp101 juta dan dirancang untuk berkembang menjadi kawasan dengan kapasitas lebih dari 30.000 penduduk dalam jangka panjang.
Pengembangan HWB Serang membawa konsep hunian terjangkau yang telah diterapkan di Purwakarta ke kawasan dengan karakter ekonomi dan industri yang berbeda. Dengan demikian, LippoLand memperluas pengembangan hunian komersial non-subsidi ke wilayah yang memiliki kebutuhan tempat tinggal bagi masyarakat pekerja.
Sebagai informasi, Indonesia Property Watch (IPW) merupakan lembaga riset dan konsultasi properti yang menyediakan kajian, data, serta analisis mengenai perkembangan industri properti di Indonesia. IPW juga memantau dinamika pasar dan berbagai proyek properti sebagai bahan informasi bagi pelaku industri maupun masyarakat.
Sementara itu, Indonesia Property Record merupakan bentuk pengakuan dari Indonesia Property Watch atas pencapaian tertentu di sektor properti. Pengakuan tersebut diberikan berdasarkan hasil penilaian dan pencatatan terhadap karakteristik atau capaian khusus yang dimiliki suatu proyek, produk, maupun pengembangan properti.
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
Tentya Richyadie
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin
-
admin





















