Previous Next

Greget Tol Malang-Pandaan MENGGAIRAHKAN DEVELOPER

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Greget realisasi tol Malang-Pandaan membuat sejumlah pengusaha properti di Kota Malang semakin bergairah. Akses tol Malang-Pandaan sangat dekat dengan Bandar Udara Abdulrahman Saleh di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB) Kota Malang, Jarot Edy Sulistyono menilai, wilayah Timur Kota Malang menjadi rebutan para pengembang untuk membangun perumahan. Rencana pembangunan infrastruktur di wilayah Timur akan dimulai tahun ini dan ditargetkan selesai tahun 2018 mendatang.

Adapun total investasinya mencapai Rp 2,97 triliun dengan biaya tanah Rp 294 miliar. Konstruksi tol tersebut paling lambat harus dimulai pada semester II 2016 sambil pemerintah membereskan pembebasan lahan.

Ketua REI Kota Malang, Umang Gianto menuturkan realisasi tol Malang-Pandaan merupakan target utama dari rencana pembangunan di Kota Malang yang harus merambah kawasan Timur seperti tertuang dalam master plan pembangunan Kota Malang hingga tahun 2020.(Jarot Edy Sulistyono DPUPPB Kota Malang)

Backlog Perumahan

Malang merupakan salah satu dari lima kota besar yang mengalami pertumbuhan properti paling signifikan yaitu  Balik Papan, Palembang, Pekanbaru, Malang, Samarinda. Tingginya pertumbuhan properti di Malang secara langsung mendongkrak harga tanah, baik yang berada di wilayah  primer dan sekunder.

“Prospek bisnis perumahan di Malang sangat menguntungkan dan jauh lebih bagus dibandingkan tahun 2015. Oleh karena itulah, ini menjadi kesempatan bagi REI untuk segera melakukan ekspansi di Malang,” ujar Umang.

Umang juga menandaskan, REI Malang tetap memegang aturan hunian berimbang dengan komposisi 1:2:3, yakni 1 rumah mewah, 2 rumah menengah, dan 3 rumah sederhana. Untuk merealisasikan hunian berimbang, maka prioritas utama yang perlu dilakukan ialah menyelesaikan masalah backlog perumahan.

General Manager Marketing PT Ciputra Residence, Yance Onggo mengungkapkan, sisi Utara Kota Malang terkoneksi dengan Surabaya, sisi Timur dengan Bandara Abdul Rachman Saleh, sisi Barat dengan Kota Batu, dan sisi Selatan boleh dibilang sebagai area pengembangan baru dari Kota Malang. Jadi, pengembangan kota baru Malang akan berada di sisi Selatan.

Harga Tanah Melonjak

Tingginya perkembangan properti tidak hanya terjadi di pusat kota Malang. Pinggiran kota pun menjadi wilayah prospektif. Dalam waktu dua tahun terakhir ini, perkembangannya semakin tinggi. Contohnya ialah pengembangan hunian di kawasan Barat Kota Malang seperti daerah Tasikmadu. Bila dua tahun lalu harga tanah per meter masih Rp 1 jutaan, kini harganya sudah dua kali lipat lebih mahal. Harga rata-rata hunian di atas Rp 300 juta.

Saking tingginya minat konsumen terhadap properti di Malang, para investor ‘nafsu’ untuk membangun properti di Malang, sampai-sampai para pengembang dari luar kota Malang dan pengembang lokal bersaing berebut lahan. Pengembang lokal banyak yang tersingkir karena kalah modal dan jaringan. Pada akhirnya pengembang lokal banyak yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan lahan. Di sisi lain, harga tanah semakin melambung tinggi.

Badan Pusat Stastistik (BPS) Kota Malang, merilis harga tanah di Malang pada tahun 2014 lalu, yang menyebutkan dalam satu tahun, lahan di Malang berkurang hingga mencapai angka 7 ribu hektar. Padahal, pada tahun 2013, jumlah lahan tersedia masih di kisaran 11.004 hektar. Jumlah itu menyusut tinggal 3.296 hektar. Harga tanah di kota Malang bergerak cepat tidak terkendali. Para pengembang luar kota menyebut harga tanah di Malang lebih tinggi dibanding di Surabaya.

Dalam satu tahun harga tanah bisa melonjak 40 persen dibanding tahun sebelumnya. Contohnya, di wilayah Sukun. Dua tahun lalu harga tanah disana masih di angka Rp 1 juta per meter, sekarang ini, rata-rata harga tanah di Sukun mencapai Rp 2 juta per meter.

Harga tanah  di kawasan kota Malang melambung naik hingga 50 persen. Dari harga semula antara Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu menjadi Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu per meter persegi. Di beberapa lokasi strategis bisa mencapai Rp 1 juta per meter persegi.

Ketua DPD APERSI Korwil Malang, Makhrus Soleh mengatakan, naiknya harga tanah diikuti kenaikan harga material. Lonjakan harga ini semakin kuat dengan adanya akses tol Malang-Pandaan. Keberadaan kondominium juga mendongkrak kunjungan wisatawan ke kota Malang.

Untuk rumah sederhana di tengah kota, pengembang tidak menggunakan skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) karena tidak bisa dijual dengan harga Rp 110 juta per unit. Harga rumah sederhana di kisaran Rp 120 juta – Rp 200 juta per unit. Selayaknya, harga rumah bersubsidi harus segera dinaikkan pemerintah agar pengembang mempunyai ruang untuk menjual rumah tipe tersebut dengan lokasi yang berada di tengah kota.

Namun, meskipun pemerintah menaikkan harga jual rumah sejahtera tapak atau rumah bersubsidi dari semula Rp 88 juta menjadi Rp 105 juta, hal ini masih belum mampu mendongkrak pertumbuhan perumahan untuk kelas menengah ke bawah. 

You have no rights to post comments