×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

Sentra Primer di Timur

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

SENTRA PRIMER DI TIMUR

Wilayah Jakarta Timur saat ini masih menyisakan beberapa hal yang membuatnya masih tertinggal dengan wilayah lainnya di Jakarta. Di sektor komersial dan perkantoran, kawasan Cawang telah berkembang seiring dengan pelebaran CBD Jakarta dari Jl. Gatot Subroto terus menyusuri Jl. MT. Haryono. Beberapa pusat-pusat pertumbuhan yang telah tumbuh seperti wilayah Taman Mini, Kalimalang, terus ke Utara sampai ke Pulogebang.

Bila di Jakarta Barat muncul Sentra Primer Baru Barat (SPBB), maka di Jakarta Timur muncul Sentra Primer Baru Timur (SPBT). Pembentukan SPBB dan SPBT didasarkan pada Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta Nomor 1629 Tahun 1986 tentang Penguasaan Perencanaan untuk Pelaksanaan Pembangunan Kawasan. Hal ini seharusnya akan memicu pertumbuhan properti di wilayah ini.

SPBT meliputi area seluas 96 hektar di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Perum Perumnas dan Bakrieland menjadi penguasa mayoritas konsesi seluas 44 hektar sedangkan 52 hektar lainnya milik warga Pulogebang dan juga pengembang lain. Perumnas yang bergandengan dengan PT. Bakrieland Development Tbk. membentuk PT. Bakrie Pangripta Loka sebagai katalis di wilayah ini dengan mega proyek Sentra Timur senilai Rp 1,1 triliun. Nantinya proyek ini akan menjadi strategis dengan akses langsung ke Tol JORR dan adanya Terminal Bus Sentra Timur.

Selain itu, Sentra Timur juga berdekatan dengan Pusat Pemerintahan Jakarta Timur. Memang Terminal Bus Terpadu Sentra Timur Pulogebang saat ini belum sepenuhnya beroperasi dan diharapkan menjadi sebuah terobosan untuk mengurangi kemacetan di Ibu Kota Jakarta. Infrastruktur yang maksimal dan akses terintegrasi di kawasan Sentra Timur Superblok Jakarta Timur ini adalah sebuah alternatif terbaik untuk mengatasi dan mengatur kemacetan yang ada.

Hal yang paling menonjol bila kita melihat posisi Jakarta Timur adalah ketika aksesibilitas yang ada belum sepenuhnya terkoneksi antara poros Timur Jakarta dengan Bekasi. Aksesibilitas yang mengarah dari Cikampek dan Bekasi masih berkumpul di daerah Cawang dengan bukaan tol di sana.

Akses ke arah Bandara belum dapat secara langsung menghubungkan wilayah Jakarta Timur selain akses tol melalui Cawang dan JORR (Jakarta Outer Ring Road) II. Akibatnya kemacetan tidak terurai merata ke semua wilayah.
Salah satu yang diperkirakan dapat menjadi trigger percepatan pertumbuhan di wilayah Jakarta Timur adalah jalan akses Tanjung Priuk yang direncanakan sebagai bagian dari jaringan Tol Jabodetabek yang terkoneksi dengan JORR, Tol Pelabuhan (Harbour Toll Road) serta Tol Dalam Kota yang juga akan terkoneksi di seksi E-1 dengan Jalan Tol Cibitung – Cilincing yang merupakan bagian dari JORR II.

PT. Pelabuhan Indonesia II menargetkan proses konstruksi Tol Cibitung-Cilincing dapat segera dimulai pada pertengahan tahun ini setelah proses akuisisi saham dari PT. MTD CTP Expressway diselesaikan dengan pengambilalihan 45% saham oleh Pelindo II dari PT. MTD CTP Expressway. Namun demikian masalah pembebasan lahan masih menghantui proyek tersebut. Akses ini akan memangkas waktu tempuh dari dan ke Bandara.

Saat ini Tol Tanjung Priuk telah mencapai 70% lebih dan pembebasan lahan telah selesai sehingga akan segera dikebut penyelesaiannya. Sedikit kendala datang justru dari rencana Tol Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu) seksi yang akan melewati Jalan Ahmad Yani di Bekasi. Pemerintah Kota Bekasi meminta Kementerian PU-Pera untuk mengkaji ulang rute tersebut karena dikhawatirkan akan menambah kemacetan justru di jalan protokol tersebut. Bila rencana-rencana akses tersebut dapat terealisasi maka kawasan di poros Timur Jakarta ini dipastikan akan bertumbuh lebih tinggi.

Hal yang paling menonjol bila kita melihat posisi Jakarta Timur adalah ketika aksesibilitas yang ada belum sepenuhnya terkoneksi antara poros Timur Jakarta dengan Bekasi. Berbeda dengan perkembangan wilayah di Barat Jakarta dengan koneksi aksesibilitas yang lebih baik. Karenanya rencana-rencana tol di wilayah Timur Jakarta ini termasuk Tol Tanjung Priuk, Tol Cibitung-Cilincing dan Tol Becakayu akan membuat sebuah perubahan yang signifikan bagi perkembangan properti di sini.

Pengembang Telah Bersiap

Selain di wilayah Sentra Timur, para pengembang saat ini mengharapkan percepatan akan beralih ke wilayah Jakarta Timur, khususnya poros Pulogebang-Bekasi. Potensi adanya aksesibilitas ini akan memberikan tingkat pertumbuhan tanah yang tinggi di wilayah ini.

Jakarta Garden City, contohnya telah lama mempersiapkan lahan 370 hektar. Saat ini proyek tersebut merupakan proyek skala besar yang masih ada di Jakarta. Dengan luas tersebut, maka prospek pertumbuhan properti akan berpotensi naik di masa mendatang.

Ke arah Bekasi sedikit telah hadir Kota Harapan Indah seluas 2.000 hektar yang masih menempel dengan Jakarta Timur. Selain itu Grup ISPI dengan Mutiara Gading City-nya pun telah bersiap-siap menyambut akses Tol Cibitung-Cilincing yang akan berada di kawasan proyeknya.

Pergerakan pengembang di Pulogebang dan sekitarnya ini bersautan dengan munculnya PT. Agung Podomoro Land Tbk. melalui PT. Graha Cipta Kharisma yang telah meluncurkan Podomoro Park seluas 12 hektar di Jalan I Gusti Ngurah Rai, Klender, Jakarta Timur yang diyakini bakal mendongrak harga lahan di wilayah sekitarnya sambil menunggu beroperasinya di Becakayu.

Dengan kondisi pasar seperti ini seharusnya akan menguntungkan wilayah Jakarta Timur ke depan. Faktor akses tol akan disambut dengan para pengembang yang telah bersiap di semua wilayah pertumbuhan di Jakarta Timur. Pertumbuhan dari arah Kalimalang akan terus melebar ke arah Buaran terus sampai Pulogebang. Dengan terhubungnya Cibitung sampai Cilincing, maka wilayah Pulogebang pun akan mempunyai potensi kenaikan harga tanah yang cukup signifikan.

Rencana Perubahan Tata Ruang

Wajah Jakarta Timur pun sepertinya akan segera berubah menyusul rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan mengubah kawasan industri menjadi kompleks perkantoran dan perumahan. Salah satu yang akan menjadi prioritas adalah Kawasan Berikat Nusantara (KBN)di Cakung, Jakarta Timur. Pemprov DKI saat ini sedang menyiapkan perubahan status 600 hektar lahan KBN dari kawasan pabrik menjadi properti.

Setelah Kawasan Berikat, kemudian Pemprov DKI akan menyasar Kawasan Industri Pulogadung milik PT. Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP). Alasan terpenting adalah dua kawasan itu sudah tak seramai dulu. Kawasan Industri Pulogadung, misalnya, sebagian besar pabrik sudah pindah. Hanya sebagian kecil yang masih memproduksi di kawasan ini.

Jokowi ketika menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pun pernah mengatakan, seharusnya industri manufaktur yang padat karya bisa memilih tempat yang lebih menguntungkan selain di Jakarta. Karena arah perkembangan Jakarta bukan menjadi kota industri, tetapi kota perdagangan dan jasa.

Jakarta,27/5/2015

 

 

You have no rights to post comments