×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

LIFETIME ACHIEVEMENT BTN GOLDEN PROPERTY AWARDS 2017

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Sejak digelar pertama kali pada tahun 2015, Golden Property Awards menjadi icon bergengsi atas pencapaian prestasi para pelaku bisnis properti di tanah air. Untuk kedua kalinya, pada tahun 2017 ini Indonesia Property Watch menyelenggarakan Golden Property Awards yang digelar setiap dua tahun. Golden Property Awards merupakan satu-satunya ajang penghargaan berbasis riset dengan penilaian yang terukur, teruji, dan terpercaya. BTN Golden Property Awards 2017 menjadi ajang bergengsi sekaligus penghargaan tertinggi bagi para pelaku bisnis properti di tanah air atas kerja keras yang telah dilakukan sekaligus memberikan optimisme kebangkitan pasar properti Indonesia.

Adapun Penghargaan LIFETIME ACHIEVEMENT BTN GOLDEN PROPERTY AWARDS 2017 diberikan kepada :

SOETJIPTO NAGARIA, FOUNDER SUMMARECON AGUNG

KELAPA GADING, TONGGAK SANG VISION

Visi saja tidak cukup bila tidak dibarengi keberanian dan kerja keras untuk mengubah sesuatu yang tidak berarti menjadi bernilai. Itulah yang dilakukan  Soetjipto Nagaria ketika mengubah kawasan rawa-rawa di Kelapa Gading menjadi kawasan “emas” yang dalam perkembangannya kemudian menjadi benchmark kawasan hunian, komersial dan kuliner di Jakarta Timur.  
Jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan kimia ini rupanya memiliki insting yang lebih kuat ke dunia properti ketimbang bidang kimia. Darah bisnis mengalir dari ayahnya yang merupakan pengusaha bahan bangunan. Di matanya, ada peluang besar untuk masuk ke bisnis properti yang pada era tahun 70-an masih bisa dihitung dengan jari yang berkiprah di industri properti. Tepatnya tahun 1975 Soetijpto mendirikan Summarecon untuk menggarap Kelapa Gading.  
Kawasan Jakarta Utara di era tahun 70-an boleh dibilang belum ada yang melirik untuk dikembangkan sebagai kawasan hunian yang terpadu. Apalagi kawasan Kelapa Gading yang waktu itu masih berupa rawa. Berbeda dengan Jakarta Selatan yang sudah lebih ramai oleh hunian dan kawasan komersial. Soetjipto tertantang untuk mengubah Kelapa Gading menjadi kawasan hunian dengan ditopang area komersial, kuliner dan perdagangan yang lengkap.
Seperti dikutip dari situs Kompas.com, tahun 1976 Soetijpto mulai membangun perumahan di Kelapa Gading, yang kemudian disusul dengan membangun infrastruktur seperti Jalan Boelevard Raya Kelapa Gading. Selanjutnya membangun deretan ruko di sepanjang Jalan Boelevard Raya. Setelah kehidupan mulai berdenyut di Kelapa Gading, kawasan makin dilengkapi dengan fasilitas pendidikan, olah raga, pasar, area kuliner, mal hingga pusat hiburan.
Keberhasilan Soetijptomembangun Kelapa Gading dari nol, menjadi tonggak bagi Summarecon untuk membangun kawasan lain yang menjadi pengembangan skala kota. Tercatat, di luar Kelapa Gading, ada pengembang lain dari Summarecon, yaitu Summarecon Serpong, Summarecon Bekasi, Bandung, Karawang dan Bali.

 

HENDRO GONDOKUSUMO, FOUNDER INTILAND DEVELOPMENT

MENEMBUS BATAS PANTAI UTARA JAKARTA

Ketika belakangan ini pengembang marak melakukan reklamasi pantai sebagai upaya pengembangan lahan baru untuk area properti, khususnya di pantai utara Jakarta, Hendro Gondokusumo jauh sebelumnya sudah melakukan pada tahun 80-an dengan membangun Pantai Mutiara di atas lahan reklamasi. Entah apa yang ada di benak pria kelahiran Malang, tahun 1950. Tetapi inilah prestasi besar yang ditorehkan seorang pengembang Indonesia, membangun perumahan di atas lahan reklamasi.  
Hendro melampiaskan idenya sesuatu yang belum pernah dilakukan di Indonesia, yaitu reklamasi. Bahkan, reklamasi Pantai Mutiara merupakan proyek reklamasi pertama di Asia Tenggara yang diperuntukan untuk perumahan. Menurut Hendro, di luar negeri pantai adalah kawasan yang mahal, kalau ada pengembang berhasil melakukan reklamasi, layak memakai titel  “PhD”. Kemampuan Intiland menembus batas pantai utara Jakarta dengan reklmasinya, layak memakai titel itu.
Regatta adalah pengembangan berikutnya dari Intiland sebagai bagian terakhir dari pengembangan Pantai Mutiara, yang diharapkan akan menjadi masterpiece, bangunan ikonik di Indonesia, bahkan dunia. Tidak tanggung-tanggung, Hendro meminta arsitek yang merancang bangunan Burj Al Arab di Dubai, yaitu Tom Wright dari WS Atkins Consultans dari Inggris untuk merancang Regatta.  Hasilnya, Regatta bak kapal layar yang siap berlayar ke laut lepas.
Hendro, seperti dikutip dari buku Rahasia Sukses Pengusaha Properti karya Robert Adhi KSP, berasal dari keluarga pedagang hasil bumi. Tetapi anak ketiga dari delapan bersaudara ini, tidak tertarik berdagang. Ketika ayah dan pamannya masuk ke bisnis properti, Hendro seperti menemukan jalan hidupnya di dunia properti. Diakui Hendro semuanya dimulai dari nol, tidak punya pengetahuan dan pengalaman. l

 

 

ALEXANDER TEDJA , FOUNDER PAKUWON GROUP

BERANGKAT DARI BISNIS BIOSKOP

 Satu bisnis yang ditekuni terkadang melahirkan bisnis lain yang mungkin tidak terkait langsung dengan bisnis semula. Itulah yang terjadi dalam rentang hidup seorang Alexander Tedja, founder Pakuwon Group, yang pada awal tahun 70-an bisnisnya di industri film dengan mengoperasikan bioskop di beberapa kota. Kini, Alexander menjadi salah satu pengembang tersukses di Indonesia, dengan bendera Pakuwon Group.  
Alexander yang sukses memiliki gedung bioskop di banyak tempat, semula ingin menambah gedung bioskop baru yang berbeda dari yang sudah ada. Gedung bioskop yang tidak konvensional. Tahun 1986 berdirilah Tunjungan Plaza pusat perbelanjaan modern pertama di Surabaya. Sebuah bioskop yang menyatu dengan mall yang diharapkan menjadi tempat tujuan wisata di Surabaya. Dari sebidang tanah yang semula untuk bioskop akhirnya berkembang menjadi pusat perbelanjaan yang menjadi cikal bakal Pakuwon Group, salah satu perusahaan properti terbaik di Indonesia.
Alexander percaya transformasi dari bisnis perfilman ke bisnis properti adalah sebuah kesempatan emas dan menjadi titik balik karirnya dalam berbisnis. Terbukti kesuksesan proyek Tunjungan Plaza kemudian berlanjut dengan dibangunnya Tunjungan Plaza  II dan III. Bisnis hotel dan kondominium juga dirambah PT Pakuwon Jati dan menuai sukses.  Sukses Alexander tidak hanya di Surabaya tapi merambah ke kota-kota lain. Tentunya Jakarta menjadi sasaran utama pengembangan Pakuwon Jati. Mall Gandaria City yang berlokasi di Kebayoran Lama adalah salah satunya.
Bagi Alexander pencapaian ini selalu ada hambatan, tidak semuanya berjalan mulus. Yang paling penting adalah tekun, mau belajar, belajar dari kesalahan dan jangan pernah menyerah untuk terus maju. Jadi pebisnis tidak harus menunggu kesempatan datang, tapi harus berusaha menciptakan peluang sendiri. Jangan pernah pesimis dan tetap bergairah apapun yang dikerjakan. l

 

You have no rights to post comments