Lokasi Baru, BANDUNG SELATAN PRIMADONA INVESTASI BARU

0
214

Menurut data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bandung, Bandung termasuk salah satu kota terpadat di Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai 2,6 juta jiwa pada tahun 2016. Dengan rasio 14 ribu jiwa perkilometer, kota ini telah melebihi kapasitas. Idealnya, jumlah kepadatan penduduk per kilometer persegi di Bandung hanya dihuni oleh 850 orang.

Baca juga:


Kondisi inilah yang kemudian berimbas pergeseran pemukiman kota menuju alternatif lokasi baru. Setelah Bandung bagian utara dan barat kemudian bergeser ke Bandung Timur, terus bergerak ke selatan yang menjadi bidikan utama pembangunan. Pergeseran ke timur dan selatan bukan tanpa alasan. Selain sarana infrastruktur yang ada di sana, ketersediaan lahan pun masih mencukupi. Ini yang kemudian Pemko Bandung melalui Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya sejak beberapa tahun lalu sudah gencar mengarahkan pembangunan ke wilayah timur dan selatan.

“Kalau kita lihat secara geografis yang masih berpeluang untuk berkembang ke arah selatan, termasuk sebagian di timur. Beberapa pengembang besar sudah membaca ke arah sana,” ungkap Joko Suranto, Ketua DPD REI Jawa Barat. Selain aksesibilitas dan infrastruktur, lanjut Joko, ketersediaan lahan dengan harga yang jauh lebih terjangkau menjadi keunggulan Bandung Selatan. Dalam gambarannya, tanah di dalam Kota Bandung sudah di kisaran Rp7,5-10 juta per meter persegi. Sementara di timur dan selatan masih banyak dijumpai harga tanah dengan harga di bawah Rp1 juta per meter persegi. “Bahkan ada yang Rp100-200 ribu per meter persegi. Sementara lebih ke dalam Kota Bandung sudah tidak ada lagi,” tegasnya.

Dengan penjabaran di atas, cukup beralasan Agung menyebut Bandung Selatan akan menjadi primadona investasi baru mengalahkan kawasan Bandung Utara. Ia menilai lahan di Bandung Utara sudah sangat terbatas dan adanya peraturan tentang Koefisien Dasar Bangunan. Belum lagi isu-isu yang menyangkut lingkungan, tata ruang hingga resapan air di Bandung Utara.

Bahkan, kalangan perbankan di Bandung pun punya nada yang sama ikhwal pergerakan properti ke Bandung Selatan ini. Harry Gale, Senior Vice President Regional CEO VI/Jawa 1, Bank Mandiri, misalnya, mengatakan potensi pengembangan Kota Bandung telah bergser ke timur dan selatan. Ia melihat banyak pengembang yang telah mengembangkan proyeknya di kedua wilayah ini. “Potensi pengembangannya juga ada di Bandung Timur, tetapi tidak sebanyak di selatan. Developer tentu akan memperhitungkan akses dan infrastruktur,” ujar Harry.

Dilihat dari sisi pembiayaan pun wilayah timur dan selatan mendominasi. Sepanjang tahun 2018, realisasi KPR Bank Mandiri Stadion Utama Sepakbola Gedebage: Dibangunnya stadion di Bandung Timur semakin meningkatkan potensi kawasan ini. Gerbang Tol Pasteur: Infrastruktur jalan tol semakin memudahkan akses dari Kota Bandung dan ke beberapa wilayah sekitarnya. Region VI/Jawa 1 yang mencakup seluruh Jawa Barat, kecuali Depok, Bogor dan Bekasi mencapai 60 persen di Bandung Raya. Dari pencapaian tersebut, Bandung Timur dan Selatan mencapai 80 persen. “Kalau bicara potensi, sebenarnya lebih menjanjikan di Bandung Selatan karena lahan dan infrastruktur yang mendukung,” sambung Harry.

Pandapat yang sama dikatakan oleh Ketua Persatuan Hotel dan
Restoran Indonesia Jawa Barat, Herman Muchtar. Bahkan sejak
beberapa tahun lalu, PHRI Jabar sudah gencar mensosialisasikan
besarnya potensi wilayah Bandung Timur dan Selatan. “Persaingan hotel
di utara dan tengah sudah sangat berat, bahkan tidak sehat. Untuk ini
kami imbau agar pembangunan perhotelan ke timur dan terutama
selatan,” ucap Herman.

Herman memrediksi dalam lima tahun ke depan, pembangunan di timur dan selatan akan sangat cepat. Apalagi beberapa pengembang nasional dengan lahan cukup luas sudah masuk ke sana. “Pembangunan di sana akan semakin cepat. Jatinangor juga semakin berkembang, karena di sana ada banyak kampus,” terangnya.

Jatinangor di Kabupaten Subang kini menjadi salah satu kota penyangga Badung yang paling diminati. Keberadaan beberapa kampus perguruan tinggi terkenal di sana telah memikat sejumlah pengembang. Penelusuran tim Property and The City ke kawasan Jatinangor menunjukkan agresifitas pembangunan hunian vertikal di sekitar kampus. Sebut saja Pinewood Apartment yang dibangun oleh Bandung Inti Graha Group menjadi apartemen pertama di kawasan Jatinangor. Kemudian Easton Park Residence yang dikembangkan oleh PT Kalmar Jaya. Louvin Apartment oleh PP Properti yang dikembangkan dengan konsep Premium Student Apartment.

Louvin Apartment tepat berseberangan dengan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Jatinangor, dekat dengan Universitas Padjajaran (UNPAD), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan Institut Manajemen Koperasi Indonesia (IKOPIN). Dengan jumlah kampus sebanyak itu, Loivin Apartment mentargetkan sekitar 70 ribu mahasiswa aktif di Jatinangor. “Kami grab pasar itu. Fasilitas dan konsep sangat mendukung aktivitas mahasiswa. Kami juga satu-satunya apartemen di Jatinagor yang mengsung anti narkoba,” kata Riki Rifani, Marketing Manager Louvin Apartment.

Riki mengungkapkan, penambahan jumlah mahasiswa yang mencapai 10 ribu mahasiswa setiap tahun adalah pasar yang sangat potensial di Jatinangor. Apalagi jumlah unit apartemen yang ada baru sekitar 3.500 unit saja. “Kebutuhan hunian apartemen sangat tinggi. Mereka memang lebih memilih tinggal di apartemen daripada di kos-kosan,” ungkap Riki.

Sebagai informasi, sewa kos-kosan pada segmen menengah di Jatinagor berkisar Rp1,5-3 juta per bulan. Sementara sewa apartemen Studio (20 m2) berkisar Rp2,5-3 juta per bulan dengan okupansi di atas 80 persen. Louvin yang dibangun di lahan 1,3 hektar akan diisi tiga tower dengan total unit mencapai 2.100 unit apartemen. Saat ini dijual mulai Rp390 juta ukuran studio, naik dari sekitar Rp320 juta. “Sejak setahun lalu sudah terjual lebih dari 65 persen di tower pertama sebanyak 714 unit. Sekitar 60 persen adalah investor,” katanya.

Sedangkan di Bandung Timur, potensi kawasan ini semakin mencuat ketika Pemko Bandung membangun Stadion Gelora Bandung Lautan Api atau Stadion Utama Sepakbola Gedebage. Termasuk proyek Bandung Technopolis seluas 800 hektar. Dari segi akses, daerah ini langsung terkoneksi dengan adanya gerbang Tol Gedebage yang sedang dalam tahap penyelesaian. Sementara lebih ke selatan, adanya rencana stasiun kereta cepat Jakarta-Bandung yang akan berlokasi di Tegalluar, Bojongsoang. Belum lagi rencana LRT yang juga melintasi daerah ini.

Siapa pengembang yang sudah mengibarkan benderanya di Bandung Selatan dan Timur. Selain pengembang lokal, pengembang nasional juga sudah masuk ke pasar properti dengan proyek-proyeknya. Termasuk beberapa pengembang yang sudah menginvestasikan tanahnya di Bandung Selatan. Selain didorong pihak pemda melalui pembangunan infrastruktur, ternyata dalam zonasi Kota Bandung, kawasan timur seperti Gedebage terus didorong pembangunannya. Di sisi lain, wilayah Bojonegara yang mengarah ke utara justru pembangunannya ditekan. (Pius Klobor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here