KPR Pasca Lebaran, Lari kencang?

0
75

Lebaran, tahun ajaran baru ditambah pilpres menjadi tantangan bagi bank penyalur KPR. Tetapi optimisme tetap ada, pasar properti akan kembali tumbuh positif di semester II 2019.

Hampir serupa dengan tahun-tahun sebelumnya, pergerakan pasar properti biasanya akan mengalami penyesuaian terkait bulan Ramadhan. Penyesuaian dalam arti cenderung ada penurunan karena orang sibuk memikirkan puasa dan lebaran. Betul ada Tunjangan Hari Raya (THR) yang diterima para pekeja. Namun tidak menjadi alasan cukup kuat untuk beli rumah. Maklum, setiap puasa dan lebaran harga-harga kebutuhan pokok naik selangit, belum lagi dana buat pulang kampung alias mudik Lebaran. Ditambah lagi tahun ajaran baru berdekatan dengan Lebaran, lengkaplah pengeluaran masyarakat.

Wahyu Sulistio, Direktur PT Metropolitan Land, Tbk (Metland) mengungkapkan bahwa kondisi pasar properti pada tahun ini sangat menantang bagi pebisnis properti, termasuk para pengembang. Menurut dia, ada tiga tantangan besar, yakni pemilihan presiden, Ramadhan dan periode tahun ajaran baru sekolah. Hal ini berdampak pada penurunan permintaan lantaran sejak awak tahun sudah terlihat adanya sikap wait and see. “Banyak investor yang lebih menahan pembelian. Sementara beberapa developer juga harus menunda untuk merilis proyek baru mereka,” ujar Wahyu, dalam satu kesempatan acara beberapa waktu lalu.

Pengamat properti yang juga Mantan Country General Manager Rumah123.com, Ignatius Untung juga melihat hal yang sama. Menurutnya, pasar properti akan mengalami penurunan penjualan sekitar 20-25 persen. Dia melihat, isu-isu seputar politik pilpres masih terus hangat bersamaan dengan Ramadhan. “Tetapi di kuartal berikutnya pasti akan meningkat lagi, terutama rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR),” ungkapnya.

Kembali Tumbuh

Beberapa perbankan juga melihat hal yang sama. Namun secara umum, target penyaluran KPR tetap dipatok tumbuh pada tahun ini. Bank Tabungan Negara (Bank BTN) sebagai bank yang fokus pada penyaluran KPR pun mengakui adanya perlambatan KPR di awal tahunTren kenaikan diprediksi baru akan terjadi di semester II 2019.

Beberapa perbankan juga melihat hal yang sama. Namun secara umum, target penyaluran KPR tetap dipatok tumbuh pada tahun ini. Bank Tabungan Negara (Bank BTN) sebagai bank yang fokus pada penyaluran KPR pun mengakui adanya perlambatan KPR di awal tahunTren kenaikan diprediksi baru akan terjadi di semester II 2019. Dengan kondisi ini, target penyaluran KPR BTN di 2019 pun turun dari tahun-tahun sebelumnya yang berada di angka 17-18 persen. Tahun 2019 ini, BTN menargetkan penyaluran KPR 15 persen secara total.

“Orang yang pertama kali beli rumah biasanya datang ke BTN. Dia tidak terpengaruh oleh political event. Yang terpengaruh mungkin bagi mereka yang akan berinvestasi. Tapi di BTN, kebiasaannya adalah kuartal I selalu slow,” ungkap Direktur Bank BTN, Nixon Napitupulu.

Walapun demikian, Senior Vice President Nonsubsidize and Consumer Lending Division Bank BTN, Suryanti Agustinar optimis pertumbuhan KPR akan tercapai di tahun 2019. Optimisme ini karena Bank BTN masih tetap fokus untuk pembiayaan hunian bagi masyarakat menengah bawah, baik subsidi dan non subsidi dengan harga di bawah Rp500 juta. “Semester II apalagi setelah pilpres ini pastinya akan lari lebih kencang lagi. Termasuk yang di atas Rp500 juta juga pastinya akan tumbuh lagi,” ungkapnya.

PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) juga melihat adanya pergerakan positif usai lebaran atau di semester II 2019. Tahun ini, CIMB Niaga menargetkan KPR tumbuh 12-15 persen. Adapun penyaluran KPR CIMB Niaga hingga semester I 2019 telah mencapai Rp4 triliun. Coba kita dengar apa kata Yenny Frisca Susanto, Mortgage Product, Portfolio, and Business Channeling Head PT Bank CIMB. Menurutnya, dengan melihat kondisi makro ekonomi saat ini, penjualan properti baik dari sisi developer maupun broker sedang turun. Di sisi lain, target yang diberikan justru meningkat. “Di sinilah dibutuhkan kreativitas. Dan salah stau cara yang kami lakukan adalah masuk ke market take over,” ungkap Frisca, dengan nada optimis.

Untuk Bulan Mei 2019, KPR CIMB Niaga baru saja meluncurkan skema pricing Smart Rate Spesial yang memberikan keuntungan bagi nasabah yaitu mendapatkan bunga transparan dan murah. Adapun skemanya adalah SBI/SBIS 12 bulan + 2 persen untuk tujuan pembelian dan take over. Kemudian SBI/SBIS 12 bulan + 3 persen untuk tujuan multiguna, top up dan renovasi.

“Suku bunga ini lebih murah dibanding suku bunga floating di beberapa bank pesaing yang juga menggunakan acuan SBI/SBIS, dimana saat ini berkisar di SBI + 3.25 persen sampai dengan SBI + 5 persen,” terang Frisca.

Produk-produk KPR CIMB Niaga mempunyai keunggulan masingmasing yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan nasabah. Nasabah dapat memilih produk KPR konvensional maupun KPR Syariah. Untuk KPR konvensional memungkinkan nasabah bayar bunga Rp0 dengan menghubungkan KPR dengan fasilitas rekening tabungan nasabah sekeluarga melalui produk KPR Xtra Manfaat.

Semenatra produk KPR Syariah memberikan kepastian jumlah cicilan sepanjang masa pinjaman melalui akad murabahah atau pembayaran ujrah yang murah dan transparan melalui akad musyarakah mutanaqisah (MMQ). [Pius Klobor] ●

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here