×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

Belajar Kearifan Lokal Masyarakat Kanekes

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Belajar Kearifan Lokal  Masyarakat Kanekes

Masyarakat Kanekes (Suku Baduy) dikenal sangat menjunjung tinggi kearifan lokal, mereka sangat menjaga keselarasan dan keseimbangan hidup dengan alam. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga kelestarikan alam dengan menggunakan kekayaan alam seperlunya saja, sehingga hal tersebut dapat menciptakan keharmonisan hidup antara manusia dan alam serta terhindar dari segala macam bencana dan penyakit.

Prinsip dasar Masyarakat Baduy dituangkan secara filosofis dalam hukum (tidak tertulis) masyarakatnya yaitu:

Gunung teu meunang dilebur
Lebak teu meunang diruksak
Larangan teu meunang dirempak
Buyut teu meunang dirobah
Lojor teu meunang dipotong
Pondok teu meunang disambung
Nu lain kudu dilainkeun
Nu ulah kudu diulahkeun
Nu enya kudu dienyakeun

terjemahannya

Gunung tak boleh dihancur
Lembah tak boleh dirusak
Larangan tak boleh dilanggar
Buyut tak boleh diubah
Panjang tak boleh dipotong
Pendek tak boleh disambung
Yang lain harus dipandang lain
Yang tidak boleh harus dilarang
Yang benar harus dibenarkan

Jadi inti yang terkandung dalam prinsip tersebut adalah “harus jujur adanya dan tanpa perubahan apapun”.

Ada dua Kelompok masyarakat di Baduy, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Baduy Luar, dalam keseharian hidup masyarakatnya sudah mulai terpengaruh oleh dunia luar. Hal ini karena orang-orang di Baduy Luar sudah tidak sepenuhnya mengandalkan alam sebagai penyokong kehidupan masyarakatnya, itu bisa dibedakan oleh cara berpakaian dan alat-alat yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Umumnya masyarakat Baduy Luar memakai pakaian berwarna hitam, bahkan sudah banyak yang menkombinasikan pakaian mereka dengan barang-barang yang umum ditemui di pasaran seperti jeans dan T-shirt.

Masyarakat Baduy Dalam, umumnya hidup di Desa Cikesik, Cikertawana, dan Cibeo yang merupakan komunitas masyarakat yang tertutup dari dunia di luar masyarakat Baduy sendiri. Mereka masih berpegang teguh pada cara berpakaian sesuai dengan adat, yaitu menggunakan hasil tenunan sendiri dari pohon randu berwarna putih, tanpa tambahan bahan sintetis lainnya.

Selain harus mempersiapkan fisik jika ingin menginap di Kampung Baduy, kita juga harus siap untuk menghormati dan mematuhi peraturan adat yang berlaku di kawasan Ulayat masyarakat Baduy. Paling tidak mematuhi peraturan yang dibuat Jaro (Kepala Desa).

Aturan bagi pendatang antara lain larangan membawa tape atau radio, tidak membawa gitar, tidak membawa senapan angin, tidak menangkap atau membunuh binatang, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon, tidak meninggalkan api di hutan, tidak mengonsumsi minuman memabukkan, dan tidak melanggar norma susila.

Pada bulan Kawalu (masa panen tiga bulan berturut-turut pada bulan Februari hingga April), Baduy Dalam (Kampung Cibeo, Cikeusik, Cikertawana) ditutup sama sekali untuk semua orang luar. Namun, bagi pengunjung pada bulan Kawalu tetap bisa bertemu dengan warga Baduy Dalam saat keluar dari kampung mereka, biasanya di daerah Ciboleger, yaitu gerbang utama menuju Baduy.

Adat Baduy yang sangat membatasi sentuhan dengan dunia modern, terutama pada listrik, dan peralatan elektronik lainnya juga memaksa pengunjung yang akan menginap harus melengkapi peralatan yang relatif banyak, terutama membawa senter untuk memudahkan saat ke kamar kecil pada malam hari.

Sumber air sangat dijaga agar selalu jernih dan bersih sehingga bisa dipakai untuk kehidupan sehari-hari. Sabun, shampo, deterjen, atau pasta gigi sangat dilarang disini, dikarenakan unsur-unsur kimia buatan yang terkandung pada barang-barang tersebut dipercaya bisa mengotori kemurnian air. Aliran sungai yang melintasi perkampungan tanah adat suku Baduy amat jernih, tidak ada sampah. Selain itu, pembagian area-area diatur dalam zona pemanfaatan sungai yang memperhatikan daya pulih air. Setiap kampung telah memiliki area-area khusus dalam pemanfaatan sungai. Zona-zona ini dibagi berdasarkan pemanfaatannya yang antara lain area sungai untuk konsumsi rumah tangga, mandi, mencuci, dan buang buang air sehingga masyarakat Kanekes memperoleh air yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan.

Masyarakat Baduy menyesuaikan diri dengan alam, hal ini terlihat dari cara membangun rumah. Bagian paling bawah dari rumah adalah batu sebagai penopang tiang-tiang utama rumah yang terbuat dari kayu. Tetapi, tidak seperti rumah pada umumnya, masyarakat Baduy tidak menggali tanah untuk pondasi. Batu hanya diletakan di atas tanah. Jika kontur tanah tidak rata, maka bukan tanah yang menyesuaikan sehingga diratakan, tetapi batu dan tiang kayu yang menyesuaikan. Jadi, panjang pendeknya batu mengikuti kontur tanah. Selain itu bahan bangunan rumah yang lain adalah bahan bangunan yang ramah terhadap alam. Bahan bangunan rumah masyarakat Baduy merupakan bahan yang bisa dan mudah diurai oleh tanah. Bahan tersebut diantaranya dinding bilik bambu, atap dari ijuk dan daun pohon kelapa dan rangka rumah dari kayu alam yaitu kayu Jati, kayu pohon Kelapa dan kayu Albasiah. Pada saat malam hari masyarakat Baduy tidak menggunakan listrik dan alat teknologi yang lain sebagai penerangan. Untuk aktivitas bepergian masyarakat Baduy lebih memilih berjalan kaki sesuai yang diajarkan.

Masyarakat Kanekes umumnya bermata pencaharian sebagai petani yang menanam bahan pangan di kebun-kebun dalam area perbukitan. Untuk menambah penghasilan, mereka juga menjual hasil kebun berupa buah-buahan, menjual madu hutan, dan membuat aneka barang-barang kerajinan seperti tas, gelang, cincin, kalung, yang terbuat dari kulit dan akar pohon. Padi-padi ditabur begitu saja di area perbukitan dan dibiarkan tumbuh begitu saja menyerupai ilalang tanpa adanya pengairan/irigasi, hanya mengandalkan hujan.  Ketika saat panen tiba, semua hasil bumi yang telah dipanen disimpan dalam Lumbung yang disebut Leuit. Leuit berbentuk seperti rumah panggung yang kecil dengan 4 buah kayu tiang penyangga. Untuk membuat lumbung diperlukan bambu apus untuk rangka atap. Kayu Kikacang untuk tiang penyangga, daun Kirai (sejenis Palem) untuk atap. Paku besi tidak boleh digunakan untuk menyatukan sambungan kayu. Orang Baduy Dalam menggunakan kayu sebagai kancing antar sambungan kayu. Kompleks lumbung biasanya berjarak sekitar 20 meter dari kampung dibatasi oleh kebun dengan pohon-pohon besar serta aliran sungai kecil. Alasannya jika terjadi kebakaran di desa tidak akan mengganggu stabilitas masyarakat Kanekes. Pembangunan Leuit biasa dilakukan secara gotong royong maupun satu keluarga. Jika dibangun satu keluarga, membutuhkan waktu sekitar sebulan.

Pembuatan lumbung tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Peran Puun (Ketua Adat) sangat besar dalam proses pembuatan Leuit. Kesalahan penghitungan pembuatan lumbung padi dipercaya akan membawa malapetaka bagi kampung. Lokasi dan waktu pembuatan dihitung berdasarkan peredaran bulan. Jumlah lumbung sering diartikan sebagai simbol kekayaan oleh orang luar Baduy. Tetapi, masyarakat Baduy tidak memiliki konsep tingkatan sosial yang membedakan masyarakat berdasarkan harta. Setiap warga diposisikan sederajat dari segi ekonomi. Kesetaraan ini dituturkan dalam nasihat yang sering diungkapkan Puun pada berbagai upacara adat.
Musuh utama Leuit adalah tikus. Orang Baduy punya cara yang unik untuk menangkal tikus agar tidak bisa masuk ke dalam Leuit. Mereka membuat gelebeg, yaitu papan kayu berbentuk bundar dengan diameternya kira-kira 40 – 50 cm. Gelebeg itu dipasang di keempat tiang Leuit bagian atas. Tepatnya di bawah lantai Leuit. Bentuk gelebeg yang bulat dengan diameter yang cukup besar menyebabkan tikus tidak bisa naik ke lumbung padi.

Masyarakat Baduy menetapkan isolasi dari dunia luar, maka dari itu selama anda disana diharapkan anda tidak mengambil foto sembarangan. Mintalah ijin kepada sesepuh disana untuk mengambil gambar bila anda ingin mengambil gambar. Orang Baduy menggunakan bahasa Sunda dengan dialek Sunda-Banten untuk keseharian mereka. Mereka sendiri bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan lancar walaupun logatnya masih bernada Sunda. Setidaknya bagi anda yang tidak mengerti bahasa Sunda, anda bisa berbicara bahasa Indonesia dengan mereka. Orang Baduy sendiri tidak mengenal budaya tulis, dampaknya adalah adat istiadat mereka dan cerita mengenai nenek moyang mereka hanya tersimpan dalam lisan saja.

Masyarakat Baduy tidak ada yang mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Sekolah berlawanan dengan adat istiadat mereka, padahal pemerintah daerah sudah berkeingan membangunkan sekolah untuk mereka, tetapi mereka tidak mau.

How To Get There

Bagaimana menuju Baduy? Mudah saja. Bagi anda yang memiliki kendaraan pribadi dianjurkan melewati Tol Jakarta-Merak, keluar Tol Serang Timur dan melewati Serang Kota menuju Rangkasbitung. Mobil pribadi dapat dititipkan kepada warga sekitar terminal terakhir di Kampung Ciboleger.

Pengguna kendaraan umum sebaiknya menggunakan kereta api tujuan Tanah Abang-Rangkasbitung. Perjalanan kereta ini memakan waktu dua jam. Dari stasiun kereta menuju terminal Aweh, menggunakan angkutan umum berwarna merah dengan ongkos Rp. 3.000.

Dari terminal Aweh menuju Ciboleger membutuhkan waktu perjalanan selama 2 jam sampai 2 jam 30 menit, bergantung pada laju kendaraan. Tarif yang diberlakukan pun berbeda-beda, tergantung banyak atau sedikitnya penumpang. Harga terendah Rp. 13.000, bila penumpang penuh; harga dapat berubah-ubah menjadi Rp.15.000 sampai Rp. 25.000, disesuakan dengan jumlah penumpang.  Pun, angkutan umum ini beroperasi pada pukul 5 pagi hingga pukul 3 sore saja.

Setiba di Ciboleger, Anda sebaiknya menemui Lurah atau Jaro Daerah untuk mengisi buku tamu sebagai pengunjung. Bila Anda tiba larut malam dan tidak ingin melanjutkan perjalanan, masyarakat Baduy menyediakan rumah singgah dengan fasilitas alakadarnya. Bisa juga menginap di rumah makan satu-satunya di Ciboleger, rumah makan Ibu Yati, juga dengan fasilitas alakadarnya dan biaya sukarela.

Namun bila Anda tetap melanjutkan perjalanan, masyarakat Baduy yang anda jumpai dengan sukarela akan membantu menjadi porter. Mereka akan membawakan barang bawaan Anda sampai tujuan dengan tip seikhlas Anda.

Biasanya pelancong akan memilih Kampung Gajeboh sebagai persinggahan pertama karena kampung ini adalah kampung terakhir Baduy Luar yang berbatasan dengan Baduy Dalam, hanya dipisahkan oleh sungai dan jembatan gantung yang terbuat dari bambu. Namun tidak sedikit pelancong yang memilih singgah di Kampung Balingbing. Mengingat kampung ini adalah kampung pertama yang dijumpai setelah melakukan perjalan kurang lebih satu jam dari Ciboleger.

{vsig}/artikel/April2014/SukuBaduy{/vsig}

Rabu, 30 April 2014

You have no rights to post comments