Beranda Property Issue DEVELOPER BERLOMBA PACU PROYEK HIJAU

DEVELOPER BERLOMBA PACU PROYEK HIJAU

Masih banyak pihak yang melihat konsep green secara tidak utuh, langsung dikaitkan dengan keuntungan sesaat, makanya perkembangannya lambat. Sementara dorongan dari pemerintah juga sangat minimal. Tapi, tetap harus terus dikampanyekan karena dampak (penerapan konsep itu) yang sangat luas dan jangka panjang

12
0

Kejar Sertifikat Hijau

Seperti halnya properti lain yang dikembangkan seksama menganut konsep hijau sebagai wujud tanggap lingkungan, Paramount Land juga terus menerus menjadikan kota mandiri Paramount Petals (400 hektar) di Curug, Bitung, Kabupaten Tangerang, Banten, sebagai kawasan hunian yang semakin nyaman dihuni dengan mengusung konsep healthy living.

baca juga, SULTAN GROUND DI YOGYAKARTA MASIH BELUM CLEAR?

Untuk mewujudkannya, developer sudah mengaplikasikan green concept seperti menyediakan jalan cukup lebar yang nyaman untuk pejalan kaki dan jalur sepeda. Kemudian menanam pohon peneduh trambesi sehingga udara menjadi lebih sehat. Penerapan pembangunan rumah berbasis green building juga terus didorong bukan hanya pada rumah tapak, tetapi juga lingkungan hijau seperti memanfaatkan aliran
sungai di Petals Barat.

Terkait hal itu, Presiden Direktur Paramount Land, M. Nawawi, mengatakan tahun ini pihaknya akan memperluas jangkauan kampanye ‘hijau’ ke seluruh unit bisnis, dengan komitmen dapat berlanjut setiap tahun demi perluasan implementasi Environmental, Social & Governance (ESG), melalui edukasi dengan konsep-konsep produk yang menarik. Fokus Paramount Group terhadap isu ESG juga sejalan dengan inisiatif dunia dalam meningkatkan kepedulian dan partisipasi manusia dalam gerakan sustainability demi masa depan bumi yang tetap layak dihuni.

“Semua dunia sudah mengarah ke sana. Tidak ada pilihan selain berpikir tentang produk berkelanjutan. Pelaku konstruksi, pengembang, perbankan, finansial, otomotif bahkan pendidikan sudah mengarah ke sana. Bahkan dunia sudah menganggarkan akan ada insentif untuk perusahaan yang konsen ke ESG,” jelas Nawawi. Prinsip berkelanjutan tidak hanya untuk Paramount Petals, namun juga menjadi standarisasi bagi seluruh unit bisnis grup. Tahun-tahun ke depan Paramount Land akan mengarah ke pencapaian sertifikat hijau untuk semua lini bisnisnya.

“Kami menerima tugas standarisasi dalam rangka bagaimana supaya grup ini bisa dimonetisasi untuk jangka panjang, salah satunya dimulai dengan sustainability. Lebih dari sisi master plan residensial karena kita sudah pernah mendapatkan penghargaan sebagai salah satu The Best Master Plan dengan pertimbangan sustainability. Tapi, semua grup mengarah ke sana, termasuk bisnis hotel dan pendidikan,” ungkapnya.

Sementara itu, CEO PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) John Riady juga menegaskan, pihaknya telah berinisiatif menerapkan prinsip ESG dalam operasional bisnisnya. Salah satu kontribusi utama LPKR terhadap langkah pembangunan keberlanjutan dan ESG, adalah melalui pembangunan township dengan tata kelola lingkungan yang baik bagi planet.

“Dalam setiap proyek, LPKR menerapkan 3 hal utama, antara lain Operational Excellence, yaitu bangunan rumah berkualitas dan serah terima tepat waktu,” jelasnya. John yang ditunjuk sebagai World Economic Forum Young Global Leaders memastikan bahwa Lippo Group menjadi salah satu perusahaan pertama dari Asia Tenggara yang menandatangani World Economic Forum (WEF) inisiatif Stakeholder Capitalism Metrics (SCM) bersama dengan lebih dari 100 perusahaan internasional kelas dunia lainnya.

Masterplan area residensial LPKR disusun untuk memudahkan penghuni dalam menjalankan aktivitasnya secara efektif, efisien dan hemat energi, terlebih dengan akses dan fasilitas perkotaan yang mudah dijangkau seperti area bisnis, sekolah, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan.

Detail proyek residensial yang di bangun, bekerjasama dengan arsitek kelas dunia seperti Alex Bayu dan Karl Princic, juga diperhatikan, demi menciptakan rumah ramah lingkungan dan dengan harga terjangkau. “Dengan menerapkan teknologi cross ventilation guna menghasilkan ventilasi udara dan cahaya sehingga hemat listrik, serta open space living dari bentuk high ceiling, berjendela besar, dan adanya tropical
garden, LPKR telah menjawab kebutuhan hunian yang fungsional dan ramah lingkungan dengan model rumah simpel dan modern,” pungkas John.

Bukan Tren

Sebagai pemain di industri real estate dan properti yang turut berpartisipasi dalam inisiasi industri hijau, PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) juga akan menyeriusi sertifikasi green building untuk 5 properti yang dimilikinya.

Berdasarkan pemaparan Anthony Susilo, Direktur Utama Indonesian Paradise Property, pada Konferensi Pers Ulang Tahun ke-21 Paradise Indonesia hari ini (30/10), ia berencana mendorong 30 persen dari portofolio unit bisnisnya mendapatkan sertifikat green building.

“Dari 17 business unit, kita mau coba bawa 5 business unit, untuk dua-tiga tahun ke depan, mendapatkan green certification,” ungkap Susilo. Lima bisnis unit tersebut ada di Beach Walk, Bali. “Itu sudah dalam proses,” tambahnya.

Fokus INPP pada aspek-aspek ESG membawa kampanye bernuansa berkelanjutan, yaitu #BuildingTomorrow. INPP memandang ESG lebih dari sebuah tren, melainkan sudah menjadi sebuah tuntutan.

“Banyak kreditur dan investor, baik di publik dan international market bertanya, ‘what is your ESG policies?’ bahkan memberikan diskon bunga jika memiliki green building,” jelas Susilo.

“Saat kami mau menerbitkan financial instrument saja, banyak yang menuntut kami terbitkan green bond,” ungkap Susilo. Untuk menerbitkan green bonds tersebut, tambahnya, memang membutuhkan sertifikat dari GBCI dan IFC-EDGE.

Untuk selanjutnya, INPP memiliki beberapa proyek unggulan yang akan dikerjakan di dua tahun ke depan, termasuk Extension Paskal 23 dan Mall 23 Semarang, serta Hyatt Place dan Antasari Place. “Kami sudah menyiapkan dua potential development lain lagi di Indonesia Timur dan Kalimantan,” tambah Susilo.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini