×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

PEMILU Bukan Faktor Utama

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

PEMILU BUKAN  FAKTOR UTAMA

Pesta demokrasi akan digelar di Indonesia. Harapan akan perubahan diembuskan untuk menjadikan Indonesia lebih baik. Pemilu yang diperkirakan menghabiskan dana APBN sebesar Rp. 17 triliun ini dimulai dengan Pemilu legislatif pada tanggal  9 April 2014.

Beberapa tokoh properti dari pihak pengembang, perbankan, pemerintah, konsultan, pengamat, dan BUMN melihat adanya kondisi pasar properti yang wait and see. Namun demikian hampir semua berpendapat bahwa pergerakan pasar properti yang cenderung melambat lebih dikarenakan pasar properti itu sendiri yang memasuki tahap perlambatan, disamping adanya kebijakan dari Bank Indonesia yang mengeluarkan aturan pembatasan LTV (Loan to Value) untuk para pembeli yang menggunakan KPR, dan pengetatan KPR Inden yang berimbas kepada permodalan pengembang.

Dengan optimisme yang ada dikalangan pasar properti saat ini diharapkan dapat memberikan kepercayaan pasar yang baik menjelang Pemilu, saat Pemilu, dan setelah Pemilu. Kestabilan perekonomian Indonesia saat ini diharapkan terus berlanjut sampai setelah Pemilu. Pasar properti pun diharapkan memasuki babak baru ke arah yang lebih baik dengan kepemimpinan nasional yang lebih baik pula.

Rencana Jadwal Pemilu 2014

11 Januari – 05 April Pelaksanaan Kampanye
06 April - 08 Apri Masa Tenang
09 April    Pemungutan dan Penghitungan
Suara (Pemilu Legislatif)
25 April – 25 Mei  Audit Dana Kampanye 
26 April – 06 Mei 

Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara

Pemilu Tingkat Nasional 

07 Mei - 09 Mei  Penetepan Hasil Pemilu Nasional 
07 Mei - 09 Mei 

Penetapan Partai Politik Memenuhi  

Ambang Batas 3% 

11 Mei - 18 Mei 

Penetapan Perolehan Kursi dan Calon

Terpilih Tingkat Nasional sampai Kabupaten/Kota 

Juni - September  Peresmian Keanggotaan DPR-RI, DPD-RI,
DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota
09 Juli

Pemungutan dan Perhitungan Suara

Pilpres (Pemilu Presiden)

Juli - Oktober

Pengucapan Sumpah dan Janji Anggota

Terpilih DPR-RI, DPD-RI, DPRD Provinsi, dan  

DPRD Kabupaten/Kota

(Anton Sitorus - Head of Research, Jones Lang Lasalle (JLL) Indonesia)“ Menjelang pemilu yang akan dimulai April ini, pasar properti khususnya di wilayah Jabodetabek diwarnai dengan perlambatan dan menurunnya sentimen dan aktivitas pasar seperti yang terlihat dari volume transaksi penjualan dan juga peluncuran proyek baru. Hal tersebut juga tidak lepas dari melemahnya pertumbuhan ekonomi dan perkembangan indikator makro seperti turunnya nilai tukar rupiah dan meningkatnya suku bunga yang berimbas kepada kenaikan harga dan daya beli konsumen yang terlihat sejak semester kedua tahun 2013 lalu. Ditambah  lagi dengan dikeluarkannya sejumlah regulasi baru oleh pemerintah yang ditujukan untuk memperlambat spekulasi di sektor properti dimana semua faktor tersebut bermuara menjadi satu dan mengakibatkan perlambatan pasar seperti sekarang ini. Diperkirakan hal ini akan terus berlanjut apalagi mengingat pelaku pasar dan konsumen akan menunggu hasil dari pemilu sebelum membuat keputusan bisnis yang signifikan.

Hampir seluruh sektor properti termasuk perkantoran komersial, pusat perbelanjaan, dan kondominium diproyeksikan mengalami penurunan volume permintaan sepanjang tahun 2014, dimana hal tersebut berpotensi membuat pertumbuhan harga atau biaya sewa mengalami penurunan drastis khususnya di sektor perkantoran komersial dan mal sewa. Di sisi pasokan, pasar perkantoran komersial baik di wilayah CBD maupun non-CBD akan mendapat limpahan pasok baru cukup besar dalam beberapa tahun ke depan yang berpotensi memberikan tekanan bagi tingkat hunian dan otomatis pertumbuhan harga sewanya juga. Akan tetapi proyeksi ini bisa saja berubah sekiranya sentimen ekonomi setelah Pemilu melonjak drastis dan ekspansi perusahaaan dan investor internasional ke Indonesia meningkat berlipat kali ganda.

Di sektor pusat perbelanjaan, kompetisi di antara mal-mal yang ada diperkirakan masih tetap ketat dalam tahun ini. Walaupun bisnis ritel diperkirakan masih tetap bertumbuh secara positif, namun dinamika pasar diperkirakan tidak hanya akan diwarnai oleh ekspansi peritel baik yang baru maupun yang eksisting, namun juga ada kemungkinan tutupnya beberapa outlet peritel terkait kondisi penjualan dan biaya operasional yang kurang menguntungkan seperti yang sudah terlihat di awal tahun ini. Sementara itu, sektor kondominium strata diperkirakan akan mengalami penurunan penjualan selama tahun ini. Penjualan dan peluncuran proyek baru diperkirakan meningkat secara gradual tahun depan seiring meningkatnya sentimen pembeli dan kemungkinan perbaikan ekonomi. ” 

(Teguh Satria – Tokoh Properti Nasional)“ Menjelang Pemilu seharusnya semakin banyak uang beredar yang meningkatkan daya beli. Partai-partai sedang melakukan pembelanjaan sehingga pendapatan masyarakat bisa naik. Perekonomian akan membaik secara umum, yang secara tidak langsung akan mempengaruhi properti. BI Rate sampai saat ini masih bertahan tetap 7,5% yang memperlihatkan ekonomi Indonesia yang relatif stabil. Saya perkirakan ada kecenderungan suku bunga menurun dan inflasi pun relatif akan dapat ditekan. Kondisi harga properti saat ini sedang tinggi. Untuk menekan harga rumah tidak dengan jalan menekan demand namun seharusnya supply yang didorong lebih banyak. Siapapun presidennya seharusnya tidak akan bertentangan dengan pengembang. Artinya sentimen pasar akan positif setelah Pemilu. “

(Himawan Arief Sugoto – Direktur Utama Perumnas)“ Sepertinya untuk dua bulan ke depan, tidak akan ada pengaruh pada properti khususnya perumahan rakyat. Karena permintaan konsumen akan tetap saja, tapi mungkin terjadi perubahan dipergerakan harga jual. Keadaan wait and see dapat berdampak bagi para investor atau developer properti dalam membangun produk barunya. Jadi sejauh ini pun belum bisa diketahui seberapa besar dampak pengaruhnya dari pesta rakyat Indonesia yaitu Pemilu legislatif. Harapan setelah pemilu semoga menjadi lebih baik di dunia properti. “

(Andy K. Natanael – Direktur Marketing PT. Modernland Realty Tbk.)“ Umumnya pengembang wait and see, banyak pengembang yang melakukan pembenahan internal sambil mempersiapkan strategi gencar untuk pemasaran setelah Pemilu. Pasar properti belum terlihat jelas pergerakannya meskipun sebenarnya kondisi ekonomi saat ini relatif baik dan diharapkan berlanjut sampai setelah Pemilu. Untuk membuat Indonesia yang lebih baik, perlu ada perombakan ke arah yang lebih baik. Namun saya percaya setelah Pemilu, properti akan bergerak lebih baik. “

(Sri Hartoyo – Deputi Kemenpera Bidang Pembiayaan)“ Pasar (properti – red) melambat karena memang substansi pasar itu sendiri yang melambat. Namun memang juga sedikit terkait adanya kebijakan Bank Indonesia mengenai LTV (Loan to Value - red) dan KPR Inden. Jadi bukan semata-mata karena Pemilu. Bila melihat program rumah melalui KPR FLPP yang ada saat ini sudah dianggarkan Rp. 3 triliun seharusnya dapat lebih ditingkatkan sampai Rp. 9 triliun. Yang menjadi presiden nanti harus dapat menjadi panglima dalam penentu kebijakan perumahan supaya program perumahan rakyat dapat berjalan efektif. “ 

(Felicia M. Simon Division Head Unit Bisnis Kredit Konsumer PT Bank Central Asia Tbk.)“ Sejauh ini memang cukup banyak konsumen yang mengajukan permintaan KPR sebagai end-user untuk produk properti dan peminatnya bagus untuk pembelian rumah. Karena mereka beda dengan spekulan yang memang mencari barang lalu membelinya disaat harga sedang turun. Sehingga menurut saya, menjelang Pemilu dan sesudahnya tidak berpengaruh kepada kebutuhan masyarakat akan papan, khususnya end-user. Kalau pun terjadi penurunan, lebih kepada pengaruh kebijakan Bank Indonesia dalam pengajuan KPR untuk bangunan yang sudah ada wujudnya. Karena pengembang, baru boleh menjual propertinya setelah produknya sudah jadi, tidak bisa jika masih bentuk tanah kavling. “

(Ali Tranghanda – Indonesia Property Watch)“ Perlambatan pasar properti saat ini lebih dikarenakan siklus alamiah dari pasar itu sendiri. Harga sudah terlalu tinggi dan secara umum sudah memasuki tahap jenuh, meskipun tidak dapat disamaratakan di semua lokasi di Indonesia. Setelah Pemilu diharapkan pasar properti akan semakin baik. Namun saya melihat pasar properti masih mengalami perlambatan dan membutuhkan waktu untuk mencapai keseimbangan baru. Sentimen positif mungkin akan muncul setelah Pemilu. Namun tidak langsung berdampak pada properti dalam waktu dekat. Perbaikan ekonomi diharapkan membaik yang kemudian baru akan berimbas bagi bisnis properti. Karenanya siapapun presidennya nanti harus dapat memberikan arah yang jelas pada properti dan perumahan nasional. Karena saat ini tidak ada fokus dan keseriusan dari pemerintah untuk menangani perumahan dan properti nasional. “ 

(Susi Angela – Business Development Manager Ciputra Group)“ Kondisi politik untuk saat ini hingga beberapa bulan ke depan, sepertinya tidak akan berpengaruh besar pada dunia properti. Hal ini terlihat dari di berbagai lokasi atau wilayah yang ada, karena memang memiliki segmen pasar berbeda-beda. Sebab dapat kita lihat ketika pemilu tahun 2009 pengaruh pengajuan pembelian rumah, sebagian besar tidak berefek samping yang negatif. Sebab kebutuhan kepemilikan rumah sepertinya telah menjadi hal wajib bagi siapapun dan sudah dipersiapkan sejak lama. Kemungkinan kenaikan harga properti sendiri tidak akan terlalu besar, karena tetap disesuaikan dengan kondisi pasar, suku bunga, dan kebijakan-kebijakan baru yang mungkin nanti dikeluarkan oleh Bank Indonesia. “  

(Endang Kawidjaya – Sekjen Apersi)"Menjelang Pemilu legislatif dan presiden akan berpengaruh pada perkembangan properti jika melihat dua hal yaitu terjadinya kerusuhan atau tidak sesudah pemilu. Karena jika iya, akan turun atau diam di tempat, sedangkan kalau lancar dapat terjadi peningkatan perputaran uang di masyarakat. Jadi bisa dikatakan untuk saat ini konsumen akan menunggu atau menunda pembelian, sedangkan pengembang juga akan menunggu hasil Pemilu untuk pembangunan properti menengah atas. Tapi diharapkan konsumen tetap menyiapkan dana pengajuan KPR, sehingga saat Pemilu lancar bisa langsung mengambil hunian yang diinginkan. Harapan saya sendiri dari kepemimpinan yang baru, mampu menaikan bantuan dana perumahan minimal satu persen saja per tahun, karena akan membantu kebutuhan atas perumahan murah di kalangan ekonomi menengah bawah." 

Rabu, 23 April 2014

 

You have no rights to post comments