×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

SANG DARA SIAP TAKLUKAN JONGGOL

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Amanat yang diberikan sangat jelas, Citraland Cibubur diharapkan menjadi market leader di Jonggol. Inilah tantangan buat Sang nakhoda Citraland Cibubur, Galih PS Putri.

GALIH PS PUTRI, MARKETING MANAGER PT PANASIA GRIYA MEKARASRI


“Waktu pertama kali Citraland Cibubur dibuka, dan saya diberi kesempatan memegang Citraland Cibubur, worry-nya adalah  lokasi,”  kata Galih PS Putri, Marketing Manager PT Panasia Griya Mekarasri, bicara soal lokasi Citraland Cibubur di Jonggol. Sebagian orang mungkin menyebut Jonggol jauh dari pusat Kota Jakarta. Tetapi bagi Putri, panggilan akrab Galih PS Putri, penunjukkan dirinya memimpin Citraland Cibubur disebutnya sebagai challenge yang cukup menarik. Dipercaya menjadi orang pertama yang memegang proyek baru di lingkungan pengembang besar, adalah tantangan bagi para professional.

Baca Juga

Selain soal lokasi, tantangan lainnya Citraland Cibubur adalah proyek baru yang dikembangkan Ciputra Group yang diluncurkan tahun 2016. Memasarkan proyek baru tentu bukan perkara mudah. Apalagi kondisi properti di tahun 2017 penuh tantangan. “Orang mengatakan tahun 2017 properti belum naik, kami malah memberanikan diri melaunching proyek perdana di Citraland Cibubur,” ujar Putri, arsitek jebolan Universitas Dipenogoro, Semarang.
Walaupun latar belakang ilmunya arsitek, dara usia 30 tahun ini menunjukkan kepiawainnya sebagai marketing saat dipercaya memegang Citraland Cibubur. Sadar dengan lokasi Citraland Cibubur, ia menerapkan treatment yang berbeda dari proyek-proyek sebelumnya. Cara penjualan konvensional, seperti hanya mengandalkan konsumen yang datang ke marketing gallery, tidak bisa diharapkan lagi. Model marketing via dunia maya jadi ujung tombak di Zaman Now ini.  
Untuk itu, ia meminta semua jajaran di Citraland Cibubur jualan harus online. Brosur dibuat digital. Rumah contoh dibuat virtual. Komunikasi dengan konsumen lewat WhatsApp, facebook, e-mail. Semua informasi proyek harus ada di website tanpa harus ketemu klien. “Harus di-package dan dikemas agar menarik dan orang mudah mendapatkan informasi via online,” ujar Putri.  
Hasilnya, tidak mengecewakan. Saat proyek perdana di-launching Bulan Mei 2017 yaitu Monteverde, langsung direspon konsumen. Ada tiga klaster di Monteverde, klaster dengan tipe kecil, medium dan besar. Bahkan untuk tipe besar yaitu klaster Aphandra, sudah sold out waktu itu. “Dengan harga mulai dari Rp1,5 miliar untuk tipe besar, orang malah langsung beli dengan cash,” ujar lulusan Prasetiya Mulya Business School program Financial Management Short Course.  
Serba online pun digunakan untuk NUP (nomor urut pemesanan) di Citraland Cibubur, dan ini untuk yang pertama kali diterapkan di Ciputra Group. Untuk pembayaran booking fee lewat e-commerce. Dari nilai booking fee, Citraland Cibubur hanya mengambil Rp2 juta sebagai tanda booking dan pembayaran lewat e-commerce. Konsumen sudah bisa memilih unit yang diinginkan.
Di luar yang di atas, ada point lain yang membuat Citraland Cibubur langsung direspon konsumen saat launching perdana. Putri menyebut, banyak pengembang yang tidak mengeluarkan produk baru di 2017. Mereka hanya memasarkan produk lama yang masih pengembangan. Padahal di 2017 masih ada konsumen yang berani membeli properti. Konsumen tentu memilih proyek baru karena proyek baru identik dengan harga perdana. Kenaikan investasinya lebih dipercaya. “Kalau ditanya oleh investor, yakin tidak akan untung (Citraland Cibubur-red), saya jawab yakin untung. Dan pasti balik modal,” ujarnya.
Menjadi Nakhoda di proyek baru, diakui butuh perjuangan agar awak kapalnya bisa satu jalan dengan visi dan misi dirinya sebagai pimpinan proyek. Apalagi seperti diakui Putri sekitar 80 persen yang direkrut adalah orang baru. Mau tidak mau dirinya lebih banyak turun langsung dan memberi ilmu yang dimiliki. Ia juga selalu menekankan kepada anak buahnya, sebagai the first people di Citraland Cibubur. Artinya, sebagai proyek skala besar dengan jangka waktu bertahun-tahun,  punya kesempatan besar untuk mengembangkan diri dan menunjukkan kemampuan secara maksimal.  
“Saya tidak butuh orang yang background dari pengembang ini atau itu.  Belum tentu yang dari developer besar bersedia ditaruh di Cileungsi. Saya cari mereka yang punya niat dan serius ingin berkarir. Jangan berpikir jangka pendek. Harus berpikir long term,” ujar peraih MBA dari Universitas Katolik Atma Jaya.
Putri tak membantah generasi Millennials sukanya pindah-pindah kerja. Tidak betah di satu perusahaan. Tetapi kalau mereka diyakinkan berada di proyek jangka panjang dan karir yang terbuka luas, generasi Millennials bisa serius di satu tempat. “Orang tidak serius kadang-kadang karena tidak melihat harapan di perusahaan tersebut. Tetapi kalau kita memberi harapan, mereka pasti bisa lama di satu tempat,” ujar Putri.
Arsitek Fungsional
Masuk tahun 2009 di Ciputra Group, Putri ditempatkan di kantor pusat sesuai keahliannya yaitu arsitek. Dalam perjalanannya ia diarahkan ke arsitek fungsional yaitu menangani interior di proyek-proyek yang dikembangkan sub holding 2 dari Ciputra Group (Ciputra Group punya 4 sub holding).  Sub holding 2 proyeknya ada di berbagai daerah penjuru nusantara. Ini memberi kesempatan kepada Putri untuk keliling daerah dimana ada proyek Ciputra Group dibangun. Dari berkeliling daerah ini, Putri mengaku jadi lebih mudah ketika ditempatkan di satu daerah.  “Karena sudah terbiasa, maka ketika ditempatkan di sini (jonggol-red) jadi lebih mudah,” ujarnya.
Sebelum di Citraland Cibubur, Putri ditempatkan di Surabaya menangani Hotel Ciputra World Surabaya selama dua tahun. Mulai dari pembangunan sampai pembuatan interior hotel ditangani oleh Putri. Selepas dari Surabaya, ia ditarik kembali ke kantor pusat dengan tugas lebih ke bussines development. Sampailah kemudian ia mendapat perintah tour of duty berikutnya menangani proyek Citraland Cibubur, proyek baru Ciputra Group di atas lahan 200 hektar.
Tour of duty ke berbagai daerah menangani proyek di lingkungan Ciputra Group, diakui oleh Putri sebagai bagian dari menguji kemampuan di lapangan. Kalau di kantor pusat mungkin kesempatan menghadapi konsumen dirasa kurang. Di lapangan para manager marketing bisa bertemu langsung dengan konsumen. Dituntut cepat menghambil keputusan.  “Di lapangan bisa ketemu langsung konsumen, menghadapi konsumen yang marah-marah,” ujarnya.
Putri, yang pernah menangani proyek Residence8@Senopati Apartment dan Office8@Senopati, sebelum bergabung ke Ciputra Group, mengaku banyak mendapat tempaan di Ciputra Group. Ilmunya makin diasah karena para direksi tidak pelit membagi ilmu kepada karyawannya. Kebetulan para atasannya, seperti Harun Hajadi, Direktur Senior Ciputra Development dan Nanik J. Santoso, Direktur Senior Ciputra Development adalah orang-orang arsitek. Dengan latar belakang ilmu yang sama, Putri banyak berdiskusi dengan mereka. “Kalau saya beri masukan ditampung oleh mereka, kalau saya yang diberi masukan, saya tampung. Di sini lebih banyak ruang untuk belajar,” ujarnya.
Putri juga bersyukur diberi kesempatan untuk menimba ilmu di luar bidangnya. Ia mengambil master bisnis, dan financial management untuk memperkaya pekerjaannya.  “Jadi, saya diarahkan untuk belajar marketing bukan saya yang minta. Setelah saya terjun (di marketing-red) ternyata passion-nya sama,” ujarnya.
Kini, di pundaknya, harapan para direksi adalah Citraland Cibubur menjadi market leader. Kalau saat ini market leader di Cibubur adalah Citra Gran Cibubur dan Kota Wisata, berikutnya diharapkan Citraland Cibubur mengikuti jejak Citra Gran Cibubur.  “Harapan direksi pada Citraland Cibubur menjadi market leader untuk area Cileungsi-Cibubur,” ujarnya.(Hendaru) ●

You have no rights to post comments