×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

KNOWLEDGE,SKILL, and ATTITUDE

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

KNOWLEDGE,SKILL, and ATTITUDE

 

JopyRusli

Jopy Rusli, Chief Marketing Officer Lippo Homes

“Prinsipnya adalah berpikir lebih keras, bekerja lebih pintar, dan tidak gampang menyerah. Dan kalau kita melihat sisi positifnya, justru saat krisis itu banyak orang yang berkembang dan sukses.”

 

Pagi itu, Rabu 2 September 2015, tim Majalah Property and The City (PATC) bergegas menuju Lippo Karawaci, Tangerang. Tak lama berselang setelah tiba di kantor Lippo Group, Menara Matahari, tim diajak berkeliling ke MaxxBox. Maxxbox merupakan konsep paling anyar yang menggabungkan marketing gallery yang terhubung langsung fasilitas cafe dan resto sekaligus entertainment. Jopy Rusli ditemani salah satu manager menjelaskan berbagai teknologi termutakhir yang telah diterapkan di bioskop Cinemaxx yang ada di Maxxbox.

 

“Sudah jam 10.00 ayo kita segera ke helipad,” sela Jopy usai fotografer PATC mengabadikan beberapa pose di salah satu sudut marketing gallery. Rupanya, Chief Marketing Officer Lippo Homes itu hendak mengajak tim PATC mengunjungi beberapa proyek Lippo Group, di Kemang Village dan Orange County, Cikarang dengan helikopter.

 

Tidak memakan waktu yang lama untuk perjalanan dengan chopper ke Kemang Village, Kemang. “Ya, saya terlibat sejak awal di proyek Kemang Village ini,” jawab Jopy spontan usai helikopter Bell 407 berwarna biru itu mendarat mulus di helipad kawasan Kemang Village.

 

Sukses Grup Lippo membangun dan memasarkan, serta merealisasikan Kemang Village menjadi kawasan terpadu dan terintegrasi tak lepas dari peran arsitek jebolan Oregon University tahun 1986 ini. Seniman adalah cita-cita Jopy sejak lama. Menggambar adalah hobi pria kelahiran Jakarta, 8 Juli 1962 ini.
Ketika hendak kuliah, Jopy ditanya ayahnya, hendak kuliah ke jurusan apa. “Option-nya kan satu, dua, tiga. Option pertama saya jawab arsitektur, kedua arsitektur, dan ketiga arsitektur lagi. Jadi memang mau saya yang itu,” cerita Jopy. Kemudian Jopy benar-benar menjadi arsitektur setelah meraih Bachelor of Architecture dari University of Oregon, Amerika Serikat. Setelah itu Jopy bekerja sebagai Project Manager di sebuah perusahaan arsitek di California dan mendesain bangunan sekolah serta rumah-rumah tinggal eksklusif.

 

Sembari bekerja, Jopy mengambil kuliah malam di San Diego National University untuk memperdalam ilmu bisnisnya. Gelar Master of Business Administration (MBA) spesialisasi real-estate dia raih pada tahun 1989. Namun pada tahun 1990, saat ayahnya meninggal dunia, Jopy memilih untuk meninggalkan pekerjaannya itu dan kembali ke Indonesia.

 

“Di Indonesia, saya memulai dengan melihat-lihat, mana yang cocok untuk saya kerjakan,” katanya. Jopy pun bekerja di Duta Anggada Realty, Grup Gunung Sewu, hingga 1992. Di tahun yang sama, Jopy bergabung ke Grup Lippo, yang saat itu sedang gencar membangun kota mandiri (township). Mengepalai bagian desain produk di perusahaan tersebut, Jopy kemudian memperkenalkan berbagai gaya hunian baru. Terobosan yang pernah dia lakukan antara lain mulai menggantikan kayu dengan aluminium sebagai kusen jendela di perumahan Lippo. Jopy adalah arsitek pertama yang membawa konsep Mediterania ke Indonesia yang kemudian diaplikasikan untuk berbagai hunian kelas atas dalam proyek Lippo, seperti di Lippo Karawaci, Bukit Sentul, dan Lippo Cikarang.

 

“Ini karena pengalaman saya di California, dan banyak mendesain rumah-rumah model California. Kemudian saya membuat prototype rumah yang mau diluncurkan di perumahan Lippo. Jadi kita yang pertama kali bawa konsep Mediteranian ke Indonesia. Kita juga yang pertama kali membuat jendela rumah pakai aluminium. Jadi senang sekali saya bisa melakukan terobosan-terobosan yang belum pernah ada saat itu,” ceritanya sembari menyantap makan siang.

 

Transfer Keyakinan

 

Tidak hanya mengurusi desain dan pembangunan. Ternyata Jopy juga piawai dalam memperkenalkan produknya. Berbagai pengetahuan dan pengalaman yang pernah dia dalami menjadi bekal berharga untuk meyakinkan pasar akan berbagai produknya itu. Setiap penjelasannya selalu meyakinkan calon pembeli, hingga tak ragu membelinya.

 

“Bahkan CEO kami waktu itu bilang, kenapa kamu tidak menjadi Direktur Marketingnya juga? Karena kalau kamu bicara selalu meyakinkan,” cerita Jopy mengulang perkataan CEO Lippo James Riady, kala itu. “Kita tahu bahwa menjual adalah transfer keyakinan. Jadi kalau kita sendiri yakin pasti orang lain juga akan yakin,” katanya melanjutkan.

 

Jopy pun diserahi berbagai tanggung jawab untuk mengurusi pengembangan usaha Lippo Group. Tidak hanya mengepalai desain dan produk, urusan marketing, dan pembangunan pun di tangan Jopy. Kini, proyek anyar yang tengah digebrak adalah Orange County di Cikarang. Jopy pun terlibat dalam mensukseskan kawasan yang disebut sebagai Shenzhen of Indonesia.

Tetap Bergerak

Krisis keuangan dan pergolakan politik yang terjadi pada 1998 menjadi masa-masa yang cukup sulit dalam perjalanan karir sulung dari tiga saudara ini. Beberapa pusat perbelanjaan dan fasilitas lain milik Lippo di bakar dan dijarah kala itu. Jopy pun terpaksa mengungsi ke Bali untuk beberapa waktu. “Malam-malam saya ditelepon. Kamu pilih mau ke mana, Bali atau Singapura,” cerita Jopy mengenang. Meski begitu, lanjutnya, “Kami tetap bergerak!”.

Jopy dan tim terus berupaya mencari berbagai cara untuk bisa menghadapi gejolak ekonomi saat itu. “Prinsipnya adalah berpikir lebih keras, bekerja lebih pintar, dan tidak gampang menyerah. Dan kalau kita melihat sisi positifnya, justru saat krisis itu banyak orang yang berkembang dan sukses. Seperti contoh muncul Agung Podomoro Group pasca krisis,” kata ayah empat anak ini.

“Mendingan kita belajar seperti pak Mochtar bilang,” sambung Jopy lagi. “Dalam krisis kita belajar dan mencari peluang, dengan begitu kita menjadi lebih dewasa. Dan akhirnya melalui kesulitan-kesulitan tersebut kita bisa mendapatkan yang namanya wisdom.”

Demikianlah ilmu berharga dari Mochtar Riady itu selalu Jopy bagikan kepada timnya. “Kita harus bisa membawa sebuah perbedaan. Yang sering kita lihat adalah formal leadership bukan informal leadership. Mestinya harus ada sense of informal leadership. Ini yang selalu saya ajarkan ke tim saya,” tegasnya.

Dan salah satu kesuksesan besar dalam karir pria lulusan SMA Regina Pacis ini adalah ketika sukses mendesain, membangun, dan memasarkan Kemang Village. “Sebenarnya Lippo-lah yang bikin breakthrough pembangunan apartemen, seperti Apartemen Beverly dan Permata Hijau,” ceritanya. Sekitar tahun 1996 Grup Lippo yang semula lebih fokus pembangunan kawasan perumahan, mulai kembali membangun hunian vertikal, residensial dan high rise. “Salah satunya sewaktu coming back to apartment living itu adalah Kemang Village ini,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, sentuhan tangan dinginnya pun mampu mengubah wajah kawasan itu ‘bebas banjir’. Sebagaimana diketahui, di sekitar Jalan Kemang Raya selalu menjadi langganan banjir di musim hujan, bahkan pernah mencapai 28,4 meter. Daerah tersebut pun ditinggikan hingga menyamai ketinggian Jalan Antasari, 32 meter. Sementara tinggi lobbi apartemen, mal, dan hotel mencapai 35 meter.

“Kalau zaman dulu, biasanya rumah diangkat menyerupai rumah panggung untuk menghindari binatang buas. Jadi di sini juga kami angkat untuk menghindari banjir. Tapi di basement kami bangun water pond sehingga banjir yang datang bisa kembali menyerap ke bumi, sehingga tidak menyebabkan banjir di kawasan lain sekitar sini,” jelas Jopy.

Keberhasilan serta keberanian Jopy untuk melakukan berbagai terobosan itu tak lepas dari peran besar James Riady dan Mochtar Riady, Founder Lippo Group. Keduanya di mata Jopy adalah sosok yang bijaksana, visioner, yang berani melangkah dengan berbagai terobosannya. “Pak Mochtar pernah bilang. Jika di hadapan Anda ada macan, maka macan itu bisa memangsa Anda. Tetapi jika bisa ditanggulangi, maka Anda bisa seperti macan. Pak Mochtar adalah orang yang sangat bijaksana. Melalui pemikirannya, dia bisa melihat hal yang tidak bisa dilihat orang lain. Filosofinya sangat membuka mata kita,” ucapnya.

“Pak James Riady juga orang yang visioner. Banyak gebrakan dan terobosan dia lakukan sehingga Lippo sampai begini besar juga karena beliau. Jadi saya sangat beruntung diberi kesempatan bisa ikut dan berkarya di Lippo yang begitu menggebu-gebu,” sambung Jopy.

Dalam usaha dan karyanya itu, akhirnya Jopy menemukan bahwa elemen yang perlu dimiliki seseorang adalah knowledge, skill, dan attitude. “Yang paling perfect adalah ketika seseorang punya knowledge, skill dan attitude yang tinggi. Nah ini baru bisa maju,” imbuhnya.

Dan, sambung Jopy lagi, “Salah satu kegembiraan kita adalah ketika buah pikiran, hasil kerja keras menjadi kenyataan,” katanya. Maka sukses itu pula digambarkannya sebagai buah dari usaha, kerja keras dan jerih payah tanpa putus asa. “Yang penting adalah kita enjoy. Kita bisa berkarya dan berkontribusi kepada orang lain,” tutup Jopy. (Jkt,2/12/2015)

 

 

 

You have no rights to post comments