KARAWANG MENUJU SUNRISE PROPERTY

0
186
Karawang menuju sunrise property.

Masa depan Karawang makin jelas dengan banyak faktor pendukungnya, mulai dari industri sampai infrastruktur. Optimisme yang melambung membuat orang percaya Karawang menuju sunrise property.

Betulkah Karawang adalah kawasan the untouchables terhadap berbagai tekanan properti di sepanjang tahun 2018 dan jelang tahun politik 2019? Kita tahu sepanjang tahun 2018 terjadi berbagai gejolak ekonomi yang membuat ekonomi sedikit demam. Di awal bulan Oktober dollar AS menembus batas psikologis di atas angka Rp15.000 per dollar AS dan bertahan beberapa pekan. Ini merupakan level tertinggi nilai tukar dollar AS dalam 20 tahun terakhir.

Terkaparnya rupiah memang belum menjadi kiamat buat Indonesia, tetapi kekhawatiran imbasnya kemana-mana tetap muncul, termasuk ke properti yang sebagian bahan bakunya masih impor. Memasuki bulan Desember ini rupiah sudah kembali ke angka Rp14.000-an, tetapi pergerakan rupiah sulit diperediksi karena situasi ekonomi eksternal yang kemungkinan berlanjut hingga 2019.

Masih di bulan yang sama, Oktober, pemerintah lewat Menteri ESDM Ignasius Jonan, mengumumkan kenaikan harga premium akibat kenaikan harga minyak dunia. Tetapi selang 1 jam kemudian Presiden Joko Widodo membatalkan kenaikan tersebut. Walaupun
BBM tidak jadi naik, tetapi ini mengindikasikan ekonomi Indonesia rentan. Kalau saja waktu itu kenaikan BBM tidak batal, dipastikan sektor properti bakal merasakan imbasnya.

Faktor eksternal yang paling mencemaskan adalah perang dagang antara Amerika Serikat dan China sepertinya belum berakhir total. Inilah yang menjadi topik hangat ekonomi global selain Brexit. Pasalnya, perang dagang AS-China imbasnya yang paling dirasakan di Asia. Indonesia tidak terkecuali. Terpuruknya rupiah disebut-sebut sebagai imbas perang dagang AS-China. Perang dagang yang awalnya dipicu negeri Paman Sam ini sampai akhir tahun 2018 belum ada tanda-tanda berakhir. Kalaupun saat ini agak reda karena ada kesepakatan gencatan senjata untuk sesaat.

Apakah properti Karawang tidak tersentuh (the untouchables) oleh situasi sepanjang 2018 dan sebelumnya. Kalau ada seberapa besar pengaruhnya. Apakah terjadi penurunan atau penundaan pengembangan proyek-proyek properti di Karawang? Apakah ada pengembang baru yang tetap masuk ke Karawang? Semua pengembang di Karawang ternyata tidak melihat adanya kerisauan yang mendalam akibat imbas situasi ekonomi di 2018. Kalaupun ada dinilai tidak berefek besar. Justru yang muncul ada keyakinan yang besar, properti Karawang sudah on the track.

Rina Irawan, GM Marketing Taruma City dan Grand Taruma, mencoba membandingkan dengan situasi di Jakarta. Menurutnya, Karawang itu unik. Kalau ada isu nasional penjualan properti di Jakarta menurun sedikit. Begitu juga kalau libur sekolah, libur akhir tahun terjadi penurunan penjualan di Jakarta. Tetapi di Karawang tidak terpengaruh situasi politik, musim liburan. “Kalau ditanya apakah ada dampak dari kondisi makro ekonomi saat ini, mungkin ada tetapi sedikit sekali dan tidak signifikan,” ujar Rina.

Albert Luhur, Executive Director PT Summarecon Agung Tbk, pengembang Summarecon Emerald Karawang, mencoba meyakinkan situasi 2018 dengan menyodorkan angka-angka. Menurutnya kondisi ekonomi makro tidak buruk mengingat hingga triwulan kedua, pertumbuhan mencapai 5,27 persen, yang merupakan tertinggi sejak tahun 2014. Namun, itupun dengan segala sesuatu yang belum stabil, termasuk kurs rupiah terhadap dollar AS.

“Semua hal harus disikapi dengan hati-hati bukan hanya oleh pelaku sektor properti namun juga berbagai sektor lainnya. Kehati-hatian ini pulalah yang dilakukan oleh pasar, dalam hal ini konsumen properti,” ujar Albert Luhur, lewat jawaban tertulis kepada Property and the City.

Jawaban yang paling tegas datang dari Stephanie Nany Ratnawati, Deputi Direktur Marketing PT Galuh Citarum, selaku pengembang Galuh Mas. “Di sini adalah sunrise property. Semua industri pindah ke Karawang. Mau lagi Pilpres, dollar AS naik, sama sekali nggak ngaruh. Sudah ketentuannya mereka harus pindah ke sini. Jadi, mereka tetap butuh
tempat tinggal. Terlepas dia beli di Galuh Mas atau di proyek lain, pokoknya dia tetap tinggal di Karawang,” ujar Stephanie dengan nada mantap. [Hendaru, Pius Klobor, M. Ali Akbar]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here