SURABAYA, PROPERTINYA BERJAYA DI EMPAT PENJURU

0
46
Surabaya

Usai pilpres, properti Surabaya kembali menemukan momentum untuk melejit. Pergerakan propertinya hampir merata di empat penjuru mata angin Surabaya.

Pasca pilpres April 2019 banyak yang berdebar-debar menanti apa yang akan terjadi dengan bisnis properti di tanah air. Maklum, tak sedikit pelaku bisnis properti menaruh harapan besar properti bakal bangkit setelah momentum pilpres 2019. Ada yang mengatakan properti akan bangkit setelah hajatan demokrasi selesai, atau pilpres menjadi turning point. Tersirat ada optimisme yang tinggi dari para pelaku bisnis properti pasar akan kembali melejit. (lihat Property and the City edisi 43/2019).

Dengan alasan itu, Property and the City menurunkan laporan utama properti diJakarta setelah pilpres selesai (edisi 47 dan 48). Sebagai ibukota negara, pasar properti di Jakarta selalu menjadi barometer untuk properti di kota-kota besar lainnya. Setelah mendapat gambaran yang komprehensif situasi properti di Jakarta, Property and the City menuju Surabaya. Sebagai kota kedua terbesar setelah Jakarta, patut kita cermati pergerakan properti Surabaya setelah pilpres usai. Apakah ini menjadi momentum kebangkitan properti di Surabaya seperti harapan semua pengembang di Surabaya.

Seperti kata Firdaus Fahmi, Marketing Director PT Cowell Development Tbk, “Sekarang kita sama-sama melihat dan menunggu pelantikan presiden dan pembentukan kabinet. Kalau semuanya berjalan mulus, saya yakin sudah tidak ada lagi hambatan yang sekarang ini terus menghambat laju pertumbuhan properti,” ujarnya. Harapan Firdaus pasti adalah harapan semua pengembang di Surabaya, melihat properti Surabaya kembali melesat setelah pilpres.

Dalam pandangan Sutoto Yakobus, Senior Director Ciputra (PT Ciputra Development Tbk), secara umum pendukung atau instrument properti saat ini sangat bangus, seperti bunga rendah, inflasi rendah dan politik cukup stabil. Walaupun secara ekonomi makro kurang begitu hebat, misalnya, pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 5 persen. Beruntung pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya cukup menjanjikan yang bisa menggerakan pasar properti di Surabaya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Kota Surabaya tahun 2018 tumbuh sebesar 6,20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini artinya pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya berada di atas Jawa Timur dan Nasional.

Surabaya seperti juga Jakarta, kota berpenghuni hampir 3 juta jiwa ini telah tumbuh dan melebar ke berbagai sisi, seperti ke selatan ke wilayah Sidorajo, barat ke wilayah Gresik. Sisi utara dan timur meskipun berbatasan dengan laut tetap berpotensi berkembang. Dengan mengetahui geliat proyek-proyek baru di selatan, barat, timur dan utara menjadi sinyal baik pergerakan properti di Surabaya.

Di Surabaya utara walaupun mengarah ke tepi laut, pengembangan propertinya tidak kalah dari sisi Surabaya lainnya. Tercatat ada Grand Sagara yang dikembangkan oleh PP Properti dengan konsep Konsep hi-ress villa yang lokasinya berada di tepi laut. Apartemen Grand Sagara yang dipasarkan sejak Desember 2018, saat ini penjualan sudah mencapai 40 persen. Proyek di lahan seluas 5,7 hektar ini direncanakan akan ada 13 tower campuran. “Saat ini kami pasarkan sekitar Rp17 jutaan per meter persegi atau sekitar Rp400 jutaan,” kata Adi Prasetyo, Marketing Manager Grand Sagara.

Di Surabaya Timur ada Sukolilo Dian Regency dan Pakuwon City yang masih memiliki land bank cukup besar. Ada juga One East Penthouse dan Residences Collection dari MNC Land yang mulai dioperasikan sejak tahun 2018. Dalam kawasan ini juga ada Oakwood Hotel and Residence. Proyek apartemen yang dibangun di lahan 5.042 meter persegi terdiri terdiri dari 33 lantai dengan 282 unit strata-title, 144 unit hotel and residence, dua lantai premium retail one avenue, serta tiga lantai basement.

Masih di wilayah yang sama yaitu timur, ada Grand Dharmahusada Lagoon di lahan 4,2 hektar yang dikembangkan dengan konsep resort. Rencananya akan ada 7 tower dan saat ini memasuki proses pengerjaan tower pertama yaitu Olive. Tower Olive akan memiliki 42 lantai dengan jumlah unit apartemen 942 unit. Harga per unit mulai Rp900 juta hingga Rp1,8 miliar. Di Surabaya Selatan tidak kalah gesit dari wilayah lainnya, bahkan saat ini pengembangannya sudah keluar dari Surabaya dan mengarah ke Sidoarjo. Tercatat ada PT Trans Properti Indonesia yang baru saja memulai pembangunan struktur atas Trans Icon Surabaya. Proyek apartemen dengan nilai investasi Rp2 triliun ini nantinya memiliki dua tower apartemen yang total unitnya mencapai 1.400 unit.

Penjualan tower pertama sudah dimulai sejak Maret 2018 lalu dan telah terjual di angka 90 persen. Sedangkan tower kedua yang dipasarkan sejak dua bulan lalu penjualannya telah mencapai 40 persen. “Animo masyarakat di Surabaya cukup besar. Saya yakin dalam waktu dekat penjualan seluruh unit untuk kedua tower di Trans Icon Apartemen akan segera selesai,” kata Fransiskus Afong, Direktur Marketing Trans Properti Indonesia. Optimisme Fransiskus menjadi isyarat jelas properti Surabaya siap melesat.

Bahkan isyarat jelas itu bisa dilihat dari apartemen-aparatemen yang saat ini cukup banyak diminati para penyewa. Apartemen di Ciputra World, misalnya, banyak ditempati penyewa ekspatriat yang bahkan pernah mencapai Rp200 juta per tahun. Sedangkan di Tower Barkeley dalam kawasan CitraLand Surabaya hampir semua adalah penyewa dari kalangan mahasiswa Universitas Ciputra.

Proyek PP Properti Grand Sungkono Lagoon, Tower Venetian yang tak jauh dari Ciputra World juga cukup diminati penyewa dengan kisaran Rp60-70 juta per tahun untuk tipe 1 bedroom. “Pastinya akan terus naik, karena berbagai fasilitas terus kami bangun. Sehingga ketika fasilitas semua sudah jadi, tidak menutup kemungkinan sewa akan naik Rp80-90 juta per tahun,” ucap Lusiani.

Proyek PP Properti lainnya, yakni Grand Shamaya juga punya potensi sewa tinggi. Muhammad Iswan, Marketing Manager Grand Shamaya mencontohkan saat ini sewa hunian di Tunjungan Plaza sudah berkisar Rp170 juta per tahun. “Grand Shamaya nanti setelah serah terima akan berada di atas harga sewa itu. Apalagi saat ini banyak ekspatriat yang datang ke Surabaya,” katanya.

Sementara harga sewa apartemen di wilayah Surabaya Timur kini berkisar Rp3-3,5 juta per bulan untuk tipe terkecil beberapa apartemen menengah bawah. PP Properti melalui Grand Dharmahusada Lagoon (GDL) juga menjanjikan investasi, terutama bagi pasar mahasiswa dan professional. “Kelak potensi sewa di GDL sekitar Rp3-4 juta per bulan itu masih sangat mungkin bahkan lebih,” kata Nita Liana, Public Relations GDL.(Pius Klobor, Hendaru]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here