×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

Tren Properti 2018: Pasar Milenial Lebih Melihat Ide dan Keunikan Desain

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Ilustrasi (www.trilogytrainings.com)

 

Rumah di bawah Rp1 miliar cenderung memiliki luas terbatas, sehingga seolah-olah tidak bisa dikreasikan dengan konsep interior yang menarik.

Industri properti di tahun 2018 diprediksikan akan tumbuh sebesar 8% dibanding tahun 2017. Saat ini properti yang nilainya di bawah Rp1 miliar, lebih diminati oleh pasar Indonesia khususnya segmen milenial.

Menurut pengamat properti yang juga pendiri Panangian School of Property, Panangian Simanungkalit, orientasi pengembang tahun ini mengarah kepada pembangunan produk properti yang bisa dijangkau oleh pasar generasi milenial. Apalagi segmen ini berpotensi untuk terus tumbuh hingga sepuluh tahun mendatang.

BACA: Palm Regency, Hunian Ramah Generasi Milenial

“Daya beli kelompok milenial didukung oleh orang tua mereka yang sudah mapan secara ekonomi. Kemampuan mereka sendiri dalam membeli properti hanya berkisar antara 500 juta hingga Rp1 miliar. Namun jumlah penduduk dari segmentasi ini akan terus bertambah secara signifikan karena adanya bonus demografi sehingga berpengaruh terhadap industri ini,” tuturnya.

Panangian menegaskan bahwa pasar milenial adalah potential market yang akan terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada tahun 2030. Bank-bank pemberi kredit perumahan pun saat ini telah membuka diri agar bisa diakses oleh generasi ini.

“Salah satu bank pemerintah telah serius menggarap kredit perumahan untuk segmen pasar ini,” ungkapnya.


Tren
Meningkatnya jumlah milenial dalam membeli properti turut mempengaruhi pertumbuhan industri kreatif subsektor arsitektur dan interior.

Salah satu pemain industri kreatif lokal di subsektor ini adalah Velospace & Co - perusahaan design and build - yang memiliki portofolio mulai dari hunian rumah, apartemen, ritel, perkantoran, hingga pergudangan.

Menurut Verik Angerik, pendiri Velospace, keterbatasan lahan untuk rumah di bawah Rp1 miliar tidak membuat segmen ini mengabaikan nilai-nilai estetika dalam unsur arsitekturnya.

“Misalnya pemilihan warna dinding, sangat berpengaruh terhadap estetika ruangan dengan luasan terbatas karena dapat mempengaruhi psikologis penghuninya. Selain itu efisiensi ruangan juga menjadi fokus yang diperhatikan saat menata produk-produk hunian berukuran terbatas,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (9/12/2017).

BACA:Kebutuhan Hunian Milenial Perlu Mendapat Perhatian Pemerintah

Menurut Verik, pasar milenial lebih melihat pada ide dan keunikan sebuah desain properti, meski soal harga bergantung dari daya beli masing-masing.

“Saat ini, rumah di bawah Rp1 miliar cenderung memiliki luas terbatas sehingga seolah-olah tidak bisa dikreasikan dengan konsep interior yang menarik,” tuturnya.

Verik menambahkan, kebutuhan akan jasa arsitek dan desain interior juga meningkat seiring dengan bertumbuhnya permintaan residensial high-end, perkantoran, perhotelan, hingga ritel atau ruang usaha.

“Tidak saja karena kebutuhan milenial, secara umum, permintaan produk turunan properti lainnya juga mempengauhi pertumbuhan permintaan jasa industri kreatif seperti arsitektur dan interior. Ini yang kami rasakan sejak dua tahun terakhir,” katanya.

Meski pemain subsektor ini cukup banyak yang merupakan pemain asing, ungkap Verik, namun secara kualitas, arsitek dan desainer lokal tidak kalah dengan penyedia jasa dari luar.

“Kita memiliki daya saing yang cukup tinggi. Soal kreatifitas, Indonesia punya banyak talent-talent di industri kreatif. Dan tahun 2018 ini bisa menjadi momentum untuk kita para pemain sub sektor ini untuk semakin solid,” sarannya. [Pius Klobor]

You have no rights to post comments