User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Amanat yang diberikan sangat jelas, Citraland Cibubur diharapkan menjadi market leader di Jonggol. Inilah tantangan buat Sang nakhoda Citraland Cibubur, Galih PS Putri.

GALIH PS PUTRI, MARKETING MANAGER PT PANASIA GRIYA MEKARASRI


“Waktu pertama kali Citraland Cibubur dibuka, dan saya diberi kesempatan memegang Citraland Cibubur, worry-nya adalah  lokasi,”  kata Galih PS Putri, Marketing Manager PT Panasia Griya Mekarasri, bicara soal lokasi Citraland Cibubur di Jonggol. Sebagian orang mungkin menyebut Jonggol jauh dari pusat Kota Jakarta. Tetapi bagi Putri, panggilan akrab Galih PS Putri, penunjukkan dirinya memimpin Citraland Cibubur disebutnya sebagai challenge yang cukup menarik. Dipercaya menjadi orang pertama yang memegang proyek baru di lingkungan pengembang besar, adalah tantangan bagi para professional.

Baca Juga

Selain soal lokasi, tantangan lainnya Citraland Cibubur adalah proyek baru yang dikembangkan Ciputra Group yang diluncurkan tahun 2016. Memasarkan proyek baru tentu bukan perkara mudah. Apalagi kondisi properti di tahun 2017 penuh tantangan. “Orang mengatakan tahun 2017 properti belum naik, kami malah memberanikan diri melaunching proyek perdana di Citraland Cibubur,” ujar Putri, arsitek jebolan Universitas Dipenogoro, Semarang.
Walaupun latar belakang ilmunya arsitek, dara usia 30 tahun ini menunjukkan kepiawainnya sebagai marketing saat dipercaya memegang Citraland Cibubur. Sadar dengan lokasi Citraland Cibubur, ia menerapkan treatment yang berbeda dari proyek-proyek sebelumnya. Cara penjualan konvensional, seperti hanya mengandalkan konsumen yang datang ke marketing gallery, tidak bisa diharapkan lagi. Model marketing via dunia maya jadi ujung tombak di Zaman Now ini.  
Untuk itu, ia meminta semua jajaran di Citraland Cibubur jualan harus online. Brosur dibuat digital. Rumah contoh dibuat virtual. Komunikasi dengan konsumen lewat WhatsApp, facebook, e-mail. Semua informasi proyek harus ada di website tanpa harus ketemu klien. “Harus di-package dan dikemas agar menarik dan orang mudah mendapatkan informasi via online,” ujar Putri.  
Hasilnya, tidak mengecewakan. Saat proyek perdana di-launching Bulan Mei 2017 yaitu Monteverde, langsung direspon konsumen. Ada tiga klaster di Monteverde, klaster dengan tipe kecil, medium dan besar. Bahkan untuk tipe besar yaitu klaster Aphandra, sudah sold out waktu itu. “Dengan harga mulai dari Rp1,5 miliar untuk tipe besar, orang malah langsung beli dengan cash,” ujar lulusan Prasetiya Mulya Business School program Financial Management Short Course.  
Serba online pun digunakan untuk NUP (nomor urut pemesanan) di Citraland Cibubur, dan ini untuk yang pertama kali diterapkan di Ciputra Group. Untuk pembayaran booking fee lewat e-commerce. Dari nilai booking fee, Citraland Cibubur hanya mengambil Rp2 juta sebagai tanda booking dan pembayaran lewat e-commerce. Konsumen sudah bisa memilih unit yang diinginkan.
Di luar yang di atas, ada point lain yang membuat Citraland Cibubur langsung direspon konsumen saat launching perdana. Putri menyebut, banyak pengembang yang tidak mengeluarkan produk baru di 2017. Mereka hanya memasarkan produk lama yang masih pengembangan. Padahal di 2017 masih ada konsumen yang berani membeli properti. Konsumen tentu memilih proyek baru karena proyek baru identik dengan harga perdana. Kenaikan investasinya lebih dipercaya. “Kalau ditanya oleh investor, yakin tidak akan untung (Citraland Cibubur-red), saya jawab yakin untung. Dan pasti balik modal,” ujarnya.
Menjadi Nakhoda di proyek baru, diakui butuh perjuangan agar awak kapalnya bisa satu jalan dengan visi dan misi dirinya sebagai pimpinan proyek. Apalagi seperti diakui Putri sekitar 80 persen yang direkrut adalah orang baru. Mau tidak mau dirinya lebih banyak turun langsung dan memberi ilmu yang dimiliki. Ia juga selalu menekankan kepada anak buahnya, sebagai the first people di Citraland Cibubur. Artinya, sebagai proyek skala besar dengan jangka waktu bertahun-tahun,  punya kesempatan besar untuk mengembangkan diri dan menunjukkan kemampuan secara maksimal.  
“Saya tidak butuh orang yang background dari pengembang ini atau itu.  Belum tentu yang dari developer besar bersedia ditaruh di Cileungsi. Saya cari mereka yang punya niat dan serius ingin berkarir. Jangan berpikir jangka pendek. Harus berpikir long term,” ujar peraih MBA dari Universitas Katolik Atma Jaya.
Putri tak membantah generasi Millennials sukanya pindah-pindah kerja. Tidak betah di satu perusahaan. Tetapi kalau mereka diyakinkan berada di proyek jangka panjang dan karir yang terbuka luas, generasi Millennials bisa serius di satu tempat. “Orang tidak serius kadang-kadang karena tidak melihat harapan di perusahaan tersebut. Tetapi kalau kita memberi harapan, mereka pasti bisa lama di satu tempat,” ujar Putri.
Arsitek Fungsional
Masuk tahun 2009 di Ciputra Group, Putri ditempatkan di kantor pusat sesuai keahliannya yaitu arsitek. Dalam perjalanannya ia diarahkan ke arsitek fungsional yaitu menangani interior di proyek-proyek yang dikembangkan sub holding 2 dari Ciputra Group (Ciputra Group punya 4 sub holding).  Sub holding 2 proyeknya ada di berbagai daerah penjuru nusantara. Ini memberi kesempatan kepada Putri untuk keliling daerah dimana ada proyek Ciputra Group dibangun. Dari berkeliling daerah ini, Putri mengaku jadi lebih mudah ketika ditempatkan di satu daerah.  “Karena sudah terbiasa, maka ketika ditempatkan di sini (jonggol-red) jadi lebih mudah,” ujarnya.
Sebelum di Citraland Cibubur, Putri ditempatkan di Surabaya menangani Hotel Ciputra World Surabaya selama dua tahun. Mulai dari pembangunan sampai pembuatan interior hotel ditangani oleh Putri. Selepas dari Surabaya, ia ditarik kembali ke kantor pusat dengan tugas lebih ke bussines development. Sampailah kemudian ia mendapat perintah tour of duty berikutnya menangani proyek Citraland Cibubur, proyek baru Ciputra Group di atas lahan 200 hektar.
Tour of duty ke berbagai daerah menangani proyek di lingkungan Ciputra Group, diakui oleh Putri sebagai bagian dari menguji kemampuan di lapangan. Kalau di kantor pusat mungkin kesempatan menghadapi konsumen dirasa kurang. Di lapangan para manager marketing bisa bertemu langsung dengan konsumen. Dituntut cepat menghambil keputusan.  “Di lapangan bisa ketemu langsung konsumen, menghadapi konsumen yang marah-marah,” ujarnya.
Putri, yang pernah menangani proyek Residence8@Senopati Apartment dan Office8@Senopati, sebelum bergabung ke Ciputra Group, mengaku banyak mendapat tempaan di Ciputra Group. Ilmunya makin diasah karena para direksi tidak pelit membagi ilmu kepada karyawannya. Kebetulan para atasannya, seperti Harun Hajadi, Direktur Senior Ciputra Development dan Nanik J. Santoso, Direktur Senior Ciputra Development adalah orang-orang arsitek. Dengan latar belakang ilmu yang sama, Putri banyak berdiskusi dengan mereka. “Kalau saya beri masukan ditampung oleh mereka, kalau saya yang diberi masukan, saya tampung. Di sini lebih banyak ruang untuk belajar,” ujarnya.
Putri juga bersyukur diberi kesempatan untuk menimba ilmu di luar bidangnya. Ia mengambil master bisnis, dan financial management untuk memperkaya pekerjaannya.  “Jadi, saya diarahkan untuk belajar marketing bukan saya yang minta. Setelah saya terjun (di marketing-red) ternyata passion-nya sama,” ujarnya.
Kini, di pundaknya, harapan para direksi adalah Citraland Cibubur menjadi market leader. Kalau saat ini market leader di Cibubur adalah Citra Gran Cibubur dan Kota Wisata, berikutnya diharapkan Citraland Cibubur mengikuti jejak Citra Gran Cibubur.  “Harapan direksi pada Citraland Cibubur menjadi market leader untuk area Cileungsi-Cibubur,” ujarnya.(Hendaru) ●

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

LUKAS BUNTORO CEO, FOUNDER MGM GROUP JAKARTA

Lukas Buntoro mengaku banyak keputusan bisnisnya berdasarkan feeling. Ia tidak segan memberi share saham kepada karyawannya yang punya integritas dan loyalitas.

“Saat kelas 2 SMA saya berada di tikungan jalan, antara melepas sekolah atau melanjutkan karir sebagai atlet bulu tangkis. Saya ingin berhenti sekolah karena bulu tangkis butuh waktu banyak, tetapi orang tua tidak mengizinkan, dan mengatakan sekolah lebih penting. Koko (kakak laki-laki-red) juga mengatakan jangan sampai berhenti sekolah,” ujar Lukas Buntoro, yang pernah satu angkatan bersama atlet bulu tangkis Hariyanto Arbi, Hendrawan, Ardy B. Wiranata di klub bulu tangkis PB Djarum.  
Lukas, juara tunggal putra tahun 1985 di kejuaraan Taruna Putra dan menyabet beberapa gelar juara sebagai pemain tunggal dan ganda, akhirnya memilih melanjutkan sekolah. Sebuah keputusan berat, karena dirinya sudah berlatih di klub bulu tangkis sejak di bangku kelas 4 SD. Ia bercerita bagaimana beratnya berlatih. Pagi sebelum berangkat sekolah sudah berlatih. Sore sebelum latihan resmi, ia sudah lebih dulu latihan sendiri. “Di samping tempat tidur, saya selalu letakan sepatu olah raga. Begitu jam weker bunyi pagi hari, yang pertama saya lakukan adalah memakai sepatu olah raga dulu,” ujar Lukas, mengenang saat-saat berlatih di klub PB Djarum.
Walaupun berat meninggalkan bulu tangkis, CEO dan Founder MGM Group Jakarta ini, mengakui menjadi atlet rentan cedera. Begitu cedera berkepanjangan dan tidak bisa melanjutkan lagi sebagai pemain, selesai sudah karir seorang atlet. Sementara sekolah sudah putus. Ini juga menjadi pertimbangan ketika memutuskan untuk gantung raket lebih awal. Tetapi keputusan melanjutkan sekolah justru membuka jalan menyabet gelar sarjana teknik sipil yang kelak membawanya meraih mimpi yang sudah lama yaitu menjadi developer. “Saya suka dengan teknik sipil,” ujarnya.
Lukas kembali “bersitegang” dengan orang tuanya saat memilih tempat kuliah. Sang orang tua mengultimatum agar dirinya kuliah di Amerika Serikat bersama dua kakaknya yang sudah lebih dulu tinggal di negeri Paman Sam. Lukas bersedia dengan syarat tidak satu kota di Amerika bersama kedua kakaknya. Kalau satu kota, ia lebih memilih kuliah di Indonesia. Sementara orang tua khawatir bila Lukas tinggal di Amerika jauh dari kedua kakaknya. Akhirnya Lukas diizinkan ikut test di Univeritas Katolik Parahyangan Bandung. Dengan catatan, bila tidak diterima dirinya harus bersedia ke Amerika.
“Saya memang agak nakal, suka balap motor. Orang tua khawatir kalau di Amerika tidak satu kota dengan koko dan cici (kakak perempuan-red), tidak ada yang mengawasi. Beruntung saya diterima di Unpar, jadi tidak perlu kuliah ke Amerika. Saya pikir kuliah di Amerika atau di sini sama saja,” ujar pria berusia 45 tahun ini.
Naluri bisnis Lukas rupanya setajam pukulan smash ke bidang permainan lawan. Ketika masih duduk di semester delapan sudah mengerjakan proyek dari Pertamina. “Saya menyusun skripsi sambil mengerjakan proyek di Balongan,” ujarnya. Ia mengaku bukan mahasiswa cerdas, tapi memaksakan dirinya mengikuti mahasiswa cerdas yang lulus empat tahun dengan IPK tinggi. Ia rela tidak kongkow-kongkow di kampus bersama teman-temannya karena ingin cepat selesai kuliah.  “Mungkin yang lulus 4 tahun, saya yang paling bodoh,” ujar ayah dua anak ini.
Berangkat dari Kontraktor
Tonggak sejarah Lukas membangun bisnis dimulai tahun 1994 sebagai kontraktor dengan membangun rumah, ruko, rumah sakit. Tahun 1997 mulai dibentuk PT Maju Gemilang Mandiri (MGM) dengan bisnis utama sebagai kontraktor. Tangan dingin Lukas mampu membawa MGM melewati badai krisis tahun 1997. Bahkan,  melebarkan sayap membentuk berbagai unit usaha kontraktor menangani berbagai bidang pekerjaan. Mulai dari pemasangan granit, keramik, pemasangan kaca dan alumunium, menangani interior dan furniture, mekanikal dan elektrikal sampai wooden houses, gazebo dan divisi khusus untuk proyek rumah tinggal mewah.
Cukup menarik dengan strategi Lukas masuk ke berbagai bidang pekerjaan. Menurutnya, ia ingin semua bisa dikerjakan. Tidak hanya satu bidang pekerjaan kontraktor. “Filosofi kita adalah one stop shopping, karena biasanya kontraktor hanya mengerjakan satu bidang. Saya ingin semua bisa dilakukan,” ujarnya. Tidak heran dalam perkembangannya MGM Group memiliki delapan anak perusahaan dengan berbagai spesialisasi, termasuk developer.  
Tahun 2008, saat Indonesia mengalami krisis ekonomi, Lukas justru melakukan langkah berani dengan masuk sebagai pengembang dengan proyek pertamanya landed house. Menurutnya, dengan 14 tahun di bidang kontraktor, dirinya sudah tahu betul bagaimana membangun, mengerjakan, dan memasarkan properti.  “Ketika masuk ke developer, saya bersyukur karena memiliki latar belakang sebagai kontraktor yang cukup matang,” ujar Lukas, yang tetap mengikuti perkembangan bulu tangkis di tanah air.
Entah kebetulan atau tidak, langkah Lukas masuk ke bisnis  justru saat Indonesia sedang masuk ke pusaran krisis ekonomi. Tahun 1997 ketika mendirikan MGM, Indonesia sedang diterpa krisis finansial yang hebat. Hampir semua pengembang kolaps. Kalaupun ada yang bertahan ibarat diberi infus di tangan. Begitu juga ketika memulai sebagai pengembang tahun 2008, Indonesia memasuki krisis ekonomi walaupun tidak separah tahun 1997. “Saya melewati krisis ekonomi tahun 1997 dan 2008 dengan aman,” ujarnya.  
Menurut pria yang memiliki filosofi “There is nothing impossible” ini, perusahaannya lolos dari terpaan krisis ekonomi saat itu karena tidak memiliki pinjaman di bank. Ia berani mengerjakan  proyek tanpa pinjaman dari bank alias memakai dana sendiri. Tetapi justru ini menjadi kunci keberhasilannya melewati krisis. Faktor lain adalah kemampuannya membangun hubungan yang baik dengan semua pihak. Ketika dalam kondisi krisis ekonomi, dan perusahaan tetap berjalan, ini menumbuhkan kepercayaan yang makin besar terhadap proyeknya.
Itu sebabnya, ketika pengembang lain sedang mengalami kesulitan di tahun 2008, dirinya justru banyak melakukan pembelian tanah untuk landbank. Tahun 2008 landbank-nya tersebar di berbagai lokasi sampai ke Bali. Bahkan, sempat melakukan jual beli tanah. Adapun lahan yang bagus dipertahankan untuk dikembangkan di kemudian hari. Salah satunya apartemen B Residence di BSD City.

Feeling yang Kuat
Tidak banyak pengusaha yang mengaku kerap mengambil keputusan karena berdasarkan feeling yang muncul. Maklum, feeling lebih karena perasaan hati yang muncul ketika memikirkan sesuatu yang harus diputuskan. Tetapi Lukas tidak sungkan mengakui sejak berbisnis banyak mengandalkan feeling saat mengambil keputusan. Menurutnya, dalam bisnis terkadang faktor feeling begitu kuat dan kadang-kadang penting. Ia mengaku kalau feeling sudah kuat, tidak ragu untuk  melakukan sesuatu, termasuk ketika memutuskan membangun apartemen B Residence di BSD City.  
“Mungkin feeling saya bisa 90 persen, saya jarang melakukan fit and proper dan  due diligence. Saya sudah menjalankan bisnis sejak tahun 1994, selama itu feeling sudah banyak terjadi. Feeling itu kata hati. Artinya, kita tidak boleh melawan kata hati. Tapi memang ke depan harus dilengkapi dengan due diligence (saat mengambil keputusan-red),” ujarnya.
Pria yang punya motto hidup “Should be outstanding life” ini yakin semua orang punya feeling. Bisa karena faktor religius atau pengalaman hidup seseorang. Semuanya berkolaborasi. Itu sebabnya, Lukas  selalu terbuka terhadap usulan atau ide anak buahnya hanya berdasarkan feeling mereka. Walaupun tetap akan ditanya apa penjelasan atau argumentasi dari feeling yang muncul. “Kalau make sense dengan feeling saya, maka akan saya ikuti ide dari anak buah. Prinsip saya adalah nakhoda itu harus satu,” ujarnya.
Di usia yang relatif masih muda, 45 tahun, Lukas sudah melepas posisinya sebagai direktur utama di MGM Group, dan selajutnya duduk sebagai komisaris utama. Walaupun dirinya tetap memegang perusahaan, Lukas sudah mempercayakan mereka yang dulu menjadi anak buahnya untuk menjalankan beberapa bisnis MGM Group dan beberapa bisnis lainnya yang merupakan kerjasama usaha dengan pribadi. Mereka ini yang berdasarkan feeling merupakan orang-orang yang memiliki integritas, loyalitas untuk mendapatkan kesempatan memiliki saham perusahaan.
Di delapan perusahaan di MGM Group semua karyawannya sudah punya saham. “Loyalitas dan integritas sangat penting bukan sekadar pintar. Kalau pintar boleh urutan ketiga. Saya berharap jago kerja juga. Tapi di atas jago, tetap integritas dan loyalitas,” ujar Lukas.
Bahkan, di MGM Propertindo yang merupakan anak usaha dari MGM Group, yang saat ini dipegang sendiri oleh Lukas sebagai Direktur Utama, sudah disiapkan tim-tim inti yang nantinya menjadi pimpinan. Termasuk memiliki saham di MGM Propertindo. “Saya punya mimpi dari semua share saham saya di holding, siapapun yang berprestasi nanti akan masuk sebagai pemegang saham. Kita berikan sebagai reward. Saya senang memberikan saham kepada karyawan yang punya integritas, loyalitas dan jago (kerja-red),” ujar Lukas.  [Hendaru] .

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

“Without Borders” menceritakan sebuah kemungkinan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang utama untuk bisa menembus batas.

 

Pagi itu, matahari menyapa lembut ketika Arifpin Kosasih memencet tombol telepon selulernya, mengontak sahabat lamanya, Nyohardi Purnomo. Sebuah berita dan sebuah foto telah menyentak alam bawah sadarnya. Dan dia tahu kepada siapa harus mengonfirmasi kebenaran berita yang tengah dibacanya. “Nyo, coba kamu lihat berita di Jawa Pos hari ini,” katanya singkat sambil menyebut halaman berita tentang peresmian sebuah proyek properti di Australia.

Tanpa banyak diskusi panjang, telepon pun segera ditutup. Tak berapa lama, giliran Nyo yang menghubungi balik sang penelpon. “Pin, ini bukannya Cen Huan, teman kita?” cetusnya dengan nafas setengah memburu.

“Nah, itu dia,” jawab Arifpin sambil menghela napas. “Kalau wajahnya sih Cen Huan. Lihat matanya, senyumnya,… juga kurusnya,” dia menyambung. Berita di Jawa Pos itu dibacanya beberapa kali, sementara fotonya ditatap lekat-lekat.

“Iya, ya. Wah, kok bisa dengan Perdana Menteri Australia, ya….” Nyo berkata sambil berdecak. Mereka diam sejenak

Ini adalah sebuah potongan cerita yang diambil dari Buku Without Borders; Perjalanan Anak Hutan Kalimantan Menjadi Raja Properti Australia.

Sepintas cerita ini menggambarkan sebuah kemungkinan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang utama untuk bisa menembus batas.

Dan Without Borders memang menceritakan perjuangan hidup seorang anak manusia yang berawal dari keterpurukan yang kemudian menjelma menjadi salah satu sosok yang disegani di industri properti Negara Kangguru. Buku ini merupakan hasil perjalanan selama kurang lebih 3 tahun (2014-2016), mulai dari wawancara, riset, hingga penulisan.

Dari rancangan awal kisah yang akan ditulis, sesi wawancara dengan banyak narasumber di sejumlah tempat, mulai dari Jakarta, Surabaya, Pangkalan Bun, hingga di Sydney, riset-riset sekunder, hingga penentuan judul serta gambar muka, semuanya dilakukan secara mendetil melalui sesi diskusi yang intens dan berulang-ulang.

“Banyak hal yang sudah terlupakan namun akhirnya hidup kembali dari tulisan salah satu sahabat saya, Teguh S. Pambudi yang bahkan saya menyebutnya sebagai kamus berjalan untuk hidup saya” ungkap Iwan dalam acara Media Launching di Jakarta, Jumat, (18/11/2016) lalu.

“Seperti mengalami sebuah flash back di layar lebar atas semua peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupan saya,” sambung pemenang penghargaan Australian Property Person of The Year 2015 ini.

Denpasar, Bali, merupakan lokasi historis dimana Iwan mendapatkan titik balik dalam kehidupannya. Dan itulah sebabnya mengapa Iwan memilih Bali sebagai lokasi peluncuran buku Without Borders.

Penulis buku, Teguh Sri Pambudi menjelaskan, Iwan Sunito adalah bukti bahwa paduan ketajaman intuitif, keluasan imajinasi dan kegigihan dalam roda kehidupan adalah sebuah formula yang tepat dalam mencapai sebuah tujuan. “Buku ini pada akhirnya menjadi kompas baru bagi saya untuk memahami makna dari kehidupan itu sendiri dan mendorong pemahaman bahwa kehidupan bukanlah sekadar kehidupan, namun bagian dari sesuatu yang lebih luas,” ungkap Teguh.

Buku Without Borders terdiri dari 15 bab yang dibagi menjadi beberapa fase perjalanan hidup Iwan Sunito yang dimulai dari titik awal hingga detik ini dan akan tersedia di semua gerai buku terkemuka di Indonesia mulai bulan Desember 2016 dan juga tersedia secara daring di Scoop dan Amazon. [pio]

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Ronny Wuisan, Host Property SMARTALK

"Carilah pekerjaan yang paling Anda cintai, karena jika Anda mencintai pekerjaan itu, maka sejujurnya Anda tidak perlu bekerja lagi. Anda akan melalui hari-hari Anda dengan sangat enteng tanpa terbebani oleh pekerjaan tersebut."

Saat ini saya masih membangun. Umur 44 tahun dan hampir memasuki masa senja. Anak-anak masih kecil dan istri saya bisa memaklumi, jadi itu adalah harga yang harus saya bayar. Never too late. Mari kita memulai apa yang harus kita lakukan. Dan memang harus ada pengorbanan.

Gaya bicaranya tegas, lugas, dan begitu bersemangat. Bahkan tak jarang dia harus menyampaikan pendapatnya itu sembari berdiri, meski tidak sedang mempresentasikan sebuah materi atau memberi motivasi. Talent sebagai public speaker terasa kental ada didirinya. Meski terbilang baru di jagad properti, namun kepiawaiannya berbicara dengan segudang pengetahuan yang telah dimilikinya, menjadi modal kuat menekuni pekerjaannya. Karir barunya kini berangkat dari kegalauan pria 44 tahun ini melihat sederet persoalan yang mengitari bisnis properti di tanah air.

Ronny adalah satu diantara beberapa pelaku bisnis properti yang akhirnya menemukan hasrat bisnisnya di bidang ini. Sebelumnya, Ronny yang lulusan Manajemen Perhotelan dari Les Roches International School, Swiss ini telah bekerja di beberapa Hotel di Eropa, semasa kuliah hingga tahun 1995 silam. Selanjutnya, sekira 15 tahun dia bergelut di beberapa perusahaan multinasional berbasis produk fast moving consumer goods (FMCG), seperti di Nestle Indonesia dan Danone Aqua Indonesia.

“Saya belajar manajemen perhotelan di kampus, tapi saya bisa memeroleh banyak pengetahuan di luar, seperti pengalaman di perusahaan saya bekerja,” kisah Ronny dalam percakapannya dengan Property and The City, medio Mei 2016 lalu.

Rupanya pria kelahiran Surabaya, 5 Mei 1972 ini sudah banyak belajar bagaimana membangun jaringan dan komunikasi, belajar menjadi penjual andal, hingga ilmu marketing di beberapa perusahaan yang dia singgahi. Bahkan kini dia tak sungkan membagi tips dan motivasinya kepada banyak orang, sebagai seorang entrepreneur dan konsultan properti.

Ubah Mindset

Properti adalah bisnis kepercayaan. Ronny mengingatkan, terutama para developer baru agar intens membangun kepercayaan kepada agen dan konsumen. Caranya, sebut Ronny adalah terlebih dahulu membangun strategi marketing ketimbang memikirkan penjualan produk. “Hanya marketing yang bisa membuat konsumen menentukan pilihan ke Anda. Karena di situ, Anda memberikan penjelasan pada sebuah pertanyaan yang paling fundamental pada saat konsumen harus mengambil sebuah keputusan. Kenapa konsumen harus membeli produk Anda. The reason why? Dan itu tidak bisa dilakukan seorang sales, hanya bisa dilakukan orang marketing,” jelas Ronny.

Marketing dan sales adalah dua dunia yang berbeda. Menurut Ronny, marketing adalah jantung dari sebuah perusahaan. Marketinglah yang akan memberikan perbedaan sebuah produk maupun proyek di mata konsumen. Sementara sales adalah prajurit yang siap mengeksekusi penjualan di lapangan. Dengan demikian, kesalahan sepenuhnya tidak berada di seorang sales ketika penjualan perusahaan sedang turun. Terbukti, banyak developer yang bertahun-tahun hanya mengandalkan sales, tetapi mandek juga.

“Saya seorang sales tetapi percaya dengan marketing. Sales adalah tentara, tapi marketing adalah jantung dari sebuah usaha. Makanya ubahlah cara pikir Anda, ubahlah paradigma Anda, ubahlah konsep manajemen Anda menjadi perusahaan marketing,” kata Ronny.

Ronny juga menyarankan agar para pekerja marketing harus bisa meninggalkan strategi lama yang hanya bermain di pusaran harga dan cara bayar. Meski tidak dipungkiri kedua hal tersebut tetap menjadi strategi menarik namun lebih mengedepankan keunikan sebuah produk maupun proyek yang akan ditawarkan. “Anda harus punya unique selling proposition (USP). Setiap produk pasti mempunyai USP. Bahkan Anda bisa membuat suatu perbedaan di suatu barang yang paling komoditas. Salah satunya adalah servis termasuk hingga after sales,” jelasnya.

Menurut dia, banyak developer yang masih mengandalkan feeling bahkan secara instan dalam menawarkan sebuah produk. Padahal butuh sebuah proses, terutama melalui riset dan penelitian pasar sebelum produk mulai ditawarkan ke khalayak. “Jadi tidak ada jalan pintas atau keajaiban di dunia marketing atau sales. Harus ada proses untuk dapat menjual suatu produk.”

Passion di Properti

Bagi Ronny, properti bukanlah dunia yang asing, meski dia baru benar-benar terjun dan bekerja di sebuah perusahaan properti nasional, pada Januari 2015 lalu. Sebelumnya, Ronny sudah cukup intens menjalin komunikasi dengan para pelaku dan broker properti, terutama dalam wadah Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI). Ronny yang juga Pengurus DPP AREBI tersebut pun pernah dipercaya sebagai Ketua Panitia Real Estate Summit 2015 lalu.

“AREBI ini adalah awal langkah saya masuk ke dunia properti. Dari situ akhirnya saya benar-benar terjun dan bekerja di perusahaan properti,” katanya. Sejak saat itu, Ronny pun menikmati pekerjaannya yang dibilangnya sebagai sebuah passion. “Di sinilah saya menemukan passion terbaru saya. Saya bisa memberikan kontribusi lebih dari pengalaman dan cara pandang yang saya bawah dengan cara metodologi consumer goods di dunia properti,” terang anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Menurut Ronny, antara dunia properti dan consumer goods memiliki beberapa kesamaan prinsip, dan cara kerja, terutama di bidang sales dan marketing. Meski demikian, diakuinya bahwa consumer goods jauh lebih maju dalam hal brand management, brand communication, public relations-nya. “Kalau kita lihat, produk consumer goods tersebar hingga ke berbagai pelosok Indonesia. Dengan demikian sehingga strategi komunikasi, manajemen, maupun implementasinya lebih masif. Sementara properti lebih bersifat lokal, sehingga komunikasinya pun lebih terbatas di suatu wilayah saja. Jarang sekali sebuah produk properti di Serpong kemudian komunikasinya sampai ke seluruh Indonesia.”

Kini, Ronny telah memutuskan untuk berkecimpung di dunia properti yang sudah sangat dicintainya. Dia bertekad untuk terus berkiprah membantu banyak orang, terutama para developer dan konsumen properti. “Jadi ini adalah, passionate. Saya sangat bersemangat bekerja di bidang ini,” tegasnya.

Panggilan Hati

Meski cukup nyaman menjalankan tugasnya sebagai Associate Director of Sales di sebuah perusahaan properti nasional, namun lagi, panggilan hatinya untuk kembali menjadi entrepreneur. Sekitar setahun terjun langsung dan menjalankan bisnis properti, dia pun beralih dan terlibat dalam sebuah rencana bisnis sebagai terobosan baru di bidang properti, memanfaatkan kemajuan teknologi saat ini. Namun lagi, niat besarnya untuk dapat membantu secara langsung para developer, broker, maupun konsumen, menggodanya kembali ke khittah.

Sejatinya pilihan entrepreneur sudah sejak lama diimpikannya. Selama 15 tahun bekerja sebagai karyawan dengan income yang relatif stabil menumbuhkan hasrat berwirausaha. Tahun 2010 lalu, Ronny pernah membangun dan menjalankan sebuah usahanya sendiri. Investasi besar pada bisnis barunya itu harapnya membawa keuntungan besar pula. Namun, coretan hitam di atas kertas rancangannya itu berbanding terbalik pada kenyataan di lapangan. Jauh panggang dari api, kenyataan tak sesuai dengan harapan. Niat Ronny menjadi seorang entrepreneur kala itu pun pupus, setelah lebih dari dua tahun menjalankan bisnisnya tersebut.

“15 tahun saya bekerja sebagai karyawan, dengan income yang stabil. Saya ingin menjadi entrepreneur. Saya bangun sebuah bisnis dengan investasi besar, tapi akhirnya semakin turun dan turun. Mengambil keputusan untuk menghentikannya itu berat sekali,” kisah Ronny.

Kegagalan itu memang pahit, tetapi bagi Ronny menjadi sebuah pengalaman berharga untuk bangkit dari keterpurukan tersebut. Ronny tak lantas berhenti mewujudkan ambisinya menjadi seorang entrepreneur. Bahkan dia tak segan mengumbar sosok Ir Ciputra sebagai tokoh inspiratif yang membangun kerajaan bisnisnya dari nol dengan penuh pengorbanan. Bagi dia, Ciputra adalah developer mapan yang sudah sangat berhasil membangun track record-nya dengan brand yang mendunia. “Kekuatan dari Ciputra Group adalah brand. Jadi aset paling mahal dari Ciputra Group, bukan di propertinya tapi the brand. Ciputra itu sudah seperti sekolahnya properti,” ucapnya bersemangat.

“Jadi memang harus ada pengorbanan, sebagaimana kalau kita lihat seorang CEO perusahaan besar, pengorbanannya pasti sangat luar biasa. Saya pun tentu punya rencana terhadap beberapa bisnis baru,” Ronny menambahkan.

Ronny memang ingin lebih mandiri, berdiri di atas kakinya sendiri, dengan caranya sendiri pula untuk mewujudkan niat mulianya itu. Menjadi entrepreneur bagi dia, tidak sebatas hanya mendirikan sebuah usaha dan menjalankannya. Lebih jauh, Ronny memandang bahwa entrepreneur adalah sebuah pilihan mulia untuk dapat membantu lebih banyak orang. Maka pilihannya kini pun terbilang jauh dari prediksi banyak orang. “Saya jalankan saja. Saya sudah putuskan menjadi misi saya untuk membantu sebanyak mungkin orang dengan pengetahuan, network, dan skill saya,” kata Ronny.

Ronny Wuisan, yang sebelumnya juga bergabung di perusahaan IT yang mengembangkan aplikasi properti PROJEK, memilih untuk menjadi host, pembawa acara di sebuah stasiun televisi swasta nasional bertajuk “Property Smart Talk” – acara diskusi bisnis properti yang menampilkan CEO dan pucuk pimpinan developer properti nasional. Acara yang tayang perdana pada Jumat, 3 Juni 2016 lalu ini menjadi pekerjaan baru yang digeluti oleh ayah dua anak ini. “Di sini diskusinya lebih smart, sharp dan intelektual. Jadi di acara ini kita bisa mengenal sebuah developer properti beserta pemimpinnya, apa yang sudah dikerjakan, juga produk-produknya,” jelas Ronny.

Ronny memandang bahwa saat ini banyak konsumen dan broker properti yang sudah semakin kritis, sehingga sebelum membeli, mereka ingin tahu siapa developer properti, siapa team utamanya, apa yang sudah dikerjakan, dan kenapa mereka bangun proyek tersebut. “Jadi pembeli dan broker ingin dapat Informasi yang lengkap. Saya buat acara talkshow dan semuanya dijawab di acara ini,” tegasnya.

Ronny berharap melalui acara yang dipandunya sekira satu jam itu bisa membantu para developer properti untuk melakukan komunikasi marketing dengan lebih smart, sharp dan intelektual dan juga affordable. Lebih dari itu, dia pun berharap agar melalui acara tersebut dapat pula membantu pasar properti nasional untuk bisa segera bangkit. “Pada akhirnya semua ini saya lakukan karena ingin bantu developer properti. Semoga properti nasional juga bisa segera bangkit dengan memberikan edukasi dan informasi yang tepat dan menarik,” kata Ronny mengakhiri obrolan. [pius klobor] 

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Ignatius Untung, Country General Manager Rumah123.com

 

“Pilot? Masinis? Wah kamu kok cita-citanya mau jadi sopir. Buat apa sekolah kalau mau jadi sopir?”

Sedikit menyindir, ucapan kakak sepupunya itupun terekam hingga terbawa dalam perenungannya. “Sopir? Iya juga ya? Nyetir pesawat atau kereta kan sama juga jadi sopir,” gumamnya.

Niat si bungsu menjadi pilot dan masinis pun kandas. Namun kemudian, pikirannya pun beralih pada sosok dokter yang sigap mengobati dan melayani pasien. Dan keinginannya itu pun kian menggebu ketika terbujur sakit. Hampir setiap hari bocah yang akrab disapa Untung ini bertemu dengan dokter yang setia melayaninya.

Namun lagi-lagi niatnya itu kandas ketika menginjakkan kakinya di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Dia lebih fokus pada kegemarannya bermain musik (band) ataupun menulis. Waktu luangnya diisi untuk bekerja di sebuah perusahaan periklanan sembari menjalankan hobi bermain band, bahkan hingga performance di beberapa acara kafe di Jakarta.

“Begitu lulus SMA saya bilang ke bapak saya mau kuliah ke musik. Sebenarnya bapak saya tidak setuju tapi dia tidak langsung melarang. Maka dia cuma bilang, boleh tapi kalau bisa kuliahnya dobel di perguruan tinggi lain yang lebih umum. Saya sanggupi,” kisah pria pemilik nama lengkap Ignatius Untung ini kepada Property and The City, beberapa waktu lalu.

Namun kali ini, Untung tak lagi beruntung. Selembar soal ujian tes masuk di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang berisi not balok benar-benar menjadi hambatan besar. Ya, pria kelahiran Jakarta 12 Mei 1979 ini sama sekali tidak bisa membaca notasi musik tersebut.

“Saya ke sini mau jadi pintar. Buat apa saya mendaftar kalau saya sudah bisa baca not balok ini?,” sedikit kesal dia melontarkan tanya itu pada petugas di loket pendaftaran. “Ya, standar kami sudah begitu. Kalau mau, silahkan ikuti saja dulu bimbingan tes masuk ISI,” jawab petugas itu lantang. Pupuslah sudah harapan Untung untuk mendalami musik di kota ‘gudeg’ itu.

Plan B, meski tak direncanakan sebelumnya, Untung mendaftar ke bidang advertising, kegiatan lain yang pernah di jalankan semasa di SMA. “Sebenarnya saya pernah mendaftar UMPTN ke beberapa universitas, Psikologi UGM dan Komunikasi UNPAD. Tapi keduanya tidak lulus, malah belakangan diterima di Advertising UGM. Akhirnya saya jalani,” ceritanya.

Paruh waktu Untung pun bekerja di sebuah perusahaan periklanan. Hingga akhirnya menjalankan magang di sebuah perusahaan periklanan yang saat itu berkantor di Pasar Baru, Jakarta Pusat. “Dan secara tidak sengaja saya menemukan bahwa ternyata kerja di periklanan itu keren,” katanya singkat.

Seakan menemukan passion-nya di bidang pekerjaan yang mengandalkan ide dan kreativitas ini, Untung pun start dari kesehariannya mencari gagasan dan memikirkan ide-ide cemerlang akan semua iklan yang hendak ditayangkan. Hingga akhirnya berbuah pada beberapa penghargaan yang diterima Untung bersama timnya, seperti iklan terbaik dari Citra Pariwara hingga iklan terbaik di tingkat Asia Pasifik, pernah mereka raih.

Meski begitu, Untung tak lantas happy lantaran iklan terbaiknya itu tidak berdampak pada peningkatan penjualan kliennya. Akhirnya dia memilih untuk pindah ke divisi strategic planning yang lebih fokus pada strategi pemasaran. Lagi, persoalan serupa terjadi. Untung pindah ke bagian klien sebagai ujung tombak yang akan membantu para klien memasarkan produknya tersebut. Di sini, Untung mendalami dan menemukan berbagai hal, baik tentang distribusi maupun penjualan.

“Setelah itu saya mulai ketagihan. Saya pikir memang mungkin saya harus bekerja di area dimana saya bisa menghasilkan ide dan bisa mewujudkan ide itu. Akhir tahun 2013 saya nekat keluar dari EF (English First) dan pindah ke blanja.com (JV eBay & Telkom), meski dengan gaji yang lebih kecil,” ungkap pemegang gelar MBA Marketing dari University of Liverpool ini.

Untung dipercayakan sebagai Head of Marketing & Merchandising yang bertanggung jawab untuk pemasaran, pengembangan merek, penjualan, hingga PR. Untung percaya bahwa di perusahaan barunya itu dia dapat mewujudkan apa yang diinginkannya. Apalagi di media online, semuanya dapat dikerjakan dalam waktu singkat. Untung pun jatuh cinta dengan media dot com tersebut.

“Jadi buat saya yang paling penting dari semua itu adalah kreativitas dan komitmen,” tegas bungsu dari lima bersaudara ini.

Nyemplung di Properti

Berusaha memang bukanlah sebuah pilihan, tapi keniscayaan sebagai manusia. Properti bagi Untung pun sebuah hal yang teramat jauh, pun dari benaknya. Bahkan dia tak begitu peduli akan keuntungan besar yang bisa didapatkan dari bisnis ini.

“Awalnya memang saya tidak pernah berpikir bahkan tidak mempedulikan tawaran keuntungan dari dunia properti ini. Namun belakangan saya baru menyadari ketika rumah pertama saya bisa terjual dengan keuntungan hingga 300 persen hanya dalam waktu 2,5 tahun,” ungkapnya. “Tuhan memang punya rencana lain,” ucapnya singkat.

Ceritanya, ketika itu proyek part time yang dikerjakan mendapat keuntungan besar. Untung bingung mau dikemanakan uang tersebut. “Saya orangnya nggak bisa nabung. Waktu itu saya sudah tinggal di apartemen 45 m2 di Kelapa Gading.

“Saya diskusi dengan istri dan keputusan kami beli rumah,” ceritanya. Waktu itu Untung lebih tertarik di daerah BSD bahkan sudah booking fee Rp5 juta untuk sebidang tanah kavling berukuran 156 m2. Namun niat membangun rumah pun urung dilaksanakan, lantaran sebagian tanah sudut itu harus disisakan sebagai GSB (Garis Sempadan Bangunan). Selain itu, atas saran temannya yang ahli feng shui bahwa lokasi yang tepat bagi Untung dan keluarga adalah di Kelapa Gading atau di Tebet.

Untung pun membeli sebuah rumah tua di Kelapa Gading, tahun 2009 lalu. Awalnya rumah tersebut dijual dengan harga Rp 525 juta, namun ditawar hingga Rp475 juta. “Saat itu saya punya uang Rp275 juta, langsung saya DP (uang muka -red). Sisanya saya ajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR),” ceritanya.

Namun karena keluarga membutuhkan uang, rumah yang sempat dikontrakan tersebut pun akhirnya terjual pada 2014 dengan harga mencapai Rp1,4 miliar. “Saya tanya ke orang sekitar, ternyata harga rumah sudah di atas Rp 1,2 miliar. Akhirnya saya jual rumah tersebut tahun 2014, setelah saya renovasi sedikit dengan biaya sekitar Rp 70 juta.”

Harga rumah melambung tinggi, sebut Untung dikarenakan kawasan yang menjadi langganan banjir tersebut sudah terbebas banjir setelah dibukanya BKT (Banjir Kanal Timur).

Sadar akan keuntungan besar tersebut, Untung pun membeli sebuah apartemen berukuran 105 m2 di Kelapa Gading. Pada akhirnya, kedua apartemen tersebut dijual kembali dan Untung memilih untuk membeli sebuah rumah tua di daerah Kampung Ambon, Rawasari, dimana masa kecilnya dihabiskan di situ. “Rumah orang tua saya juga di sekitar situ,” katanya.

Sadar atau tidak, proses yang telah dilalui itu ternyata punya pengaruh pada tawaran kerja selepas resign dari Kaskus Networks, 2015.

Meski menerima beberapa tawaran menarik dari perusahaan lain, pada akhirnya pilihan Untung jatuh pada Rumah123.com, Juli 2015 lalu. “Saya berpikir bahwa banyak hal menarik yang bisa saya lakukan di sini. Jadi memang nggak sengaja kecemplung di properti,” tegas Untung yang masih terobsesi untuk bekerja di Disney Company – media dan hiburan terbesar.

Hidup itu buat dinikmati jadi kalau kita bisa jalankan semuanya dengan happy maka itu sangat bagus sekali. Jadi kalau kita bikin orang jadi bahagia, itu buat saya adalah sebuah pekerjaan yang paling mahal,” tutupnya. [pius klobor]