MICRO HOUSE Bukan Rumah Liliput

0
310

Konsep bangunan micro house diperkirakan bakal menjadi tren di
2019 akibat lahan yang terus makin terbatas. Mungkinkah micro house
bakal cepat muncul di Indonesia?

Lahan adalah masalah yang paling krusial di sektor properti. Bahkan, murah mahalnya harga rumah bisa sangat ditentukan oleh luas lahan rumah tersebut. Khusus di wilayah Jabodetabek masalah lahan sudah menjadi problem utama. Jangan heran kalau perumahan-perumahan baru untuk segmen menengah sampai ke subsidi makin ke pinggir, jauh dari Ibukota Jakarta, karena makin terbatasnya lahan.

Keterbatasan lahan juga yang membuat para pengembang kreatif menciptakan hunian-hunian baru yang menyesuaikan luas lahan. Kita ingat dulu sempat ngetren rumah minimalis. Konsep hunian minimalis sebetulnya upaya pengembang menyiasati lahan yang makin terbatas. Konsep bangunan rumah minimalis, seperti ruang tamu yang diperkecil cukup muat satu sofa. Ruang keluarga dan ruang makan yang menyatu. Bagaimana dengan tahun 2019 ini, tren hunian seperti apa yang bakal naik daun.

Menurut Ignatius Untung, Country General Manager Rumah123.com, tahun 2019 akan ditandai dengan beberapa jenis properti yang bakal menjadi tren. Properti yang bakal tren tersebut akan mementingkan kualitas bangunan daripada luas bangunan. Dari tiga properti yang akan menjadi tren di 2019 salah satunya adalah micro house. Tren ini muncul tidak lain untuk menyiasati lahan yang makin terbatas. “Micro house adalah rumah dengan tanah yang kecil, namun kualitas dan isinya bagus,” ujar Untung.

Ukuran rumah micro house luas tanah yang dimiliki di bawah 70 hingga 40 meter persegi. Walaupun berdiri di lahan yang sempit tetapi kualitas bangunannya tetap mewah, layaknya rumah segmen menengah atas. Artinya, bukan konsep rumah sederhana seperti rumah subsidi, tetapi kualitas bangunan dan isi rumah bisa golongan kelas menengah ke atas. Di negara-negara maju konsep micro house sudah lama dikenal. Di Jepang konsep micro house sudah sangat populer karena lahan di
Jepang harganya sudah “selangit”.

Sementara di London, seperti dikutip dari rilisiana, seorang arsitek bernama Renzo Piano dikenal karena meluncurkan proyek bernama London’s Shard yaitu rumah dengan desain micro house. Ukuran rumah yang dibuatnya hanya 7.5 meter persegi namun tetap nyaman untuk ditempati. Di dalamnya terdapat meja lipat, toilet, panel surya, dan perangkat pengumpul air hujan sehingga bisa dikatakan rumah ini adalah rumah ramah lingkungan.

Konsep sederhana sepertinya tidak bisa dipisahkan dari bangunan micro
house. Sederhana bisa dalam pengertian micro house hanya memiliki kamar satu, ruang tamu menyatu dengan dapur, kamar mandi satu. Jangan berharap semua kebutuhan rumah tangga bisa diakomodasi di rumah micro house. Kebutuhan penghuni mau tidak mau harus memenuhi luas micro house. Tentunya tanpa teras. Kalaupun ada hanya sekadarnya. Bentuk bangunan tidak lazim seperti rumah pada umumnya. Fisik bangunan biasanya bertingkat untuk menyiasati sempitnya lahan.

Apakah ini semua mengurangi kualitas penghuninya, misalnya, kenyamanan dan kebutuhan rumah tangga yang pastinya tidak bisa semua masuk ke dalam rumah. Tergantung dari penghuni, bagaimana menempatkan kata sederhana untuk rumah micro house. Bagaimana dengan di Indonesia. dengan lahan yang makin terbatas dan harganya sudah menjulang tinggi, rumah micro house sepertinya bakal jadi pilihan, terutama untuk yang masih single. ● (Hendaru)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here