KEMBALI MENJADI YANG TERBAIK

0
205

Perokok berat biasanya berhenti merokok karena sudah diultimatum oleh dokter jantung untuk berhenti merokok, atau setelah keluar dari ruang operasi setelah pemasangan ring jantung. Tetapi Budi Saddewa Soediro berhenti merokok karena kerepotan harus naik turun lantai kantor. Ceritanya, kalau ingin merokok harus turun ke lantai dasar gedung, sementara ruang kerjanya waktu masih di Wika Realty di lantai atas. “Jadi, waktu saya masih di Wika, ruang kerja saya di lantai atas sementara setiap mau merokok harus turun ke lantai dasar. Setiap hari lama-lama cape juga naik-turun. Akhirnya saya jadi berhenti merokok, hahaha……,” ujar Budi Saddewa Soediro, Director PT AdhiKarya (Persero) Tbk.

Budi, lulusan Teknik Sipil, Universitas Diponegoro, tahun 1987, bersama para direksi lainnya yakin bisa mengembalikan kembali kejayaan PT Adhi Karya yang pernah sukses dengan proyek monumentalnya seperti Masjid Isiqlal, Gelora Bung Karno dan Sarinah. Kini, lewat proyek LRT dan TOD bendera Adhi Karya kembali berkibar tinggi. Bahkan, siap membangun gedung tertinggi di Jakarta. Dimana lokasinya dan punya siapa? Berikut petikan wawancara Hendaru dari Property and the City di ruang kerjanya yang sederhana.

Saat ini Adhi Karya banyak membangun infrastruktur dan properti. Apakah ini strategi korporasi akan menangkap peluang keduanya?

Di unit usaha properti Adhi Karya punya dua anak usaha yaitu PT Adhi Persada Properti (APP) dan PT Adhi Commuter Properti (ACP). Mengapa ada dua anak usaha di Adhi Karya untuk menangani properti. Pertama, PT Adhi Persada Properti sudah ada lebih dahulu dan sudah banyak memiliki proyek yang tersebar di seluruh Indonesia. Kedua, Adhi Karya mendapat penugasan sebagai kontraktor untuk mendesain dan membangun LRT (light rapid transit). tahap I LRT Cawang-Cibubur, Cawang- Bekasi, Cawang-Dukuh Atas. Dengan penugasan ini terbuka peluang baru bagi Adhi Karya untuk mengolah di setiap stasiun-stasiun LRT dengan membangun kawasan hunian dan komersial yang terintegrasi dengan transportasi massal yang disebut TOD (transit oriented development).

LRT pada saat beroperasi perlu dukungan stasiun dan semua stasiun terletak di atas bahu jalan raya. Ada yang sebagian terletak di atas bahu jalan tol, sebagian di atas jalan raya. Sehingga perlu area-area untuk penumpang turun dari LRT, supaya tidak menimbulkan permasalahan baru ketika penumpang turun dari stasiun yang berada di atas bahu jalan atau jalan raya yang mengakibatkan kemacetan baru. Peluang inilah yang kami tangkap dengan membangun kawasan TOD di stasiun LRT. Sehingga kami membentuk anak perusahaan baru yang khusus untuk menangani TOD supaya tidak mengganggu aktivitas APP yang sudah menangani cukup banyak kawasan. Apalagi stasiun LRT dengan TOD harus bersamaan operasionalnya. Itulah alasan mengapa kita punya dua anak perusahaan yang membidangi properti.

Untuk SBU atau Strategic Bisnis Unit infrastruktur sendiri ada dua departemen yang dimiliki Adhi Karya yaitu Departemen Infrastruktur Satu dan Departemen Infrastruktur Dua. Departemen Infrastruktur Satu menangani infrastruktur di wilayah barat, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten dan Sumatera seluruhnya. Sedangkan Departemen Infrasatruktur Dua menangani infrastruktur di semua wilayah timur, mulai dari Jawa Tengah sampai Papua. Masing-masing departemen menangani proyeknya sendiri-sendiri. Seperti di Infrastruktur Satu yang besar saat ini sedang menangani proyek Tol Aceh- Sigli dengan nilai kontrak Rp8 triliun. Kita kerjakan mulai awal Januari kemarin. Sedangkan di Departemen Dua ada proyek di Makassar yaitu Pelabuhan Nusantara Makassar, Tol Kertosono, Tol Probolinggo. Total proyek berjalan Adhi Karya tidak kurang dari 163 proyek, tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Apakah nantinya Adhi Karya akan fokus ke salah satu saja atau keduanya berjalan bersamaan?

Sekarang berjalan seperti apa adanya. Bahkan sudah nambah satu SBU “Strategic Bisnis Unit” yaitu pengolahan limbah karena ada peluang baru dan peluangnya sangat besar. Pemainnya juga masih sedikit. Secara anggaran dasar sudah kami sesuaikan tahun lalu. Kalau peluangnya punya nilai ekonomis dan jangka panjang pasti kita cermati.

Apakah Adhi Karya merasa sebagai ujung tombak pembangunan infrastruktur yang diberikan oleh pemerintah?

Dengan kebijakan Presiden Jokowi untuk menggenjot infrastruktur tentunya ini menjadi lahan bagi kami. Sebetulnya bukan kami saja tetapi semua BUMN karya menangkap peluang ini dengan skema-skema pendanaan yang baru. Ini semua membuka peluang kami untuk mendapatkan kontrak-kontrak infrastruktur yang besar dan pada akhirnya memacu pertumbuhan Adhi Karya.

Banyaknya proyek yang dikerjakan oleh BUMN karya tidak lepas dari besarnya porsi yang diberikan oleh pemerintah, dan ini membuat swasta sulit bersaing?

Sebetulnya tidak juga. Swasta juga punya peluang yang sama. Seperti Tol Cikampek elevated dikerjakan oleh Waskita Karya dengan menggandeng swasta. Adhi Karya juga sedang merintis Tol Jogyakarta –Solo bekerjasama dengan swasta yaitu GAMA Group. Jadi, sebetulnya peluangnya sama antara BUMN dengan pihak swasta dalam membangun infrastruktur.

Untuk infrastruktur saat ini apakah lebih menonjol yang dibangun Adhi Karya ketimbang sektor propertinya?

Harus diakui dua tahun belakangan ini euforia menjelang pemilu luar biasa, tetapi dampaknya bagi properti juga sangat besar. Bisa dilihat dari serapan properti dalam dua tahun ini yang kecil. Tetapi dengan selesainya pemilu harapan kami properti akan menjadi lebih baik dan saat ini sudah mulai terlihat. Serapan terhadap produk-produk kami sudah lebih baik, khususnya untuk daerah-daerah yang dilalui LRT tren ke depan akan menjadi pilihan konsumen.

Apartemen di sekitar stasiun LRT yaitu TOD sepertinya dipegang oleh Adhi Karya semua?

Kebetulan kami bertanggung jawab atau mempunyai beban moral bahwa di stasiun LRT ini jangan sampai terjadi kemacetan baru. Sehingga harus ada sarana yang bisa mendukung, seperti park and ride di setiap stasiun LRT. Tanggung jawab dari Adhi Karya selaku kontraktor rancang bangun untuk menciptakan suasana nyaman dan tidak menimbulkan kemacetan baru. Untuk itu tanah-tanah di sekitar lokasi stasiun LRT sudah kita kuasai terlebih dahulu untuk dibangun hunian dan komersial berbasis TOD.

Artinya, dimana ada stasiun LRT disitulah akan ada apartemen yang dibangun oleh Adhi Karya?

Iya, dan perizinan sudah sedang dalam proses. Lokasi yang sudah kita mulai ada di Bekasi Timur, Cikunir, Ciracas, MT Haryono, bahkan di Sentul sudah dimulai.

Kabarnya ada pengembang swasta yang melakukan pendekatan ke Adhi Karya agar bisa ikut membangun TOD di stasiun LRT?

Sebetulnya mereka tidak perlu melakukan pendekatan karena yang namanya TOD itu radiusnya 800 meter dan area di radius itu masih nyaman untuk jalan kaki dari apartemen yang mereka bangun ke stasiun LRT. Para pengembang swasta bisa masuk di area itu. Kami tidak menghambat siapa pun untuk masuk ke area sekitar stasiun LRT. Hanya kebetulan saja kami punya tanggungjawab sejak dari awal sehingga kami lebih dulu hadir di sana.

Apartemen di luar TOD yang sedang dibangun oleh Adhi Karya di mana saja?

Di Surabaya ada satu yang sudah kita bangun, dan dua lagi sedang berproses pembangunannya. Di Yogyakarta ada dua proyek di sekitar kampus. Di Depok tepatnya di Jalan Margonda Raya ada satu proyek, Kebayoran Lama, Jatiwarna, Bekasi, Malang juga ada apartemen yang dibangun Adhi Persada Property.

Berapa total nilai properti yang dibangun Adhi Karya?

Kalau untuk ACP saja dalam lima tahun ke depan, kapitalisasi nilai proyeknya mencapai Rp55 triliun. Untuk APP kurang lebih sekitar Rp20 triliun. Kita akan terus meningkat seiring meningkatnya kebutuhan hunian. Apalagi ke depannya nanti hunian di sekitar transportasi massal akan menjadi pilihan karena Jakarta semakin crowded tanpa moda transportasi massal, jarak waktu tempuh semakin lama. Hadirnya LRT akan membuat jarak tidak menjadi masalah lagi. Tinggal di Bekasi sekolah di Bogor tidak lagi menjadi masalah karena jamjam keberangkatan LRT sudah pasti. Ke depan transportasi massal akan menjadi kebutuhan utama. Artinya, kebutuhan hunian di sekitar stasiun LRT juga akan meningkat dan menjadi pilihan konsumen.

LRT sepertinya menjadi proyek ujung tombak dari Adhi Karya, apakah seperti itu?

Ide awal LRT datang dari Adhi Karya. Kita sebagai pemrakarsa kemudian ditunjuk oleh pemerintah untuk membangun LRT dan dibayar oleh PT KAI. LRT salah satu proyek unggulan dari Adhi Karya.

Tetapi LRT tidak lepas dari berbagai kritik, misalnya soal konsep LRT?

Mengapa LRT dipilih elevated dengan tiang yang tinggi-tinggi karena pada ruas jalur jalan yang masuk ke dalam kota ada yang harus menyeberangi lintasan-lintasan fly over, jembatan penyeberangan orang. LRT ini sebenarnya sudah melewati kajian yang matang dan sudah mempertimbangkan faktor ekonomis. Kami menggunakan teknologi yang sudah ada yaitu teknologi U-Shape Girder teknologi dari Perancis, tetapi kita sesuaikan dengan kondisi lahan di Indonesia.

Ada yang mengatakan biaya pembangunan LRT oleh Adhi Karya terlalu mahal?

Menurut kami itu harga yang terbaik untuk kondisi desain seperti itu. Kalau dikatakan terlalu mahal seperti apa mahalnya dan apa pembandingnya. Tiang-tiangnya tinggi karena dibangun di dalam kota. Kita tahu di dalam kota ada jembatan penyeberangan orang, fly over. Tidak mungkin membangun LRT di bawah jembatan penyeberangan orang atau JPO. LRT harus dibangun di atas JPO. Apalagi nanti di persimpangan Kuningan, jalur LRT di level tiga. Jadi, Ini yang paling optimum yang bisa kita lakukan. Kita juga sudah melakukan studi banding ke beberapa negara untuk membangun LRT, sampai akhirnya dipilih U-Shape, dan ini yang paling efisien saat ini. Sekitar Rp450 miliar per km, tetapi ini tidak bisa dipukul rata karena tergantung situasi dan kondisi lokasinya.

Dengan masih berjalannya pembangunan LRT banyak yang bertanya-tanya, apakah Adhi Karya tidak kehabisan dana di tengah jalan?

Hahaha ….., sebelum kerja kita sudah atur cash flow perusahaan. Kalau ada kekurangan pendanaan, kita sudah tahu dari mana tambahan pendanaan. Kita masih punya fasilitas kredit yang cukup sekitar Rp16 triliun. Saat ini pendanaan hanya kita fokuskan di fase satu dulu. Pendanaan dari sindikasi bank lokal. Untuk pinjaman dari pihak asing sejauh ini belum. Kita masih bisa pinjam dari bank lokal. Hampir semua bank nasional ikut membiayai Adhi Karya.

Seperti apa skema pendanaan untuk Adhi Karya?

Kalau dulu banyak proyek yang dibiayai oleh APBN. Sekarang ada KPBU (kerjasama pembiayaan badan usaha). Kita bisa dibayar dalam jangka panjang seperti dalam 20 tahun tetapi bunga ditanggung oleh pemerintah. Pendanaan awal proyek dari kami kemudian dibayar secara bertahap oleh pemerintah. Artinya, Adhi Karya tidak akan kesulitan pendanaan. Kami didukung oleh sumbersumber pendanaan dari bank nasional.

Sampai saat ini jadwal pembangunan LRT sudah on the track?

Ada beberapa kendala yang harus diselesaikan seperti terkait pembebasan lahan untuk depo. Ada juga beberapa titik yang melalui perumahan yang saat ini sedang dalam proses. Diharapkan bulan Juni ini sudah selesai soal pembebasan lahan.

Ketika MRT diluncurkan masyarakat antusias menyambutnya, apakah peluncuran LRT juga akan disambut antusias oleh masyarakat?

Kalau dari perhitungan-perhitungan dan melihat situasi saat ini tidak ada pilihan lain bagi kalangan urban untuk transportasi massal. Beberapa moda transportasi massal yang bisa membantu mobilitas masyarakat, di antaranya adalah MRT, KRL, dan LRT. Saya rasa antusias masyarakat terhadap LRT tidak akan lebih rendah dari saat peluncuran MRT.

Kapan diresmikannya LRT?

Secara keseluruhan di tahun 2020. Adapun untuk fase berikutnya Cibubur-Bogor masih dalam tahap desain.

Apakah ada rencana membangun LRT di luar Jakarta seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia?

Kami sedang mempelajari kemungkinankemungkinan itu seperti di Makassar, Surabaya, Bandung, dan Bogor.

Betulkah Adhi Karya mendapatkan proyek LRT untuk memulihkan nama baik Adhi Karya akibat imbas kasus Hambalang atau ini suatu kebetulan saja?

Kasus Hambalang pasti ada dampaknya bagi Adhi Karya. Terkait proyek LRT ini bukanlah suatu kebetulan. LRT adalah proyek yang dicreate dalam rangka bagaimana Adhi Karya kembali bisa seperti masa kejayaannya “back to be the best”. Kalau kita ingat dulu Adhi Karya pernah menjadi BUMN karya terbaik dan menjadi acuan bagi BUMN-BUMN karya lain. Proyek-proyek monumental di Jakarta semua adalah produk Adhi Karya, seperti Mesjid Isitqlal, Gelora Bung Karno, Gedung DPR/MPR, pusat perbelanjaan Sarinah, Monas, dan lainlain.

Kami ingin mengembalikan kejayaaan itu, walaupun untuk mengembalikan itu butuh perjuangan. Sekarang salah satunya adalah meng-“create” proyek di Jakarta yaitu LRT yang merupakan murni hasil karya Adhi Karya. Terkait kasus Hambalang sudah kita lupakan, kita melihat ke depan saja sekarang.

Apakah ada beban bagi Adhi Karya untuk mensukseskan proyek-proyek dari pemerintah?

Bagi BUMN single intensitasnya yaitu satu perusahaan. Kalau swasta mungkin satu proyek satu intensitas. Jadi, kalau satu proyek yang dimiliki swasta berhenti, intensitas proyek itu saja yang terganggu. Kalau BUMN umumnya hanya satu intensitas. Artinya, proyek yang dibangun oleh BUMN lebih terjamin keberlangsungan proyeknya dan tidak mungkin ada proyek-proyek BUMN yang terlantar. Meskipun di swasta juga banyak melakukan hal yang sama seperti di BUMN. Tetapi di BUMN tidak ada yang berhenti proyek yang sedang dikerjakan. Dalam kondisi apapun proyek BUMN pasti akan selesai sesuai kontrak.

Mungkin itu sebabnya banyak BUMN yang semula tidak menggarap properti, sekarang banyak yang ikut masuk ke properti?

Sebetulnya ini menangkap peluang seiring pertumbuhan penduduk dan kebutuhan hunian. BUMN bisa melihat peluang, punya kapabilitas, dan didukung kapasitas pendanaan.

Peluang yang diterima BUMN dari pemerintah begitu besar. Apakah ini tidak mengurangi ketangguhan Adhi Karya bersaing dengan pengembang swasta?

Bersaing dengan swasta melihatnya darimana dulu. Kalau properti itu yang dijual adalah ide. Konsumen melihat ide yang ditawarkan seperti apa, kalau cocok dengan seleranya konsumen maka akan menjadi pilihan. Tetapi kalau tidak bisa menuangkan ide dan mencari ide yang bisa diserap konsumen, akan menjadi bumerang bagi pengembang tersebut. Banyak hal yang menjadi pertimbangan konsumen, misalnya, lokasi, strategi pricing, termasuk segmen yang akan dibidik apakah sesuai dengan harganya. Adhi Karya di setiap stasiun LRT membangun apartemen, tetapi apartemen yang dibangun segmennya berbeda-beda tergantung lokasi dan sasaran pasar yang dibidik.

Adhi Karya sepertinya lebih memilih menggandeng sesama BUMN ketimbang dengan swasta untuk membangun properti?

Kami bekerjasama dengan BUMN lainnya, misalnya, apartemen yang dibangun ACP di Stasiun Cisauk adalah hasil kerjasama dengan PT KAI. Lahan di Stasiun Cisauk 100 persen dimiliki oleh PT KAI. PT KAI menggandeng Adhi Karya sebagai sesama BUMN untuk membangun apartemen murah, sehingga kita bisa men-set up produk yang mungkin harga jualnya tidak semahal kalau swasta yang bangun. Mungkin swasta kurang tertarik kalau untuk produk seperti ini.

Sekarang relatif mudah mendapatkan proyek dari pemerintah, bagaimana
bila nanti tidak banyak lagi proyek dari pemerintah. Apakah Adhi Karya akan tetap tangguh?

Sekarang ini model-model pembiayaan proyek banyak. Adhi Karya tidak hanya mengandalkan proyek dari pemerintah tetapi menciptakan proyek sendiri. Misalnya, yang sekarang diprakarsai Adhi Karya dan sudah disetujui sebagai pemrakarsa adalah Tol Solo- Jogyakarta-Kulonprogo. Kali ini kami yang meng-create proyek tersebut. Jadi, tidak semata-mata mengandalkan pemerintah. Untuk memacu proyek-proyek baru salah satunya harus bisa meng-create proyek sendiri.

Berapa persen Adhi Karya meng-create proyek sendiri? Sekarang ini yang sudah berjalan masih kecil. Tetapi nanti sering perjalanan waktu porsinya
akan menjadi lebih besar.

Apakah ada kesulitan untuk meng-create proyek sendiri atau karena diminta fokus dulu mengerjakan proyek-proyek pemerintah?

Oh, tidak. Kita hanya perlu survey saja. Banyak ide-ide yang bisa kita hasilkan dan kita banyak proyek yang bisa dikerjakan. Sekarang masih dalam tahap survey dan penjajakan. Beberapa yang sudah disetujui seperti Tol Solo-Jogya dan SPAM di Dumai. Adhi Karya juga akan masuk ke pengolahan limbah karena ke depan kalau undang-undang lingkungan hidup diterapkan betul-betul maka limbah B3 harus diolah. Sekarang ini banyak pihak yang belum terlalu serius mengolah limbah B3. Adhi Karya akan masuk sebagai perusahaan yang siap mengolah limbah B3.

Terkait dengan rencana pembentukan holding BUMN infrastruktur, apakah Adhi Karya siap?

Sesuai RUPS kami status “persero” sudah dihapus dan akan menjadi anak usaha. Tinggal berlakunya menunggu ditandatangi Keppresnyaoleh presiden. Pada prinsipnya kami siap untuk masuk holding yang dibentuk oleh pemerintah.

Bagi Adhi Karya apa keuntungan masuk di holding ini?

Sebetulnya pembentukan holding ini dalam rangka menaikkan daya saing BUMN karya. Dengan pembentukan holding permodalan menjadi cukup besar, bisa mendapatkan pinjaman yang lebih besar sehingga bisa mengambil proyek-proyek yang selama ini dikerjakan oleh perusahaan asing. Malah kita akan menjadi kuat menghadapi perusahaan-perusahaan asing karena perusahaan asing mainnya di proyek-proyek besar. Kalau BUMN karya berdiri sendiri-sendiri kemampuan kita terbatas. Dengan holding kapasitas member holding juga pasti akan naik.

Nantinya pembagian proyek yang digarap dilakukan oleh holding. Proyek ini siapa yang kerjakan akan ditentukan oleh holding. Jadi lebih terarah dalam pengerjaan proyek. Sekarang ini persaingan terbuka antar sesama BUMN karya. Namanya bersaing kalau ingin menang akhirnya banting-bantingan harga. Akhirnya yang didapat bukannya untung tetapi malah buntung atau kualitas bangunan menjadi berkurang.

Adhi Karya sempat terseret kasus Hambalang, apakah kasus itu masih menghantui Adhi Karya sampai saat ini?

Sebetulnya kasus itu sebagai pembelajaran bagi kami. Masa lalu sudah selesai, semuanya sudah berakhir. Kami menatap masa depan dengan lebih baik dan hati-hati. Terkait proses administrasi, proses GCG (good corporate governance), saat ini betul-betul kami kawal. Sehingga kejadian-kejadian masa lalu tidak terulang lagi.

Menurut Bapak apa yang harus berubah di Adhi Karya sehingga bisa melupakan kasus Hambalang?

Harus ada integritas, tata kelola perusahaan yang juga harus diperbaiki, GCG harus betul-betul diterapkan, prosedur proyek harus dijalankan. Sehingga semua ada rambu-rambu yang jelas. Proses pekerjaan berjalan di atas rel yang benar. Pekerjaan bisa dipantau dengan baik dan tidak melenceng kemana-mana. Kebijakan-kebijakan apa yang sudah digariskan oleh direksi harus bisa dijalankan dengan kontrol dengan baik.

Bagaimana membentuk integritas yang baik?

Kita bisa mulai dari membangun value perusahaan. Value perusahaan ADHI ada tiga yaitu integrity, inspire, dan innovative. Ini yang harus kita tanamkan kepada karyawan Adhi Karya. Visi dan misi perusahaan harus jelas dan sekarang sudah kita perbaiki. Value misi dan visi perusahaan sudah kita perbaiki sesuaikan dan sudah kita sosialisasikan dari level yang paling tinggi sampai yang rendah. Semua harus betul-betul paham dan diikuti. Ini sudah kita jalankan selama empat tahun terakhir. Mudah-mudahan ini bisa jalan terus.

Sebetulnya tidak terlalu sulit mengubah kultur sepanjang semua mengikuti aturan perusahaan. Sekarang tranparansi dan akuntabilitas menjadi perhatian kita. Selain memperbaiki dan menyesuaikan visi dan misi perusahaan, GCG juga menjadi perhatian. Setiap priodik selalu kami assessment. Kami bekerjasama dengan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) untuk melakukan assessment GCG. Semua kita evaluasi terus, kami juga menerapkan bisnis yang berbasis risk management.

Artinya sekarang di Adhi Karya tidak ada lagi masalah-masalah yang terkait dengan GCG?

Insyaallah tidak ada lagi karena sudah berjalan sesuai dengan relnya.

Sebagai pimpinan bagaimana Bapak membangun integritas di lingkungan Adhi Karya?

Kami punya program untuk meningkatkan kapasitas SDM di lingkungan Adhi Karya. Di level bawah yang lulusan STM kita didik secara internal sehingga siap ketika diterjunkan ke lapangan. Umumnya di level pelaksana kita siapkan karena mereka akan menjadi ujung tombak perusahaan. Kita juga melakukan pendidikan keluar atau magang kepada karyawan-karyawan yang punya potensi untuk dikembangkan. Kami menganggap SDM sebagai asset perusahaan. Dalam tiga tahun ini pertumbuhan karyawan Adhi Karya sudah bertambah 700-an orang. Saat ini sebagian besar tenaga kerja di Adhi Karya lulusan S-1 dan total karyawan tetap Adhi Karya sekitar 1800-an orang. Ini belum termasuk pegawai proyek. Kalau pegawai proyek dihitung bisa sampai 10 ribu orang.

Yang menarik di lingkungan Adhi Karya sekarang ini hampir 60 persen pegawainya diisi gen milenial. Penanganan mereka tentu berbeda dengan generasi seperti saya. Gen milenial harus dibekali bagaimana agar mereka kerasan di sini. Untuk itu kita berikan pelatihan, dorongan-dorongan inovasi, ide-ide mereka kita tampung. Gen milenial juga sudah IT minded, kita harus ikuti perkembangan IT. Itu berarti pengembangan IT di Adhi Karya sudah luar biasa mendukung kebiasaan para milenial. Para milenial tersebar, di kantor pusat dan di proyek ada.

Sudah berapa lama Bapak di Adhi Karya?

Saya memasuki tahun ke lima di Adhi Karya. Sebelumnya hampir 30 tahun di Wijaya Karya. Terakhir saya sebagai Direktur Utama PT WIKA Realty. Karir saya dimulai dari Wika ketika bekerja di perusahaan ini tahun 1987. Awalnya saya masuk ke BUMN karena dulu praktek kerja di kantor PU. Kebetulan ada proyek yang kontraktornya Wijaya Karya. Setelah lulus kuliah saya mencoba melamar ke Wika, diterima dan terus di BUMN sampai sekarang.

Apa yang membuat Bapak betah di BUMN dan tidak mencoba berkarir ke swasta?

Sebetulnya sama saja BUMN dan swasta, tinggal bagaimana kita menjalankannya. Tetapi yang pasti kalau di BUMN semuanya sudah teratur dan ada prosedurnya. Ada yang mengarahkan dan tupoksinya jelas. Bagi saya di BUMN sudah tertib. Tinggal bagaimana menikmatinya saja. Dalam bekerja saya mengalir, dapat tugas dijalankan seoptimal mungkin saya bisa lakukan. Prinsipnya bekerja optimal. Apa yang harus kita lakukan kerjakan dengan optimal. Kalau kerja jangan tanggung-tanggung. Ketika kita menerima tugas, sepakat bekerja optimal.

Ketika Bapak masuk ke Adhi Karya apakah melakukan perubahan-perubahan yang signifikan?

Bersama direksi yang lain mencoba membenahi GCG. Pembenahan perlu karena hal-hal semacam itu muncul karena GCG tidak dijalankan. Sambil berjalan kami perbaiki visi dan misi perusahaan. Kami sesuaikan dengan kondisi yang sekarang. Prosedur-prosedur kerja diperbaiki. Semua itu disosialisasikan ke bawah sampai betul-betul paham, dan harus menjadi budaya. Untuk menjadi budaya ada empat tahapan. Dipaksa, dengan dipaksa akan terpaksa, kalau sudah terpaksa lama akan terbiasa, dan kalau sudah terbiasa akan menjadi budaya. Untuk mencapai budaya prosesnya memang panjang. Alatnya adalah prosedur dan kontrol. Atasan harus membina bawahan, dan bawahan harus membina bawahannya lagi. Ini berkelanjutan dan berjenjang.

Apakah ada beban ketika dipindahkan ke Adhi Karya karena perusahaan ini harus bangkit?

Pasti ada perasaan karena saya masuk ke lingkungan yang baru. Diterima apa tidak di lingkungan yang baru. Perasaan itu ada, tetapi ketika saya masuk ternyata penerimaan teman-teman luar biasa. Hari kedua di sini sudah seperti rumah sendiri. Tidak ada penolakan, semuanya welcome, duduk bersama memikirkan Adhi Karya ke depannya. Hampir tidak ada hambatan ketika saya masuk ke Adhi Karya, seperti ketika saya masih di kantor sebelumnya.

Ke depan akan seperti apa Adhi Karya?

Kami optimis kalau dijalankan sesuai rel yang sudah kita bangun, Adhi Karya akan kembali ke masa kejayaannya. Rencana jangka panjang sudah kami susun, prosedur-prosedur sudah kami ciptakan, GCG dan proses-proses bagaimana memonitornya sudah disiapkan. Tinggal bagaimana meng-create proyek-proyek baru karena kalau mengandalkan proyek dari luar saja tidak akan bisa mengaklerasi pertumbuhan. Kita harus meng-create proyek sendiri. Kalau ini dijalankan target back to the best saya kira dalam lima tahun ke depan bisa terealisasi. Sekarang fundamental keuangan Adhi Karya juga sudah bagus. Piutang-piutang relatif sudah bersih.

Proyek monumental apalagi yang akan dibangun Adhi Karya setelah LRT?

Kami ingin membangun gedung tertinggi di Jakarta. Kami sedang mencari-cari peluang untuk itu karena sekarang banyak yang butuh ruang kantor. Mudah-mudahan bisa segera terlaksana. Untuk siapa gedung itu, saya belum bisa sebutkan.

Bukankah dulu akan ada gedung tertinggi di Jakarta lokasinya di Kemayoran?

Kami yang akan wujudkan di tempat yang lain. ●

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here