PASAR DAN AKSI PERSEROAN PROPERTI 2015

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

PASAR DAN AKSI PERSEROAN PROPERTI 2015

Perkembangan saham properti sejak tahun 2013 sampai pertengahan tahun 2014 masih merajai bursa saham di Indonesia. Bahkan pada semester I tahun 2014 saham properti menguat sebesar 37,6% dengan pertumbuhan paling tinggi dibandingkan sektor lain. Nilai ini lebih tinggi dari pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya mencapai 18,7%.
Selain sektor properti, sektor lain pun mengalami kenaikan yaitu: keuangan (24%), infrastruktur (21%), dan perdagangan (20%). Hal serupa terjadi di tahun 2013 meskipun IHSG sempat anjlok 24% dibandingkan puncaknya, dan sektor properti juga terkoreksi cukup dalam pada kisaran 45% sampai 60%, namun bila kita melihat periode satu tahunan, sektor properti tumbuh 26,7% dibandingkan IHSG yang naik hanya 6,2%, bahkan lebih tinggi dari sektor consumer goods yang naik 25,6%.
Bagaimana dengan tahun 2015? Isu penting yang ada pada tahun 2015 terkait properti adalah tren perlambatan yang mulai dirasakan di pasar (bukan pasar saham) properti. Peningkatan BI Rate di level 7,75% akan mendongkrak suku bunga KPR yang diperkirakan mencapai 13% atau 14%. Hal ini tentunya akan menyebabkan penurunan daya beli, belum lagi dampak kebijakan Bank Indonesia dengan Loan To Value-nya semakin membuat pasar menurun. Di akhir 2014, Rupiah sempat terperosok menembus level Rp12.900 (16 Desember), namun akhirnya berbalik arah menjadi Rp12.720 (17 Desember) dan semakin stabil di kisaran Rp12.500 - 12.650.

Intervensi Bank Indonesia terhadap Rupiah dengan pembelian obligasi senilai Rp200 miliar agaknya bisa meredakan situasi. Selain itu, pasar juga tampaknya merespon positif terhadap pernyataan The Federal Reserve (The Fed) yang memberikan sinyal tidak akan menaikkan suku bunga dalam jangka waktu dekat. Penguatan IHSG berlanjut dan seluruh sektor saham juga menguat, yaitu industri dasar (1,46 %), properti (1,23 %), agribisnis (0,31 %), pertambangan (0,43 %), aneka industri (0,7 %), konsumer (0,12 %), infrastruktur (0,87 %), keuangan (0,87 %), perdagangan (0,33 %), dan manufaktur (0,61 %).
Rupiah yang melemah sempat membuat khawatir para pengembang properti terkait dengan utang Dollar korporasi. Namun sebenarnya tidak ada dampak secara langsung yang terjadi dalam perkembangan penjualan pasar properti terkait dengan pelemahan Rupiah. Karena penjualan saat ini menggunakan Rupiah dan biaya konstruksi pun sebagian besar masih Rupiah. Meskipun ada beberapa pengembang menggunakan material impor, itupun tidak terlalu signifikan.

Jika pelemahan ini hanya shock sesaat maka dipastikan tidak akan berpengaruh banyak dalam pasar saham karena pastinya para pengembang telah melakukan hedging atas kurs mata uangnya dan biasanya utangnya dalam bentuk jangka panjang. Karenanya dalam jangka panjang saham properti masih menjadi incaran investor.

AKSI STRATEGI PERSEROAN 2015

Beberapa aksi korporasi properti terekam dari berbagai sumber termasuk informasi dari perusahaan dan Vibiz Consulting antara lain :

PT. Pakuwon Jati Tbk. (PWON) menargetkan adanya peningkatan sales sebesar 13% dibandingkan tahun lalu. PWON baru saja meluncurkan Anderson Tower yang merupakan bagian dari Pakuwon Indah, Surabaya. Di Jakarta, perseroan konsentrasi mengembangkan Kota Kasablanka II dan Gandaria City II.

PT. Ciputra Development Tbk. (CTRA) telah berencana menaikkan harga jual propertinya sebesar 7%. Untuk tahun 2015, CTRA telah melakukan pemancangan tiang pertama Rumah Sakit ketiganya, Ciputra Mitra Hospital di Banjarmasin. Sedangkan Rumah Sakit keduanya di Citra Garden Jakarta akan beroperasi tahun 2015. Beberapa proyek prestisius pun sedang dikembangkannya.

PT. Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) merencanakan kenaikan harga jual 10 – 15% namun dengan target penjualan yang konservatif dengan pertumbuhan 10%. Tahun lalu APLN sempat mengalami masalah perijinan untuk SOHO Pancoran dan Parahyangan Residence. Selain itu perseroan masih menanggung beban tambahan dari proyek yang baru diakuisisi, tetapi pendapatan belum bisa dibukukan. Tahun 2015 APLN telah menyiapkan dua proyek di Simprug, Jakarta Selatan dan Klender, Jakarta Timur. Sedangkan Pluit City baru saja diberikan ijin reklamasi.

PT. Sentul City Tbk. (BKSL) menargetkan kenaikan harga jual 15% namun lebih optimis dibandingkan yang lainnya dengan menambah belanja modal (capex) Rp750 miliar atau naik 24% dibandingkan tahun 2014. Di tahun 2015 Sentul City akan berkonsentrasi untuk pengembangan CBD Sentul City.

PT. Intiland Development Tbk. (DILD) belum menetapkan kenaikan harga jual di tahun 2015. Tingkat pendapatan dari development income masih lebih besar dibandingkan reccuring income (8%) yang ada. DILD masih berkonsentrasi untuk pengembangan superblok dan residensial seperti Aeropolis, South Quarter, dan Regatta.

You have no rights to post comments