100 TOKOH BICARA PROPERTY TAKE OFF POSITION 2016(bag.1)

0
163

100 TOKOH BICARA PROPERTY TAKE OFF POSITION 2016(bag.1)

Optimisme yang datang dari kalangan pemerintah, tokoh dan pelaku bisnis properti, pengamat, dan perbankan, menjadi salah satu bentuk dorongan yang kuat untuk dapat menggerakkan sektor properti di tanah air.

Bukan tanpa alasan! Beberapa hal dikemukakan sebagai potensi yang seharusnya dapat meningkatkan pasar dan bisnis properti tahun depan.

SEPERTI PELARI CROSS COUNTRY

DR (HC) IR. CIPUTRA
Founder Ciputra Group

Bisnis properti punya siklus tersendiri. Seorang pengembang seperti pelari cross country yang menghadapi ragam tantangan dan rintangan yang berbeda-beda. Dunia properti Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, seakan naik-turun gunung menghadapi siklusnya. Ada masa booming dan ada masa looming. Namun demikian, properti adalah bisnis yang tidak pernah mati. Jika sekarang dipandang sedang mengalami kelesuan, saya optimis tak lama lagi akan mengalami peningkatan yang justru lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut akan dimulai di tahun 2016.

PERLAMBATAN GLOBAL BERLANJUT, TIMING UNTUK INVESTASI

MOCHTAR RIADY
Founder Lippo Group

Perlambatan ekonomi global akhir-akhir ini sangat memengaruhi keadaan ekonomi Indonesia. Saya memperkirakan keadaan ini akan berlanjut sampai 2 tahun ke depan, dan saya juga berpendapat bahwa saat ini merupakan timing yang sangat baik bagi para pengusaha yang mempunyai modal yang cukup untuk mulai mencari kesempatan berinvestasi dalam bisnis properti.

Semoga keadaan ekonomi global, terutama Indonesia yang sarat dengan berbagai peluang, akan segera menjadi lebih baik lagi dalam waktu dekat ini.

KELAS MENENGAH TUMBUH SANGAT CEPAT

TRIHATMA K. HALIMAN
chairman Agung Podomoro Group

Perlambatan ekonomi yang terjadi saat ini memang memengaruhi pasar properti Indonesia, namun dengan paket-paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah akan sangat membantu menggairahkan kembali bisnis properti tersebut. Perlu diingat bahwa populasi penduduk Indonesia mencapai 280 juta jiwa sehingga pasar properti kita sangat besar serta kelas menengah saat ini yang tumbuh sangat cepat. Jadi saya optimis sektor properti akan segera membaik di tahun 2016. Kami pun mendukung program pemerintah dalam menyediakan 1 juta rumah bagi masyarakat dengan pengembangan hunian yang terjangkau. 

PROSPEK Menengah Bawah sangat baik di 2016 ! 

Basoeki Hadimoeljono,
Menteri PU & Perumahan Rakyat
“Pembangunan dan pengembangan rumah untuk kelas menengah ke bawah di tahun  2016 prospeknya sangat baik. Namun, kalau untuk perumahan kelas atas akan mengalami perlambatan karena kondisi ekonomi nasional belum stabil sepenuhnya. Para pengembang perumahan kelas atas masih akan mengambil sikap wait and see.”

Maurin Sitorus,
Dirjen
Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR

Properti 2016 akan lebih bagus dari 2015, karena kita lihat perekonomian tahun ini memang pertumbuhannya sangat lambat. Tapi sekarang sudah mulai stabil, inflasi juga cenderung turun. Perkiraan banyak pihak pada 2016, perekonomian juga akan lebih kuat. Jadi saya kira, properti juga akan tumbuh lebih bagus lagi. Memang masih agak sulit kita memprediksi berapa besar pertumbuhan penjualan properti tahun 2016, tapi kalau untuk rumah MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) sekitar 30%-an. Ini akan didorong dengan semua kebijakan-kebijakan dari pemerintah, termasuk suku bunga 5% tetap dengan jangka waktu sampai 20 tahun.

Syarif Burhanuddin,
Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR

Berdasarkan pertemuan para menteri ekonomi dalam konferensi APEC di Manila, Philipina, baru-baru ini, beberapa negara termasuk Indonesia masih sangat pesimis terhadap kondisi ekonomi global dan regional. Namun demikian, kebutuhan masyarakat terhadap rumah masih tinggi, terutama untuk rumah-rumah kelas menengah ke bawah. Walaupun sektor properti mengalami penurunan tajam, banyak para pengembang mulai melakukan investasinya dalam pembangunan rumah-rumah kelas menengah bawah. Di tahun 2016 antara demand dan supply juga akan seimbang karena pemerintah telah menurunkan suku bunga FLPP dan kebijakan pembayaran uang muka rumah yang terjangkau masyarakat bawah. Rumah bagi masyarakat bawah merupakan sebuah kebutuhan. Sedangkan untuk kelas atas, rumah lebih diposisikan sebagai sarana investasi. Jadi, kalau sektor properti dijadikan sebagai media investasi akan sangat berat dan tetap terjadi perlambatan yang signifikan di tahun 2016. Di semester akhir tahun 2015 ini, target program sejuta rumah untuk rakyat sudah mencapai angka 120.000 unit. Di tahun 2016, pemerintah menargetkan akan mencapai antara 500 hingga 600 ribu rumah untuk rakyat.

Enggartiasto Lukita,
Tokoh Properti Nasional
Sekarang ekonomi terus membaik, baik dalam negeri maupun ekonomi global. Jadi saya pikir dampak membaiknya ekonomi tersebut akan membuat properti kita juga tumbuh lebih baik dari tahun 2015 ini. Ditambah lagi dengan beberapa kebijakan ekonomi yang telah diumumkan pemerintah, tentu pemerintah ingin memajukan sektor properti tersebut. Soal prediksi pertumbuhannya, saya belum bisa berbicara ke sana, tapi yang jelas akan tumbuh lebih baik dari 2015.

 

Setyo Maharso,
Ketua Badan Pertimbangan Organisasi REI
Di tahun 2016 Sektor properti akan cerah walaupun ekonomi global belum stabil, tetapi kondisi ekonomi nasional akan bagus karena beberapa proyek infrastruktur pemerintah telah beroperasi secara bertahap. Selain itu regulasi pemerintah dalam bidang properti yang ditujukan kepada para pengembang terutama soal perizinan juga sangat mendukung konsumen untuk membeli rumah dengan harga murah dan berkualitas.

PROPERTI AKAN BOOMING DI TIMUR JAKARTA 

Hiramsyah Thaib,
Tokoh Properti Nasional

Sektor properti membaik, tetapi hanya kecil karena kontraksi pasar dan daya beli masyarakat belum recovery. Pengembang harus jeli membaca selera pasar dan membuat produk yang segmented. Bisnis Properti baru akan booming tahun 2018. Dalam 3 atau 4 tahun yang lalu sejak tahun 2009 hingga 2013, tingginya harga properti karena merupakan kelanjutan harga flat di tahun 1997 hingga 2004. Kenaikan atau pertumbuhan sektor properti  membutuhkan waktu. Walaupun pertumbuhan atau permintaan properti tinggi tetapi daya beli masyarakat masih sangat rendah. Untuk meningkatkan daya beli masyarakat, maka suku bunga perbankan harus turun pada kwartal pertama tahun 2016. Rendahnya suku bunga ini, otomatis akan mendorong para pengembang untuk membangun properti terutama sektor residensial. Harga rumah menjadi murah dan pembelian rumah melalui KPR akan menarik konsumen. Pada akhirnya, likuiditas perbankan akan baik. Sektor properti akan booming di kawasan Timur Jakarta seperti di kota Karawang dan Bekasi. Sedangkan di kawasan Barat dan Selatan, Jakarta sebelumnya sudah tumbuh pesat.

BARU DIRASAKAN PERTENGAHAN 2016

Eddy Ganefo,
Ketua DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Indonesia (APERSI)

Pasar properti baru mulai bergerak di pertengahan 2016. Faktornya bisa kita lihat perekonomian yang sudah mulai ada perbaikan dan akan lebih terlihat di pertengahan 2016. Tapi yang sudah ditanam oleh pemerintah di 2015 ini baru akan dirasakan dampaknya di pertengahan 2016. Dan siklus pertumbuhan properti ini akan mencapai puncaknya di akhir 2017 hingga 2018. Menurut saya, siklus kali ini akan lebih tinggi dari periode 2011/2012 lalu. Ini karena selama ini banyak orang sudah menahan dan pastinya di 2018 puncaknya akan tinggi sekali.

PEMERINTAH SERIUS MENDUKUNG PROPERTI

Eddy Hussy,
Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI)
Pasar properti di 2016 pastinya akan lebih baik dari tahun 2015. Kita lihat kebijakan pemerintah melalui paket-paket ekonomi yang telah diumumkan pemerintah. Setidaknya melalui regulasi tersebut, pemerintah telah menunjukkan keseriusannya untuk terus mendorong industri properti kita. Dan saya lihat pasar juga akan menyambut positif, sehingga pastinya properti di 2016 akan mulai tumbuh lebih baik lagi.
Prof. Rhenald Kasali, Ph.D,
Rumah Perubahan
Tahun 2016 sektor properti untuk kelas bawah masih sangat berat. Pemerintah harus mendukung secara total kepada pengembang yang akan membangun rumah bagi masyarakat bawah seperti buruh, guru, dan profesi kecil lainnya. Mereka hanya ingin punya rumah yang layak. Sedangkan orang kaya justru hanya berpikir soal harga. Oleh karena itulah pemerintah harus memberikan kesempatan kepada pengembang untuk membangun perumahan buruh di sekitar kawasan pabrik. Satu hal yang harus dilakukan pemerintah ialah mempermudah mengeluarkan IMB kepada pengembang yang ingin membangun.
Hari Raharta,
Sekjen DPP REI
Tahun 2016 sektor properti sangat positif karena telah didukung oleh paket kebijakan ekonomi pemerintah. Otomatis kalau sektor ekonomi membaik, maka akan ada 174 industri lain yang juga akan tumbuh. Sektor properti tetap akan menjadi salah satu lokomotif ekonomi nasional. Pasar juga sudah mulai positif tetapi belum signifikan. Khusus sektor properti kelas menengah bawah sudah cukup baik. Sedangkan untuk kelas atas, para pengembang tinggal menunggu aplikasi atas kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah, termasuk diantaranya suku bunga perbankan.
Darmadi Darmawangsa,
Tokoh Pemasaran Properti
Pasar properti 2016 mungkin akan bisa lebih baik dengan catatan jika kurs Rupiah terhadap Dollar AS di bawah Rp 13.000. Tetapi kalau masih di sekitar Rp 13.500, maka masih sama saja dengan tahun ini. Memang pemerintah sudah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong ekonomi kita dan industri properti, hanya saja penerapan dan pelaksanakan di lapangan yang masih harus kita tunggu. Jika benar-benar dijalankan, maka 2016 tentu akan lebih baik dari 2015. Setidaknya menurut saya tahun 2016 ini properti kita baru akan tumbuh 10%. Namun yang terpenting adalah para developer harus lebih kreatif dalam membaca peluang yang ada. Bagi saya, saat ini segmen properti yang cocok dengan pasar yang masih bagus adalah yang harganya dibawah Rp 1 miliar.
Indra W. Antono,
Direktur Marketing Agung Podomoro Group
Benar bahwa 2015 ini pasar properti kita mengalami perlambatan, tapi untuk hunian seperti yang dikembangkan Agung Podomoro masih cukup baik. Dan untuk 2016 ini, saya yakin akan mulai tumbuh lagi. Regulasi dari pemerintah, terutama soal pajak dan beberapa lainnya akan sangat berdampak pada pertumbuhan properti di tahun 2016 sekitar 5%-7%. Menurut perkiraan saya siklus pertumbuhan ini akan mencapai puncak booming properti pada pertengahan 2017 mendatang. Tapi untuk sektor perhotelan mungkin sedikit lebih rendah, sementara hunian mungkin akan sama dengan booming properti 2011/2012 lalu.

PAKET KEBIJAKAN EKONOMI MENDUKUNG PROPERTI

Johann Boyke Nurtanio,
CEO Ray White Indonesia

Kita melihat adanya peraturan pemerintah yang baru bahwa orang asing boleh membeli properti kondomonium di atas Rp 10 miliar. Ini menarik karena nantinya properti kita akan bersaing secara regional dan investor besar bisa masuk ke Indonesia. Dan yang lebih menarik lagi, kebijakan terbaru soal penghapusan pajak berganda untuk instrumen keuangan Kontrak Investasi Kolektif-Dana Investasi Real Estat atau KIK-DIRE. Ini juga menarik karena akan semakin membuka peluang kepada investor properti. Jadi menurut saya, 2016 properti akan mulai bertumbuh lagi menjadi investasi menarik karena kita melihat inflasi pun terkendali saat ini. Tentu kita juga berharap agar tahun depan BI akan melonggarkan kebijakannya, baik menurunkan BI rate atau terutama soal KPR. Bunga bank bisa lebih rendah, tentunya akan semakin banyak orang yang mampu beli properti.

Amran Nukman,
Ketua DPD REI Jakarta
Dengan banyaknya gerakan pemerintah terutama dalam paket kebijakan ekonomi nasional, sektor properti di tahun 2016 optimis akan baik. Walaupun paket kebijakan ekonomi itu diperuntukkan untuk investor asing, justru dampaknya akan positif kepada bisnis properti. Pemerintah juga dikejar untuk mendapatkan hasil pajak yang tinggi, tetapi hal ini bukan untuk menekan para pengembang properti. Pemerintah juga sudah melakukan diskusi dengan DPD REI DKI Jakarta, Jabar, dan Banten untuk memberi masukan kepada pemerintah dalam mendukung sektor properti. Para pengembang lokal harus didukung dan diperhatikan pemerintah, karena kalau tidak, maka para pengembang lokal ini akan collapse dan terdapat 250 ribu orang yang bekerja di sektor properti akan terkena PHK.

Soelaeman Soemawinata
Ketua DPD REI Banten

Akhir tahun ini properti kita terlihat sudah mulai take off. Hanya saja mungkin nanti hambatan psikologis seperti  Loan to Value (LTV) yang masih menghambat para developer dan soal pajak yang membuat banyak konsumen tarik diri. Namun kita lihat langkah pemerintah sangat positif untuk mendorong tumbuhnya industri properti. Jika bisa tumbuh lebih baik, maka efeknya pada pertumbuhan investasi akan sangat dahsyat juga bagi industri terkait lainnya. Kita tahu bahwa industri di belakang properti sangat banyak, termasuk usaha kecil menengah (UKM) dan tenaga kerja yang tentunya bertambah banyak. Jadi, kalau negara ini serius dorong properti seperti yang terlihat sekarang ini maka properti pun akan mendorong pertumbuhan ekonomi bangsa. Pada 2016 saya rasa semua segmen properti akan tumbuh karena semua punya pasar masing-masing. Infrastruktur dan transportasi tentunya menjadi faktor utama dalam hal ini.

Kami di Provinsi Banten, terutama dalam dua tahun ke depan (2016-2017) masih fokus pada pembangunan Program Sejuta Rumah. Di Banten lahan masih sangat luas, dan masih banyak masyarakat yang membutuhkan rumah subsidi. Sehingga Program Sejuta Rumah terus kami genjot.

Hendry Tamzel,
Director Ciputra Residence
Tahun 2015, properti kita mengalami perlambatan yang cukup signifikan. Tahun 2016 adalah recovery, pemulihan dari tahun 2015. Jadi properti akan mulai tumbuh lagi seiring dengan kondisi ekonomi yang terus membaik dan berbagai stimulus kebijakan pemerintah yang terus mendorong pengembangan industri ini. Infrastruktur juga terus didorong pada tahun 2015 ini, tentu ini akan berdampak dan mulai dirasakan tengah tahun 2016. Dan saya yakin, 2017 menjadi momentum menuju booming properti kita.

INVESTASI ASING SUDAH MULAI MASUK

Hartono Sarwono,
Ketua Umum DPP AREBI

Prospek properti di tahun 2016 akan sangat  baik, karena pemerintah telah memperbaiki infrastruktur ekonomi. APBN tahun 2016 juga sudah mulai diserap. Banyak proyek-proyek pemerintah mulai berjalan. Investasi asing dari Tiongkok, Amerika dan Italia sudah masuk. Regulasi ekonomi harus terus dikoreksi agar sesuai dengan kepentingan ekonomi nasional. Kestabilan politik juga sangat sensitif dalam mempengaruhi sektor properti di tahun 2016.

(Jkt, 6/1/2016)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here