MRT JAKARTA KINI SEJAJAR DENGAN KOTA-KOTA DI DUNIA

0
200

MRT resmi meluncur sebagai moda transportasi modern di metropolitan Jakarta. Ditunggu efeknya untuk properti di jalur MRT.

baca juga :

Impian Jakarta memiliki kereta api bawah tanah yang populer disebut MRT (mass rapid Transit) sejak era Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso 15 tahun lalu, akhirnya terwujud. Mimpi Jakarta mensejajarkan kotanya seperti kota-kota di dunia yang sudah lebih dulu memiliki MRT, menjadi kenyataan begitu Presiden Joko Widodo menekan sirene tanda dimulainya operasi MRT fase 1 Bundaran HI – Lebak Bulus. Warga Jakarta kini tidak lagi minder dengan warga di kota-kota negara maju karena sudah punya kereta yang menembus “perut bumi” Jakarta.

Fase 1 Bunderan HI – Lebak Bulus ini sepanjang 16 kilometer dengan rincian jalur bawah tanah 98,74 persen dan dan jalur layang 98,43 persen. Ada 13 stasiun MRT yang melayani warga Jakarta dengan tarif tertinggi Rp14 ribu. Adapun fase 2 rencananya akan dibangun lanjutan dari Bunderan HI yaitu Sarinah – Kota.

Beroperasinya MRT ini tentu disambut gembira masyarakat Jakarta. Ini terlihat dari antusias masyarakat ketika diberi kesempatan untuk naik MRT saat masa uji coba dari tanggal 12-24 Maret. Masyarakat rela berdesak-desakan untuk merasakan aura naik kereta api di bawah tanah, dan tentunya stasiun yang modern dan keren. “Keretanya nyaman banget, dan bersih. Buat pengguna MRT please banget jangan buang sampah sembarangan di kereta, dan jangan bawa makan dan minum di atas kereta ya,” ujar Rachel Goddard, beauty vloger.

Menurut Saskita Anzelia, Manager Stasiun MRT Bundaran HI, sebenarnya masih banyak yang akan ditambahkan di stasiun MRT, seperti pengadaan bangku tunggu di peron stasiun, yang nantinya diperuntukan untuk penumpang yang sedang menunggu kedatangan MRT. Penunjuk arah yang masih minim atau tanda petunjuk yang tidak terlihat jelas oleh penumpang. Jalur darurat evakuasi juga belum selesai. “Pekerjaan dari kontraktor memang belum seratus persen selesai,” ujar Saskita kepada Property and the City, disela-sela mengikuti uji coba MRT.

Efek ke Properti

Ibarat pepatah “Ada gula ada semut”. Begitu pun ada infrastruktur ada properti. Pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah akan mendorong pertumbuhan properti di kawasan-kawasan yang dilalui infstruktur baru. Ambil contoh penambahan jalur commuter line sampai ke Maja langsung di respon dengan tumbuhnya perumahanperumahan baru di daerah Maja. Begitu juga dengan modal transportasi LRT yang saat ini masih dalam tahap pembangunan, di titik-titik yang bakal ada stasiun LRT sudah diincar para pengembang untuk dibangun hunian TOD ( Transit Oriented Development).

Bak gayung bersambut, di titik-titik kawasan yang ada stasiun MRT, tampak geliat propertinya menangkap peluang pasar sebagai efek dari hadirnya MRT. Pasar pengguna MRT pasti akan mencari hunian, misalnya, tempat kos di sekitar stasiun MRT agar mudah terjangkau tanpa harus menggunakan transportasi lain. Termasuk mengincar kawasan sekitar stasiun MRT untuk dijadikan perkantoran 2-3 lantai berbentuk ruko.

Efek MRT untuk bisnis properti sudah terlihat di sekitar stasiun MRT
Haji Nawi, Jakarta Selatan. Di Jalan Madrasah, misalnya, banyak rumah
penduduk beralih fungsi menjadi kos-kosan. Bahkan, beberapa rumah
sudah dipasang spanduk dijual. Mereka berharap dibeli oleh investor
untuk dijadikan kos-kosan. Belum lagi rumah-rumah yang direnovasi
total untuk dijadikan perkantoran. Beberapa lahan kosong langsung
dibangun untuk kos-kosan atau perkantoran. Targetnya apalagi kalau
bukan akses yang dekat ke stasiun MRT Haji Nawi.

Efek MRT untuk bisnis properti sudah terlihat di sekitar stasiun MRT Haji Nawi, Jakarta Selatan. Di Jalan Madrasah, misalnya, banyak rumah penduduk beralih fungsi menjadi kos-kosan. Bahkan, beberapa rumah sudah dipasang spanduk dijual. Mereka berharap dibeli oleh investor untuk dijadikan kos-kosan. Belum lagi rumah-rumah yang direnovasi total untuk dijadikan perkantoran. Beberapa lahan kosong langsung dibangun untuk kos-kosan atau perkantoran. Targetnya apalagi kalau bukan akses yang dekat ke stasiun MRT Haji Nawi.

Kawasan-kawasan perkantoran dan perdagangan di jalur MRT yang semula sepi ditinggal penyewa, kini dipastikan akan kembali hidup. Perusahaan-perusahaan yang berkantor di tengah kota sangat mungkin memindahkan kantornya di sekitar stasiun MRT. Kita tentu ingat ketika Tol Simatupang beroperasi banyak perusahaan yang memindahkan kantornya ke kawasan Simatupang dari pusat kota. Mereka pindah untuk menghindari peraturan three in one ketika itu, dan Tol JORR yang mudah di akses dari kawasan pinggir Jakarta seperti Serpong, Pondok Indah, Bekasi. Kini properti di jalur MRT siap menuai hasilnya.

CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, mengamini bahwa keberadaan MRT akan memengaruhi pasar properti khususnya akan mendongkrak kenaikan harga tanah di simpul-simpul yang dilalui antara lain Fatmawati, Cilandak, dan Lebak Bulus, bahkan kenaikannya sudah terjadi sebelum MRT selesai dibangun. ● (Harini Ratna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here