TOD Jadi Pertaruhan Kota Bangkok

0
58
kota bangkok

Bangkok yang terus didera kemacetan butuh dukungan pembangunan infrastruktur yang melekat dengan hunian. TOD akan menjadi jawaban untuk Kota Bangkok.

Baca juga : MURAH TIDAK MENJAMIN LARIS

Sebagai sesama negara ASEAN dan negara berkembang, Indonesia dan Thailand bisa jadi memiliki problem dan permasalahan di kota-kota besar di kedua negara ini. Jakarta sebagai kota terbesar dan ibukota negara Indonesia, serta Bangkok yang menjadi ibukota negara Thailand adalah dua kota yang terus tumbuh. Pertumbuhan kedua kota ini mengikuti pertambahan penduduknya yang terus mengalir ke ibukota dua negara ini sepanjang tahun. Inilah ciri khas dari kota-kota besar di negara berkembang.

Penduduk Bangkok pada siang hari bisa mencapai 14-15 juta jiwa dan merupakan 22 persen dari seluruh populasi negara Thailand. Di malam hari penduduk Bangkok turun menjadi sekitar 8-9 juta jiwa. Kondisi ini tidak jauh berbeda dari Jakarta yang pada siang hari penduduknya menyentuh angka `13 juta jiwa dan saat malam hari tinggal 10 juta jiwa.

Salah satu masalah di Kota Bangkok yang tidak jauh berbeda dari Kota Jakarta adalah ketersediaan moda transportasi massal. Ini adalah masalah klasik di kota besar yang penduduknya terus bertambah. Pertambahan jumlah penduduk otomatis mendorong pertumbuhan jumlah kendaraan roda empat maupun roda dua. Sementara jumlah panjang jalan di ibukota Bangkok seperti juga di Jakarta tidak mampu mengikuti meningkatnya jumlah kendaraan pribadi. Alhasil, kemacetan selalu mendera baik warga Bangkok maupun Jakarta. Salah satu pilihannya adalah membangun transportasi massal yang terintegrasi dengan hunian apartemen yang dikenal dengan nama TOD (transit oriented development). Bangkok sejauh ini, seperti juga Jakarta, sedang mengembangkan pembangunan hunian berbasis transportasi massal yaitu TOD.

Walaupun TOD dianggap bisa menjadi solusi pemenuhan kebutuhan hunian di Kota Bangkok sekaligus mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, tetapi pemerintah Kota Bangkok diminta hatihati dalam pembangunannya. Pasalnya, bila salah menerapkan TOD, dikhawatirkan justru mengakibatkan tata Kota Bangkok semakin amburadul dan malah tidak mengurangi kemacetan.

Menurut riset gabungan peneliti asal Meijo University, Nagoya University, Chubu University, dan Kasetsart University pada 2016, Bangkok masih belum fokus mendorong warganya untuk berjalan kaki menuju stasiun atau terminal bus. Walaupun mereka tinggal dekat dengan stasiun, tidak menjamin mereka melangkahkan kakinya menuju stasiun kereta. Ini terlihat dari pembangunan area parkir yang TOD Jadi Pertaruhan Kota Bangkok Bangkok yang terus didera kemacetan butuh dukungan pembangunan infrastruktur yang melekat dengan hunian. TOD akan menjadi jawaban untuk Kota Bangkok. luas dekat stasiun untuk menampung mobil yang pemiliknya akan menggunakan commuter line. Adanya area parkir tersebut justru menandakan pemerintah tak membatasi warga menggunakan kendaraan pribadi. Walaupun kemudian mereka melanjutkan perjalanan dengan naik transportasi publik.

Kebiasaan berjalan kaki bagi warga Bangkok yang belum membumi, dan masih memilih membawa kendaraan pribadi berimbas pada kemacetan yang makin mendera Ibukota Bangkok ini. Akan tetapi kondisi seperti ini tidak sepenuhnya kesalahan warga Bangkok karena pemerintah Kota Bangkok sendiri belum menyiapkan infrastruktur yang memadai, misalnya, trotoar untuk pejalan kaki.

Menurut hasil penelitian yang terbit di Journal of Modern Transportation, April 2018, pemerintah Kota Bangkok masih belum sanggup menyediakan trotoar yang layak bagi pejalan kaki. Trotoar di sejumlah ruas jalan masih terlalu sempit untuk ditapaki. Kalaupun ada trotoar yang relatif baik untuk pejalan kaki, malah disalah gunakan untuk tempat parkir motor atau angkutan umum. Saat malam lampu jalan yang terlalu redup tidak mampu menerangi trotoar untuk pejalan kaki.

Terlepas dari kritik para peneliti, TOD di Bangkok masih memiliki harapan.Pasalnya, sebanyak 40 persen warganya masih mengandalkan transportasi publik untuk berkeseharian, baik menggunakan bus atau kereta sekelas commuter line. Bangkok harus terus membenahi fasilitas pejalan kaki, menambah ruang terbuka hijau untuk memancing warganya rela berjalan kaki, dan meningkatkan keterhubungan moda transportasinya. Hanya dengan itulah Bangkok bisa terlepas dari jeratan predikat kota termacet kedua di dunia setelah Meksiko City, Meksiko.

Harapan Bangkok untuk menyukseskan TOD dapat dilihat dari jumlah transportasi massal yang telah menghubungkan kota dari sudut utara, timur, selatan, hingga barat. Dua moda utama bagi para penglaju adalah kereta layang (BTS) dan kereta Commuter Line: Sekitar 40 persen warga Bangkok mengandalkan transportasi publik. bawah tanah Metropolitan Rapid Transit (MRT). BTS berada di bawah kepemilikan Bangkok Metropolitan Administration (BMA) selaku pemerintah kota. Pembangunan transportasi massal ini didukung oleh Krungthep Thanakom (KT) selaku perusahaan milik BMA.

Namun demikian, operasional sehari-hari BTS menjadi tanggung jawab Bangkok Mass Transit System Public Company Limited, perusahaan yang diberikan konsesi hingga Desember 2029. Sejak beroperasi 1999, BTS memiliki dua jalur yaitu jalur Sukhumvit Line (Light Green) dan jalur Silom Line (Dark Green). Jauh di bawah BTS, ada MRT yang relnya mengular-ular di bawah tanah. Moda transportasi yang resmi dibuka sejak tahun 2004 ini dimiliki oleh Mass Rapid Transit Authority of Thailand (MRTA), sebuah perusahaan yang beroperasi di bawah Kementerian Transportasi Thailand.

Awalnya, MRT hanya memiliki jalur Blue Line yang menghubungkan Hua Lamphong di selatan pusat kota dengan Tao Poon di utara pusat kota, lewat jalur memutar agak ke timur dengan trek sejauh 20,8 km. Tahun 2016, MRTA meluncurkan jalur Purple Line dengan trek sepanjang 27 km. Lewat Purple Line, kawasan Khlong Bang Phai yang berada lebih ke utara dari pusat kota terhubung dengan sejumlah lokasi strategis, seperti Bang Yai Market, pusat pemerintahan, Kementerian Kesehatan, dan akhirnya Tao Poon. Dari Tao Poon, penglaju bisa melanjutkan perjalanan dengan Blue Line.

Pembangunan MRT di Bangkok pun dirancang berdekatan dengan moda transportasi massal lainnya.Di kawasan Chatuchak, misalnya, penumpang yang turun dari MRT di stasiun ini hanya butuh berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanan dengan BTS. Kabarnya BMA berniat terus menambah jalur moda transportasi massal secara bertahap. Pemerintah Kota Bangkok menargetkan untuk tahun 2021, akan selesai empat jalur baru yang menghubungkan kawasan pusat Kota Bangkok dengan kawasan yang lebih dekat perbatasan.

Salah satu jalur tersebut akan melengkapi jalur MRT Blue Line untuk menghubungkan Hua Lamphong di selatan dan Tao Poon di utara melalui trek yang memutar lewat barat. Di antara BTS dan MRT, Bangkok memiliki Bus Rapid Transit (BRT). Moda transportasi ini dimiliki Krungthep Thanakom namun beroperasi di bawah tanggung jawab BTSC. Perusahaan yang juga bertanggung jawab atas operasional BTS. Di Jakarta, BRT serupa dengan Bus TransJakarta.

Ada pula kereta bandara Airport Rail Link (ARL) yang hubungkan pusat kota Bangkok dengan Suvarnabhumi International Airport. Moda ini dimiliki oleh State Railway of Thailand dan beroperasi sejak 2010. Sementara itu, Don Mueang International Airport bisa diakses dengan BRT. Selain itu, Bangkok juga memiliki bus kota, serta ada juga perahu yang menjadi sarana transportasi untuk melintasi Sungai Chao Phraya. (Harini Ratna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here