REKLAMASI : MEMBUKA LAHAN, MENEBAR PELUANG

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

REKLAMASI : MEMBUKA LAHAN, MENEBAR PELUANG

Memperluas pulau atau membuat pulau baru digadang dapat meningkatkan produktivitas lahan. Di sisi lain, risiko pun membayangi.

Reklamasi lahan—biasa disebut reklamasi atau land fill—adalah proses menciptakan lahan baru di laut, sungai, atau danau. Proses ini banyak digunakan untuk memberdayakan lahan yang tak terpakai menjadi lahan produktif.
Reklamasi lahan dapat dilakukan dengan beberapa metode berbeda. Metode yang paling sederhana hanya dengan proses mengisi area reklamasi dengan batu-batu besar dengan campuran semen. Setelah itu, diisi dengan tanah liat dan tanah sampai ketinggian yang diinginkan. Proses ini disebut “infilling” dan bahan yang digunakan untuk mengisi area reklamasi umum disebut “infill”.

Salah satu proyek reklamasi berskala besar adalah pembangunan Beemster Polder di Belanda yang dibuat pada 1612 dan berhasil menambah lahan seluas 70 km².

Di Hong Kong, Reklamasi Praya yang dilakukan dalam dua tahap, berhasil menambahkan lahan 20,2 - 24,3 hektare. Reklamasi yang rampung di 1890 tersebut  merupakan salah satu proyek paling ambisius selama masa kolonial di Hong Kong.
Sekitar 20% lahan di wilayah Teluk Tokyo juga merupakan hasil reklamasi, yang paling terkenal adalah pulau buatan Odaiba. 
Le Portier, Monaco, dan Gibraltar juga diperluas dengan reklamasi. Sementara itu, kota Rio de Janeiro (Brasil) dan Wellington (Selandia Baru), sebagian besar lahannya dibangun di atas tanah reklamasi.

Pulau Buatan

Pulau buatan (artificial island) adalah contoh dari reklamasi lahan. Membuat sebuah pulau buatan adalah usaha yang mahal dan berisiko. 
Kendati demikian, pulau buatan menjadi pilihan di daerah-daerah berpenduduk padat, sementara ketersediaan lahan sangat terbatas. Bandar Udara Internasional Kansai (Osaka) dan Bandara Internasional Hong Kong adalah contoh dimana pembuatan pulau dinilai perlu. 
The Palm Islands, The World, dan Hotel Burj Al-Arab di Dubai, Uni Emirat Arab adalah contoh lain pulau buatan—kendati tidak ada kelangkaan tanah di Dubai.
Sementara itu, pulau buatan terbesar di dunia saat ini masih menjadi milik Flevopolder di Belanda. Pulau buatan dengan luas 970 km2 tersebut dibangun pada kurun 1955 – 1968.
Lahan Pertanian Hingga Properti

Sebelum digunakan untuk lahan industri dan properti, reklamasi dilakukan untuk menambah lahan pertanian. Di Cina Selatan, misalnya, para petani mereklamasi lahan sawah di tepi pantai dengan membuat bendungan dari batu. Reklamasi juga umum dilakukan untuk dijadikan kolam ikan, seperti yang banyak terlihat di Hong Kong. 
Proyek reklamasi untuk meningkatkan lahan pertanian masih dilakukan di desa Ogata, Akita, Jepang. Lahan yang direklamasi dari Danau Hachirogata (danau terbesar kedua di Jepang) pada rentang 1957 -  1977 itu berhasil menambah lahan pertanian 172,03 km2.
Seiring dengan kepadatan penduduk daerah dan perkembangan kawasan secara intensif selama abad ke-20, reklamasi dianggap sebagai strategi penting. Tujuan reklamasi yang paling umum adalah untuk membangun taman, lapangan golf, dan lapangan olahraga. Namun belakangan, gedung perkantoran, apartemen, dan kawasan industri juga dibuat di atas lahan reklamasi.
Sebagai contoh, gedung perkantoran kelas A yang dibangun di atas lahan reklamasi adalah Gedung Dakin di Sierra Point, California. Pengerjaan reklamasi yang dilakukan selama 1965-1985, sebagian besar terdiri dari puing-puing bangunan dari San Francisco dan sampah kota. 
Contoh lain, Sydney Olympic Park yang merupakan venue utama Olimpiade Musim Panas 2000 juga dibangun di atas bekas lahan industri yang direklamasi.

Risiko Reklamasi

Di sisi lain, reklamasi dianggap sebagai bentuk perusakan lingkungan, sehingga dilarang di beberapa negara di dunia. Pada 1996, pemerintah Hong Kong juga mengeluarkan regulasi bagi perlindungan Victoria Harbour yang terancam akibat  pengembangan lahan.
San Francisco Bay Conservation and Development Commission pada 1965 lalu membuat peraturan untuk melindungi teluk San Francisco Bay dan mengatur pembangunan properti di sekitar pantainya. Peraturan tersebut dibuat lantaran area teluk terus menyusut akibat reklamasi.
Selain itu, tanah hasil reklamasi juga sangat rentan tergerus saat gempa bumi, yang berakibat pada kerusakan bangunan dan infrastruktur. 
Penurunan permukaan tanah adalah masalah lain yang sering ditemui, baik dari pemadatan tanah hasil penimbunan, maupun ketika lahan basah dikelilingi dinding tanggul dan dikeringkan untuk membuat polder. Tanah basah yang dikeringkan pada akhirnya akan amblas di bawah permukaan air dan meningkatkan risiko banjir.
Giant Sea Wall Jakarta

Salah satu proyek reklamasi terbesar di Indonesia adalah Giant Sea Wall (GSW) Jakarta. Wacana pembangunan tanggul laut raksasa dan reklamasi dalam bentuk pulau-pulau ini muncul pada era Gubernur Fauzi Bowo. Proyek yang kini disebut ”Pembangunan Pesisir Terpadu Ibu Kota Negara” ini yang bertujuan mengatasi pasang naik air laut yang semakin tinggi akibat pemanasan global. Selain itu, juga dimaksudkan untuk menyediakan sumber air bersih. 
Pemancangan tiang pertama GSW dilakukan pada 9 Oktober 2014 dengan membangun tanggul laut sepanjang 32 kilometer. Pemerintah pusat dan Pemprov DKI Jakarta hanya membiayai 8 kilometer dengan dana Rp 3,5 triliun, sementara sisanya (24 km) dibiayai swasta pemegang konsesi lahan reklamasi. 
Sebanyak tujuh pengembang mendapat hak mengembangkan 17 pulau baru di pesisir utara Jakarta tersebut, antara lain PT Pengembangan Jaya Ancol Tbk, PT Pelindo, PT Manggala Krida Yuda, PT Jakarta Propertindo, PT Muara Wisesa Samudra, PT Jaladri Ekapaksi, dan PT Kapuk Naga Indah. Biaya mereklamasi pulau tersebut diperkirakan berkisar Rp. 5 juta – Rp. 7 juta/m2 masih lebih rendah dibandingkan membeli lahan di DKI Jakarta.

Rabu,28 Januari 2015

 

You have no rights to post comments