Sebuah Keniscayaan
Langkah Indonesia menuju ekonomi hijau ini juga diamini oleh Presiden Direktur HSBC Indonesia Francois de Maricourt. Saat dunia bergerak menuju ekonomi hijau dan berkomitmen pada keberlanjutan, Indonesia telah memulai perjalanan menuju netralitas karbon dengan regulasi untuk mencapai emisi karbon netral pada 2060.
baca juga, PEMILU DAN PROPERTI
HSBC Indonesia mendukung kelancaran pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berdampak signifikan membantu negara mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan memitigasi dampak perubahan iklim.
“Obligasi, pinjaman, dan sukuk ramah lingkungan yang berkelanjutan di Indonesia banyak didorong oleh sovereign dan didukung pemerintah hingga saat ini. Kami berharap lebih banyak perusahaan berpartisipasi karena Indonesia berkomitmen dalam melakukan perbaikan terhadap lingkungan dan perusahaan seperti ECO dapat menjadi contoh,” ujarnya.
Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan investasi energi terbarukan hingga tiga kali lipat menjadi USD 8 miliar per tahun pada akhir dekade ini, seperti yang disoroti oleh Badan Energi Internasional. Peluncuran Bursa Karbon Indonesia oleh Presiden Joko Widodo baru-baru ini, diharapkan membuka peluang ekonomi berkelanjutan baru dengan potensi USD 20 miliar. Dalam perjalanan menuju netralitas karbon, sektor bisnis properti Indonesia juga telah mengambil langkah-langkah berkelanjutan. Dari sisi properti, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia
Syarifah Syaukat mengatakan, penerapan ESG dalam produk properti saat ini menjadi pertimbangan investor. Melalui publikasi (Y)OURSpace yang dirilis oleh Knight Frank, 50 persen responden pemangku kepentingan bidang perkantoran menyebut komitmen terhadap ESG akan memberikan pengaruh dalam penetapan strategi dan pengambilan keputusan dalam kurun tiga tahun ke depan.
“Penerapan ESG dalam sektor properti di Indonesia saat ini dapat ditemui pada gedung perkantoran, pusat data, dan residensial. Beberapa kota besar telah mulai menerapkan, seperti DKI Jakarta dan sekitarnya,” ujarnya.
Syarifah menyebutkan, 14 persen stok perkantoran di DKI Jakarta merupakan gedung perkantoran berlabel hijau di wilayah pusat bisnis atau CBD yang seluruhnya merupakan gedung kelas premium dan grade A. Di masa pandemi Covid-19, performa gedung sewa perkantoran berlabel hijau di CBD terbukti cukup stabil dengan rata-rata tingkat okupansi 73 persen.
“Ada tiga isu terbesar yang mempengaruhi pertumbuhan kekayaan atau aset, yaitu kesempatan investasi pasca pandemi sebesar 87%, disrupsi teknologi 47%, dan perbaikan perspektif geopolitik 31%. Sementara agenda ESG berada pada urutan ke-6 sebesar 22% sebagai isu yang dianggap memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan aset,” jelas Syarifah.
Menurutnya, pergeseran perspektif ESG menunjukan indikasi positif dari para Crazy Rich yang semakin memahami manfaat untuk mengelola asetnya sejalan dengan pelestarian lingkungan hidup.
Dari sisi pengembang properti, tren gaya hidup hijau masyarakat urban makin berkembang beberapa tahun terakhir. Pengembang properti pun dituntut menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan, antara lain melalui hunian dan bangunan ramah lingkungan.
Keberlanjutan atau sustainability dalam berbisnis saat ini makin perlu diterapkan termasuk di bisnis real estate, selaras dengan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bisa tercapai pada tahun 2030.
Presiden Direktur PT Pakuwon Jati Alexander Stefanus Ridwan Suhendra, menceritakan, implementasi ESG di Pakuwon Jati terlihat di menara
Gandaria 8 dan Mal Gandaria City, Jakarta. Menara Gandaria 8, yang diperuntukkan buat perkantoran, memakai double glass yang mampu meredam suhu panas cahaya matahari sehingga bisa menghemat pemakaian perangkat pendingin ruangan, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap, dan sistem pemilahan sampah. Sementara Mall Gandaria City juga telah terpasang PLTS atap dan sistem pemilahan sampah.
Pemakaian PLTS atap tersebut mampu mengurangi konsumsi listrik.
”Rencananya, semua mall kami meniru Mall Gandaria City, apalagi jika memungkinkan dipasang PLTS atap. Kalaupun bagian atap gedung mal tidak bisa dipasang PLTS atap, kami akan pasang tanaman-tanaman agar teduh dan menghasilkan udara lebih segar,” ujarnya.
Selain aspek lingkungan, Pakuwon Jati juga menitikberatkan sistem bekerja yang setara dan patuh terhadap regulasi yang berlaku. Sepanjang pembatasan sosial karena pandemi Covid-19, Pakuwon Jati memilih untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan. Sebaliknya, perusahaan memutuskan memotong gaji karyawan yang nilainya tinggi.
Selama pandemi pula, Pakuwon Jati memilih untuk mengedepankan mencari solusi bersama dengan para jenama yang mengisi mall Pakuwon. Dampaknya, sampai saat ini seluruh Mall Pakuwon masih diisi penuh oleh jenama yang loyal.





















