Generasi Milenial dan Homestay

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Tren properti berikutnya bukan lagi di penjualan apartemen atau landed, tapi di homestay yang bakal merebak di desa wisata. Pengembang lokal harus mendapat prioritas.

Booming property, kata yang begitu familiar di kalangan pelaku bisnis properti, mulai dari pengembang kelas town house sampai pengembang kelas kakap dengan mega proyeknya. Istilah booming property mengacu pada masa-masa bergairahnya bisnis properti, yang efeknya luar biasa tidak hanya bagi pengmbang tetapi juga dinikmati oleh bank-bank penyedia KPR. Indonesia beberapa kali mengalami booming property, dan tak ada yang lebih dirindukan oleh pengembang kecuali masa booming property.
Kalau selama ini tren booming property mainnya di landed house, apartemen dan properti komersial, seperti mal dan perkantoran. Next booming property ada di sektor pariwisata. Kok, bisa? Tentu bisa karena seperti kata Hiramsyah S. Thaib, Ketua Tim Percepatan Pembangunan Destinasi Pariwisata Prioritas di Kementerian Pariwisata, sub pilar properti, salah satunya adalah pariwisata. Properti dan pariwisata memiliki irisan, seperti pembangunan waterpark di lingkungan perumahan.
Irisan ke depan, yang digadang-gadang bakal menjadi booming property adalah pembangunan homestay di desa wisata. Ini bukan mengada-ada, pemerintah menargetkan pembangunan homestay sebanyak 20 ribu di tahun 2017. Ini bermula dari upaya pemerintah menggenjot pendapatan dari pariwisata. Maklum, di lingkup negara-negara ASEAN, Indonesia paling keteteran mendongkrak devisa dari pariwisata. Ada 10 destinasi pariwisata yang menjadi prioritas untuk dijual kepada wisatawan lokal maupun mancanegara.
Selama ini kita sudah kenal namanya kondotel. Konsep yang sama juga bisa dilakukan untuk homestay. Misalnya, di satu desa wisata ada 100 homestay, yang 30 persen di keep oleh developer, sementara yang 70 persen dijual oleh developer. Seperti juga konsep kondotel yang dikelola bisa oleh pihak developer sendiri atau pengelolanya diberikan ke pihak lain. Ini sesuai dengan tren karena generasi milenial lebih suka tinggal di homestay karena dianggap lebih eksotik, lebih dekat ke alam, dan lebih dekat ke nature.
Pertanyaannya, mungkinkah pembangunan homestay bisa dilakukan para pengembang lokal di daerah tersebut. Hiramsyah yakin pembangunan homestay mampu dilakukan oleh pengembang daerah. Apalagi Soelaeman Soemawinata sejak terpilih sebagai Ketua Umum DPP REI ingin memenuhi janjinya pengembang daerah harus menjadi tuan rumah di daerahnya.
Homestay menjadi kesempatan besar bagi pengembang daerah untuk meningkatkan bisnisnya. “Tinggal bagaimana REI sebagai asosiasi berperan besar berkoordinasi dengan para developer agar secara bijak mengalokasikan ini,” ujar Hiramsyah l (Hendaru)

You have no rights to post comments