Menata Hunian Sehat untuk Meminimalisir Penyebaran Covid-19

Idealnya, hunian sehat tidak perlu menggunakan pendingin ruangan (AC) yang harus disimpan di ruang tertutup.

0
50
hunian sehat
Ren Katili, Founder Studio ArsitektropiS. (dokpri)

Propertyandthecity.com, Bekasi – Virus Corona atau Covid-19 masih merebak di Tanah Air. Untuk ini, masyarakat diimbau agar menjaga pola hidupnya, termasuk menata hunian sehat guna meminimalisir penyebaran virus tersebut.

dr. Yulia Muliaty praktisi kesehatan yang berpengalaman sebagai Pembina Kota Sehat di wilayah Jakarta Timur mengingatkan masyarakat untuk dapat meningkatkan pola hidup sehat, terutama di tempat tinggal mereka.

Terkait dengan hal ini, wanita yang biasa disapa dr Lia tersebut memberikan beberapa tips praktis agar masyarakat dapat menerapkan standar hunian sehat.

Baca: Wow, Neuva Ice Ternyata Mampu Cegah Virus Corona Loh!

Pertama, memastikan bahwa huniannya memiliki ventilasi udara yang memadai di tiap ruangan. Kedua, pastikan masuknya cahaya matahari ke dalam rumah.

Ketiga, saat ini terjadi peningkatan cluster yang rentan Covid-19 melalui sirkulasi udara yang berputar secara statis seperti pada ruangan yang menggunakan air conditioning (AC).

“Walaupun kontak dekat menjadi faktor utama, namun kondisi berjejalan dengan ventilasi ruangan yang buruk bisa menjadi sebab bertahannya virus dalam ruangan,” jelasnya.

Keempat, usahakan memilih ruang penerima tamu di luar ruangan dengan udara bebas serta tidak bersinggungan langsung dengan ruang keluarga.

Kelima, pastikan tersedia fasilitas cuci tangan ataupun disinfektan di sekitar halaman sebelum masuk ke dalam rumah.

Keenam, sediakan tempat penyimpanan sepatu atau alat-alat yang digunakan di luar rumah secara rutin.

Baca: 5 Tips Mudah Menata Ruang Minimalis

Ketujuh, biasakan untuk membersihkan diri setiap kali sampai di rumah (sebelum bertemu dengan keluarga, terutama anggota yang rentan) dengan mencuci tangan menggunakan sabun setiap kali berkegiatan.

“Hal-hal di atas, kalau diterapkan secara disiplin paling tidak dapat meminimalisir paparan virus Covid 19,” ujarnya.

Hunian Sehat

Lalu bagaimana dunia arsitektur bisa mengakomodir protokol kesehatan dalam menghadapi ancaman Covid-19?

Dalam hal konsep hunian ideal untuk adaptasi dengan kondisi saat ini, arsitek Ren Katili dari Studio ArsitektropiS memaparkan beberapa standar hunian sehat yang bisa diterapkan masyarakat.

Menurut dia, hunian yang adaptif untuk pencegahan penyebaran virus Covid-19 sebenarnya sudah diakomodasi dalam konsep rumah sehat yang selalu memperhatikan unsur iklim daerah setempat.

Untuk daerah tropis seperti Indonesia, kata founder Studio ArsitektropiS tersebut, rumah harus memenuhi aspek kecukupan pencahayaan matahari dan memiliki sirkulasi udara yang baik, di samping fasilitas ruang terbuka hijau yang memadai.

“Rumah yang memiliki sirkulasi udara baik dengan pencahayaan sinar matahari cukup akan mampu mereduksi kelembaban udara yang tinggi di daerah tropis sehingga rumah tidak terasa lembab yang memudahkan berkembangbiaknya bakteri serta virus-virus berbahaya,” ujarnya.

Baca: Lebih Baik Beli Properti Sekarang atau Menunda?

Menguatkan pendapat dr Lia, Ren menambahkan, hunian sehat idealnya memang tidak perlu menggunakan pendingin ruangan (AC) yang harus disimpan di ruang tertutup.

Sesuai berbagai referensi yang ia dapatkan, droplet yang mengandung Covid-19 dapat menyebar lebih cepat di ruangan ber-AC ketimbang di luar ruangan atau di dalam ruangan yang memiliki ventilasi leluasa.

Lalu bagaimana mengatasi problem overheating yang sering dikeluhkan orang pada ruangan yang tidak ber-AC?

Ren berpendapat, temperatur tinggi yang terjadi tersebut, biasanya karena pencahayaan matahari berlimpah di daerah tropis, dan rata-rata dialami oleh rumah yang memiliki aliran udara rendah.

Untuk menghindari kondisi overheat seperti itu, ia menyarankan, saat membangun rumah, bangunan sebaiknya diorientasikan pada arah utara-selatan.

Selain itu, bentuk bangunan yang pipih (desain persegi panjang) menurutnya juga lebih baik daripada denah rumah yang berbentuk gemuk (seperti kubus) karena udara akan lebih cepat keluar masuk.

Dalam hal trafik udara, masih menurut Ren, idealnya setiap rumah memang memiliki 2 lubang yang bisa menjadi pintu keluar masuk udara.

Namun di kompleks perumahan yang padat saat ini, tidak bisa dihindari lagi, banyak rumah yang akhirnya hanya memiliki satu fasad karena bagian belakangnya ditutup rapat ketika penghuninya butuh ruang tambahan.

Untuk kondisi seperti itu, Ren menganjurkan dibuat bukaan atas agar udara panas bisa keluar leluasa.

Selain bukaan untuk trafik udara, presentasi luas dasar terhadap luas lahan juga harus diperhatikan demi kualitas udara, tanah dan air sehingga tercipta keseimbangan kelestarian lingkungan.

Baca: Corona Melanda, Justru Sekarang Waktu yang Tepat Beli Rumah

Lalu bagaimana untuk rumah yang sudah telanjur ditingkat? “Siasati dengan membuat jendela atau bukaan di atas tangga agar udara jangan sampai mampat,” pungkasnya memberi saran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here