Mochtar Riady: Karawang-Bekasi, Shenzhen of Indonesia

0
180

MOCHTAR RIADY: KARAWANG-BEKASI, SHENZHEN OF INDONESIA

“Kalau di lain tempat saya bisa cerita sedikit, tapi di depan pak Ciputra saya nggak berani bicara lagi,” sedikit bercanda, Chairman Lippo Group Mochtar Riady, ketika membagi wawasannya mengenai “Overview Perekonomian dan Properti Indonesia” di hadapan tidak kurang dari 500 orang dalam ajang Golden Property Awards 2015, di Raffles Hotel, Jakarta, Rabu (26/8/2015), malam. Deretan VVIP memang terdapat tokoh dan pejabat penting, seperti Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basoeki Hadimoeljono, founder Ciputra Group Ir Ciputra, chairman Agung Podomoro Group Trihatma K. Haliman, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Lasarus, dan Dirjen Pembiayaan Kementerian PUPR Maurin Sitorus.

Dalam kesempatan tersebut, Mochtar menekankan pentingnya industri properti yang dapat mendorong peningkatan ekonomi sebuah negara. Dia mencontohkan Amerika dan Tiongkok yang mampu bangkit meski dalam kondisi krisis moneter luar biasa.

“Seperti diketahui pada 2008 Amerika mengalami krisis moneter yang luar biasa. Hal ini juga berdampak pada pengembangan properti di Amerika. Selanjutnya Tiongkok dalam kurun waktu 25 tahun, hingga pada 1991, grosss domestic product-nya (GDP) hanya USD200 per kapita. Dan sekarang menjadi lebih dari USD10.000 per kapita. Ini hanya karena Tiongkok mampu membangun sekitar 500 kota kabupaten menjadi kota modern. Bahkan Indonesia adalah salah satu negara yang menikmati boomingnya ekonomi dunia oleh karena properti Tiongkok tersebut,” papar Mochtar.

Oleh karena itu, Mochtar meyakini jika industri properti di tanah air pun akan mampu bangkitkan Indonesia dari melemahnya ekonomi. Bahkan menurut dia, Indonesia adalah negara yang paling potensial dan strategis untuk pertumbuhan idustri properti.

“Di dunia ini, tempat yang paling strategis yang paling mempunyai hari depan adalah Indonesia. Saya selalu mengatakan kepada teman-teman saya, bahwa yang dinamakan tempat yang paling potensial itu adalah di tempat yang paling bermasalah,” katanya.

Sebagaimana diketahui, sebut Mochtar, masalah terbesar di Indonesia saat ini adalah infrastruktur yang masih sangat terbelakang dibanding dengan negara-negara Asia lainnya. Oleh karena itu, negara-negara maju seperti Jepang dan Tiongkok begitu menggebu untuk berinvestasi di Indonesia.

“Kita tahu bahwa saat ini pemerintah Indonesia sedang giat mengembangkan atau membangun infrastruktur. Maka di dalam 10 tahun yang akan datang ini, saya yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan kurang dari 10 persen,” katanya.

Untuk itu, Mochtar mengimbau agar semua pihak terkait saling bahu-membahu ikut berperan untuk mengembangkan atau mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Lebih dari itu, dia juga berharap agar pemerintah dapat mengurangi pajak, sebaliknya memberikan insentif agar perusahaan properti tidak mengalami kesulitan.

“Pepatah Tionghoa mengatakan, potong ayam ambil telur. Saya kira pada saat ini, mungkin pemerintah perlu memikirkan bagaimana mengurangi pajak, memberikan insentif agar perusahaan-perusahaan dalam industri properti ini tidak sampai mengalami suatu kesulitan,” katanya.

“Saya yakin, kalau bisnis properti di Indonesia bisa tetap bertahan, booming, maka ekonomi Indonesia akan ikut bertahan secara baik,” sambungnya lagi.

Bahkan menurut Mochtar, saking strategis dan potensialnya pengembangan properti di Indonesia, maka akan dapat menyamai Shenzhen, sebuah kota dengan kemajuan mencengangkan di wilayah Propinsi Guandong, Tiongkok. Dalam hal ini, Karawang, Bekasi adalah Shenzhen-nya Indonesia.

“Kita tahu tidak dimana tempat di Indonesia ini yang bisa produksi satu juta mobil dalam setahun? Itu adalah di Karawang dan Bekasi. Di mana tempat yang produksi 10 juta sepeda motor, itu adalah Karawang, Bekasi. Maka sesungguhnya untuk melukiskan hal ini, Karawang dan Bekasi itu adalah Shenzhen of Indonesia,” katanya.

Hal inilah yang kemudian melatari Grup Lippo membangun komplek hunian untuk warga masyarakat Jepang yang ada di Karawang dan sekitarnya. “Sebetulnya saya ingin namakan ‘Little Tokyo’, tapi oleh teman-teman saya di Lippo Group mengatakan, ‘Orange County’. Kita mengajak pihak Jepang sama-sama mengembangkan,” katanya. “Dengan cara ini, maka tanah yang biasanya dijual dengan harga sekitar Rp 2 juta per meter, bisa naik menjadi Rp 24 juta per meter,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here