TJP Group Kembangkan Kawasan Bertemakan Film Pertama Asia

0
261

Sebuah kota kecil bertemakan film segera terwujud di ujung timur Pulau Batam, Nongsa. Proyek prestisius “The Scene Movie Town” dikembangkan oleh PT Landstar Development anak usaha dari Trias Jaya Propertindo (TJP Group).

“Sebenarnya dalam kawasan ini sudah dioperasikan studio film yang menjadi studio animasi terbesar Asia Tenggara dan selama ini digunakan untuk syuting berbagai film, terutama dari Singapura. Jadi kami bekerja sama dengan Infinites Studios untuk merampungkan kawasan movie ini,” ujar President Director TJP, Djaja Roeslim, kepada Properti and The City di Batam, akhir Agustus lalu.

The Scene berdiri di atas lahan seluas 3 ha, yang merupakan bagian dari kawasan resort Nongsa seluas 400 ha, termasuk Turi Beach, Nongsa Village, Nongsa Point Marina, dan pelabuhan ferry internasional Nongsa Pura. Dalam kawasan tersebut, Landstar akan membangun resort dan tempat tinggal, seperti kodotel, apartemen, dan residences.

[Baca: Kembangkan Nuvasa Bay, Sinar Mas Gandeng Perusahaan Singapura]

“Yang akan kami bangun adalah sebuah resort yang benar-benar menampilkan gaya desain arsitektur dan suasana kota tua Eropa. Town ship small city. Kami bilang live-in film studio jadi seperti tinggal dalam studio film,” kata Djaja yang juga Ketua DPD REI Khusus Batam ini.

“Ini bukan seperti di Universal Studio (theme park) tapi memang tempat tinggal. Kemudian di sebelah studio ini kami akan menambah fasilitas yang namanya The Scene yang ada Hotel and Residences untuk melengkapi kawasan tersebut,” sambung Djaja.

Dalam setiap tahun, sambung Djaja, selalu ada syuting di lokasi tersebut dengan crew yang cukup banyak dan dalam waktu lama, sehingga market sewa akan sangat potensial. “Hotel kami jual sebagai kondotel, sementara landed sebagai residences bentuknya seperti town house,” jelasnya.

Rencananya kawasan ini akan dikembangkan dalam empat tahap. Tahap pertama akan dibangun sebuah hotel (kondotel), selanjutnya apartemen dan residences. Untuk hotel hanya disediakan sebanyak 130-an unit sementara residences sebanyak 100-an unit.

“Jumlahnya kami kurangi, sehingga kami buat benar-benar eksklusif. Kami lebih tekankan pada infrastrukturnya,” tegas Djaja.

Adapun infrastruktur dimaksud termasuk berbagai fasilitas di dalamnya, seperti shopping streets, MICE rooms, rooftop bar, poor bar, gallery, café, wedding chapel, dan lainnya.

Saat ini pengembang memasarkan produknya itu dengan kisaran harga mulai Rp 1,3 – Rp 2,5 miliar untuk kondotel, sementara untuk residence mulai dari Rp Rp 1,5 – Rp 3,5 miliar. Rencananya proyek ini akan rampung dan serah terima pada awal 2018. [pio]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here