Peduli Suku Dayak Iban, Rumah Budaya Dayak Akan Segera Dibangun

Ada banyak hal yang istimewa dari masyarakat Sungai Utik, melalui local wisdom mereka berhasil mempertahankan hutan adat dan budaya. Dan hutan adat ini menjadi bagian dari hutan paru-paru dunia.

0
530
rumah budaya dayak
Ilustrasi - sebuah karya dalam Pameran Mother Earth & Architecture yang diselenggarakan tanggal 28 November – 7 Desember 2019 lalu, dalam rangka Bintaro Design District 2019 di kantor Han Awal & Partners./ Foto: ME&A

Yayasan Widya Cahaya Nusantara (YWCaN) berkolaborasi dengan Rumah Asuh dan Tirto Utomo Foundation akan membangun rumah budaya juga tempat ibadah bagi Suku Dayak Iban.

Hal ini dilatari oleh kepedulian YWCaN terhadap masyarakat tradisional yang tinggal di Sungai Utik, pedalaman Kalimantan. Untuk diketahui, suku pedalaman tersebut masih sangat tertinggal oleh arus modernisasi yang berkembang pesat bagi masyarakat di perkotaan dan daerah yang lebih terbuka.

Baca: Toto Rilis Desain Terbaru Karya Jaime Hayon

Dalam hal ini, baik YWCaN maupun Rumah Asuh dan Tirto Utomo Foundation memiliki visi yang sama mendampingi Suku Dayak Iban untuk bisa mempertahankan karakter, tradisi, dan juga kepercayaan tradisional ketika masyarakat di situ berinteraksi dengan perubahan zaman dan modernisasi.

Mereka memiliki harapan besar agar bisa mengurangi tergerusnya budaya dan tradisi lokal mereka meskipun tetap berinteraksi dengan peradaban masa kini dan modernisasi.

Oleh karena itu salah satu bangunan yang akan segera direalisasikan adalah bangunan rumah budaya. Bangunan ini akan mewadahi aktivitas masyarakat tradisional dan menjadi jembatan bagi generasi yang lebih muda agar bisa tetap mempelajari kebudayaannya sendiri dan sekaligus tetap berinteraksi dengan segala kemajuan dan perubahan zaman.

Baca: Desain Arsitektur RS Pondok Indah – Bintaro Jaya Masuk Finalis World Architecture Festival 2019

“Ada banyak hal yang istimewa dari masyarakat Sungai Utik, melalui local wisdom mereka berhasil mempertahankan Hutan Adat dan Budaya (hutan adat 10.000 ha). Dan hutan adat ini menjadi bagian dari hutan paru-paru dunia,“ jelas Brunoto Arifin dari YWCaN.

Upaya pendampingan ini ternyata sejalan dengan kekhawatiran para tetua adat Suku Dayak Iban sendiri. Keinginan mereka untuk maju membuat mereka khawatir akan kerusakan hutan yang selama ini mereka jaga dan menjadi bagian inheren dari adat istiadat mereka.

“Selain Rumah Budaya yang menjadi galeri budaya dan wadah bagi pemberdayaan masyarakat, satu lagi bangunan yang akan dibangun, yaitu rumah ibadah Gereja Katholik. Gereja ini dirancang dengan menggali nilai-nilai dan kearifan lokal setempat,” papar Yori Antar, Founder Rumah Asuh dan Principal Han Awal & Partner.

Baca: Tower B Apartemen Emerald Bintaro Tutup Atap, Ideal untuk Milenial

Dua bangunan inilah yang menjadi highlight dari pameran Mother Earth & Architecture yang diselenggarakan tanggal 28 November – 7 Desember 2019 lalu, dalam rangka Bintaro Design District 2019 dan berlokasi di kantor Han Awal & Partners.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here