User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

LUKAS BUNTORO CEO, FOUNDER MGM GROUP JAKARTA

Lukas Buntoro mengaku banyak keputusan bisnisnya berdasarkan feeling. Ia tidak segan memberi share saham kepada karyawannya yang punya integritas dan loyalitas.

“Saat kelas 2 SMA saya berada di tikungan jalan, antara melepas sekolah atau melanjutkan karir sebagai atlet bulu tangkis. Saya ingin berhenti sekolah karena bulu tangkis butuh waktu banyak, tetapi orang tua tidak mengizinkan, dan mengatakan sekolah lebih penting. Koko (kakak laki-laki-red) juga mengatakan jangan sampai berhenti sekolah,” ujar Lukas Buntoro, yang pernah satu angkatan bersama atlet bulu tangkis Hariyanto Arbi, Hendrawan, Ardy B. Wiranata di klub bulu tangkis PB Djarum.  
Lukas, juara tunggal putra tahun 1985 di kejuaraan Taruna Putra dan menyabet beberapa gelar juara sebagai pemain tunggal dan ganda, akhirnya memilih melanjutkan sekolah. Sebuah keputusan berat, karena dirinya sudah berlatih di klub bulu tangkis sejak di bangku kelas 4 SD. Ia bercerita bagaimana beratnya berlatih. Pagi sebelum berangkat sekolah sudah berlatih. Sore sebelum latihan resmi, ia sudah lebih dulu latihan sendiri. “Di samping tempat tidur, saya selalu letakan sepatu olah raga. Begitu jam weker bunyi pagi hari, yang pertama saya lakukan adalah memakai sepatu olah raga dulu,” ujar Lukas, mengenang saat-saat berlatih di klub PB Djarum.
Walaupun berat meninggalkan bulu tangkis, CEO dan Founder MGM Group Jakarta ini, mengakui menjadi atlet rentan cedera. Begitu cedera berkepanjangan dan tidak bisa melanjutkan lagi sebagai pemain, selesai sudah karir seorang atlet. Sementara sekolah sudah putus. Ini juga menjadi pertimbangan ketika memutuskan untuk gantung raket lebih awal. Tetapi keputusan melanjutkan sekolah justru membuka jalan menyabet gelar sarjana teknik sipil yang kelak membawanya meraih mimpi yang sudah lama yaitu menjadi developer. “Saya suka dengan teknik sipil,” ujarnya.
Lukas kembali “bersitegang” dengan orang tuanya saat memilih tempat kuliah. Sang orang tua mengultimatum agar dirinya kuliah di Amerika Serikat bersama dua kakaknya yang sudah lebih dulu tinggal di negeri Paman Sam. Lukas bersedia dengan syarat tidak satu kota di Amerika bersama kedua kakaknya. Kalau satu kota, ia lebih memilih kuliah di Indonesia. Sementara orang tua khawatir bila Lukas tinggal di Amerika jauh dari kedua kakaknya. Akhirnya Lukas diizinkan ikut test di Univeritas Katolik Parahyangan Bandung. Dengan catatan, bila tidak diterima dirinya harus bersedia ke Amerika.
“Saya memang agak nakal, suka balap motor. Orang tua khawatir kalau di Amerika tidak satu kota dengan koko dan cici (kakak perempuan-red), tidak ada yang mengawasi. Beruntung saya diterima di Unpar, jadi tidak perlu kuliah ke Amerika. Saya pikir kuliah di Amerika atau di sini sama saja,” ujar pria berusia 45 tahun ini.
Naluri bisnis Lukas rupanya setajam pukulan smash ke bidang permainan lawan. Ketika masih duduk di semester delapan sudah mengerjakan proyek dari Pertamina. “Saya menyusun skripsi sambil mengerjakan proyek di Balongan,” ujarnya. Ia mengaku bukan mahasiswa cerdas, tapi memaksakan dirinya mengikuti mahasiswa cerdas yang lulus empat tahun dengan IPK tinggi. Ia rela tidak kongkow-kongkow di kampus bersama teman-temannya karena ingin cepat selesai kuliah.  “Mungkin yang lulus 4 tahun, saya yang paling bodoh,” ujar ayah dua anak ini.
Berangkat dari Kontraktor
Tonggak sejarah Lukas membangun bisnis dimulai tahun 1994 sebagai kontraktor dengan membangun rumah, ruko, rumah sakit. Tahun 1997 mulai dibentuk PT Maju Gemilang Mandiri (MGM) dengan bisnis utama sebagai kontraktor. Tangan dingin Lukas mampu membawa MGM melewati badai krisis tahun 1997. Bahkan,  melebarkan sayap membentuk berbagai unit usaha kontraktor menangani berbagai bidang pekerjaan. Mulai dari pemasangan granit, keramik, pemasangan kaca dan alumunium, menangani interior dan furniture, mekanikal dan elektrikal sampai wooden houses, gazebo dan divisi khusus untuk proyek rumah tinggal mewah.
Cukup menarik dengan strategi Lukas masuk ke berbagai bidang pekerjaan. Menurutnya, ia ingin semua bisa dikerjakan. Tidak hanya satu bidang pekerjaan kontraktor. “Filosofi kita adalah one stop shopping, karena biasanya kontraktor hanya mengerjakan satu bidang. Saya ingin semua bisa dilakukan,” ujarnya. Tidak heran dalam perkembangannya MGM Group memiliki delapan anak perusahaan dengan berbagai spesialisasi, termasuk developer.  
Tahun 2008, saat Indonesia mengalami krisis ekonomi, Lukas justru melakukan langkah berani dengan masuk sebagai pengembang dengan proyek pertamanya landed house. Menurutnya, dengan 14 tahun di bidang kontraktor, dirinya sudah tahu betul bagaimana membangun, mengerjakan, dan memasarkan properti.  “Ketika masuk ke developer, saya bersyukur karena memiliki latar belakang sebagai kontraktor yang cukup matang,” ujar Lukas, yang tetap mengikuti perkembangan bulu tangkis di tanah air.
Entah kebetulan atau tidak, langkah Lukas masuk ke bisnis  justru saat Indonesia sedang masuk ke pusaran krisis ekonomi. Tahun 1997 ketika mendirikan MGM, Indonesia sedang diterpa krisis finansial yang hebat. Hampir semua pengembang kolaps. Kalaupun ada yang bertahan ibarat diberi infus di tangan. Begitu juga ketika memulai sebagai pengembang tahun 2008, Indonesia memasuki krisis ekonomi walaupun tidak separah tahun 1997. “Saya melewati krisis ekonomi tahun 1997 dan 2008 dengan aman,” ujarnya.  
Menurut pria yang memiliki filosofi “There is nothing impossible” ini, perusahaannya lolos dari terpaan krisis ekonomi saat itu karena tidak memiliki pinjaman di bank. Ia berani mengerjakan  proyek tanpa pinjaman dari bank alias memakai dana sendiri. Tetapi justru ini menjadi kunci keberhasilannya melewati krisis. Faktor lain adalah kemampuannya membangun hubungan yang baik dengan semua pihak. Ketika dalam kondisi krisis ekonomi, dan perusahaan tetap berjalan, ini menumbuhkan kepercayaan yang makin besar terhadap proyeknya.
Itu sebabnya, ketika pengembang lain sedang mengalami kesulitan di tahun 2008, dirinya justru banyak melakukan pembelian tanah untuk landbank. Tahun 2008 landbank-nya tersebar di berbagai lokasi sampai ke Bali. Bahkan, sempat melakukan jual beli tanah. Adapun lahan yang bagus dipertahankan untuk dikembangkan di kemudian hari. Salah satunya apartemen B Residence di BSD City.

Feeling yang Kuat
Tidak banyak pengusaha yang mengaku kerap mengambil keputusan karena berdasarkan feeling yang muncul. Maklum, feeling lebih karena perasaan hati yang muncul ketika memikirkan sesuatu yang harus diputuskan. Tetapi Lukas tidak sungkan mengakui sejak berbisnis banyak mengandalkan feeling saat mengambil keputusan. Menurutnya, dalam bisnis terkadang faktor feeling begitu kuat dan kadang-kadang penting. Ia mengaku kalau feeling sudah kuat, tidak ragu untuk  melakukan sesuatu, termasuk ketika memutuskan membangun apartemen B Residence di BSD City.  
“Mungkin feeling saya bisa 90 persen, saya jarang melakukan fit and proper dan  due diligence. Saya sudah menjalankan bisnis sejak tahun 1994, selama itu feeling sudah banyak terjadi. Feeling itu kata hati. Artinya, kita tidak boleh melawan kata hati. Tapi memang ke depan harus dilengkapi dengan due diligence (saat mengambil keputusan-red),” ujarnya.
Pria yang punya motto hidup “Should be outstanding life” ini yakin semua orang punya feeling. Bisa karena faktor religius atau pengalaman hidup seseorang. Semuanya berkolaborasi. Itu sebabnya, Lukas  selalu terbuka terhadap usulan atau ide anak buahnya hanya berdasarkan feeling mereka. Walaupun tetap akan ditanya apa penjelasan atau argumentasi dari feeling yang muncul. “Kalau make sense dengan feeling saya, maka akan saya ikuti ide dari anak buah. Prinsip saya adalah nakhoda itu harus satu,” ujarnya.
Di usia yang relatif masih muda, 45 tahun, Lukas sudah melepas posisinya sebagai direktur utama di MGM Group, dan selajutnya duduk sebagai komisaris utama. Walaupun dirinya tetap memegang perusahaan, Lukas sudah mempercayakan mereka yang dulu menjadi anak buahnya untuk menjalankan beberapa bisnis MGM Group dan beberapa bisnis lainnya yang merupakan kerjasama usaha dengan pribadi. Mereka ini yang berdasarkan feeling merupakan orang-orang yang memiliki integritas, loyalitas untuk mendapatkan kesempatan memiliki saham perusahaan.
Di delapan perusahaan di MGM Group semua karyawannya sudah punya saham. “Loyalitas dan integritas sangat penting bukan sekadar pintar. Kalau pintar boleh urutan ketiga. Saya berharap jago kerja juga. Tapi di atas jago, tetap integritas dan loyalitas,” ujar Lukas.
Bahkan, di MGM Propertindo yang merupakan anak usaha dari MGM Group, yang saat ini dipegang sendiri oleh Lukas sebagai Direktur Utama, sudah disiapkan tim-tim inti yang nantinya menjadi pimpinan. Termasuk memiliki saham di MGM Propertindo. “Saya punya mimpi dari semua share saham saya di holding, siapapun yang berprestasi nanti akan masuk sebagai pemegang saham. Kita berikan sebagai reward. Saya senang memberikan saham kepada karyawan yang punya integritas, loyalitas dan jago (kerja-red),” ujar Lukas.  [Hendaru] .

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

“Without Borders” menceritakan sebuah kemungkinan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang utama untuk bisa menembus batas.

 

Pagi itu, matahari menyapa lembut ketika Arifpin Kosasih memencet tombol telepon selulernya, mengontak sahabat lamanya, Nyohardi Purnomo. Sebuah berita dan sebuah foto telah menyentak alam bawah sadarnya. Dan dia tahu kepada siapa harus mengonfirmasi kebenaran berita yang tengah dibacanya. “Nyo, coba kamu lihat berita di Jawa Pos hari ini,” katanya singkat sambil menyebut halaman berita tentang peresmian sebuah proyek properti di Australia.

Tanpa banyak diskusi panjang, telepon pun segera ditutup. Tak berapa lama, giliran Nyo yang menghubungi balik sang penelpon. “Pin, ini bukannya Cen Huan, teman kita?” cetusnya dengan nafas setengah memburu.

“Nah, itu dia,” jawab Arifpin sambil menghela napas. “Kalau wajahnya sih Cen Huan. Lihat matanya, senyumnya,… juga kurusnya,” dia menyambung. Berita di Jawa Pos itu dibacanya beberapa kali, sementara fotonya ditatap lekat-lekat.

“Iya, ya. Wah, kok bisa dengan Perdana Menteri Australia, ya….” Nyo berkata sambil berdecak. Mereka diam sejenak

Ini adalah sebuah potongan cerita yang diambil dari Buku Without Borders; Perjalanan Anak Hutan Kalimantan Menjadi Raja Properti Australia.

Sepintas cerita ini menggambarkan sebuah kemungkinan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang utama untuk bisa menembus batas.

Dan Without Borders memang menceritakan perjuangan hidup seorang anak manusia yang berawal dari keterpurukan yang kemudian menjelma menjadi salah satu sosok yang disegani di industri properti Negara Kangguru. Buku ini merupakan hasil perjalanan selama kurang lebih 3 tahun (2014-2016), mulai dari wawancara, riset, hingga penulisan.

Dari rancangan awal kisah yang akan ditulis, sesi wawancara dengan banyak narasumber di sejumlah tempat, mulai dari Jakarta, Surabaya, Pangkalan Bun, hingga di Sydney, riset-riset sekunder, hingga penentuan judul serta gambar muka, semuanya dilakukan secara mendetil melalui sesi diskusi yang intens dan berulang-ulang.

“Banyak hal yang sudah terlupakan namun akhirnya hidup kembali dari tulisan salah satu sahabat saya, Teguh S. Pambudi yang bahkan saya menyebutnya sebagai kamus berjalan untuk hidup saya” ungkap Iwan dalam acara Media Launching di Jakarta, Jumat, (18/11/2016) lalu.

“Seperti mengalami sebuah flash back di layar lebar atas semua peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupan saya,” sambung pemenang penghargaan Australian Property Person of The Year 2015 ini.

Denpasar, Bali, merupakan lokasi historis dimana Iwan mendapatkan titik balik dalam kehidupannya. Dan itulah sebabnya mengapa Iwan memilih Bali sebagai lokasi peluncuran buku Without Borders.

Penulis buku, Teguh Sri Pambudi menjelaskan, Iwan Sunito adalah bukti bahwa paduan ketajaman intuitif, keluasan imajinasi dan kegigihan dalam roda kehidupan adalah sebuah formula yang tepat dalam mencapai sebuah tujuan. “Buku ini pada akhirnya menjadi kompas baru bagi saya untuk memahami makna dari kehidupan itu sendiri dan mendorong pemahaman bahwa kehidupan bukanlah sekadar kehidupan, namun bagian dari sesuatu yang lebih luas,” ungkap Teguh.

Buku Without Borders terdiri dari 15 bab yang dibagi menjadi beberapa fase perjalanan hidup Iwan Sunito yang dimulai dari titik awal hingga detik ini dan akan tersedia di semua gerai buku terkemuka di Indonesia mulai bulan Desember 2016 dan juga tersedia secara daring di Scoop dan Amazon. [pio]

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Ronny Wuisan, Host Property SMARTALK

"Carilah pekerjaan yang paling Anda cintai, karena jika Anda mencintai pekerjaan itu, maka sejujurnya Anda tidak perlu bekerja lagi. Anda akan melalui hari-hari Anda dengan sangat enteng tanpa terbebani oleh pekerjaan tersebut."

Saat ini saya masih membangun. Umur 44 tahun dan hampir memasuki masa senja. Anak-anak masih kecil dan istri saya bisa memaklumi, jadi itu adalah harga yang harus saya bayar. Never too late. Mari kita memulai apa yang harus kita lakukan. Dan memang harus ada pengorbanan.

Gaya bicaranya tegas, lugas, dan begitu bersemangat. Bahkan tak jarang dia harus menyampaikan pendapatnya itu sembari berdiri, meski tidak sedang mempresentasikan sebuah materi atau memberi motivasi. Talent sebagai public speaker terasa kental ada didirinya. Meski terbilang baru di jagad properti, namun kepiawaiannya berbicara dengan segudang pengetahuan yang telah dimilikinya, menjadi modal kuat menekuni pekerjaannya. Karir barunya kini berangkat dari kegalauan pria 44 tahun ini melihat sederet persoalan yang mengitari bisnis properti di tanah air.

Ronny adalah satu diantara beberapa pelaku bisnis properti yang akhirnya menemukan hasrat bisnisnya di bidang ini. Sebelumnya, Ronny yang lulusan Manajemen Perhotelan dari Les Roches International School, Swiss ini telah bekerja di beberapa Hotel di Eropa, semasa kuliah hingga tahun 1995 silam. Selanjutnya, sekira 15 tahun dia bergelut di beberapa perusahaan multinasional berbasis produk fast moving consumer goods (FMCG), seperti di Nestle Indonesia dan Danone Aqua Indonesia.

“Saya belajar manajemen perhotelan di kampus, tapi saya bisa memeroleh banyak pengetahuan di luar, seperti pengalaman di perusahaan saya bekerja,” kisah Ronny dalam percakapannya dengan Property and The City, medio Mei 2016 lalu.

Rupanya pria kelahiran Surabaya, 5 Mei 1972 ini sudah banyak belajar bagaimana membangun jaringan dan komunikasi, belajar menjadi penjual andal, hingga ilmu marketing di beberapa perusahaan yang dia singgahi. Bahkan kini dia tak sungkan membagi tips dan motivasinya kepada banyak orang, sebagai seorang entrepreneur dan konsultan properti.

Ubah Mindset

Properti adalah bisnis kepercayaan. Ronny mengingatkan, terutama para developer baru agar intens membangun kepercayaan kepada agen dan konsumen. Caranya, sebut Ronny adalah terlebih dahulu membangun strategi marketing ketimbang memikirkan penjualan produk. “Hanya marketing yang bisa membuat konsumen menentukan pilihan ke Anda. Karena di situ, Anda memberikan penjelasan pada sebuah pertanyaan yang paling fundamental pada saat konsumen harus mengambil sebuah keputusan. Kenapa konsumen harus membeli produk Anda. The reason why? Dan itu tidak bisa dilakukan seorang sales, hanya bisa dilakukan orang marketing,” jelas Ronny.

Marketing dan sales adalah dua dunia yang berbeda. Menurut Ronny, marketing adalah jantung dari sebuah perusahaan. Marketinglah yang akan memberikan perbedaan sebuah produk maupun proyek di mata konsumen. Sementara sales adalah prajurit yang siap mengeksekusi penjualan di lapangan. Dengan demikian, kesalahan sepenuhnya tidak berada di seorang sales ketika penjualan perusahaan sedang turun. Terbukti, banyak developer yang bertahun-tahun hanya mengandalkan sales, tetapi mandek juga.

“Saya seorang sales tetapi percaya dengan marketing. Sales adalah tentara, tapi marketing adalah jantung dari sebuah usaha. Makanya ubahlah cara pikir Anda, ubahlah paradigma Anda, ubahlah konsep manajemen Anda menjadi perusahaan marketing,” kata Ronny.

Ronny juga menyarankan agar para pekerja marketing harus bisa meninggalkan strategi lama yang hanya bermain di pusaran harga dan cara bayar. Meski tidak dipungkiri kedua hal tersebut tetap menjadi strategi menarik namun lebih mengedepankan keunikan sebuah produk maupun proyek yang akan ditawarkan. “Anda harus punya unique selling proposition (USP). Setiap produk pasti mempunyai USP. Bahkan Anda bisa membuat suatu perbedaan di suatu barang yang paling komoditas. Salah satunya adalah servis termasuk hingga after sales,” jelasnya.

Menurut dia, banyak developer yang masih mengandalkan feeling bahkan secara instan dalam menawarkan sebuah produk. Padahal butuh sebuah proses, terutama melalui riset dan penelitian pasar sebelum produk mulai ditawarkan ke khalayak. “Jadi tidak ada jalan pintas atau keajaiban di dunia marketing atau sales. Harus ada proses untuk dapat menjual suatu produk.”

Passion di Properti

Bagi Ronny, properti bukanlah dunia yang asing, meski dia baru benar-benar terjun dan bekerja di sebuah perusahaan properti nasional, pada Januari 2015 lalu. Sebelumnya, Ronny sudah cukup intens menjalin komunikasi dengan para pelaku dan broker properti, terutama dalam wadah Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI). Ronny yang juga Pengurus DPP AREBI tersebut pun pernah dipercaya sebagai Ketua Panitia Real Estate Summit 2015 lalu.

“AREBI ini adalah awal langkah saya masuk ke dunia properti. Dari situ akhirnya saya benar-benar terjun dan bekerja di perusahaan properti,” katanya. Sejak saat itu, Ronny pun menikmati pekerjaannya yang dibilangnya sebagai sebuah passion. “Di sinilah saya menemukan passion terbaru saya. Saya bisa memberikan kontribusi lebih dari pengalaman dan cara pandang yang saya bawah dengan cara metodologi consumer goods di dunia properti,” terang anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Menurut Ronny, antara dunia properti dan consumer goods memiliki beberapa kesamaan prinsip, dan cara kerja, terutama di bidang sales dan marketing. Meski demikian, diakuinya bahwa consumer goods jauh lebih maju dalam hal brand management, brand communication, public relations-nya. “Kalau kita lihat, produk consumer goods tersebar hingga ke berbagai pelosok Indonesia. Dengan demikian sehingga strategi komunikasi, manajemen, maupun implementasinya lebih masif. Sementara properti lebih bersifat lokal, sehingga komunikasinya pun lebih terbatas di suatu wilayah saja. Jarang sekali sebuah produk properti di Serpong kemudian komunikasinya sampai ke seluruh Indonesia.”

Kini, Ronny telah memutuskan untuk berkecimpung di dunia properti yang sudah sangat dicintainya. Dia bertekad untuk terus berkiprah membantu banyak orang, terutama para developer dan konsumen properti. “Jadi ini adalah, passionate. Saya sangat bersemangat bekerja di bidang ini,” tegasnya.

Panggilan Hati

Meski cukup nyaman menjalankan tugasnya sebagai Associate Director of Sales di sebuah perusahaan properti nasional, namun lagi, panggilan hatinya untuk kembali menjadi entrepreneur. Sekitar setahun terjun langsung dan menjalankan bisnis properti, dia pun beralih dan terlibat dalam sebuah rencana bisnis sebagai terobosan baru di bidang properti, memanfaatkan kemajuan teknologi saat ini. Namun lagi, niat besarnya untuk dapat membantu secara langsung para developer, broker, maupun konsumen, menggodanya kembali ke khittah.

Sejatinya pilihan entrepreneur sudah sejak lama diimpikannya. Selama 15 tahun bekerja sebagai karyawan dengan income yang relatif stabil menumbuhkan hasrat berwirausaha. Tahun 2010 lalu, Ronny pernah membangun dan menjalankan sebuah usahanya sendiri. Investasi besar pada bisnis barunya itu harapnya membawa keuntungan besar pula. Namun, coretan hitam di atas kertas rancangannya itu berbanding terbalik pada kenyataan di lapangan. Jauh panggang dari api, kenyataan tak sesuai dengan harapan. Niat Ronny menjadi seorang entrepreneur kala itu pun pupus, setelah lebih dari dua tahun menjalankan bisnisnya tersebut.

“15 tahun saya bekerja sebagai karyawan, dengan income yang stabil. Saya ingin menjadi entrepreneur. Saya bangun sebuah bisnis dengan investasi besar, tapi akhirnya semakin turun dan turun. Mengambil keputusan untuk menghentikannya itu berat sekali,” kisah Ronny.

Kegagalan itu memang pahit, tetapi bagi Ronny menjadi sebuah pengalaman berharga untuk bangkit dari keterpurukan tersebut. Ronny tak lantas berhenti mewujudkan ambisinya menjadi seorang entrepreneur. Bahkan dia tak segan mengumbar sosok Ir Ciputra sebagai tokoh inspiratif yang membangun kerajaan bisnisnya dari nol dengan penuh pengorbanan. Bagi dia, Ciputra adalah developer mapan yang sudah sangat berhasil membangun track record-nya dengan brand yang mendunia. “Kekuatan dari Ciputra Group adalah brand. Jadi aset paling mahal dari Ciputra Group, bukan di propertinya tapi the brand. Ciputra itu sudah seperti sekolahnya properti,” ucapnya bersemangat.

“Jadi memang harus ada pengorbanan, sebagaimana kalau kita lihat seorang CEO perusahaan besar, pengorbanannya pasti sangat luar biasa. Saya pun tentu punya rencana terhadap beberapa bisnis baru,” Ronny menambahkan.

Ronny memang ingin lebih mandiri, berdiri di atas kakinya sendiri, dengan caranya sendiri pula untuk mewujudkan niat mulianya itu. Menjadi entrepreneur bagi dia, tidak sebatas hanya mendirikan sebuah usaha dan menjalankannya. Lebih jauh, Ronny memandang bahwa entrepreneur adalah sebuah pilihan mulia untuk dapat membantu lebih banyak orang. Maka pilihannya kini pun terbilang jauh dari prediksi banyak orang. “Saya jalankan saja. Saya sudah putuskan menjadi misi saya untuk membantu sebanyak mungkin orang dengan pengetahuan, network, dan skill saya,” kata Ronny.

Ronny Wuisan, yang sebelumnya juga bergabung di perusahaan IT yang mengembangkan aplikasi properti PROJEK, memilih untuk menjadi host, pembawa acara di sebuah stasiun televisi swasta nasional bertajuk “Property Smart Talk” – acara diskusi bisnis properti yang menampilkan CEO dan pucuk pimpinan developer properti nasional. Acara yang tayang perdana pada Jumat, 3 Juni 2016 lalu ini menjadi pekerjaan baru yang digeluti oleh ayah dua anak ini. “Di sini diskusinya lebih smart, sharp dan intelektual. Jadi di acara ini kita bisa mengenal sebuah developer properti beserta pemimpinnya, apa yang sudah dikerjakan, juga produk-produknya,” jelas Ronny.

Ronny memandang bahwa saat ini banyak konsumen dan broker properti yang sudah semakin kritis, sehingga sebelum membeli, mereka ingin tahu siapa developer properti, siapa team utamanya, apa yang sudah dikerjakan, dan kenapa mereka bangun proyek tersebut. “Jadi pembeli dan broker ingin dapat Informasi yang lengkap. Saya buat acara talkshow dan semuanya dijawab di acara ini,” tegasnya.

Ronny berharap melalui acara yang dipandunya sekira satu jam itu bisa membantu para developer properti untuk melakukan komunikasi marketing dengan lebih smart, sharp dan intelektual dan juga affordable. Lebih dari itu, dia pun berharap agar melalui acara tersebut dapat pula membantu pasar properti nasional untuk bisa segera bangkit. “Pada akhirnya semua ini saya lakukan karena ingin bantu developer properti. Semoga properti nasional juga bisa segera bangkit dengan memberikan edukasi dan informasi yang tepat dan menarik,” kata Ronny mengakhiri obrolan. [pius klobor] 

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Ignatius Untung, Country General Manager Rumah123.com

 

“Pilot? Masinis? Wah kamu kok cita-citanya mau jadi sopir. Buat apa sekolah kalau mau jadi sopir?”

Sedikit menyindir, ucapan kakak sepupunya itupun terekam hingga terbawa dalam perenungannya. “Sopir? Iya juga ya? Nyetir pesawat atau kereta kan sama juga jadi sopir,” gumamnya.

Niat si bungsu menjadi pilot dan masinis pun kandas. Namun kemudian, pikirannya pun beralih pada sosok dokter yang sigap mengobati dan melayani pasien. Dan keinginannya itu pun kian menggebu ketika terbujur sakit. Hampir setiap hari bocah yang akrab disapa Untung ini bertemu dengan dokter yang setia melayaninya.

Namun lagi-lagi niatnya itu kandas ketika menginjakkan kakinya di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Dia lebih fokus pada kegemarannya bermain musik (band) ataupun menulis. Waktu luangnya diisi untuk bekerja di sebuah perusahaan periklanan sembari menjalankan hobi bermain band, bahkan hingga performance di beberapa acara kafe di Jakarta.

“Begitu lulus SMA saya bilang ke bapak saya mau kuliah ke musik. Sebenarnya bapak saya tidak setuju tapi dia tidak langsung melarang. Maka dia cuma bilang, boleh tapi kalau bisa kuliahnya dobel di perguruan tinggi lain yang lebih umum. Saya sanggupi,” kisah pria pemilik nama lengkap Ignatius Untung ini kepada Property and The City, beberapa waktu lalu.

Namun kali ini, Untung tak lagi beruntung. Selembar soal ujian tes masuk di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang berisi not balok benar-benar menjadi hambatan besar. Ya, pria kelahiran Jakarta 12 Mei 1979 ini sama sekali tidak bisa membaca notasi musik tersebut.

“Saya ke sini mau jadi pintar. Buat apa saya mendaftar kalau saya sudah bisa baca not balok ini?,” sedikit kesal dia melontarkan tanya itu pada petugas di loket pendaftaran. “Ya, standar kami sudah begitu. Kalau mau, silahkan ikuti saja dulu bimbingan tes masuk ISI,” jawab petugas itu lantang. Pupuslah sudah harapan Untung untuk mendalami musik di kota ‘gudeg’ itu.

Plan B, meski tak direncanakan sebelumnya, Untung mendaftar ke bidang advertising, kegiatan lain yang pernah di jalankan semasa di SMA. “Sebenarnya saya pernah mendaftar UMPTN ke beberapa universitas, Psikologi UGM dan Komunikasi UNPAD. Tapi keduanya tidak lulus, malah belakangan diterima di Advertising UGM. Akhirnya saya jalani,” ceritanya.

Paruh waktu Untung pun bekerja di sebuah perusahaan periklanan. Hingga akhirnya menjalankan magang di sebuah perusahaan periklanan yang saat itu berkantor di Pasar Baru, Jakarta Pusat. “Dan secara tidak sengaja saya menemukan bahwa ternyata kerja di periklanan itu keren,” katanya singkat.

Seakan menemukan passion-nya di bidang pekerjaan yang mengandalkan ide dan kreativitas ini, Untung pun start dari kesehariannya mencari gagasan dan memikirkan ide-ide cemerlang akan semua iklan yang hendak ditayangkan. Hingga akhirnya berbuah pada beberapa penghargaan yang diterima Untung bersama timnya, seperti iklan terbaik dari Citra Pariwara hingga iklan terbaik di tingkat Asia Pasifik, pernah mereka raih.

Meski begitu, Untung tak lantas happy lantaran iklan terbaiknya itu tidak berdampak pada peningkatan penjualan kliennya. Akhirnya dia memilih untuk pindah ke divisi strategic planning yang lebih fokus pada strategi pemasaran. Lagi, persoalan serupa terjadi. Untung pindah ke bagian klien sebagai ujung tombak yang akan membantu para klien memasarkan produknya tersebut. Di sini, Untung mendalami dan menemukan berbagai hal, baik tentang distribusi maupun penjualan.

“Setelah itu saya mulai ketagihan. Saya pikir memang mungkin saya harus bekerja di area dimana saya bisa menghasilkan ide dan bisa mewujudkan ide itu. Akhir tahun 2013 saya nekat keluar dari EF (English First) dan pindah ke blanja.com (JV eBay & Telkom), meski dengan gaji yang lebih kecil,” ungkap pemegang gelar MBA Marketing dari University of Liverpool ini.

Untung dipercayakan sebagai Head of Marketing & Merchandising yang bertanggung jawab untuk pemasaran, pengembangan merek, penjualan, hingga PR. Untung percaya bahwa di perusahaan barunya itu dia dapat mewujudkan apa yang diinginkannya. Apalagi di media online, semuanya dapat dikerjakan dalam waktu singkat. Untung pun jatuh cinta dengan media dot com tersebut.

“Jadi buat saya yang paling penting dari semua itu adalah kreativitas dan komitmen,” tegas bungsu dari lima bersaudara ini.

Nyemplung di Properti

Berusaha memang bukanlah sebuah pilihan, tapi keniscayaan sebagai manusia. Properti bagi Untung pun sebuah hal yang teramat jauh, pun dari benaknya. Bahkan dia tak begitu peduli akan keuntungan besar yang bisa didapatkan dari bisnis ini.

“Awalnya memang saya tidak pernah berpikir bahkan tidak mempedulikan tawaran keuntungan dari dunia properti ini. Namun belakangan saya baru menyadari ketika rumah pertama saya bisa terjual dengan keuntungan hingga 300 persen hanya dalam waktu 2,5 tahun,” ungkapnya. “Tuhan memang punya rencana lain,” ucapnya singkat.

Ceritanya, ketika itu proyek part time yang dikerjakan mendapat keuntungan besar. Untung bingung mau dikemanakan uang tersebut. “Saya orangnya nggak bisa nabung. Waktu itu saya sudah tinggal di apartemen 45 m2 di Kelapa Gading.

“Saya diskusi dengan istri dan keputusan kami beli rumah,” ceritanya. Waktu itu Untung lebih tertarik di daerah BSD bahkan sudah booking fee Rp5 juta untuk sebidang tanah kavling berukuran 156 m2. Namun niat membangun rumah pun urung dilaksanakan, lantaran sebagian tanah sudut itu harus disisakan sebagai GSB (Garis Sempadan Bangunan). Selain itu, atas saran temannya yang ahli feng shui bahwa lokasi yang tepat bagi Untung dan keluarga adalah di Kelapa Gading atau di Tebet.

Untung pun membeli sebuah rumah tua di Kelapa Gading, tahun 2009 lalu. Awalnya rumah tersebut dijual dengan harga Rp 525 juta, namun ditawar hingga Rp475 juta. “Saat itu saya punya uang Rp275 juta, langsung saya DP (uang muka -red). Sisanya saya ajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR),” ceritanya.

Namun karena keluarga membutuhkan uang, rumah yang sempat dikontrakan tersebut pun akhirnya terjual pada 2014 dengan harga mencapai Rp1,4 miliar. “Saya tanya ke orang sekitar, ternyata harga rumah sudah di atas Rp 1,2 miliar. Akhirnya saya jual rumah tersebut tahun 2014, setelah saya renovasi sedikit dengan biaya sekitar Rp 70 juta.”

Harga rumah melambung tinggi, sebut Untung dikarenakan kawasan yang menjadi langganan banjir tersebut sudah terbebas banjir setelah dibukanya BKT (Banjir Kanal Timur).

Sadar akan keuntungan besar tersebut, Untung pun membeli sebuah apartemen berukuran 105 m2 di Kelapa Gading. Pada akhirnya, kedua apartemen tersebut dijual kembali dan Untung memilih untuk membeli sebuah rumah tua di daerah Kampung Ambon, Rawasari, dimana masa kecilnya dihabiskan di situ. “Rumah orang tua saya juga di sekitar situ,” katanya.

Sadar atau tidak, proses yang telah dilalui itu ternyata punya pengaruh pada tawaran kerja selepas resign dari Kaskus Networks, 2015.

Meski menerima beberapa tawaran menarik dari perusahaan lain, pada akhirnya pilihan Untung jatuh pada Rumah123.com, Juli 2015 lalu. “Saya berpikir bahwa banyak hal menarik yang bisa saya lakukan di sini. Jadi memang nggak sengaja kecemplung di properti,” tegas Untung yang masih terobsesi untuk bekerja di Disney Company – media dan hiburan terbesar.

Hidup itu buat dinikmati jadi kalau kita bisa jalankan semuanya dengan happy maka itu sangat bagus sekali. Jadi kalau kita bikin orang jadi bahagia, itu buat saya adalah sebuah pekerjaan yang paling mahal,” tutupnya. [pius klobor]

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Ary Indra “Aboday”, Principal Architect Aboday

Profesinya adalah arsitek. Meski demikian masih banyak yang menganggap arsitek sekadar profesi ‘bujangan’, tak bedanya pekerjaan mengisi waktu luang alias hobi. Bahkan arsitek tidak bisa mencari nafkah. Ary pun ingin menghapus pameo itu.

Dering handphone di pojok meja berbunyi kencang. Ternyata ada seorang konsumen yang hendak menggunakan jasa Sang Arsitek. “Bisa kita bertemu Sabtu atau Minggu?,” tanya penelepon di ujung sana. “Kenapa harus Sabtu atau Minggu?,” tegas Ary bertanya kembali. “Karena hari Senin sampai Jumat saya kerja,” si penelepon memberi alasannya. Namun Ary semakin lantang menjawab, “Saya juga kerja. Saya juga kerja Senin sampai Jumat. Jadi mari kita ketemu di hari Senin hingga Jumat.”

Profesi arsitek di Indonesia baru mulai berkembang dan diapresiasi masyarakat luas sekira 20 tahun belakangan ini. Saking banyaknya masyarakat yang masih menganggap sepele profesi ini, sebut pria bernama lengkap Ary Indra, sehingga sering disamakan seorang arsitek adalah seniman ‘Sabtu - Minggu’ yang sekedar mengisi waktu luang. Bahkan dahulu ada anggapan yang mengatakan bahwa arsitek maupun seniman tidak bisa mencari nafkah.

Padahal menurut pria berkepala plontos ini, Arsitek adalah sebuah profesi profesional yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari sebuah industri besar. Arsitek pun menerapkan standar dan disiplin yang tinggi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

“Cita-cita saya sejak dahulu adalah ingin menunjukkan kepada orang bahwa profesi ini bukan hanya profesi ‘bujangan’. Saya ingin membalikkan fakta itu bahwa menjadi arsitek itu bukan hanya sekadar menjadi seniman tetapi ini adalah bagian dari industri besar yang ada konsekuansinya juga ada remunerasinya,” terang Ary di Lounge Grand Kemang Hotel, Kemang, Jakarta Selatan, medio Desember 2015 lalu.

Bekerja sebagai arsitek, sambung Ary, bukan hanya berawang-awang atau berimajinasi saja, tapi ada proses yang harus dilalui dengan disiplin tinggi. Oleh karenanya, dia pun menerapkan hal itu pada semua karyawan di kantornya, agar apa yang menjadi kebutuhan para klien dapat terpenuhi tepat waktu dan memuaskan. “Tentu ini dilakukan supaya orang juga bisa bayar kita tinggi, proyek kita juga semakin besar,” katanya.

Upaya yang dilakukan melalui berbagai karyanya itu lambat laun akhirnya mulai direspon dengan baik oleh masyarakat luas. Profesinya sebagai arsitek kian diakui, apalagi sederet konsep dan hasil rancangannya telah diaplikasikan di berbagai tempat. “Saya menjalankan profesi ini, dengan bayaran sekian, dengan produknya seperti ini. Jadi saya ingin agar profesi ini menjadi lebih berharga dan dapat diandalkan, sebagaimana dokter, pengacara, atau profesi lainnya,” ujar Ary lantang.

Perlahan Ary pun mulai menikmati itu melalui perusahaan arsitek yang dia dirikan. Profesinya sebagai arsitek kian santer hingga tak jarang orang lebih mengingatnya Ary ‘Aboday’ dibanding Ary Indra.

Rencana dan Waktu

Setelah 10 tahun bekerja di sebuah perusahaan arsitektur di Singapura, pada awal 2006 Ary dan beberapa rekannya mendirikan sebuah biro konsultan di bidang properti yang kemudian dinamakan Aboday. Mendirikan perusahaan sendiri sejatinya sudah lama menjadi impian pria kelahiran Madiun, Jawa Timur, 25 Mei 1971 ini. “Tahun 2006 itu timing yang paling tepat untuk pulang ke Indonesia dan mendirikan biro arsitektur,” katanya.

Meski mengaku saat itu sudah banyak biro konsultan arsitek di Indonesia, namun bagi Ary peluang untuk menjalankan profesi arsitek di Indonesia, khususnya Jakarta masih terbuka lebar. “Mungkin waktu itu sudah cukup banyak, tapi saya rasa masih banyak kue yang masih bisa dibagi untuk menjalankan profesi ini di Jakarta,” ceritanya.

Sejatinya mendirikan sebuah perusahaan sendiri adalah rencana matang yang telah ditargetkan pria jebolan arsitektur Universitas Brawijaya Malang 1995, sekira 10 tahun lamanya. Sebelum bekerja ke Singapura, Ary sempat menimba pengalaman di Jakarta sebagai Junior Architect, Building Investment Development di AUTO 2000, Astra International, 2005 lalu. Setahun kemudian dia bergabung ke Ciputra Development, menangani bidang yang sama. Di tahun 1997, saat krisis mulai melanda Indonesia, Ary memutuskan untuk pindah dan bekerja di sebuah perusahaan arsitektur di Singapura. Ary berujar, setiap rencana besar yang akan dia lakukan, selalu dipersiapkan jauh hari, bahkan hingga 10 tahun sebelumnya.

“Itu target dalam hidup saya. Saya selalu punya rencana dan target baru. Disaat usia saya ke-25, 35, dan 45 tahun, selalu ada hal-hal baru yang akan saya lakukan,” kata Ary.

Ary meyakini bahwa setiap rencana yang akan dilakukan harus diwaktu yang tepat sehingga bisa berjalan lancar. Ini pun dia alami disaat mendirikan Aboday dan melakukan beberapa rencana lainnya. “Setiap orang bisa merencanakan sesuatu, tapi kalau timing tidak pas, maka tidak bisa juga. Tapi dalam hidup saya sepertinya kedua-duanya itu selalu pas dan bisa berjalan seiring. Rencana dan timing bisa jalan beriringan,” katanya.

Apresiasi

Aboday didirikan sebagai sebuah biro arsitek yang mengedepankan profesionalitas dengan ciri dan gaya masa kini. Tenaga arsitek muda mengawali pergerakkan Aboday yang mulai menyasar pasar Jakarta dan sekitarnya. Gaya-gaya casual, tak terpaku pada formalitas. Spontanitas, itulah Ary melayani setiap permintaan klien. Ary bekerja mengikuti proses, meski tak suka jika proses desain itu tuntas. Ary beralasan apalah artinya jika hasil dari sebuah desain sudah diketahui sebelum waktunya. Sebab, Ary bilang desain itu sesuatu yang bergerak.

Gayung bersambut. Tak ada promosi besar-besaran, pun di media massa. Pekerjaan dilakukan dengan penuh hati dan tanggung jawab. Tanpa disadari, berbagai karya dan buah pikirannya itu mendapatkan tempat 

di hati konsumen. Permintaan pun semakin banyak yang berdatangan, hingga akhirnya harus diseleksi. “Tiada promosi yang lebih baik selain dari mulut ke mulut. Kami awali dari hal-hal yang kecil tetapi yang berkesinambungan. Kualitas dan hasil kerja kami juga cukup baik sehingga mulai dipercaya konsumen,” jelas Ary.

Perjalanan yang dimulai sekitar Februari 2006 ini diawali dari proyek skala kecil, seperti rumah-rumah pribadi maupun villa. Gaya desain yang unik meningkatkan pula kepercayaan konsumen hingga proyek-proyek besar seperti hotel, rumah sakit, dan perkantoran pun mereka kerjakan. Apartemen Nirvana di kawasan Kemang, Jakarta Selatan adalah proyek hunian vertikal pertama yang langsung ditangani Ary dan tim. Bangunan ini disulap menjadi lebih berkarakter dan menarik dengan menterjemahkan konsep bangunan tropis ke dalam bentuk bangunan vertikal. Apartemen 16 lantai ini juga menjadi pemicu dan menambah keyakinan untuk giat menjalankan Aboday.

“Ini membawa keuntungan besar karena setelah orang melihat kerja kami ini, pesanan apartemen pun makin banyak berdatangan,” cerita Ary.

Apartemen Nirvana adalah salah satu bukti nyata dimana Ary mampu memfungsikan setiap celah menjadi lebih bermanfaat. Rupanya semua itu dia peroleh semasa bekerja di Singapura. “Di Singapura lahan sangat terbatas, sehingga setiap sentimeter punya harga yang tinggi. Jadi bagaimana kami bisa memanfaatkan setiap senti itu. Dan rasanya ini yang menjadi penyebab banyak yang meminta kami membuat apartemen mereka,” tegasnya.
Meski Ary mengaku tak pernah puas akan hasil karyanya itu, setidaknya beberapa hasil rancangannya dapat disaksikan, antara lain, Villa Paya-Paya di Seminyak, Bali yang menerapkan konsep “natah” – konsep arsitektur lokal; Kemang Women and Children’s Hospital di Kemang, Jakarta Selatan yang merupakan proyek rumah sakit pertama yang dikerjakan oleh Ary dan tim. Di rumah sakit ini terdapat variasi dan kombinasi warna yang begitu dominan, terutama pada bagian jendela. Mereka mencoba untuk menerapkan terapi warna yang diyakni dapat membawa efek penyembuhan dan ketenangan pada jiwa pasien.

Selanjutnya, Kubikahomi yang merupakan sebuah dormitory – apartemen yang disasar untuk kalangan mahasiswa, yang dibangun oleh pengembang pelat merah HK Realtindo di BSD City, Serpong, Tangerang. Beberapa proyek lain hasil rancangan Aboday yang juga patut menjadi referensi sebuah desain adalah ArtOtel di Menteng, Jakarta Pusat; Apartemen Residence 18 di Kedoya, Jakarta Utara; Senopati Suites Jakarta; Perumahan H Mansion, Jakarta; Sentul Cliff, Sentul, Jawa Barat; dan masih banyak lagi.

Dan tidak ketinggalan, rumah tinggal miliknya di daerah BSD, Tangerang pun menjadi salah satu karya terbaik Ary. Playhouse, sebagaimana namanya, rumah dua lantai ini memang dirancang khusus untuk anaknya sebagai tempat tinggal sekaligus tempat bermain. Menyatu dengan rumah, Ary merancang sebuah seluncuran/prosotan dari lantai dua ke lantai satu. Dengan demikian, putra tunggalnya Aria Gaung pun dengan bebas dapat meluncur dalam rumah tinggalnya itu.

Kini, Aboday telah berusia 10 tahun. Ary tak pernah menyangka jika Aboday mendapat kepercayaan yang semakin luas dari masyarakat. Bahkan setiap minggu selalu saja ada tawaran proyek baru, meski tidak semua diterimanya.

“Tapi dari semua itu, saya paling berkesan dengan Apartemen Saumata di Alam Sutera, Serpong. Memang belum selesai tapi inilah yang bisa saya banggakan setelah 10 tahun. Proyek yang dari depan sampai belakang adalah benar-benar hasil curahan pikiran dan hati kami. Boleh dibilang, proyek ini adalah 100 persen keinginan saya,” ucapnya bangga. Nama Saumata disematkan Aboday yang dalam bahasa Sansekerta berarti satu mata, semata-mata, atau satu-satunya. Disebutkan Ary, apartemen ini memiliki keunikan tersendiri dengan mengedepankan subtle luxury dan modernitas.

“Dulu kami mulai dengan lima orang. Sekarang di kantor sudah ada 40 orang. Dulu kami hanya mengerjakan proyek-proyek villa, rumah tinggal, tapi sekarang dipercayakan ke proyek skala besar,” katanya lagi. Ary kini benar-benar bangga akan pencapaiannya itu.

Ary menyadari bahwa kesuksesannya bersama Aboday tak semata buah dari perjuangannya sendiri. Selain karyawannya yang selalu tekun bekerja, ternyata ada lagi seorang partner yang jago berhitung, katanya. Dalam sebuah biro arsitek, kata Ary harus ada yang tugasnya bermimpi dan berhitung. “Dia yang membuat semua perencanaan tentang keuangan, semua perencanaan tentang development. Bagaimana nanti bisnis kita bisa berjalan 5 atau 10 tahun dan seterusnya. Dan menurut saya, sebuah biro arsitek yang baik memang harus punya partnership.”

Konsisten dan Integritas

Konsistensi dan integritas adalah dua hal yang menjadi kunci sukses Ary Aboday. Menurut dia, menjalankan profesi apapun, termasuk arsitektur harus berani, ngotot, dan tidak mudah putus asa demi mencapai target dan cita-cita yang dituju.

“Juga integritas, artinya kita harus punya tanggung jawab. Bagaimana menggantungkan passion kita dengan kebutuhan orang dan kebenaran. Ini yang saya pikir menjadi bekal yang harus dimiliki setiap orang,” tegasnya.

Menurut dia, perkembangan zaman sekarang yang teramat cepat harus pula bisa disiasati dan dimanfaatkan oleh seorang arsitek untuk dapat menyesuaikan itu. Jangan sampai, sebut Ary, seorang arsitek terjebak pada budaya instan yang lebih memilih menjiplak ketimbang menggali potensinya sendiri. [pius klobor]