2 TIDAK HARUS 1 + 1

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

2 TIDAK HARUS 1 + 1

“Dengan berpikir sama dengan yang lainnya, maka tidak ada yang dapat menjadikan proyek kita berbeda dibanding yang lain“

Hal ini bermula ketika seorang rekan kerja saya bercerita bagaimana ia berusaha membantu anaknya yang masih bersekolah di Sekolah Dasar untuk belajar Matematika. Waktu itu dia mengajarkan cara berhitung pada anaknya mulai dari hitungan penjumlahan. Semua anak pasti melalui pelajaran matematika dasar tersebut dengan hitungan 1+1=2. Sehingga sampai sekarang, bila kita membayangkan angka 2, maka sebagian besar dari kita akan membayangkan bahwa angka 2 berasal dari 1 ditambah 1. Pada kurikulum pelajaran di Indonesia, relatif pengajaran masih diarahkan pada sesuatu hal yang seakan-akan menjadi suatu dogma atau aturan baku, sehingga kurang sekali anak-anak dilatih untuk berpikir kreatif, melainkan hanya dalam bentuk hafalan semata.
 
Namun kemudian ia mengajarkan pada anaknya pemahaman yang lebih kreatif dalam kaitannya dengan angka 2 yang dihasilkan. “1 ditambah 1 pasti sama dengan 2. Tapi angka 2 belum tentu diperoleh dari 1 ditambah 1,” katanya. “Angka 2 bisa berasal dari 3 dikurangi 1, 4 dikurang 2, 2 dikali 1 atau banyak cara yang dapat menghasilkan angka 2“, lanjut teman saya kepada anaknya.

Filosofi yang terkandung di atas sebenarnya sama dengan pepatah ‘Banyak Jalan Menuju Roma’. Tapi yang saya sadari ternyata bahwa filosofi tersebut dapat lebih luas lagi artinya. Filosofi dari pengalaman tersebut membuat saya mencoba menerapkannya dalam dunia bisnis properti. Bahwa kita bebas menentukan diri kita menjadi follower atau pioneer.

Menjadi follower artinya kita mengikuti apa yang telah ada di pasar. Sedangkan menjadi pioneer artinya kita memberikan sesuatu yang relatif baru ke pasar dengan resiko yang juga lebih tinggi. Bila kita ingin membangun sebuah proyek apartemen, yang pertama kali terpikir adalah bahwa proyek yang akan dibangun relatif tidak berbeda dengan proyek-proyek apartemen yang telah ada di pasar, yang membedakan hanya lokasinya. Namun kita dapat berpikir dari sisi lain yang berbeda dengan memulai pertanyaan pada diri kita, “Apartemen yang bagaimana yang harus dibangun?”, bukan sekedar pernyataan “Kita harus membangun apartemen” (sama seperti yang lain).

Bila kita berpikir sama dengan yang lain, maka perebutan pasar di segmen dan celah yang sama akan semakin tinggi dan semuanya dapat menjadi korban. Hal ini cenderung mengarah pada salah kaprah dan latah. Karenanya pemikiran kreatif akan sangat membantu untuk membuat sebuah terobosan tanpa menghilangkan esensi di dalamnya.

Ali Tranghanda  C E O Indonesia Property Watch

Senin,13 Oktober 2014

You have no rights to post comments