×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

PROPERTI TERHAMBAT KARENA FAKTOR DILUAR SIKLUS

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Riset yang dilakukan Indonesia Property Watch menunjukkan adanya pergerakan positif di Q3-2016, meskipun pergerakan yang terjadi memang masih sangat tipis hanya bergerak 8,1% dibandingkan Q2-2016. Berdasarkan pantauan di lapangan pertumbuhan sebesar ini belum dapat mengangkat pasar secara keseluruhan.

Terdapat beberapa hal yang memerlihatkan kondisi pasar properti saat ini :

  •  Berdasarkan riset sebenarnya tren siklus besar pasar properti sudah mulai bergerak naik, menyusul sudah terlalu rendahnya siklus pasar sejak tahun 2014. Tiga wilayah yang menunjukkan pertumbuhan unit terjual pada Q3-2016 yaitu Bogor (45,3%), Depok (26,1%), Serang (25,8%), Tangerang (24,1%), Cilegon (6,7%). Sedangkan beberapa wilayah seperti Bekasi dan Jakarta mengalami penurunan unit terjual. Meskipun demikian di Q2-2016 wilayah Bekasi mencapai pertumbuhan tertinggi dibandingkan wilayah lainnya.
  • Segmentasi pasar bergerak ke segmen menengah dengan dominasi 41% penjualan terjadi di segmen ini, dibandingkan dengan supply pasar yang masih didominasi oleh segmen menengah atas, menyusul masih banyaknya pengembang yang berpikir untuk menyasar segmen menengah atas.
  • Para investor masih berdiam dan menunda pembeliannya. Merujuk pada aksi demo yang terjadi 4 November 2016, pada hari yang sama terjadi penarikan dana luar negeri di pasar modal sebesar Rp 900 miliaran. Isu keamanan menjadi isu sensitif bagi para investor. Bahkan memanasnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) membuat pasar permintaan semakin menunda realisasi pembelian propertinya.
  • Dampak tax amnesty yang sekiranya diperkirakan menyasar segmen menengah atas masih tertahan dalam jangka waktu dekat. Bila isu keamanan tidak terjawab, maka hasil dari deklarasi tax amnesty mungkin malah tidak jadi masuk ke Indonesia.

 

Penjualan sebagian besar didominasi oleh penjualan cash keras atau cash bertahap sehingga pertumbuhan penjualan yang terjadi tidak sejalan dengan pertumbuhan kredit KPR. Pasar KPR saat ini diperkirakan naik 13 persen sampai 15 persen dan untuk FLPP bisa mencapai 30 persen. Namun demikian perlu diingat bahwa pertumbuhan bukan berasal dari penjualan di tahun ini melainkan terjadi pada tahun 2015 yang direalisasikan tahun ini.

Beberapa indikator menggambarkan bahwa siklus besar pasar properti yang sudah mulai naik, namun terhambat oleh beberapa faktor yang merupakan pergerakan pasar permintaan yang dinamis. Riak-riak siklus kecil yang turun naik dalam koridor tren siklus besar properti yang bergerak naik memberikan waktu yang lebih lama bagi siklus besar pasar properti untuk tumbuh sesuai iramanya. Karenanya secara siklus besar pasar properti telah menunjukkan tren keatas, namun faktor eksternal dari siklus itu sendiri yang memberikan tekanan dan hambatan yang merugikan siklus besar properti secara keseluruhan karena terus tertahan untuk dapat naik.

Selain itu beberapa stimulus yang diberikan pemerintah sangat luar biasa dan masih harus menunggu waktu implementasi peraturan dan kebijakan yang mendukungnya agar dapat segera direalisasikan. Karenanya Indonesia Property Watch terus mendesak pemerintah untuk mempercepat beberapa realisasi beberapa kebijakan terkait.

Kondisi ini harus dihadapi para pelaku bisnis properti secara keseluruhan. Dengan pertumbuhan harga proerti yang saat ini sangat tipis bukan berarti pasar properti tidak naik, karena tidak serta merta kondisi properti akan sama terus seperti yang terjadi di periode 2009-2012. Namun pada waktunya pasar properti akan segera naik dengan segala potensi yang ada saat ini dengan kemungkinan tahapan take-off properti yang semakin lama sebelum benar-benar tumbuh karena faktor eksternal di luar siklus itu sendiri. [IPW]

You have no rights to post comments