PERBANKAN KARAWANG KETAT DAN ADU STRATEGI DI KPR

0
83
KETAT DAN ADU STRATEGI DI KPR
Perkembangan Kota Karawang akan diikuti dengan meningkatnya kebutuhan akan hunian layak

Tingginya permintaan akan hunian di Karawang turut memacu persaingan antar perbankan. Sejumlah strategi menggaet pasar potensial telah diluncurkan.

Baca juga :

Karawang sebagai kawasan industri terbesar di Asia Tenggara dengan sekitar 2.000 perusahaan multinasional menjadi ladang potensial bagi pasar properti. Hampir semua pengembang nasional sudah masuk dan menawarkan ragam produk properti dengan keunggulannya masing-masing. Ceruk yang besar ini pun kemudian membuka potensi besar pula bagi perbankan untuk menyalurkan pembiayaan properti di kota lumbung padi tersebut.

Beberapa bank nasional yang berada di Karawang pun mengakui adanya pergerseran arus investasi yang besar masuk ke kota industri Karawang. Hal ini didasari oleh beberapa faktor, antara lain pengembangan massif pada infrastruktur, baik jalan maupun transportasi massal. Sementara Karawang pun sudah diapit oleh fasilitas Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka, serta Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang.

“Sebelumnya memang lebih ke koridor barat Jakarta. Namun belakangan terlihat bahwa properti di timur ini akan sangat bersinar sehingga sunrise-nya properti ada di koridor timur, termasuk Karawang ini,” ujar Roganda S.M.S, Branch Manager PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Kantor Cabang Karawang di kantornya.

Terus berkembanganya Kota Karawang tentu akan diikuti dengan meningkatnya kebutuhan akan hunian layak, dari kelas bawah termasuk rumah bersubsidi hingga segmen menengah dan atas. Hal ini juga tercatat dari tren penyaluran kredit, baik konsumer maupun komersial yang terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan Bank BTN Karawang mematok pertumbuhan rata-rata setiap tahun tumbuh hingga 20 persen.

BTN mematok target kredit kosumer pada tahun ini sebesar Rp1,4 triliun, sementara komersialnya Rp544 miliar. Sehingga total realisasi kredit tahun ini sebesar Rp1,9 triliun. Adapun pencapaian hingga September sudah di atas 100 persen, baik consumer maupun komersial. Sehingga Roganda memastikan bahwa target 2019 akan lebih besar dari 2018. “Realisasi kredit konsumer kami sebesar 17 persen (y-on-y) pertumbuhannya September 2018 dibadingkan dengan September Untuk konsumer sendiri tumbuh hampir sama sekitar 14 persen, sedangkan komersialnya 10 persen,” terang Roganda.

Sementara realisasi penyaluran KPR untuk rumah subsidi per September 2018 telah mencapai sebesar Rp691 miliar, untuk non subsidi Rp333 miliar. “Memang subsidi lebih besar karena Karawang sebagai kawasan industri banyak pekerja massal yang memang lebih membutuhkan rumah bersubsidi,” sambungnya.

Abdul Viharzul Chalik, Manager Pemasaran PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Kantor Cabang Karawang, juga mengakui adanya peningkatan potensi yang luar biasa. Menurutnya, salah satu indikasi adanya pertumbuhan di Karawang juga dilihat dari dana pihak ketiga (DPK) dan non performing loan (NPL) yang tidak begitu tinggi.

“Alhamdulillah di sini DPK NPL-nya tidak begitu tinggi. Jadi memang nasabah-nasabah di sini adalah orang-orang pilihan. Artinya kemampuan mereka ada untuk membeli properti dan untuk ditempati,” urainya.

Bank BRI termasuk pemain baru di Kota Karawang, yakni sejak 2016. Meski demikian, BRI selalu optimis bahwa target yang ditetapkan mampu dicapai dan bahkan melampaui. Untuk tahun 2018 ini, total outstanding (OS) BRI Karawang sebesar Rp228 miliar. “Saat ini pencapaian kami sudah 98 persen dari target. Harapan kami di November sudah tercapai 100 persen lebih jadi Desember kami bisa buat persiapan 2019,” kata Abdul, saat ditemui di kantornya BRI Karawang.

Bank BRI memiliki beberapa lini pembiayaan, yakni primary, secondary, refinancing, take over dan take over top up. Namun saat ini, BRI Karawang memang lebih konsen pada penyaluran pembiayaan properti secondary daripada primary. Rata-rata pencapaian secondary sekitar Rp7-8 miliar yang dilihat dari harga unit rata-rata di kisaran Rp200-500 jutaan. “Pasar take over juga tidak begitu banyak. Rata-rata pekerja industri sudah punya rumah, sehingga mereka hanya butuh tambahan dana untuk ditingkatkan. Kalau take over top up juga hanya beberapa saja. Banyanya di secondary dan refinancing,” jelasnya.

Hingga saat ini Bank BRI telah menjalin kerjasama dengan proyek pengembang besar di Karawang, seperti Sentraland (Perumnas), Grand Taruma (Agung Podomoro), Galuh Mas (Galuh Citarum), juga Grahayana (Citanusa). Sementara BTN Karawang telah bekerjasama dengan 152 mitra proyek, dimana sebanyak 120 berada di Karawang, sisanya tersebar di Cikarang dan Purwakarta.

Strategi

Banyaknya permintaan properti di Karawang juga berimbas tingginya persaingan antar bank dalam menyalurkan pembiayaannya. Untuk ini, masing-masing perbankan telah menyiapkan sejumlah strategi, baik melalui program dan produk, maupun stimulus dan gimik yang memikat nasabah maupun calon konsumennya.

Bank BRI sendiri lebih intensif menjaring nasabah potensial yang ada saat ini, meski beberapa yang baru. Ketelitian dalam melihat track record nasabah menjadi perhatian utama dalam hal ini. Meski demikian, beberapa gimmick pamungkas juga sudah disiapkan. “Kami adalah bank terbesar dan tersebar, jadi data-data nasabah kami menjadi nilai tambah untuk melakukan penjualan. Dan dari situ memang cukup banyak yang bisa kita jaring,” ungkap Abdul.

Bahkan BRI yakin dengan suku bunganya yang diklaim lebih baik dari bank lain. Bahkan saat ini ada beberapa bunga promosi. Seperti untuk jangka waktu 3-5 tahun fix di 7-8 persen, maksimal 9 persen untuk yang 5 tahun. “Tetapi itu jangka waktu 10 tahun, 5 tahun fix itu, 10 tahunnya. Jadi ikuti pasar. Kalau bank swasta paling fix 2-3 tahun,” katanya.

Soal ketatnya persaingan hingga promo antar perbankan pun turut diamini Roganda. Selain memiliki banyak produk dan promo, BTN juga disebut unggul dalam percepatan proses pengajuan pembiayaan. BTN punya program yang sebelumnya 1:5:1: kini menjadi 1:3:1 atau dijelaskan, 1 hari pengajuan, 3 hari kelengkapan dokumen, 1 hari realisasi. Sehingga maksimal dalam 4 hari pengajuan sudah beres. “Kami juga mengembangkan permohonan kredit secara online melalui website btnproperti.co.id. Waktunya kurang lebih sama, hanya saja nasabah lebih efisien dan efektif tanpa perlu buang waktu datang ke kantor,” tambah Roganda.

BTN sendiri memberlakukan suku bunga untuk KPR bersubsidi mulai dari 8,25 persen. BTN juga menyasar menyasar kaum muda, milenial melalui program KPR Gaeesss. Di sini ada promo-promo yang cukup menarik, misalnya ada provisi, kemudian diskon provisi yang mencapai 50 persen, dan lain-lain. ● [Pius Klobor]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here