Marcellus Chandra: Bisnis Memang Rumit, Tetapi Harus Komit, Maju dan Cari Solusi

0
70
Marcellus Chandra
Marcellus Chandra, Presiden Direktur Prioritas Land Indonesia./ Foto: Pius Klobor

“Butuh mental berani bahkan nekat, juga modal yang cukup. Ambisi penting tapi jangan melampaui batas kemampuan, itu bisa berdampak fatal,” Marcellus Chandra.

Pebisnis pemula atau startup sering gagal membangun bisnis lantaran tidak matang memperhitungkan segala risiko yang mungkin akan terjadi. Bahkan dalam kondisi terpuruk, mereka lantas menyerah dan memilih menghindar dari persoalan yang tengah menimpa.

Beda dengan Marcellus Chandra yang kini menduduki jabatan sebagai Presiden Direktur Prioritas Land Indonesia, perusahaan properti yang dia dirikan beberapa tahun silam.

“Butuh kerja keras dan berani menghadapi masalah meskipun harus pontang-panting. Tidak segampang membalikkan telapak tangan,” ungkapnya.

Matangnya Marcell, demikian sapaan karib Marcellus, lantaran hidupnya sudah ditempa sedari dini oleh orang tuanya. Pria kelahiran Surabaya, 10 Oktober 1979 tersebut datang dari keluarga sederhana yang memang terbiasa dengan kehidupan keras.

Ayahnya adalah seorang kontraktor rumah penduduk di Surabaya. Berbagai persoalan yang pernah dihadapi ayahnya menjadi proses pembelajaran bagi Marcell.

“Kontraktor itu banyak stress-nya, banyak persoalan dari klien. Komplain apapun mesti diterima, proyek rugipun tetap ngalah. Di sini juga saya banyak belajar. Sampai dimaki-maki. Memang rumit tetapi tetap harus komit,” terangnya.

Berbagai pekerjaan menguras keringat pernah dia lakoni. Marcell pernah menjadi kuli troli supermarket paruh waktu sembari sekolah di Australia. Bahkan dia pun pernah menjadi penjual remot TV keliling hingga tenaga pemasar produk sebuah perusahaan multilevel marketing (MLM).

Namun tempaan pengalaman dan kerasnya hidup tersebut, berbuah manis dengan diraihnya gelar ganda (double degree) dari University of New South Wales (UNSW), Sydney, Australia. Tahun 2002, Marcell meraih predikat sarjana jebolan Civil Engineering dan Computer Science dari universitas tersebut.

Sebelum terjun menyelami bisnis properti, Marcell sempat bekerja di beberapa perusahaan. Seperti di salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Australia (Hansen Yuncken Pty Ltd) dan membentuk perusahaan pengembang software juga menciptakan sistem informasi terintegrasi untuk perusahaan obat generic terbesar di Australia, Alphapharm Pty Ltd pada 2003 lalu.

Hingga tahun 2005, Marcell pun ikut membangun dan mengelola jaringan distribusi penjualan untuk perusahaan publik NuSkin dan Pharmanex dengan omset 1,3 miliar dolar Amerika.

Modal Nekat

Marcell mulai menapaki industri properti ketika dipercaya memimpin marketing & business development T.G.Hay, perusahaan rancang bangun (design and build) rumah-rumah mewah, tahun 2009.

“Dua tahun bekerja di perusahaan tersebut, akhirnya saya putuskan untuk benar-benar terjun ke properti dengan membangun perusahaan sendiri,” ungkap Marcell.

Bukannya melanjutkan perusahaan ayahnya, anak kedua dari tiga bersaudara ini malah memilih terjun ke industri properti. “Awal mula dari baca-baca buku dan majalah properti. Saya begitu tertarik dengan pengembang yang bisa membangun dan menjual dengan mudah. Akhirnya saya belajar. Ikut ke acara Panangian Simanungkalit juga seminar Tung Desem Waringin,” cerita Marcell.

Dia menambahkan, beberapa sosok tokoh properti juga telah menginspirasinya untuk menekuni bisnis properti. Antaralain Ciputra yang sukses membangun kerajaan bisnis properti Ciputra Group. Demikian halnya Trihatma Kusuma Haliman yang sukses melanjutkan dan mempertahankan kejayaan Agung Podomoro Group.

“Keren banget kan kalau membaca kisah sukses mereka. Dari yang tidak punya apa-apa. Dari yang hanya membangun ruko-ruko kecil, hingga masuk ke proyek-proyek besar seperti sekarang ini,” lanjutnya.

Insinyur teknik sipil itu pun akhirnya mendirikan PT Prioritas Land Indonesia bersama rekannya pada tahun 2011. “Saat itu, kondisi properti lagi bagus-bagusnya,” imbuhnya.

Cita-cita Marcell sebagai pengusaha properti pun seperti melaju tanpa hambatan. Seolah gayung bersambut proyek pertama di Bali pun siap direalisasikan selepas Marcell menyepakati kerja sama dengan pemilik lahan tersebut.

Lahan hutan seluas 8.000 meter persegi di kawasan Nusa Dua mulai digarap dengan konsep vila bernama “Majestic Point Villas”. Proyek sukses dijual dan dibangun. “Saat itu kami jual dengan harga mulai Rp6 miliar,” kenang Marcell.

Iklim kondusif industri properti saat itu semakin menggairahkan Prioritas Land untuk kebut beberapa proyek baru. Tidak butuh waktu lama, pertengahan 2012, Prioritas Land kembali meluncurkan proyek kedua di kawasan Serpong, Tangerang, Banten.

Serupa di Bali, lagi-lagi modal nekat. Marcell membangun proyek prestisius “Majestic Point Serpong” dalam kawasan yang telah dihimpit berbagai pengembang besar, seperti Summarecon Serpong, Paramount Land, Sinar Mas Land dan lainnya.

Di proyek tersebut, Prioritas membangun dua menara apartemen sebanyak 839 unit. Pembangunan proyek tersebut kini telah rampung.

Atas pengalamannya itu, Marcell melaju ke proyek ketiganya, masih di seputaran Serpong. Tahun 2014, Marcell melalui bendera Prioritas meluncurkan superblok K2 Park.

Hadapi Masalah

marcellus chandra
Marcellus Chandra./ Foto: dokpri

Pengembangan proyek ketiganya itu ternyata tak berjalan mulus. Tidak terbayangkan sebelumnya jika properti pun punya siklus yang dalam waktu tertentu akan kehilangan tajinya.

Di sini, lagi-lagi pengalaman yang mesti menjadi pembelajaran berharga. Marcell yang masih terbilang muda dan minim pengalaman di bidang properti harus menghadapi ujian berat.

Saat kondisi properti turun, Marcell kelabakan. Marcell seakan tidak bisa mengantisipasi kondisi saat itu. Tahun 2015 hingga 2016 bersamaan dengan lesunya industri properti, Prioritas Land benar-benar dalam kondisi terpuruk.

Proyek K2 Park yang tak kunjung dibangun menjadi sasaran amuk customer yang sudah bertransaksi. Beberapa konsumen bahkan memperkarakan Marcell ke pihak berwajib.

“Saya hadapi persoalan ini dengan mencari solusi. Datangi perbankan, investor, akhirnya pelan-pelan hingga saat ini kita sudah bisa mengatasi. Ada konsumen yang mau refund yang kita ikuti, kalau mau lanjut ya kita negosiasi,” cerita Marcell sembari menambahkan, persoalan ini sudah diselesaikan semuanya.

Bagi Marcell, satu-satunya jalan adalah maju dan cari solusi. Upayanya itupun berbuah hasil. Setelah melakukan lobi dan negosiasi yang berjalan hampir setahun, K2 Park pun mendapat support dari investor China, Nantong Double Great.

Melalui PT Prioritas Gading Indonesia (PGI) proyek di-rebranding menjadi Double Great Residence dan diperkenalkan kembali melalui seremoni ground breaking pada akhir Agustus 2019 lalu.

Hunian vertikal yang rencananya akan ada 9 tower dengan hampir hampir 11.000 unit apartemen. Proyek prestisius yang diperkirakan akan menghabiskan dana lebih dari Rp3 triliun tersebut dijadwalkan mulai serah terima di akhir 2021.

“Proyek ini sangat berkesan bagi saya. Ini adalah mega proyek dengan total luas bangunan 400.000 meter persegi,” imbuhnya.

Marcell optimis akan kesuksesan pada proyek properti ketiganya itu. Suksesnya Double Great Residence tentunya akan menjadi titik balik sekaligus modal kuat bagi Marcell untuk membangun proyek-proyek berikutnya.

Belajar dari Pengalaman

Dari pengalaman tersebut, Marcell banyak belajar, bagaimana mengelola proyek yang benar hingga siap dengan matang. Kata dia, ambisi dan kenekatan penting tetapi harus diimbangi dengan persiapan lainnya, terutama untuk menghadapi skenario terburuk.

“Butuh mental berani bahkan nekat, juga modal yang cukup. Ambisi penting tapi jangan melampaui batas kemampuan, itu bisa berdampak fatal,” kata Marcell.

Saat awal membangun bisnis properti, Marcell memang terlampau nekat, bahkan seolah bakal tak ada masalah. Jikalau pun ada, pasti bisa diatasi dengan mudah. “Ternyata kondisi terburuk tidak kami antisipasi,” katanya singkat.

Untuk ini, Marcell memberikan penegasan terutama terhadap generasi muda dan para startup yang sedang merintis usaha. “Awalnya harus ada kemauan dulu, nekat. Tapi kemudian harus ada persiapan untuk skenario terburuk. Seberat apapun masalahnya harus dihadapi sembari cari solusi. Semaksimal mungkin maju terus. Pada akhirnya, harus berserah pada Tuhan. Nasib kita ada pada-NYA. Saya percaya itu,” tutup Marcell.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here