PERBANKAN DEPOK BIDIK KAUM URBAN JAKARTA

0
44



Kehadiran kaum urban memberi berkah bagi bagi bisnis KPR karena besarnya hasrat untuk memiliki rumah dan apartemen. Adu strategi antar bank penyedia KPR tak terelakan.

Potensi besar kaum urban yang migrasi ke kawasan Depok dan sekitarnya membawa angin segar bagi perbankan yang tengah mengejar target realisasi kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA). Apalagi ada ratusan ribu mahasiswa yang tinggal di sekitar kampus, terutama Universitas Indonesia. Jelas, ini adalah potensi besar bagi perbankan untuk menawarkan KPR.

Tentunya, hunian Non Subsidi menjadi bidikan utama perbankan. Bahkan, Bank Tabungan Negara (BTN) yang identik dengan penyaluran KPR Subsidi pun seakan beralih mengejar ‘setoran’ dari KPR Non Subsidi. Benar saja, kawasan Depok yang diapit Jakarta bagian selatan dan Bogor memang telah dipenuhi perumahan yang menyasar segmen menengah. Rata-rata harga perumahan maupun apartemen berkisar antara Rp400-700 jutaan. Untuk landed pun sudah banyak di atas Rp1 miliar. Sedangkan rumah Subsidi sudah bergeser ke pinggiran Kabupaten Bogor, itupun hanya dalam hitungan jari.

Wisnu Agus Prijanto, Branch Manager BTN Kantor Cabang Depok pun mengakui hal yang sama. KPR Subsidi tetap ditargetkan, meski didominasi oleh KPR Non Subsidi. Beda dengan cabang lain, untuk target Subsidi masih lebih besar. “Kami di Depok juga punya target Subsidi. Tapi karena di
sini tidak ada, makanya kami melakukan realisasi di luar Depok, seperti di Tangerang, Subang, Karawang, Bekasi, Cilegon,” ungkap Wisnu Agus Prijanto, Branch Manager BTN Kantor Cabang Depok.

Adapun realisasi penyaluran KPR BTN Cabang Depok pada tahun 2018 sekitar Rp1,4 triliun, melampaui target Rp1,3 triliun. Rinciannya, sekitar Rp390-an miliar adalah KPR Subsidi dan di atas Rp1 triliun adalah Non Subsidi. Sementara tahun ini ditargetkan naik sekitar 10 persen.

“Depok punya tugas khusus untuk Non Subsidi, karena melihat potensi
wilayahnya. Jadi target Non Subsidi kami memang lebih tinggi dari cabang lainnya. Untuk Subsidi memang kami harus cari ke luar wilayah Depok,” ujar Wisnu kepada Property and The City.

Besarnya potensi wilayah Depok juga diakui Anton Zulkarnain, Senior Vice President Regional CEO Jakarta V Bank Mandiri. Adapun area kerjanya meliputi Jakarta Selatan, Depok dan Bogor. Menurut Anton, Depok sangat strategis yang didukung oleh keberadaan infrastruktur, baik jalan tol, hingga angkutan umum dan massal yang memadai. Apalagi Depok juga merupakan salah satu kota pendidikan yang kini sedang marak pembangunan hunian vertikal yang terintegrasi transportasi massal commuter line.

Berkembangnya pasar properti di wilayah Depok saat ini juga sejalan dengan pencapaian KPR Mandiri Depok. Ini dibuktikan dengan pencapaian KPR Mandiri Depok pada tahun 2018 melampaui target yang telah ditetapkan dengan prosentase sebesar 101,35 persen.

“Persisnya, nilai riil penyaluran KPR Mandiri Depok pada 2018 sebesar Rp189 miliar jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp168 miliar. Jadi ada peningkatan pencairan sebesar Rp21 miliar,” ungkap Anton.

Selanjutnya untuk tahun 2019, Mandiri Cabang Depok mentargetkan baki debet sebesar Rp731 miliar, naik 18 persen dari tahun sebelumnya sebesar Rp615 miliar, dimana dengan angka tersebut realisasi pencairan Rp224 miliar per tahun atau sebesar Rp18,66 miliar per bulan.

“Pola pendekatan kami tentunya lebih kepada nasabah existing yang sudah punya payroll di Mandiri. Banyak dari BUMN, perusahaan asing, ASN dan TNI atau Polri. Kami punya kedekatan sehingga lebih mudah melakukan penjualan produk,” ungkap Anton.

Dengan begitu, Anton yakin target realisasi KPR Mandiri Cabang Depok pada tahun ini dapat tercapai, meski diakui, kondisi dan situasi politik cukup menantang, terutama di triwulan pertama 2019. Realisasi pencapaian sampai triwulan pertama baki debet Rp634,09 miliar atau 97.04 persen, sedikit dibawah target yang ditetapkan. Ini disebabkan karena kondisi dan situasi politik dalam negeri terkait dengan Pemilu yang berdampak pada investor dan pembeli yang masih menunggu kebijakan
yang akan dikeluarkan pemerintah sambil menunggu pergerakan harga.

“Pilpres sudah berjalan dengan baik sehingga diharapkan mulai Mei hingga akhir tahun ini pertumbuhan penjualan KPR akan lebih bagus,” ucap Anton.

Optimisme yang sama juga diungkapkan oleh Wisnu, meski harus bersaing dengan bank lain yang selama ini getol bermain di ranah Non Subsidi. BTN mengandalkan keunggulannya pada percepatan proses dan penyederhanaan persyaratan. Dimana hanya 5 hari, nasabah sudah mendapatkan keputusan. “Untuk Subsidi kami menguasai. Tapi untuk Non Subsidi, kami memang harus bersaing ketat dengan bank lain. Apalagi di Depok yang semuanya adalah Non Subsidi,” kata Wisnu.

Demikian halnya persaingan pada suku bunga. Masing-masing bank menawarkan promo dan gimmick memikat, meski hanya dalam waktu tertentu. Semisal super promo dari Bank Mandiri dengan suku bunga 7,58 persen fixed 3 tahun juga KPR Milenial 7,99 persen fixed 5 tahun. Sementara Bank BTN menawarkan bunga 8,88 persen fixed 2 tahun.

“KPR Milenial tenor kredit bisa lebih panjang dan angsuran yang berjenjang setiap tahunnya sehingga terasa lebih ringan dengan harapan ada kenaikan gaji setiap tahunnya. Kami menawarkan KPR ini dengan jangka waktu sampai dengan 25 tahun dengan suku bunga 7,99 persen fixed 5 tahun dan angsuran yang berjenjang setiap tahunnya,” Anton menambahkan. [Pius Klobor] ●



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here