×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

Hati-Hati Pasar Latah

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Hati-Hati Pasar Latah (Liputan Bekasi)

Sepertinya pamor Bekasi sebagai penyedia kawasan perumahan menengah bawah telah berubah menjadi sebuah kota dengan beragam jenis properti yang hadir. Dengan harga tanah yang semakin tinggi, masyarakat ‘dipaksa’ untuk bersahabat dengan apartemen. Dengan harga apartemen yang dipasarkan berkisar antara Rp. 300 – 500 jutaan diperkirakan masih dapat terjangkau oleh masyarakat Bekasi. Belum lagi peran investor yang akan mendorong terserapnya pasar apartemen di Bekasi. Pasar sewa kaum ekspatriat khususnya di wilayah Cikarang memberikan keyakinan akan tersewanya apartemen-apartemen yang ada nantinya. Namun demikian dengan berjejalnya proyek-proyek apartemen yang sedang dipasarkan, pengembang harus menghitung peta persaingan yang ada. Karena sangat riskan bila kita melihat data permintaan yang ada dibandingkan besarnya rencana pasokan unit apartemen yang akan ada.

Di beberapa lokasi, pengembang masih yakin dengan pasar yang ada. Perum Perumnas lewat proyek Center Point-nya bahkan telah merampungkan tambahan 2 tower baru, menyusul 2 tower sebelumnya. Tidak jauh dari situ muncul beberapa proyek apartemen yang masih dipasarkan seperti Apartemen Indigo, Grand Cut Meutia, Kemang View yang harus bersaing juga dengan Apartemen Springlake di Summarecon dan Grand Kamala milik PT. Pembangunan Perumahan (PP) Tbk. yang terletak masih dalam radius persaingan. Selain itu di Bekasi Timur, Bekasi Trade Center telah bertansformasi menjadi proyek mixed-use development dengan penambahan apartemen, hotel, dan rumah sakit. Keyakinan ini pun sejalan dengan munculnya Grand Dhika City garapan anak perusahaan Adhi Karya. Belum lagi rencana monorel Cawang- Bekasi yang melewati area proyek ini memberikan keyakinan bagi pengembang.

Dilihat dari pasar sewa yang ada, Bekasi dengan lebih dari 1.500 industri, domestik dan multinasional seperti Jepang, Cina, Korea, Thailand, Singapura, Amerika Serikat, dan lain-lain mempunyai potensi pasar yang tinggi, mulai dari buruh, karyawan biasa, manajer, sampai top management baik lokal maupun sebagai tenaga kerja asing. Keunggulan ini yang tidak dimiliki oleh Serpong dan wilayah penyangga Jakarta lainnya.

Sebagian besar kawasan industri terpusat di Kabupaten Bekasi. Diperkirakan ada sekitar 4.000 tenaga kerja asing, yang bekerja di sejumlah kawasan industri. Sedangkan di Kota Bekasi sendiri tercatat hanya terdapat 162 orang tenaga kerja asing. Dengan jumlah rencana unit apartemen yang sangat besar, para pengembang dipastikan akan saling berebut pasar.

Don Vito Ammar - Sales Manager The Enviro, Jababeka

“ Kemacetan memang tidak bisa dihindari menuju dan dari Kota Bekasi, namun pengembangan akses baru menuju dan dari Cikarang yang saat ini dikembangkan seperti Cikarang KM 31, Cibatu KM 34,7, Delta Mas KM 37 dan Jababeka KM 29,1 mampu mengurangi kemacetan di sekitar lokasi kami”

Penjualan kami (Apartemen The Enviro– red) sampai hari ini bagus dan didominasi oleh end-user sebesar 60%. Dan mengingat jumlah penduduk Cikarang sebesar 1,2 juta jiwa merupakan pasar yang sangat potensial yang masih membutuhkan hunian. Konsumen Kota Bekasi bisa dikatakan telah banyak yang memilih apartemen sebagai pilihan utama, sementara untuk masyarakat Cikarang lebih memilih rumah tapak sebagai pilihan utama di samping itu properti jenis ruko dan gudang juga menjadi pilihan. Pasar apartemen yang ada di Cikarang terkait dengan banyaknya pekerja yang temporary sehingga mereka lebih memilih apartemen yang fully-furnished. Tipe Studio (27 m2) merupakan tipe yang paling banyak dibeli dengan harga jual Rp. 400 juta. Kami mencatat pada kuartal terakhir 2013 stagnan dan kuartal I 2014 penjualan naik 20%. ”

Tjakra D. Puteh - Project Manager Grand Kamala Lagoon

“ Aktifitas yang tinggi di Bekasi menjadi indikator bahwa masyarakatnya bertumbuh dan ekonominya berkembang. Hal ini terkait dengan ketatnya perijinan tata ruang dan moratorium bagi para pengembang pusat perbelanjaan di Jakarta, sehingga para pengembang banyak yang melakukan ekspansi keluar Jakarta, salah satunya Bekasi. Saat ini di Kota Bekasi kami menawarkan apartemen sebagai konsep hunian yang memiliki keunggulan dibanding hunian rumah tapak, dengan konsep one-stop-living-environment pada satu kawasan, kami menciptakan lingkungan yang aman karena mudah dijangkau dan bebas macet karena semua berada dalam lingkungan yang berdekatan”

Di Bekasi Utara ada Summarecon Bekasi, Bekasi Timur ada Grand Dhika, Bekasi Selatan ada Oasis dan kami (Grand Kamala Lagoon - red) di Bekasi Barat, semuanya laku. Memang ada apartemen yang kosong tidak dihuni namun bukan berarti tidak laku. Untuk luasan dan segmen yang sama, harga apartemen di Bekasi 60% lebih murah jika dibandingkan dengan daerah penyangga Jakarta lain seperti Bintaro dan BSD. Tipe Studio (25 m2) merupakan tipe yang paling banyak dibeli end-user dengan harga jual Rp. 250 juta. Tipe 2 BR merupakan tipe yang paling banyak dibeli investor. Investor di tempat kami menyumbang 40% dari total penjualan.

Ke depannya masyarakat kota Bekasi akan bergeser ke apartemen, kenapa? Infrastruktur Kota Bekasi akan sangat bagus dengan adanya monorel, APTB, dan Busway, Tol Becak Ayu (Bekasi – Cawang – Kampung Melayu - red), dan rencana kereta cepat seperti Shinkansen via Jakarta – Bandung. “

Cornelius Slamet - Direktur marketing BTC City

“ Bekasi masih belum over supply karena jumlah tower aprtemen yang ada di Bekasi masih sedikit dibanding dengan potensi pasar Bekasi dengan memperhitungkan kebutuhan hunian untuk 5 tahun yang akan datang.

Kaum eksekutif muda pada masyarakat Bekasi mulai berpikir realistis dengan memilih apartemen, karena apartemen merupakan hunian nyaman dan ekonomis. Nyaman karena life style dan faktor kenyamanan mendapat porsi utama pada apartemen. Ekonomis karena dengan luasan yang sama harga rumah tapak 2 – 3 kali lipat lebih mahal dibanding apartemen kami (BTC City –red). Namun golongan usia yang lebih tua di masyarakat Bekasi masih memilih rumah tapak sebagai pilihan pertama untuk hunian. Tipe Studio ukuran semi gross 20 m2 dan 1 BR semi gross 30 m2 dengan harga jual Rp. 250 – 300 Jt merupakan tipe yang paling banyak dibeli, sementara profil konsumen kami untuk end-user sebesar 50% dan investor sebesar 50%.”

Penjualan pada kuartal IV 2013 turun sebesar 30% dan pada kuartal I 2014 baru naik sebesar 10%. Hal ini akibat dampak kebijakan LTV (Loan to Value - red) Bank Indonesia. Namun produk untuk segmen menengah atas tidak terpengaruh. “

Kamis, 12 Juni 2014

Baca Juga artikel berikut

Medan Perang Bekasi

Bekasi Banjir Apartemen

 

You have no rights to post comments