CROWDFUNDING ALA INVESTASI “KEROYOKAN”

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Model baru tren investasi ditawarkan buat mereka yang memiliki dana terbatas tetapi ingin berinvestasi di properti. Seperti apa skema investasinya?
Properti masih dianggap sebagai lahan buat mereka yang berduit untuk berinvestasi. Jangan kaget kalau ada orang membeli sampai sepuluh unit apartemen hanya sebagai investasi. Selain keuntungannya yang lebih menjanjikan, investasi di properti juga dinilai lebih minim terhadap berbagai risiko investasi. Walaupun pengembang selalu mengatakan pembeli apartemennya end user, tetapi mereka tidak menampik kalau banyak investor yang memborong unit apartemennya.
Yang punya duit banyak tentu bukan perkara sulit berinvestasi, tetapi bagaimana dengan mereka yang berniat investasi properti namun memiliki dana terbatas. Adakah kesempatan untuk ikut menikmati investasi properti? Peluang dari para investor modal terbatas tentu sayang dilewatkan. Inilah yang dibaca oleh PT Nabung Properti Indonesia (NaPro) yang menyediakan platform crowdfunding untuk membeli properti, seperti apartemen dan rumah tapak. Cara berinvestasi  crowdfunding cukup sederhana, beberapa orang cukup mengumpulkan dananya dan diberikan kepada perusahaan penggalang dana atau creator untuk kemudian diinvestasikan ke produk properti. Sehingga crowdfunding didanai oleh masyarakat umum.
Creator akan membuat sebuah campaign untuk menerima donasi. Campaign tersebut berisi informasi detail tentang proyek apa yang akan dibuat, atau bisnis apa yang akan dilakukan. Pada campaign juga akan dijelaskan berapa dana yang dibutuhkan dan jangka waktu deadline crowdfunding. Sehingga orang-orang yang tertarik dengan campaign tersebut dapat mendonasikan sejumlah dana melalui platform yang digunakan, dan menerima reward sesuai dengan jumlah yang disumbangkan melalui online platform tersebut.
Cara kerja crowdfunding mirip dengan konsep Pre-Order. Pada awalnya Creator memberikan pilihan paket apa yang akan didapatkan oleh supporter jika menyumbang dana dengan jumlah tertentu. Supporter kemudian memilih salah satu paket tersebut dan melakukan transfer dana ke sejumlah paket yang dipilih. Setelah dana terkumpul maka Creator akan memulai proses produksi dan mengirimkan barang pesanan supporter.
NaPro adalah salah satu perusahaan yang menyediakan platform crowdfunding untuk membeli properti, seperti apartemen dan rumah tapak. Chief Operating Officer (COO) NaPro, Sandra Vandhi, seperti dikutip dari laman napro.id, menjelaskan bahwa banyak profesional muda yang sangat tertarik menekuni bisnis properti, hanya saja terbatas pada modalnya. “Kami akan menjembatani para calon investor tersebut, terutama kalangan muda yang kesulitan modal,” katanya.
Modal awal yang disyaratkan oleh NaPro untuk investasi minimal sebesar Rp500.000. Nantinya investor akan mendapat saham di suatu proyek properti, sesuai jumlah dana yang diinvestasikan. NaPro kemudian akan menggunakan dana yang terkumpul tersebut untuk membeli properti di proyek yang dipilih. Dana investor baru akan dikembalikan setelah ditahan selama 12 bulan atau 24 bulan. Asumsinya, dalam periode tersebut harga properti sudah naik. Kemudian NaPro akan menjual properti tersebut.
Investor kemudian akan mendapat kembali dananya plus keuntungan dari kenaikan harga properti yang dibeli. Menurut perhitungan Sandra, yield proporsional dari investasi ini bisa mencapai 10 persen hingga 12 persen per unit. Calon investor bisa memilih berinvestasi di beberapa proyek properti yang sedang dalam tahap pembangunan dan tercantum di situs Napro.id. Napro lebih memilih proyek yang dikembangkan BUMN, dengan alasan BUMN memiliki garansi lebih pasti akan menyelesaikan pembangunannya.
Beberapa pengembang swasta yang dihubungi belum banyak berkomentar soal model investasi ini. Tetapi ada juga yang baru menerapkan dan dalam tahap uji coba. Managing Director Prajawangsa City Mandrowo Sapto mengatakan bahwa skema tersebut tidak digunakan di proyeknya. “Kami tidak menggunakan model seperti itu,” tegasnya. Jawaban yang sama juga datang dari Chandra Goetama, CEO Moiz Land, pengembang apartemen Palm Regency.
Berbeda dengan keduanya, Okie Imanto, Chairman dan Founder PT Midas Citra Mandiri (Greenwoods Group) mengungkapkan pentingnya skema tersebut. Menurutnya, pola ini merupakan hal yang cukup baru sehingga memerlukan edukasi pasar dan adaptasi pola keuangan developer. “Namun kami yakni bahwa pola pembiayaan seperti peer to peer lending atau crowdfunding dapat mendisrupsi industri pembiayaan properti di Indonesia,” terangnya. Saat ini ada dua proyek Greenwoods yang sedang dalam tahap uji coba dan adaptasi menerapkan skema yang sama, yakni Citaville Cikarang dan Damara Village Bogor.
Sebagai model investasi baru, hingga kini belum ada regulasi perundang-udangan yang mengatur soal crowdfunding. Regulasi untuk crowdfunding sebenarnya sudah menjadi perhatian pemerintah, dimana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Komunikasi dan Informasi berencana untuk menggarap peraturan mengenai crowdfunding terutama dalam rangka perlindungan konsumen. Bahkan OJK berencana menyusun peraturan crowdfunding syariah. Betul, ini penting agar konsumen tidak gagal paham. (Pius Klobor) ●

You have no rights to post comments