PROPERTY MARKET WARNING

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

PROPERTY MARKET WARNING

Pasar properti dipercaya tengah memasuki fase perlambatan. Beberapa lokasi yang dulunya gencar memasarkan perumahan menengah atas mulai melakukan strategi menahan diri. Harga tanah yang semakin tinggi ditengarai menjadi salah satu faktor yang membuat pengembang pun ‘terperangkap’ sehingga tidak dapat meluncurkan produk rumah landed lagi karena harga menjadi sangat tinggi. Pasar pembeli investor pun sudah mulai terbatas dan dipercaya tidak sebesar dua atau tiga tahun lalu.

Kejenuhan pasar perumahan ternyata tidak menyurutkan pengembang untuk berkreasi. Saat ini pengembang lebih memilih untuk membangun proyek secara vertikal karena harga yang sudah tinggi menuntut optimalisasi lahan secara vertikal. Fenomena latah pun kembali terjadi, bila dahulu semua beramai-ramai memasarkan perumahan mewah saat ini pasar lebih dikuasai oleh proyek-proyek apartemen menengah di pinggiran Jakarta.
Secara umum diperlihatkan bahwa segmen hunian landed mengalami pergeseran dari segmen atas ke segmen menengah (Rp. 500 juta – 1 miliar) sedangkan di sektor apartemen juga terjadi pergeseran ke segmen menengah (Rp. 300 – 500 juta).

Seperti terlihat maraknya pengembangan apartemen menengah yang sangat banyak merambah wilayah Serpong dan Bekasi.

Bahkan wilayah Bekasi sendiri mengalami perkembangan yang lebih tinggi dibandingkan Serpong. Semua mengklaim mempunyai pasar yang potensial, namun perlu kehati-hatian ketika pasokan semakin banyak sedangkan pasar tidak bertumbuh seperti yang diharapkan. Market warning untuk proyek apartemen menengah yang baru masuk sebaiknya disikapi dengan bijak, karena bila terlalu banyak pasokan yang membanjiri pasar tentunya akan ada korban bila ternyata pasar pembeli tidak seperti yang diharapkan.

Kelatahan di sektor perhotelan khususnya di Bali pun telah memasuki pasar jenuh dengan banyaknya investor yang berlomba-lomba membangun hotel disana. Aktivitas ini membuat harga tanah ikut terkerek naik dan sudah semakin tinggi.

Namun ternyata tidak menyurutkan investor untuk membangun hotel meskipun secara investasi dipertanyakan tingkat kelayakannya dengan harga tanah yang sudah membumbung tinggi. Dalam sebuah pasar persaingan pastinya terdapat limitasi atau batasan permintaan yang harus diwaspadai pengembang. Seperti yang saat ini terjadi di pasar perhotelan kelas bujet ke bawah yang diamati telah menunjukkan kejenuhan dan terkena market warning.

Maraknya pembangunan hotel-hotel dalam dua sampai tiga tahun yang lalu telah membuat pasar hotel bersaing ketat. Meskipun arus wisatawan semakin bertambah namun tetap saja pasokan hotel yang ada terlalu banyak. Hotel-hotel bujet di Bali contohnya, sebagian mulai mematok harga dibawah harga kamar rata-rata dengan melakukan perang tarif, dimana kondisi ini untuk mengantisipasi menurunnya tingkat hunian hotel yang terus menurun karena banyaknya hotel-hotel baru yang beroperasi. Penurunan tingkat hunian mencapai level 60% dari rata-rata sebelumnya 80%. Namun market warning tidak terjadi di proyek-proyek vilatel disana, karena ternyata pasar hotel mulai bergeser ke konsep yang lebih ‘landed’ seperti vila dan townhouse.

Beberapa kota selain Bali, seperti Yogyakarta dan Solo pun mulai menjadi perhatian karena hotel-hotel sudah mulai mengeluhkan ketatnya persaingan, termasuk Bandung.

Selain market warning untuk pasar hotel dan perumahan atas serta apartemen mewah, ternyata wilayah-wilayah seperti Cikarang dan Karawang justru memperlihatkan perkembangan yang signifikan khususnya di sektor industri dan komersial. Perkembangan ini dipercaya sebagai bentuk pelebaran perkembangan wilayah setelah wilayah yang lain mengalami kejenuhan.

Namun demikian melihat peta pasar Indonesia saat ini, peran pasar properti di Indonesia bagian Timur ternyata malah menunjukkan perkembangan yang cukup baik mengejar ketinggalannya setelah perkembangan properti wilayah Barat sempat melejit. Sebut saja Surabaya dan Makasar yang masih berpeluang untuk sektor komersial, mulai mendapat giliran untuk berkembang lebih pesat. Sektor komersial dan hunian vertikal mulai marak berkembang. Namun hati-hati perangkap pasar latah jangan sampai berdampak negatif.

Kamis, 20 November 2014

You have no rights to post comments