×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

PROPERTI : TAKE-OFF POSITION !

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

PROPERTI :  TAKE-OFF POSITION !

Memasuki triwulan kedua 2015, pasar properti masih mengalami perlambatan meskipun tidak setinggi yang terjadi di sepanjang 2014. Pertumbuhan positif yang terjadi di triwulan pertama tahun 2015 belum membentuk tren kenaikan yang nyata. Beberapa faktor membuat pasar properti masih dalam keadaan shock. Segmen menengah atas mengalami tekanan serius dibandingkan dengan segmen menengah yang malah mengalami peningkatan.

Kondisi pasar properti saat ini khususnya di segmen menengah atas sampai mewah diwarnai harga yang sudah over value. Perlu beberapa waktu untuk membuat pasar mencapai keseimbangan baru dengan pertumbuhan yang relatif melambat. Beberapa investor mengatakan bahwa mereka kesulitan untuk menjual kembali propertinya karena harga yang dibeli ternyata sudah ketinggian. Indonesia Property Watch pernah memberikan pendapatnya terkait hal tersebut dimana disebutkan bahwa di beberapa lokasi harga jual properti sudah tidak terkendali dan memasuki titik jenuh, namun masih saja banyak investor yang membeli dengan asumsi dan harapan akan terus naik. Pergerakan pasar properti sama seperti ekonomi mempunyai siklus pasar yang kerap diabaikan oleh investor.

Kondisi over value ini memicu likuiditas pasar properti yang semakin rendah sehingga kalau pun dijual maka harga akan terkoreksi. Nah, yang terjadi kemudian bahwa pengembang mulai ‘tersadar’ dengan kondisi pasar yang ada. Sebagian pengembang mulai memasarkan produk-produk yang lebih ‘membumi’ untuk segmen menengah karena memang pasar gemuk ada di segmen ini. Dari mulai strategi memperkecil dimensi rumah (resizing) sampai memperpanjang jangka waktu cicilan, dilakoni pengembang. Namun itu saja ternyata belum cukup, karena ternyata kondisi ekonomi Indonesia belum pulih sejak peralihan kepemimpinan nasional. Kisruh politik sedikit banyak mengganggu psikologis investor meskipun tidak secara langsung memukul properti.

Namun siklus politik saat ini sudah mulai terpisah dengan siklus ekonomi. Dengan penurunan BI Rate menjadi 7,5% akan memberikan potensi peningkatan daya beli. Fluktuasi Rupiah diharapkan hanya shock sesaat seperti yang diperkirakan dan tidak akan memengaruhi pasar properti secara signifikan.

Kondisi shock yang dialami properti dari berbagai dimensi akan segera berlalu karena sektor riil dan investasi seharusnya akan kembali bergairah dengan fundamental ekonomi saat ini yang relatif terjaga. Beberapa investor Asia Pasifik yang juga menanamkan modalnya di Indonesia akan mulai dirasakan sebagai stimulus untuk perbaikan daya beli masyarakat khususnya menengah.

Meskipun pasar properti dibayangi titik terendah penyerapan pada tahun ini, dan beberapa faktor yang membuat market shock, namun paling lambat di akhir 2015 pasar akan mulai bergairah sedikit demi sedikit. Belum lagi rencana OJK dan BI untuk memperlonggar aturan LTV dan Inden. Saatnya pemerintah harus memberikan stimulus agar pasar tidak semakin jatuh terpuruk. Setelah titik terendah seharusnya pasar properti akan bersiap dalam kondisi take-off. Untuk para investor sebentar lagi masa time to buy akan segera datang dan properti akan memasuki sebuah fase siklus baru. Kita tunggu….

You have no rights to post comments