2015 TITIK TERENDAH PASAR PROPERTI ?

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

2015 TITIK TERENDAH PASAR PROPERTI ?

Pasar Properti Tetap Mempunyai Dua Sisi Mata Uang. Ketika Sektor Lain Terpuruk, Maka Sektor Lain Mempunyai Peluang. Yang Penting Bagaimana Pelaku Pasar Dapat Mengantisipasi Pasar dan Melihat Peluang.

Kenaikan BBM seharusnya tidak secara langsung menjadi pencetus utama menurunnya daya beli masyarakat, namun kombinasi dari faktor-faktor lain membuat efek berantai terhadap penurunan daya beli masyarakat. Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) secara langsung malahan menjadi pemicu merosotnya daya beli masyarakat. Kenaikan TDL dan BBM disusul dengan naiknya BI Rate menjadi 7,75% membuat pasar properti semakin terpuruk. Sayangnya, hal-hal ini terjadi di saat kondisi properti saat ini yang berada dalam kondisi jenuh dan siklus perlambatan sehingga tekanan di pasar properti sangat terasa. Komposisi masyarakat segmen menengah perkotaan yang bertambah, menjadi tidak berarti banyak karena daya beli yang juga tergerus.

Selama 3 triwulan sepanjang tahun 2014 ini saja, pasar properti khususnya di area Jabodebek-Banten telah mengalami penurunan nilai penjualan (q-to-q) mulai dari triwulan I sebesar -63,3%, triwulan II -0,9%, dan triwulan III -9,4%. Atau telah terjadi penurunan -73,6% sepanjang tahun 2014. Tren ini diperkirakan akan berlanjut sampai tahun 2015.  Pergeseran penjualan dari segmen atas ke segmen menengah sangat dirasakan oleh pelaku pasar. Tingkat penjualan segmen atas mengalami penurunan yang signifikan namun sebaliknya segmen menengah mengalami kenaikan.

Namun seperti yang telah disinggung di awal, bahwa masyarakat segmen menengah yang notabene end-user pun mengalami penurunan daya beli.
Belum lagi potensi terjadinya kenaikan suku bunga perbankan yang diperkirakan akan bertengger di level 13% - 14% sepanjang tahun 2015 akibat kenaikan BI Rate.

Indonesia Property Watch memperkirakan setiap kenaikan 1% suku bunga akan menurunkan daya beli sebesar 4-5%. Namun dengan adanya faktor-faktor lain selain kenaikan suku bunga malah menjadikan penurunan berlipat dan bisa mengkoreksi daya beli sebesar 30%.

Di sisi lain kenaikan BBM akan meningkatkan biaya pembangunan yang akan berimbas pada keseluruhan biaya produksi. Namun demikian dengan kondisi ini, para pengembang sepertinya tidak akan gegabah dan ekstra hati-hati untuk menaikkan harga propertinya, khususnya untuk proyek-proyek yang akan diluncurkan tahun 2015. Sebagian besar pengembang menengah melakukan konsolidasi internal dan menghitung ulang kelayakan proyeknya masing-masing, karena dengan kondisi yang ada saat ini, tahun 2015 berpotensi menjadi titik terendah pasar properti secara nasional. Para pelaku pasar dihadapkan pada kenyataan bahwa harga tidak dapat naik terlalu tinggi dan dapat lebih waspada melakukan ekspansi baik itu untuk segmen menengah atau atas. Tekanan besar terjadi untuk para pengembang yang membangun rumah murah yang banyak beralih untuk membangun rumah menengah karena tidak akan sanggup untuk men-supply harga rumah sesuai standar pemerintah untuk rumah murah.

PELUANG BERGESER

Perekonomian belum juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan malahan pelemahan Rupiah terhadap Dollar tidak dapat dihindari juga. Namun dalam kondisi seperti ini, bidang usaha ekspor mendapat sedikit angin segar. Malahan sektor industri mulai menggeliat dengan masuknya modal asing khususnya dari Asia Pasifik. Pasar properti bergeser lebih banyak ke kawasan industri atau wilayah-wilayah dengan economic base industri. Hal ini akan memberikan peningkatan permintaan untuk perumahan segmen menengah sampai bawah, bahkan hunian apartemen untuk kaum ekspatriat disana.

Meskipun secara umum pasar properti melambat di sektor tertentu, namun ternyata menjadi peluang di sektor lain. Pasar properti tetap memiliki dua sisi mata uang, tergantung bagaimana kita dapat membaca peluangnya.

Dana investor asing saat ini, terutama dari Asia mulai mengalir ke Indonesia, arus dana asing yang akan masuk ke Indonesia diperkirakan semakin besar bersamaan dengan dibukanya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) tahun 2015.

2015 : TAHUN KONSOLIDASI

Setelah pasar properti berlari kencang dalam 3 tahun terakhir, agaknya sepanjang tahun 2014-2015 pasar melakukan konsolidasi untuk bersiap bangkit. Diperkirakan paling cepat terjadi di semester II tahun 2015, pemerintah seharusnya telah melakukan stimulus agar pertumbuhan ekonomi dan properti dapat meningkat. Perkiraan penurunan BI Rate di semester II tahun 2015 akan memberikan market recovery pasar properti paling cepat di tahun 2016.

Karenanya sepanjang tahun 2015 ada baiknya para pengembang lebih jeli melihat pasar dan mematangkan ekspansi proyek yang akan diluncurkan. Tahun 2015 bukan berarti pasar properti akan mati melainkan menjadi seleksi alam bagi para pengembang dan proyek-proyek yang benar-benar sesuai permintaan pasar dan bukan latah semata.

Kamis, 18 Desember 2014

You have no rights to post comments