PERTARUNGAN PROPERTI 2018

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Hampir semua indikator properti menunjukkan tren positif. Pergerakan harga rumah pasar sekunder mulai bergerak positif pada triwulan akhir 2017. Harga penawaran yang berhasil dipantau Indonesia Property Watch memerlihatkan kecenderungan kenaikan, dan pasar transaksi pun mulai merespon cukup baik meskipun belum terlalu signifikan. Bahkan, pertumbuhan pasar sekunder di Surabaya menyalip pertumbuhan rumah sekunder di Jakarta ke posisi pertama.   Di sektor perumahan primer, penjualan rumah di harga Rp 300 jutaan – 500 jutaan bahkan melonjak di wilayah Banten dan Bodebek mencapai 78 persen sampai 125 persen. Para pengembang mulai berani menaikkan harga rumahnya meskipun masih landai di kisaran 1 persen sampai 2 persen per triwulan.

Indonesia Property Watch sempat memperkirakan pasar properti mulai memerlihatkan pergerakan di awal tahun 2017 dan melaju di semester II tahun 2017 diikuti dengan beberapa pengembang besar yang mulai berani masuk kembali ke pasar. Bahkan, pasar menengah-atas menjadi target pasarnya. Tercatat beberapa proyek yang diluncurkan di semester II tahun 20017 dan beberapa pengembang telah mengambil ancang-ancang untuk masuk pasar di awal tahun 2018. Optimisme dari para pelaku pasar properti ini turut mendongkrak pasar properti. Aksi para pengembang ini membuat pasar properti kembali bangun dari tidurnya selama ini. Mengapa demikian?

Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch mengatakan “Karakteristik pasar properti di Indonesia terbilang mengikuti kaidah supply driven, dimana salah satu penentu kebangkitan pasar properti lebih dikarenakan aksi-aksi yang dilakukan para pengembang. Bukan demand driven, karena kalau permintaan sebenarnya pasar properti Indonesia tidak akan kehabisan daya beli, apalagi segmen menengah atas. Aksi para pengembang ini akan menjadi trigger pasar properti.”

Hal ini juga yang mungkin bisa menjelaskan mengapa saat ini meskipun daya beli dan permintaan cukup besar, namun penjualan properti relatif masih tertahan. Para investor selama tahun 2017 belum menemukan produk yang sesuai karena perilakunya yang semakin selektif. Banyaknya investor yang terbuai harga terlalu tinggi pada periode booming 2010-2012 membuat mereka semakin berhati-hati jangan sampai kecele lagi membeli dengan harga yang sudah terlalu tinggi. Banyaknya proyek yang ada di pasar yang berjalan tanpa adanya aksi promo dan peluncuran produk baru membuat proyek seakan dilupakan oleh pasar. Dengan munculnya proyek baru membuat pasar kembali aktif. Secara umum begitulah karakteristik pasar properti di Indonesia, yang lama seakan ditinggalkan ketika ada proyek baru yang diluncurkan.
Kondisi positif ini juga diimbangi dengan mulai turunnya suku bunga perbankan ke level 6 persen sampai 7 persen yang mengangkat daya beli masyarakat dalam mencicil propertinya.

Isu-isu sensitif pasca Pilkada DKI Jakarta relatif sudah mulai berkurang. Fundamental ekonomi dan properti cukup positif. Masuknya para pengembang ke pasar selain membangkitkan optimisme pasar juga membuat persaingan semakin ketat dan saling berebut untuk dapat memikat hati pasar minimal dalam waktu satu semester awal tahun 2018 sekaligus bersiap diri pada perkiraan puncaknya pasar properti setelah Pilpres 2019. Karena hampir dipastikan – dengan asumsi pilpres yang berjalan lancar – pasar properti akan melaju kencang di semester akhir tahun 2019. ●

You have no rights to post comments