CIKARANG MENGGUNCANG

User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive
 

CIKARANG MENGGUNCANG

Cikarang adalah ibukota dari Kabupaten Bekasi yang merupakan bagian Propinsi Jawa Barat, Indonesia. Wilayah kota Cikarang sendiri terbagi menjadi 5 bagian yaitu Cikarang Pusat, Cikarang Barat, Cikarang Timur, Cikarang Utara, dan Cikarang Selatan.

Tahun 1989 merupakan awal berdirinya Kota Cikarang. Kota ini dari awal memang telah disiapkan sebagai kawasan industri. Karenanya mulai berdiri kawasan-kawasan industri seperti Jababeka dengan luas total mencapai 5.600 ha dan telah dikembangkan 4.600 ha. Di atas lahan industri seluas tidak kurang dari 2.000 ha telah beroperasi 1.650 perusahaan lokal dan multinasional dari 30 negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Perancis, Inggris, Belanda, Australia, Korea, Singapura, Taiwan, Malaysia, dan negara-negara lainnya.

Sekitar 200 hektar di kawasan Jababeka juga dipergunakan untuk pendirian dry port yang dinamakan Cikarang Dry Port. Cikarang Dry Port menawarkan layanan satu atap untuk penanganan kargo serta solusi logistik untuk ekspor dan impor internasional, demikian pula untuk distribusi domestik. Cikarang Dry Port menyediakan pelabuhan serta jasa logistik yang terintegrasi dengan puluhan perusahaan logistik dan supply chain; seperti eksportir, importir, pengangkut, operator terminal, stasiun kontainer, gudang, transportasi, logistik pihak ketiga (3PL), depo kontainer kosong, serta bank dan fasilitas pendukung lainnya. Sebagai perpanjangan pintu gerbang Pelabuhan Internasional Tanjung Priok, segala macam dokumen serta perizinan dapat diselesaikan di dalam Cikarang Dry Port.

Di sisi lain, dengan luas lahan sekitar 3.000 ha, Lippo Cikarang dengan Delta Silicon-nya ikut menyediakan lahan untuk 700 pabrik yang dipercaya sebagai kawasan industri dengan fasilitas terlengkap. Belum lagi MM2100 Cikarang Barat, Bekasi International Industrial Estate (BIIE), the Hyundai Industrial Park, East Jakarta Industrial Park (EJIP) dan PT Karawang Jabar Industrial Estate yang mengelola Karawang Jabar Industrial Estate yang direncanakan seluas 506 hektar.

Kota Deltamas dalam pengembangan yang pertama yakni Greenland Industry seluas 50 ha yang telah selesai dibangun untuk light industrial. Sedangkan untuk pengembangan kedua seluas 1.300 ha, disebut Greenland International Industrial Center (GIIC), akan masuk dalam ZONI (Zona Internasional) untuk daerah industri yang terdiri dari 7 kawasan terbesar dan akan menjadi zona ekonomi khusus.

di Cikarang, berapa besar lapangan kerja yang tercipta dengan economic base yang ada. Fasilitas pun tidak terbatas untuk industri melainkan telah berkembang menjadi sebuah kota mandiri dengan fasilitas komersial perdagangan, perkantoran, rekreasi, hotel, golf dan lainnya. Economic base ini yang membedakan Cikarang dengan lokasi-lokasi lainnya dengan perkembangan properti yang pesat.

Dengan kejenuhan yang terjadi di wilayah lainnya, Cikarang justru diuntungkan dengan mulai maraknya investor asing melirik Cikarang. Peningkatan pasar properti pun mulai pesat di pertengahan tahun 2014. Beberapa proyek apartemen baru mulai dipasarkan di kawasan ini. Permintaan hunian untuk ekspatriat di kawasan ini ditengarai menjadi pemicu banyaknya pengembang yang mulai merilis proyeknya. Bahkan Cowell Development yang biasa bermain di wilayah Jakarta Selatan dan Barat telah mulai mengembangkan The Oasis di pintu gerbang Lippo Cikarang. Selain itu proyek mixed use development Chadstone pun mulai meramaikan persaingan yang ada, garapan dari Pollux Properties Indonesia.

Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Tbk, Meow Chong Loh, mengungkapkan bahwa pengembangan Orange County dimulai dengan MaxxBox Orange County di atas lahan seluas 6 Ha dilanjutkan dengan Orange County Business District (OCBD) seluas 13,5 Ha dengan total investasi Rp. 250 triliun yang dilengkapi berbagai fasilitas, seperti  Hypermart, Cinemaxx, tidak ketinggalan pusat kuliner dan sejumlah arena permainan Timezone, Showcase Orange County, serta Japanese school.

Bahkan di awal tahun Lippo Cikarang terus membangun apartemen untuk kalangan ekspatriat The Suites Tower-Trivium Terrace Apartments. Kehadiran apartemen ini melengkapi dua menara yang telah hadir terlebih dahulu.

Penyerapan lahan properti dan industri di Cikarang diperkirakan mencapai 125 - 134 ha/tahun dibandingkan dengan Serpong 32 - 95 ha/tahun dan Bekasi 25 - 56 ha/tahun. Dengan perkembangan industri yang ada, Cikarang merupakan salah satu pusat industri nasional yang nilai ekspornya mampu bersaing dengan Batam. Kawasan ini mampu menyumbang sebesar 34,46 % PMA Nasional. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bekasi sebesar 5,99% tahun 2013 pun lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,78%. Bahkan Karawang mempunyai pertumbuhan ekonomi 6,23% di tahun 2013.

Perkembangan Harga Tanah Kawasan Industri di Cikarang

 

PROSPEK WILAYAH

Isu pembangunan bandara baru di wilayah Karawang pun ikut mendukung agresivitas perekonomian di wilayah Cikarang dan sekitarnya. Bayangkan bahwa bandara ini nantinya akan menjadi bandara yang lebih besar dibandingkan Bandara Soekarno-Hatta. Pembangunan bandara seluas tidak kurang dari 3.000 ha ini rencananya akan bisa menampung 100 juta penumpang, lebih tinggi dari Bandara Soekarno-Hatta saat ini yang hanya sanggup menampung 70 juta penumpang.

Selain itu rencana pelabuhan Cilamaya meskipun masih belum dapat dipastikan lokasinya, namun diperkirakan masih berada di sekitaran lokasi industri karena fungsinya untuk mendukung kawasan industri yang ada di wilayah Cikarang sampai Karawang. Keberadaan Pelabuhan Cilamaya ini bisa menunjang rencana kawasan Cikarang yang akan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di kawasan Pantai Utara Jabar dan akan terkoneksi dengan Pelabuhan Cilamaya.

Pembangunan Pelabuhan Cilamaya ini sudah mendesak karena Tanjung Priok harus memiliki pelabuhan pendukung untuk memberikan daya tampung yang lebih besar. Pelabuhan Cilamaya akan menjadi satu sistem dengan Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta yang juga akan fokus untuk menyokong logistik industri.

Prospek masa depan yang sangat menjanjikan ini telah mendongkrak harga tanah untuk industri dari hanya Rp. 400 – 800 ribu/m2 di tahun 2009 menjadi Rp. 1,3 – 3 jutaan/m2 pada tahun 2013. Karenanya meskipun pasar properti mengalami kelesuan, agaknya pasar akan mulai bergeser ke Cikarang dengan kekuatan economic base yang ada.

Senin,15 Desember 2014

 

You have no rights to post comments