PENJUALAN RUMAH BANTEN ANJLOK, BODEBEK NAIK!

0
297

Berdasarkan riset yang dilakukan Indonesia Property Watch pada Q3-2017, nilai penjualan rumah di wilayah Jabodebek-Banten mengalami anjlok 25,2 persen menjadi sebesar Rp 742.332.402.740. Turunnya nilai penjualan ini juga sejalan dengan menurunnya jumlah unit terjual dari 2.024 unit menjadi 1.513 unit pada Q3-2017 atau turun sebesar 13,7 persen.

Penurunan ini lebih dikarenakan merosotnya penjualan rumah di Banten sebesar 49 persen, khususnya di Kabupaten Tangerang dan sekitarnya setelah pada triwulan sebelumnya naik tipis. Penurunan tertinggi terjadi di segmen menengah yang anjlok sebesar 69,0 persen, sedangkan di segmen kecil juga terjadi penurunan 32,4 persen. Penurunan di tipe kecil ini juga dirasakan para pengembang perumahan sederhana di wilayah Banten. Tingginya harga tanah di wilayah Tangerang, memaksa banyak pengembang untuk menawarkan rumah dengan harga yang relatif tinggi tanpa diimbangi dengan peningkatan permintaan di segmen ini. Pergeseran pasokan rumah menengah mulai terjadi ke lokasi-lokasi yang lebih jauh lagi dari pusat kota, namun sangat rentan dengan tingkat permintaan yang relatif lebih rendah dari pasokan yang ada. Meskipun demikian, penjualan rumah tipe besar di Tangerang Selatan mengalami kenaikan 32,5 persen khususnya di beberapa perumahan seperti BSD City dan Graha Raya.

Berbeda dengan Banten, kenaikan justru terjadi di beberapa wilayah seperti Bekasi yang naik 20,7 persen, Bogor naik 55,3 persen, dan tertinggi Depok sebesar 97,6 persen. Dari data yang ada diperlihatkan kenaikan penjualan di Bodebek ini terjadi hampir di semua segmen dengan kenaikan tertinggi terjadi di segmen menengah. Peningkatan ini diperkirakan lebih dikarenakan masifnya pembangunan infrastruktur di koridor Bekasi dan Bogor sehingga hampir semua proyek menawarkan rumahnya dengan konsep TOD yang meningkatkan potensi permintaan rumah di wilayah ini.

Proyek-proyek perumahan seperti Metland Cibitung, Vila Mutiara Cikarang, dan Mutiara Gading City menunjukkan peningkatan permintaan di segmen menengah sampai bawah. Peningkatan juga terjadi di beberapa proyek di ruas Cibubur-Cileungsi.

Komposisi penjualan unit rumah terbesar berada di segmen harga Rp 300 – 500 jutaan sebesar 46,4 persen, diikuti segmen Rp 150 – 300 jutaan sebesar 26,6 persen, dan rumah sederhana sebesar 17,1 persen. Sedangkan rumah seharga di atas Rp 1 miliar hanya sebesar 9,9 persen.

Tren penjualan rumah pada triwulan berikutnya diperkirakan masih sangat tidak stabil dan belum menunjukkan tren naik yang sebenarnya. Peran perbankan terutama bank-bank BUMN diharapkan dapat membantu mendorong pertumbuhan penjualan rumah di wilayah ini dengan menurunkan suku bunga dasar acuan yang sampai saat ini belum juga bergerak turun meskipun suku bunga acuan Bank Indonesia telah turun sampai 4,25 persen.

Indonesia Property Watch

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here