MALANG MELENGGANG

0
217

Kota Malang sebagai kota terbesar kedua di wilayah Jawa Timur setelah Surabaya, masih sangat lambat perkembangannya. Dikenal sebagai kota pendidikan, Kota Malang juga berpotensi sebagai kota wisata dengan faktor alam yang sangat menunjang. Bila dulu dikenal juga sebagai kota pensiun, namun ke depan Malang tengah bersiap menanti limpahan pengembangan dengan perbaikan infrastruktur yang direncanakan.

Perkembangan Kota Malang masih kuat ke arah Utara dan Barat yaitu ke Kota Batu dengan berkembangnya perumahan, perdagangan, dan kawasan wisata. Meskipun demikian diperkirakan potensi wisata ini pun belum digarap secara optimal. Ke arah Utara ke Kecamatan Singosari menuju ke Surabaya juga berkembang perumahan dan perdagangan.

Perkembangan kota ke arah Selatan  dan Timur masih menggambarkan tingkatan yang lemah. Namun wilayah ini disebut-sebut bakal menjadi wilayah pertumbuhan baru di Malang.

Hingga saat ini belum banyak investasi baru yang masuk ke Malang. Kota Malang pun belum memiliki kawasan industri seperti Pasuruan dan Sidoarjo sebagai salah satu penggerak perekonomian sebuah wilayah. Malang saat ini masih melenggang namun potensi yang ada harusnya membuat Malang berlari kencang.

Prospek properti di Kota Malang bagai godaan ‘perawan’ Indonesia dari Timur. Pengusaha properti dari luar kota Malang berduyun-duyun ‘melawar’ kota Malang untuk berinvestasi. Traffic transaksi jual-beli rumah di Malang terus bergairah.

Beberapa properti yang sudah bercokol di kota Malang diantaranya ialah D’Luxor dari Bali, Marvell City Surabaya, The Araya, Villa Puncak Tidar, Citra Garden City, Citra Garden Vila Bukit Tidar, The Emeralds dan pendatang baru dari Yogyakarta dengan label Jogja Apartel.

Kawasan Malang Raya menjadi kawasan potensial properti. Bukan hanya pengembangan landed house yang berlari kencang, sektor ruko, hotel, kondotel maupun apartemen berlomba-lomba tampil meramaikan pasar properti di Malang. Meskipun demikian ternyata  Kota Malang belum didukung oleh economic base berupa industri sebagai penggerak ekonomi masyarakat.

Ketua DPD REI Jawa Timur, Drs. Paulus Totok Lusida Apt, melihat Malang sebagai kawasan hommy karena banyak orang betah tinggal di Malang. Dalam setahun terakhir bisnis properti di Malang berkembang cepat.

“Bukan hanya kondotel dan rumah mewah yang dikejar developer, pembangunan rumah sederhana layak huni bagi masyarakat kelas bawah pun diburu pengembang besar. Hal ini dilakukan pengembang untuk mendukung  Program Sejuta Rumah. Rumah bersubsidi juga menjadi peluang yang menggiurkan,” tandas Paulus.

Rendahnya Bunga Bank

Ketua Real Estat Indonesia (REI) Komisariat Kota Malang, Umang Gianto dalam sebuah acara diskusi bertajuk ‘Menyongsong Prospek Investasi Properti Tahun 2016’ di salah satu hotel di Malang, beberapa waktu lalu menuturkan, tumbuhnya bisnis kondotel di Malang didukung oleh rendahnya suku bunga kredit kepemilikan apartemen (KPA).
“Bank-bank juga agresif menawarkan bunga kredit pemilikan rumah (KPR). Bank-bank yang memberlakukan bunga KPR satu digit diantaranya BRI yang mencapai 9,9 persen, BNI 9,5 persen 9,8 persen, BCA 9,9 persen, dan Niaga 9,9 persen. Sedangkan Bank BTN masih di kisaran 11 persen – 12 persen,” ungkap Umang.

Di sisi lain, Ketua DPD REI Jawa Timur, Drs. Paulus Totok Lusida, Apt mengatakan, angka kredit untuk perumahan yang dikucurkan kalangan perbankan untuk perumahan di Malang Raya (Kota/Kabupaten Malang dan Kota Batu) menunjukkan angka yang menggembirakan.

Hal senada dikemukakan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kota Malang, Indra Krisna. Menurutnya, permintaan sektor properti di wilayah Malang semakin bagus. Siklus transaksi jual-beli rumah sangat menjanjikan karena banyak developer baru. Namun demikian, Indra mengimbau agar pelaku properti mewaspadai fenomena bubble yang dilakukan para spekulan. Banyak spekulan yang menjual aset secara masif sehingga menyebabkan harga properti merosot.

Sementara itu, Ketua DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Korwil Malang, Makhrus Sholeh melihat dalam beberapa tahun terakhir ini, properti di Kota Malang sangat bagus. Rata-rata kenaikan harga jual rumah mencapai sekitar 30 persen per tahun, terutama untuk pasar menengah ke bawah dengan harga antara Rp 200 juta sampai Rp 500 juta. Sementara yang di atas Rp 500 juta juga ada, tapi masih terbatas.

“Sekarang banyak pengembang yang sudah masuk ke Malang, baik pengembang nasional maupun pengembang lokal. Mereka menggarap area ratusan hektar, termasuk pengembang skala nasional seperti Ciputra,” kata Makrus.

Kemudahan Perizinan

Mengomentari soal hambatan perizinan, bagi Makhrus, hal itu merupakan kasus yang sama yang dihadapi semua pengembang di Indonesia. Namun demikian, APERSI tetap berjalan dan mengikuti semua aturan yang ada.

Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Malang, Suharyono mengatakan, tingginya pertumbuhan properti di kota Malang ini, terbukti dari banyaknya pengajuan izin-izin untuk proyek perumahan dan apartemen.

Dihubungi via telepon, Walikota Malang, Mochamad Anton juga mengemukakan soal perizinan, Pemerintah Kota Malang memberikan peluang dan kesempatan kepada para pengembang untuk berinvestasi di Malang. Tidak ada kendala dalam soal perizinan. Semua aturan tata ruang juga disesuaikan dengan tingkat hunian di Malang.

“Malang memiliki icon sebagai kota layak huni di wilayah Timur Indonesia. Properti di Malang seperti kacang goreng. Baru diiklankan, rumah atau apartemen yang dijual langsung habis dibeli konsumen,” kata Anton.

General Manager Marketing PT Ciputra Residence, Yance Onggo mengatakan, kota Malang berada di area pertumbuhan ekonomi baru. “Infrastruktur berdampak besar terhadap lalu lintas perdagangan dan akan memacu pertumbuhan ekonomi. kita percaya dengan adanya pengembangan infrastruktur, seperti Tol Pandaan-Malang ini, maka pertumbuhan ekonomi akan terjadi,” ujar Yance.

Sementara itu, Mantan Ketua DPP Real Estat Indonesia, Setyo Maharso juga melihat signifikansi pertumbuhan properti didominasi beberapa daerah di Jawa Timur. Contohnya kota Malang. Pertumbuhan tinggi tercipta karena ada kesepahaman antara pemerintah provinsi dan pemerintah kota agar stabilitas terjamin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here