PERINDU PULAU BIAWAK DI UTARA INDRAMAYU

0
74
text dan Foto: Dhave Dhanang

Ada biawak, ada mercusuar dan bawah lautnya yang indah buat para penyelam yang berkunjung ke Pulau Biawak.

Baca juga:

Krompyang…! terdengar suara nyaring piring yang berbenturan dengan sendok makan. Terlihat sosok bersisik, berekor panjang, lindah menjulur, dan cakar yang panjang. Ternyata seekor biawak berukuran besar naik ke meja makan untuk ikut menikmati makan siang pemilik rumah yang sedang menjamu tamunya. Bagi yang pertama kali melihatnya pasti tertegun dan heran, biawak itu tidak takut dengan manusia. Padahal, biawak begitu melihat manusia langsung lari ke solokan atau lubang. Keakraban itu hanya bisa ditemukan di Pulau Biawak. Manusia dan biawak bisa berinteraksi dalam harmoni alam, walaupun seringkali biawak-biawak ini bertingkah nakal.

Pagi menjelang pukul 03.00 kami sudah berada di kawasan perkampungan nelayan di Karangsong-Indramayu, Jawa Barat. Dengan kapal nelayan kami menyeberang dari Pulau Jawa ke Pulau Biawak. Perlahan kapal motor ini membelah kanal Sungai Cimanuk yang di tepian kirinya nampak rimbun oleh hutan bakau Karangsong. Perlahan perahu sudah menembus muara sungai dan siap menuju laut lepas. Mesin nomor 2 dinyalakan untuk menambah tenaga kapal membelah ombak dari angin timur. Begitu sudah masuk laut lepas gelombang laut mulai menghempas lambung kapal.

Sekitar 20 mil laut atau 40 km jarak yang harus ditempuh untuk menuju Pulau Biawak. Saat ini belum ada kapal yang memiliki trayek resmi menuju Pulau Biawak. Para pengunjung biasanya menyewa perahu nelayan dengan tarif sekitar Rp2,5 juta hingga Rp5 juta tergantung ukuran perahu motor.

Selamat datang di Pulau Biawak. Begitu mendarat di pantai pengunjung langsung disambut oleh binatang endemis ini. Biawak atau nama ilmiahnya Varanus salvator. Beberapa ekor biawak sudah keluar dari persembunyiannya untuk menyambut kedatangan kami. Melihat binatang bermunculan awalnya kami khawatir diserang oleh biawak-biawak yang berukuran besar karena kita masuk ke area teritorialnya. Jangan lupa pula, walaupun tidak sebesar Komodo tetap saja Biawak binatang buas.

Anda yang berkunjung ke Pulau Biawak tidak perlu khawatir karena ada guide yang siap memandu Anda selama berkunjung ke Pulau Biawak. Saryono, akrab dipanggil Mas Jon, biasa menemani para wisatawan yang berkunjung ke Pulau Biawak. Pria usia 35 tahun ini merupakan pegawai Dinas Perhubungan yang ditugaskan menjaga mercusuar Pulau Biawak bersama dua rekannya. Menurut Saryono, biawakbiawak di pulau ini sudah akrab dengan manusia dan tidak menyerang. Sedikit cerita tentang Saryono dan dua rekannya. Pegawai Dinas Perhubungan ini ditugaskan menjaga mercusuar selama tiga bulan. Tugasnya memastikan mercusuar tetap menyala pada malam hari, melaporkan kondisi cuaca dengan radio HT dan membersihkan pulau.

Ada kisah dari Mas Jon tentang pulau ini. Awalnya pulau ini bernama Pulau Rakit. Tetapi karena banyak ditemukan biawak di pulau ini, Pulau Rakit kemudian berganti nama menjadi Pulau Biawak. Di balik penggantian 70 44|2019 nama ini rupanya terbersit harapan agar pulau ini seperti Pulau Komodo di NTT yang menjadi destinasi wisatawan dunia dan menghasilkan devisa. “Kami berharap pulau ini mirip dengan Pulau Komodo di NTT,” ujar Mas Jon.

Cerita mistis juga menjadi bumbu penyedap yang tidak membuat bulu kuduk berdiri. Biawak di pulai ini dikeramatkan dan tidak boleh disakiti atau dibawa ke luar pulau. Pernah dulu ada kapal yang membawa beberapa biawak, tetapi baru beberapa menit berlayar kapal bocor dan harus kembali ke pulau. Ada juga yang berhasil membawa sampai ke Indramayu, begitu dijual biawaknya menghilang. Yang lebih menakutkan ada mahasiswa yang membawa beberapa biawak yang masih kecil ke rumahnya. Setelah beberapa minggu orang tua bersama mahasiswa itu kembali ke Pulau Biawak untuk mengembalikan biawak yang dibawa karena mahasiswa itu menjadi gila. Sekelumit cerita mistis yang dikemas dan menjadi konservasi biawak berbasis kearifan lokal.

Ingin menikmati Pulau Biawak dari ketinggian, para petugas penjaga mercusuar akan menawarkan pengunjung untuk naik ke atas. Wahyu yang menjadi kepala dari penjaga pulau ini menawarkan untuk melihat pulau dari atas yakni untuk naik ke mercusuar. Pemandangan dari atas mercusuar memperjelas keindahan pulau ini. Mercusuar yang dibangun pada tahun 1872 ini masih kokoh berdiri meskipun ada beberapa bagian yang sudah keropos di makan usia. Mercusuar setinggi 65 m dengan 16 tingkat dan 233 anak tangga. Sesaat kami berdebat dengan jumlah anak tangga mengapa jumlahnya bisa sedetail itu. Pak Wahyu mengatakan masing-masing tingkat ada 15 anak tangga, dan tingkat terkahir ada 8 anak tangga. “kalau tidak percaya hitung sendiri,” kata Wahyu.

Perlahan kaki mulai menapaki anak tangga. Tangga dengan konstruksi melingkar bisa membuat nyali ciut karena dasar mercusuar tampak terlihat. Perlahan-lahan menapaki anak tangga sambil sesekali melirik pada jendela melihat laut lepas. Akhrinya sampai juga di puncak mercusuar dan bisa mengelilinginya. Berada di atas mercursuar memberi sensasi pemandanganyang indah ke seluruh Pulau Biawak yang luasnya hanya 120 hektar.

Aneh jika mengunjungi sebuah pulau tanpa melihat dunia bawah airnya. Saat yang ditunggutunggu untuk melihat pemandangan yang tidak semua orang bisa nikmati. Perahu perlahan mulau lepaskan tali tambatnya untuk mengantarkan kami menuju sisi barat. Gelombang timur menghepaskan kami yang menyisir sisi selatan pulau. Beberapa kami sudah bertumbangan karena mual dan muntah, sehingga ada yang memutuskan untuk membatalkan penyelaman.

Salah satu dari anggota tim penyelam, harus mengurungkan niatnya karena sudah lemas duluan sesaat isi lambungnya terkuras habis. Tim penyelam dirombak dan saya menjadi bagian yang akan menyusur paling depan bersama buddy saya. Tujuan penyelaman ini tidaklah untuk menikmati dunia bawah airnya, tetapi untuk meneliti kondisi terumbu karang.

Sesaat turun di kedalama 9,7 m saya terhenyak. Onggokan karang-karang mati tergeletak, warna kusam, keruh, dan jarang ikan yang lewat. Kami menemukan karang-karang mati dalam jumlah yang sangat banyak. Saya mengeluarkan rol meter untuk membetangkan di kedalaman 6 – 9 m sepanjang 50 m. Kami akan mendata karang-karang yang rusak, karang yang masih baik, total tutupan terumbu karang serta ikan-ikan yang hilir mudik. Sekitar 50 menit kami menenggelamkan diri untuk sesaat mencari tahu apa yang terjadi dengan kondisi terumbu karang di sini.

Sesampai di permukaan kami kembali ke darat untuk mendiskusikan tentang kondisi dunia bawah laut sembari menunggu SI (surface interval) masa istirahat paska penyelaman. Sedang enak-enaknya menikmati seduhan honey tea, kembali Biawak ikut bergabung dalam pesta siang itu. Waktu itu rekan saya agak sedikit teledor. Dia menyisakan tengiri goreng sebagai gong-nya setelah suapan terakhir.Malang tak dapat dilawan, gong tengiri goreng dicomot oleh biawak bongsor. Biawak berhasil menggigit tengiri dia gigit jari.

Kembali tambatan perahu dilepas saat arloji mununjukan pukul 16.00. Kami mengarah ke sisi timur untuk melihat kondisi terumbu karangnya. Kami terpaksa mengurungkan niat, begitu sampai di sisi timur karena gelombang cukup besar dan tidak memungkinkan untuk menyelam dengan alasan keselamatan. Kami memutar haluan menuju sisi selatan dan kondisigelombang yang juga besar. Kami memutuskan ke sisi barat untuk mencari kondisi yang aman untuk penyelaman.

Kembali saya menenggelamkan diri untuk mengulur rol meter di kedalaman 6 m. Kondisi terumbu karang di lokasi ke dua tidak berbeda jauh dengan kondisi karang pada lokasi pertama penyelaman. Saya meluncur sendirian, untuk membuat garis transek. Sebenarnya tindakan saya tidak diperbolehkan dalam penyelaman karena harus ber-buddy atauberpasangan. Pada saat itu, kebetulan buddy saya tumbang gegara mabuk laut dan tidak memungkinkan menyelam.

Dalam keheningan bawah laut saya menikmati karang-karang rusak, meskipun beberapa titik ada juga yang bagus. Hampir semua tipe karang adalah karang massif, yakni karang yang merekat kuat seperti karang otak. Ada juga karang yang bercabang seperti Acropora, sedangkan karang lunak tidak begitu banyak. Kondisi jenis karang ini dikarenakan kondosi perairan yang selalu terhempas oleh ombak.

Akhir penyelaman ini disambut oleh golden sunset yang cantik saat senja tiba. Perlahan kami menuju dermaga sembari dituntun oleh mercusuar yang sudah dinyakalan oleh Pak Sakari. Malam ini kami menginap di Pulau Biawak dan berharap biawak-biawak itu tidak ikut tidur disamping kami. Malam pun tiba, dan kekatiran kami pun terjadi, hujan turun lebat, petir menyembar, dan biawak tidur ditempatnya masing masing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here