Pengembang Harus Lakukan Strategi ‘Membumi’, Hindari Market Mismatch

0
341
pengembang properti perumahan menengah
Ilustrasi - (Foto: Pius Klobor)

Jabodebek (Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi) – Banten masih diyakini sebagai benchmark pasar perumahan secara nasional. Pergerakan yang terjadi di wilayah ini dapat dijadikan barometer tren pasar perumahan secara nasional.

Memasuki semester II tahun 2018, sebagian besar pelaku pasar meyakini kondisi pasar perumahan saat ini relatif mengalami stagnasi bahkan dengan kecenderungan melambat atau menurun. Namun ternyata kesan ini tidak tergambar dari tren pasar berdasarkan riset terbaru yang dirilis Indonesia Property Watch (IPW).

Baca: INDONESIA PROPERTY WATCH : PASAR PERUMAHAN KEMBALI NAIK

Meskipun secara triwulanan nilai penjualan mengalami penurunan, namun bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilai penjualan di triwulan III/2018 mengalami peningkatan 37,3% (yoy). Di sisi lain jumlah unit yang terjual pun mengalami kenaikan sebesar 32,5% (yoy). Hal ini membawa harapan bahwa pasar perumahan akan mengalami tren positif ke depannya.

Kondisi pasar yang dirasakan pengembang lebih dikarenakan kondisi pada akhir tahun 2017 sampai awal tahun 2018 yang memang mengalami penurunan. Namun bila kita lihat lebih seksama, maka penurunan penjualan yang terjadi justru terjadi di segmen harga di atas Rp500 jutaan.

Berdasarkan data IPW, terjadi penurunan penjualan untuk rumah di segmen harga Rp500 juta – 1 miliaran sebesar 17,9%. Bahkan penjualan rumah segmen di atas Rp1 miliaran mengalami anjlok 71,2%. Sedangkan segmen harga rumah antara Rp150 juta sampai Rp300 jutaan mengalami kenaikan sampai 2 kali lipat sebesar 207,6%.

Sebagian besar pengembang properti saat ini masih merasa pasar segmen atas lebih gurih dibandingkan dengan segmen menengah bahkan bawah. Namun kenyataannya dengan kondisi saat ini pasar segmen menengah bawah yang relatif tahan terhadap gejolak pasar yang ada saat ini.

Baca: BIOMETRIC NEUROMARKETING LEBIH PRAKTIS DAN AKURAT

Pasar segmen menengah dan bawah dengan kisaran di bawah Rp500 jutaan relatif tidak terlalu terpengaruh gejolak politik saat ini. Sedangkan di pasar menengah atas tetap merupakan pasar besar namun saat ini relatif tidak banyak melakukan aksi pembelian karena kondisi politik.

Namun tidak menampik bahwa tren pasar saat ini belum sepenuhnya menunjukkan tren kenaikan secara stabil, masih dimungkinkan terjadi perlambatan dan penurunan secara triwulanan.

Banyaknya pengembang properti yang terus membangun rumah menengah atas membuat pasar mengalami mismatch dimana secara umum pasar menengah bawah lebih besar, namun pasokan terus bertambah dan menyasar pasar segmen atas.

Dalam kondisi saat ini dihimbau agar para pengembang bisa lebih melakukan strategi ‘membumi’, karena sangat jelas pasar segmen menengah bawah sangat besar sedangkan pasokan relatif terbatas.

Baca: Laris Manis Rumah Murah di Maja

Hal ini juga diperkuat dengan data Bank Indonesia yang menyebutkan bahwa tingkat penjualan rumah tapak untuk tipe di bawah 70 meter persegi terus mengalami peningkatan dibandingkan rumah tapak dengan luasan lebih besar dari 70 meter persegi.

Pada akhirnya yang menentukan pasar perumahan adalah pasar itu sendiri dengan terus bergeser ke pasar end user.

Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here