The Growing Pain CIBUBUR

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

The Growing Pain CIBUBUR

Cibubur telah berubah menjadi sebuah kota dengan segala aktifitas perdagangannya. Pusat-pusat komersial dan mal telah dibangun di wilayah ini, menyusul pesatnya pertumbuhan komunitas penduduk yang menempati perumahan-perumahan di sepanjang Jalan Raya Alternatif Cibubur.

Diperkirakan paling tidak ada 30-an proyek perumahan dari skala kecil sampai besar dengan 35.000-an kepala keluarga yang kebanyakan pasangan muda. Dapat dibayangkan pada jam-jam sibuk, kemacetan mulai membayangi di beberapa titik jalan yang mewarnai arus lalu lintas disana setiap harinya, khususnya di setiap putar balik sepanjang Jalan Raya Alternatif Cibubur.

Untung saja saat ini kemacetan yang sering terjadi di sekitar Cibubur Junction bisa sedikit terurai dengan dioperasikannya jalan underpass Cibubur ke arah tol Jagorawi pada akhir 2013 lalu. Para pemakai jalan yang ingin menuju Tol Jagorawi ke arah Jakarta tidak perlu memutar di Cibubur Junction yang menjadi biang kemacetan, karena bisa langsung melewati underpass sebelum Cibubur Junction untuk langsung menuju pintu Tol Jagorawi.

Memang saat ini semua yang keluar dari Cibubur melalui Tol Jagorawi menumpuk, karena hanya satu akses tol yang keluar. Kapasitas jalan raya tidak kunjung bertambah. Tingginya minat masyarakat untuk tinggal di wilayah ini ternyata tidak diimbangi dengan rencana transportasi umum yang memadai. Tidak ada juga jaringan transportasi kereta api yang menghubungkannya dengan Jakarta. Karenanya arus lalu lintas didominasi oleh kendaraan bermotor yang memadati jalan.

Rencana pembangunan Tol Cimanggis-Nagrak yang direncanakan sepanjang 25,39 km dengan perkiraan biaya Rp. 4,5 triliun tersebut, saat ini masih belum rampung dikarenakan terhambatnya pembebasan lahan. Bila jalan tol ini selesai, maka sebagian masyarakat Cibubur terutama dari Cikeas dan Kota Wisata tidak harus bermacet-macet lagi melalui Jalan Raya Alternatif Cibubur (Trans Yogi).

Ternyata bukan hanya kemacetan yang menjadi permasalahan yang ada. Pengamat tata kota, Yayat Supriatna, mengatakan bahwa menurut Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Jakarta 1985-2005, Cibubur merupakan zona konservasi, pertanian, dan resapan dengan sedikit hunian. Namun demikian seiring dengan perkembangan perumahan yang ada, Cibubur sedikit demi sedikit menjadi sebuah kota.

Dahulu, perkembangan wilayah ini sempat ngebut dengan rencana pemindahan ibukota ke Jonggol yang terhenti di tengah jalan. RUTR 2000-2010 dirubah dengan menjadikan Cibubur sebuah permukiman dengan kepadatan rendah dengan tujuan masih terdapat resapan air. Ironisnya ternyata rencana tidak lagi sesuai dengan kondisi di lapangan dengan munculnya bangunan-bangunan komersial yang memadati sepanjang jalan.

Perencanaan infrastruktur belum dapat mengejar kencangnya perkembangan proyek-proyek perumahan di wilayah ini. Sebut saja grup-grup besar yang masuk ke kawasan ini seperti Sinarmas Land, Ciputra, Agung Sedayu, Metland, Suryamas Dutamakmur, Duta Putra Mahkota, Kalindoland, dan lain-lain.

Pertumbuhan Harga Tanah Rata-Rata Tertinggi Pertumbuhan Harga Tanah Rata-Rata Terendah

Senin, 21 April 2014

You have no rights to post comments