Pengembang Koridor Timur Menjawab Defisit Air Baku

Pengembang kawasan pemukiman harus pula memerhatikan ketersediaan air baku bagi para penghuninya. Seharusnya semua menjadi mandiri termasuk pengadaan air bersih.

0
193
defisit air baku
Pengembangan kawasan Kota Jababeka. (dok. Jababeka)

Propertyandthecity.com, Jakarta – Salah satu isu yang menarik dalam webinar bertajuk, “Pengembangan Koridor Timur DKI Jakarta dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi” yang diselenggarakan oleh DPP REI dan didukung oleh DPP AREBI adalah soal defisit air baku.

Untuk diketahui, semakin berkurangnya kawasan hutan, termasuk lahan pertanian/persawahan yang kemudian beralih menjadi pemukiman, menjadi salah satu faktor ketersediaan air baku tersebut. Bahkan untuk di daerah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi-Puncak-Cianjur (Jabodetabekpunjur) diperkirakan bakal mengalami kekurangan air dalam beberapa tahun mendatang.

Baca: Pasca Pandemi, Koridor Timur Jakarta Bangkit Paling Cepat

Abdul Kamarzuki, Dirjen Tata Ruang Kementerian ATR/BPN mengatakan pada tahun 2030 supply Waduk Jatiluhur adalah sebesar 55 m3/s. air baku tersebut nantinya dipasok untuk kebutuhan masyarakat di DKI Jakarta sebesar 41,6 m3/s dan Wilayah Kabupaten Bekasi 7,1 m3/s, serta Kota Bekasi 7,9 m3/s. Tingginya kebutuhan air tersebut, maka diperkirakan akan terdapat kekurangan sebesar 1,6 m3/s.

Namun, kekurangan tersebut akan didukung dari 305 Danau, Embung dan Waduk (SDEW). yang di tetapkan sebagai Sumber Air Berdasarkan Perpres 60/2020, diantaranya adalah Waduk Ciawi, Waduk Sukamahi, serta Waduk Karian

“Sehingga ini menjadi perhatian bagi pengembang, bahwa sekarang kita ada defisit air baku 1,6 m3/s untuk air dari Jatiluhur. Makanya untuk di Jabodetabekpunjur pemerintah mendesain adanya pengembangan Waduk Ciawi dan Sukamahi disamping untuk pengendalian banjir juga untuk air bersih. Termasuk Waduk Karian, meskipun tidak masuk di wilayah Jabodetabekpunjur, tapi juga tetap kita pantau,” ujar Abdul.

Hadi Sucahyono, Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah, Kementerian PUPR menambahkan, persoalan ketersediaan air baku termasuk pengendalian banjir menjadi bagian dari isu-isu strategis pada pengembangan koridor timur Jakarta.

Menurut dia, selain akan terjadi defisit air baku, juga akan terjadi ekstraksi air tanah yang akan semakin besar. Hadi menjelaskan, saat ini, ekstraksi air tanah pada Cekungan Air Tanah (CAT) Bekasi Karawang (warna ungu) telah mencapai 270% dengan neraca air tanah –10, sehingga pengembangan koridor timur Jakarta direkomendasikan tidak memanfaatkan cadangan air tanah.

Baca: Terobosan Baru, AKI Group Kembangkan Resort Energi Terbarukan

“Kita tahu bahwa neraca air tanah kita saja sudah minus. Sehingga ini juga menjadi warning buat kita bahwa air baku akan menjadi masalah serius ke depannya,” tegas Hadi.

Kementerian PUPR, lanjutnya, juga sudah merencanakan pengembangan bendungan baru pada 2021 sebagai penyedia air baku.

Selain itu, Kementerian PUPR juga sedang mengadakan rencana kontrak dengan swasta untuk pengadaan air minum secara regional (SPAM Regional), baik untuk SPAM Regional Jatiluhur 1 dan SPAM Regional Juanda. Upaya ini dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan ketersediaan air baku di wilayah timur Jakarta.

“Pengembang juga punya kewajiban untuk menjaga kualitas-kualitas sumber air, seperti situ atau danau. Jangan sampai justru menghilangkan danau-danau tersebut,” tegasnya.

Beberapa pengembang besar di koridor timur Jakarta mengaku telah mengembangkan infrastruktur penyediaan air baku, termasuk dengan melestarikan dan mengembangkan danau atau situ baru.

Kawasan Jababeka misalnya, pengembang telah menyediakan dua unit pabrik pengolahan air dengan kapasitas gabungan yang besarnya lebih dari 60.000 meter kubik per hari dan dapat diperluas hingga hampir 80.000 meter kubik. Air baku tersebut disuplai baik untuk kawasan industri maupun masyarakat di Jababeka.

Kedua unit pengolahan air tersebut memiliki kapasitas produksi yang berbeda. Adapun untuk Kawasan Industri Tahap 1 mencapai 470 liter per detik, sementara Kawasan Industri Tahap II berkapasitas 235 liter per detik. Dan, untuk mendukung fasilitas Water Treatment Plan, Laboratorium PT Jababeka Infrastruktur menyediakan jasa laboratorium analisis dengan perhatian khusus pada kepada analisis udara, air bersih, air minum, air limbah air proses produksi dan tanah untuk berbagai macam industri.

Dengan demikian, Kota Jababeka bisa memenuhi kebutuhan air bersih dan air minum yang layak bagi sebanyak 400 ribu penduduk yang telah menetap dalam kawasan seluas total 5.600 hektar ini.

Tidak kalah, kawasan Lipo Cikarang juga telah dilengkapi dengan beberapa danau, dimana salah satunya adalah Sentral Park Meikarta seluas 105 hektar. Bahkan pengembang juga telah menanam lebih dari 94 ribu pohon dalam kawasan Lippo Cikarang tersebut.

“Di Lippo, kami berusaha untuk menjaga keseimbangan alam, tidak membuang alam yang ada. Sehingga bicara soal ketersediaan air baku tentu tidak lepas dari kawasan hijau. Dalam kawasan kami, juga sudah ditumbuhi lebih dari 94 ribu pohon. Bahkan untuk proyek baru di Karawang pun danaunya kami perbesar,” kata Andreas Nawawi, Senior Advisor Lippo Cikarang.

Kota Summarecon Bekasi seluas 280 hektar juga melengkapi kawasan hijau termasuk taman dan danau seluas 32 hektar.

Baca: Okupansi Hotel Naik di Wilayah Driving Distance

“Dalam kawasan Summarecon Bekasi kami bangun 3 danau dengan lebih dari 8.700 pohon,” ujar Albert Luhur, Executive Director PT Summarecon Agung Tbk.

Bahkan, pengembang juga melengkapi dengan manajemen tata air, mulai dari pengolahan air kawasan hingga di lingkungan cluster hunian dengan pengelolaan air WTP (Water Treatment Plan) menggunakan sistem ultraviolet menggunakan pipa anti korosi dan anti bakteri. Dalam ruang ultraviolet inilah kualitas air terjaga.

Lebih lanjut Hadi berharap agar pengembang kawasan pemukiman, harus pula memerhatikan ketersediaan air baku bagi para penghuni. “Saya imbau, seharusnya semua menjadi mandiri termasuk pengadaan air bersih,” kata Hadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here