User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

HENDRO S.GONDOKUSUMO
PRESIDENT DIRECTOR AND CEO PT INTILAND DEVELOPMENT TBK

HENDRO-S.GONDOKUSUMOTiap hari saya ke kantor karena saya masih Presdir dan CEO Intiland. Kalau tidak ke kantor nanti dicari sama orang kantor,” ujar Hendro S. Gondokusumo sambil tersenyum, yang mengisyaratkan betapa pendiri PT Intiland Development ini masih punya energi besar untuk beraktivitas setiap hari di kantor. Olah raga jalan pagi setiap hari paling tidak 1 jam, rupanya membuat pria kelahiran Malang, 6 September 1950, mampu menjaga kebugaran tubuhnya.
Apa yang bisa dipetik dari seorang Hendro, yang sudah puluhan tahun mengarungi bisnis properti bak kapal dengan tiang layar tinggi “Regatta”. Perjalanan hidupnya yang panjang tetapi merasa tidak pernah lebih hebat di depan anak-anak muda zaman now. Itu sebabnya, ia mau mendengarkan ide-ide kreatif yang muncul untuk membangun bisnis Intiland.  Ia bersyukur mayoritas yang bekerja di Intiland anak-anak muda yang bakal melanjutkan tongkat estafet kepemimpinannya.  Berikut petikan wawancaranya dengan Property and the City di Intiland Tower, Jakarta.
Apa yang Anda rasakan di tahun 2017 untuk bisnis properti  Intiland?
Pada waktu itu semuanya berharap dengan diberlakukannya tax amnesty harusnya keuangan mereka yang ikut tax amnesty lebih mantap dan lebih terbuka. Mungkin mereka jadi lebih mudah untuk membeli properti setelah ikut tax amnesty. Ternyata tidak semudah itu. Malah yang terjadi karena uangnya sudah bersih setelah ikut tax amnesty, mereka lebih hati-hati untuk membeli sesuatu. Sekarang lebih teliti lagi, melihat siapa pengembangnya, lokasinya dimana, feature dari properti yang akan dibeli seperti apa. Padahal, dulu ada uang dengan mudah beli properti. Bahkan, ada yang asal beli yang penting punya properti.  tetapi setelah tax amensty mereka jadi lebih hati-hati. Untuk proyek di Intiland sendiri tetap jalan tapi memang tidak secepat tahun-tahun sebelumnya. Jualan ada tapi tidak cepat, pelan-pelan.
Berarti ada yang meleset dari programt tax amnesty. Di sisi lain pemerintah juga mengeluarkan paket kebijakan tentang properti?
Menurut saya memang agak meleset. Watak orang kalau uangnya istilahnya belum bersih, malah lebih gampang untuk  membeli sesuatu. Tetapi kasarnya kalau sudah ikut tax amnesty, sudah diakui oleh pemerintah, akhirnya membeli sesuatu yang nilainya benar-benar ada. Di luar itu, saya mengharapkan ada beberapa perpajakan yang harusnya sudah hilang dengan diberlakukannya  tax amnesty. Salah satunya PPh 22 atas penjualan barang yang tergolong sangat mewah dengan harga Rp5 miliar. PPh 22 dibuat sebelum ada tax amnesty. Buat mereka yang ingin  membeli properti ini jadi suatu beban karena menjadi mahal. Mereka yang ingin membeli properti menengah ke atas, dari PPnBM kena 10 persen, kena tarif 20 untuk properti di harga jual sebesar Rp20 miliar. Berarti sudah kena 30 persen. kemudian ditambah lagi ada 5 persen, PPh 2,5 persen,  BPHTB 5 persen. total ada 42,5 persen. kita dapat uang Rp100 ribu, yang 42,5 persennya untuk pemerintah.  Jadi PPh 22 harusnya sudah dihilangkan. Tidak ada orang yang mau membangun rumah mewah, kalaupun ada hanya beberapa developer saja. Sementara yang beli juga terbatas dan mereka juga tidak rela dikenai tambahan 20 persen. Sedangkan kalau beli rumah seken. Misalnya, di kawasan Menteng dengan harga Rp 100 miliar tidak kena PPnBM, tetapi beli dari pengembang kena PPnBM,  ini kan lucu.
Kenapa saya ingin PPnBM dihilangkan. Pertama, kalau PPnBM dihapus, pengembang bisa menjual lebih banyak. Masyarakat pun yang butuh properti hunian bisa beli. Tetapi kalau masyarakat tidak bisa beli karena beban pajak, akhirnya masyarakat membeli tanah. Satu orang bisa membeli satu sampai dua hektar lahan. Sementara lahan kosong makin lama makin terbatas. Lebih baik tanah itu digunakan untuk yang lain. Kita buatkan apartemen mewah. Masyarakat ingin membeli apartemen, dan kita harus terima kasih kepada mereka. Menurut saya harusnya ke  arah sana. Sekarang karena ada PPnBM yang 20 persen, klaster dengan rumah Rp10 miliar ke atas jarang pengembang yang mau bangun. Sementara kalau ini dihilangkan, masyarakat bisa membeli properti yang harganya Rp20 miliar ke atas.
Kenapa pemerintah sulit menghapus beban pajak untuk pembeli properti?
Saya tidak tahu, cuma di Indonesia yang ada PPnBM, di seluruh dunia tidak ada. Kita terus minta kepada Dirjen Pajak agar PPnBM dipertimbangkan untuk dihapus. Padahal kalau ini dihapus orang akan tertarik untuk membeli properti seperti apartemen yang unitnya mahal. Pengembang bisa terus menjual. Apalagi pengembang menghidupkan banyak orang, ada karyawan sendiri, karyawan kontraktor.
Padahal Presiden Jokowi sangat memberi perhatian pada masalah properti?
Mungkin belum nyambung antara presiden dengan para pembantunya soal kebijakan.  
Apa yang bisa dikritisi?
Saya kira jalannya sudah benar, hanya juklaknya harus segera dibuat. Kalau ada juklak yang salah harus segera diubah. Kalau masalah juklak dan aturan-aturan bisa diinfokan ke kadin, REI, apersi. Ini yang kalau bidang properti.  
Mungkin soal juklak di kementerian yang tidak keluar?
Kalau masalah perpajakan di dirjen pajak, Kadang-kadang isu perpajakan tidak diutarakan, ini isu yang very sensitive. Sebetulnya setelah tax amnesty yang saya harapkan tax bukan jadi polisi lagi. Jadi, kalau tadinya tax menganggap pengusaha sebagai maling, dan dia jadi polisi. Sekarang harus dianggap lebih ke arah konsultan pengusaha dan sebagai teman.
Harusnya pegawai pajak menganggap pengusaha sebagai teman?
Harusnya, kalau jadi teman kita bisa tanya atau konsultasi. Misalnya, mereka tanya berapa Intiland akan bayar pajak tahun ini. Tetapi yang terjadi kadang-kadang kita diberi surat yang menurut saya berlebihan. Seperti orang yang ketakutan. Kalau seperti ini, pengusaha malah tambah was-was. Tetapi kalau kita dianggap sebagai teman, datang ke sini tanya,  “Pak Hendro kira-kira berapa pajak yang bisa diberikan Intiland?” Karena kita teman kita bisa berikan informasi. Tetapi kalau datang saja sudah mengancam-ancam, nanti dulu.
Mungkin dirjen pajak mendapat tekanan untuk menggenjot pajak?
Saya tidak tahu, tetapi kalau cara seperti ini dipakai untuk pengusaha, rasanya tidak masuk. Dengan pengusaha kalau kita dipercaya, apa saja akan dikasih. Kalau perlu “kepala” dikasih. Misalnya, mereka datang ke kita dan mengatakan, “kalau ada masalah beritahun saya (petugas pajak-red), daripada nanti kena denda, saya siap bantu”. Cara seperti Ini enak. Jadi, seperti konsultan. Tetapi kalau mereka datang langsung bicara denda segala macam, nanti dulu. Kita harus akui pengusaha yang nakal ada, pegawai pajak yang nakal juga ada.
Ada pengaruh soal perpajakan di penjualan Intiland di 2017?
Terlalu besar tidak karena kita masih ada sisa-sisa penjualan tahun sebelumnya. Selain itu, proyek-proyek  Intiland jalan terus. Jadi, terlalu besar juga tidak tetapi kita merasakan ada suatu keanehan yang tadinya kita pikir adanya tax amnesty orang jadi berani membeli properti. Sekarang orangnya pada kemana semua. Ternyata mereka lebih teliti dan lebih canggih karena merasa uangnya sudah aman, tidak perlu asal beli properti. Tax amnesty bagus, hanya memang perlu waktu untuk mereka. Para pengembang harus pintar-pintar juga membangun produknya karena pembelinya tambah pintar.  
Bagaimana dengan tahun 2018 apakah masih sama dengan 2017?
Kalau saya bicara dengan teman-teman, semua menganggap tahun 2018 akan lebih aktif karena akan ada pilkada. Sebetulnya pilkada ada dua sisi, kadang-kadang orang takut membeli properti. Tetapi karena uang yang dipegangnya banyak, mereka bisa membeli juga. Sekarang uang yang beredar banyak. Siapa pun yang akan menjadi presiden, apa kita akan pindah dari Indonesia. Tidak juga, kita tetap di sini. Jadi. kita melihatnya lebih bagus di 2018,  dan market lebih aktif.
Apa yang membuat Anda yakin 2018 akan lebih aktif?
Saya lihat di luar negeri, seperti di Amerika Serikat sudah bagus. China sudah mulai bagus, untuk di Eropa saya belum melihat lebih jelas. Yang jelas ada satu event, seperti Asean Games.  Pak Jokowi ini pintar, dia mengambil moment Asean Games.  Ingin mendapatkan multi efeknya, ada uang masuk membeli barang dan efeknya berjalan. Di China setiap kali ada event internasional, ekonominya melonjak. Kita memng belum seperti di China. China sudah membuat Asean Games kemudian membuat olympiade. Ekonominya langsung ikut naik.
Apa yang bisa ditiru dari China?
Di China infrastruktur sedang berkembang. Presiden Jokowi menggenjot infrastruktur, itu benar.  Walaupun banyak orang memberikan komentar, kenapa infrastruktur tidak di Pulau Jawa yang sudah padat, tetapi malah membangun infrastruktur di daerah-daerah  yang orangnya belum banyak. China dulu ketika mulai banyak membangun infrastruktur juga begitu. Saya pernah di tahun 80-an, pergi ke Kota Shantung.  Saya minta diantar ke daerah industrial estate. Taksi berjalan di jalan yang bagus dua jalur kira-kira 20 km. Saya lihat kiri-kanan  tidak ada apa-apa, masih kosong. Saya tanya, mana industrial estatenya, di jawab oleh mereka nanti di sepanjang jalan ini akan berdiri industrial estate.  
Jadi, sesuatu yang belum apa-apa direncanakan dengan baik, itu yang benar. Kalau sudah padat kemudian baru dibangun malah jadi susah.  Dengan membangun jalan yang bagus di Papua, Kalimantan mungkin orang dari Jawa bisa ke sana membuka usaha, jadi tidak numpuk di Jawa. Jadi, harus seperti itu. Ini juga pemerataan karena infrastruktur di luar pulau Jawa sudah ada.
Dengan infrastruktur sudah terbangun, properti harusnya akan ikut terdongkrak?
Saya bicara sebagai orang properti, saya lihat negara seperti Indonesia,China yang jumlah penduduknya banyak, propertinya ikut maju.  Hanya tiga yang bisa sampai ke daerah-daerah, yaitu infrastruktur yang bisa kebagian kerja. Kedua, properti, karena di desa-desa juga perlu rumah dan pariwisata. Jalan yang dilakukan sudah benar, menuju ke sana. Kalau industri, saya punya pabrik di satu tempat dengan karyawan 200 ribu orang, tetapi hanya di satu wilayah saja. Sementara kalau infrastruktur tenaga kerjanya bisa kita butuhkan dari mana saja.
Apakah Intiland ada masuk ke rumah subsidi?
Kita akan usahakan kerjasama dengan pengembang daerah. Salah satunya sudah jalan di Pacitan. Kita akan terus kerjasama dengan mereka. Kebetulan saya duduk di Kadin bidang properti.  Salah satu tugas saya adalah mensukseskan program 1 juta rumah.  
Artinya, komitmen pengembang besar membangun rumah subsidi ada?
Ada, kita sedang bicara supaya kita kerjasama saja dengan pengembang lokal. Kalau kita bangun sendiri lebih banyak ruginya, tetapi kalau kita bisa kerjasama dengan pengembang lokal mereka lebih tahu, cost-nya lebih hemat, hasilnya bisa lebih bagus. Saya anjurkan kepada developer-developer besar yang di bawah Kadin untuk melakukan itu, kerjasama dengan pengembang lokal.
Apalagi sekarang mencari tanah makin susah?
Memang buat yang kecil (pengembang-red) tambah lama tambah susah. Yang besar juga karena kebutuhannya banyak. Maka yang diharapkan teman-teman dari Kadin, BUMN jangan mengambil porsi-porsi yang bisa dikerjakan oleh swasta. BUMN bisa masuk, misalnya, membangun 1 juta rumah. Untuk yang menengah ke atas serahkan saja ke swasta. Biar swasta yang lebih aktif.  Untuk yang susah-susah seperti rumah subsidi, biarlah diserahkan ke BUMN. Ini bank BUMN juga merasa lebih save kalau memberikan pinjaman ke BUMN juga. Akhirnya swasta tidak kebagian.
Kalau kontraktor BUMN masuk membangun jalan tol tidak masalah. Tetapi nanti setelah jalan tolnya untung dijual kepada swasta. Dijual untung bukan dijual rugi. Nanti BUMN dapat uang dari hasil penjualan jalan tol, yang kemudian bisa digunakan untuk membangun lagi. Karena swasta kadang-kadang tidak mampu untuk membebaskan lahan. Sementara BUMN lebih mampu dan nafasnya lebih panjang. Harusnya larinya ke sana. Kemudian di go public-kan, ini untung. Sekarang yang dibangun dan untung dipegang terus. Ini salah, harusnya yang sudah untung dijual kepada swasta. Kadin sudah mengusulkan kepada pemerintah. Kalau tidak, lama-lama swasta jadi penonton saja.
Seberapa kuat brand Intiland di masyarakat. Artinya, ketika ada proyek baru Intiland masyarakat langsung ingat?
Terakhir-terakhir ini banyak konsumen membeli produk kita karena merasa produk kita ada jaminannya. Ada pembeli yang melihat produk Intiland dan merasa kurang bagus, akan mengatakan ini bukan kualitas Intiland. Otomatis konsumen akan bicara, kita langsung perbaiki. semua ini butuh perjalanan yang panjang. Di setiap meeting saya selalu tekankan kualitas, kualitas, dan kualitas. Walaupun membangun rumah murah, bukan berarti rumah murah boleh bocor. Murah dan mahal itu bedanya hanya di finishing-nya. Justru rumah murah mereka tidak punya uang untuk perbaikan. Kalau rumah mahal mereka bisa memperbaiki. Intiland sangat memperhatikan kualitas.  Saya bangga, built up ini dari semua tim, tidak bisa cuma Pak Hendro bicara yang paling bagus. Semuanya harus kerja dengan keras, lantas pembeli yang menilai.
Kalau tahun 1972 dihitung sebagai awal dibangunnya Intiland. Apakah pencapaian Intiland saat ini seperti yang dibayangkan 46 tahun lalu?
Kita kalau memulai sesuatu selalu ingin nantinya berkembang dengan baik. Terakhir-terakhir ini Intiland berkembang sangat baik. Kenapa ? karena saya punya anak-anak muda yang bekerja giat untuk membangun perusahaan. Sekarang yang paling penting bagaimana team work anak-anak bekerja dengan baik.
Bagaimana Anda menularkan semangat kepada seluruh karyawan Intiland untuk tetap semangat bekerja?
Intiland bagi kami lebih banyak kekeluargaan. Ada dua manajemen yaitu by conflict dan by keluarga. Saya paling suka menejemen kekeluargaan. Walaupun masing-masing punya tanggung jawabnya. Ini yang tidak boleh dilanggar. Manajemen keluarga adalah kultur di Intiland. Dari mulai dari atas sampai bawah boleh bicara, boleh bertanya. Saya bisa bicara langsung dengan anak buah dari seorang manager. Sementara di tempat lain mungkin ada pimpinan yang bicara harus lewat jenjangnya.
Manajemen keluarga apakah karena mengikuti budaya timur?
Ada pimpinan yang  ingin ada konflik di pegawainya supaya tahu mana yang benar. Kalau saya ingin semuanya menjadi pintar. Saya ingin semuanya bisa membantu, dan kalau berbuat baik, akhirnya untuk perusahaan. Kalau yang by conflict memang sengaja agar ada ketegangan. Saya lihat di bidang usaha lain juga sama, tapi lebih spesial lagi di properti. Team work itu sangat penting. Tanpa team work yang bagus, perusahaan tidak bisa bekerja dengan baik. Di properti tidak ada yang paling menonjol. Dari sana saya melihat, kekeluargaan itu sangat penting.
Mungkin manajemen keluarga itu  yang membuat orang-orang betah di Intiland?
mungkin itu, ada beberapa orang yang lapor ke HRD kalau di Intiland berbeda dibandingkan di tempat lain. Dari orang  tua saya  juga melihat tidak suka dengan konflik. Dalam perjalanan hidup saya, saya melihat ini yang paling cocok di satu perusahaan.
Intiland adalah perusahaan pertama yang melakukan reklamasi pantai, dan sukses. Saat ini reklamasi menimbulkan pro-kontra, apakah ada perbedaan dulu dan sekarang?
Di tahun 80-an waktu itu di Asia tenggara belum ada pengembang yang membangun rumah di atas reklamasi. Reklamasi untuk  pembangunan airport dan pelabuhan sudah banyak. Tetapi reklamasi untuk perumahan belum ada. Tetangga kita Singapura saja belum ada reklamasi. Intiland yang pertama membuat reklamasi.  Awalnya saya melihat dulu sepanjang pantai Pluit semuanya dipagar oleh pihak developer. Kenapa pantai dipagari, rupanya dulu ada ketakutan bajak laut masuk dari laut. Sekarang kita sudah menjadi negara merdeka. Apa yang ditakutkan, laut menjadi wilayah sendiri. Saya lihat di luar negeri, seperti di Australia justru yang menghadap ke laut yang paling mahal. Semua orang ingin terbuka melihat ke laut. Jadi, kalau kita tutup lagi, sudah tidak benar. Intiland yang menjadi pelopor untuk tidak memakai pagar di pantai.
Waktu saya dapat tanah di Pluit, kita survey dan lihat. Yang saya lihat daerah Pluit itu sudah berkembang. Ada satu kebiasaan dari orang, kalau sudah  tinggal di wilayah selatan disuruh pindah ke utara tidak mau. Mereka mengatakan bisa pindah sendiri. Tapi teman yang biasa jalan kaki kalau pagi tidak semuanya bisa pindah. Dari sana saya putuskan bahwa di pantai mutiara kita buat model kanal agar orang bisa jalan kaki. Inilah konsep pantai mutiara dibuat terbuka. Tapi belakangan pemerintah malah menyetujui untuk di tutup di beberapa bagian. Tapi masih banyak yang  terbuka.
Reklamasi  suatu masalah yang tersendiri. Bangun rumah paling gampang. Tetapi reklamasi paling susah. Masalahnya banyak sekali. Kita kerjasama dengan universitas di Singapura untuk membuat konsep (reklamasi-red) karena tanah di Pantai Mutiara banyak lumpurnya. Selain itu kita juga harus meyakinkan LSM-LSM di sekitar kita. Dulu juga ada LSM tetapi tidak sebanyak sekarang. Dulu LSM belum kritis mungkin karena reklamasi masih baru. Tetapi sekarang banyak LSM yang mendukung kita.
Kenapa sekarang reklamasi menimbulkan polemik ?
Saya juga tidak tahu, Mungkin karena reklamasi mendadak menjadi banyak, sehingga orang jadi khawatir. Bisa juga karena tidak mendapatkan penjelasan yang benar. Intiland memang tidak membuat pulau tetapi menambah pantai. Maka kita namakan pantai bukan nama pulau karena nyambung dengan daratan. Kita masih ada 62 hektar yang nanti menyambung dengan daratan. Memang saat ini sedang ramai, kita tunggu saja. Sebetulnya ada beberapa LSM yang mendukung kita bahwa apa yang dilakukan Intiland bagus.
Apakah reklamasi Pantai Mutiara menjadi tonggak keberhasilan Intiland atau survive ketika melewati masa krisis terburuk ekonomi Indonesia tahun 1998 yang menjadi tonggak keberhasilan Intiland ?
Saya kira tahun 1998, ini betul-betul menjadi tonggak. Kondisi waktu itu sulit, tetapi tim kami tetap solid. Sebetulnya yang paling kasihan ada di level bawah karena waktu itu mencari pekerjaan susah. Kalau di bagian atas, mau mencari pekerjaan lebih mudah. Tetapi tim kita tidak ada yang keluar, tetap di dalam. Walaupun gaji mereka harus dipotong. Akhirnya kita mencari aktivitas lain, seperti Theresia (sekretaris perusahaan - red) membuat Day Care. Ada yang berkebun menanam jagung di lahan kita. Semua melakukan aktivitas.
Saya bicara kepada mereka, Saya tidak bisa memberi kepada kalian, kalau kalian dapat pekejaan yang lebih bagus go head, tetapi kalau tidak kita sama-sama saja. Pilihannya kita cut orang atau salary kita potong. Yang bisa dipotong yang bagian atas. Yang bawah tidak bisa dipotong lagi karena hidupnya saja sudah pas-pasan. Walaupun demikian  kalau lebaran kita masih bisa memberikan bingkisan. Dari sana kebersamaan kelihatan.
Bagaimana ketika itu meyakinkan mereka agar mau bertahan di Intiland ?
Tapi buktinya mereka mau  bertahan, mereka merasa perusahaan memang sedang susah. Ada salah satu direksi yang kebetulan ayahnya dengan ipar saya teman baik. Ayahnya mengatakan keluar saja dari Intiland, sudah saya carikan tempat di Citibank. Dia malah mengatakan, bos sedang susah kok malah kita keluar. Jadi kembali lagi kebersamaan. Orang-orang yang bersama ketika  masa-masa sulit sampai sekarang masih bertahan.
Dalam bayangan Bapak akan dibawa kemana Intiland ?
Kita bukan yang paling besar, tetapi yang saya harapkan Intiland itu harus berbeda dari orang lain, harus berguna untuk masyarakat umum, seperti saya membangun gedung ini. Kalau orang melihat gedung ini, dia akan tahu ada di Jakarta. Sampai sekarang sudah berapa universitas yang studi ke gedung Intiland. Sekali datang mahasiswa bisa sampai 40 orang. Saya senang seperti ini. Arsitek Paul Rudolph, dia seperti dewanya arsitek.  Dia waktu datang, saya minta dia keliling universitas untuk memberi kuliah umum. ITB dan Universitas Parahyangan berebut untuk menjadi tempat kuliah umum. Akhirnya kita cari tempat yang netral. Jadi, saya ingin produk-produk Intiland tidak hanya dilihat oleh orang, tapi juga ada gunanya bagi masyarakat. Kita punya tim untuk merancang proyek-proyek Intiland. Kalau saya lihat oke, silakan jalan.
Siapa generasi berikutnya yang akan memegang kendali Intiland ?
Persiapan sudah ada sekarang sudah banyak anak-anak muda, salah satunya anak saya. Proyek-proyek yang baru sekarang mereka yang tangani. Kadang-kadang ingin pensiun, tapi belum boleh pensiun, hahaha . . .
Terhadap mereka apabila ada masalah disuruh memecahkan sendiri atau Anda ikut membantu ?
Saya tidak pernah mendikte mereka atau harus mengikuti saya. Saya lebih ingin mereka berkembang karena saya sendiri tahu kalau di bisnis, satu tambah satu bisa tidak menjadi dua,  bisa jadi lima atau malah minus.  Mungkin saya tidak bisa, tetapi belum tentu anak-anak muda itu tidak bisa. Pikiran saya very simple begitu saja. Jadi, saya tidak pernah memerintahkan anak buah saya, kamu harus ikutin saya. Saya tidak pernah bicara ke anak saya, harus ikut saya. Papa sudah 40 tahun, apa kata Papa, kamu ikut. Saya tidak pernah bicara seperti itu. Kalau saya bicara seperti itu, mungkin anak saya akan mengatakan, “Papa teruskan saja bisnis ini, saya kerja yang lain”.
Kepada anak muda siapapun kalau berani memberikan suatu usulan yang bagus, kita harus tangani. Saya mungkin tidak bisa, tapi bukan berarti anak-anak muda ini tidak bisa. Mungkin karena saya suka dengan bangunan baru, jadi bisa kumpul dengan anak muda, anak zaman now. Ini jiwa saya.  Di Intiland  mayoritas anak muda. Mungkin ada 80 persen lebih, dan mereka very happy dengan konsep-konsep yang ditawarkan. ●

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Endang Kumalasari (setelan kuning), usai memberi kesaksian dalam acara peluncuran buku, “Rahasia Sukses Anak Tukang Bajaj Jadi Miliarder”

 

Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti kelak masa depannya akan seperti apa. Apakah dia akan sukses meraih impiannya atau malah sebaliknya. Dan peluang ini, bisa diraih oleh siapapun. Terlepas dia anak gedongan, berpendidikan tinggi atau justru dari kalangan tak mampu.

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

MARYONO DIREKTUR UTAMA  PT BANK TABUNGAN NEGARA (Persero) Tbk.

Dipercaya kembali memimpin PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. di periode kedua, membuktikan kemampuan Maryono mengelola Bank BTN sebagai bank pembiayaan perumahan. Salah satu indikatornya yakni saat di periode pertama, Maryono mampu meningkatkan aset Bank BTN dari peringkat ke-10 pada awal kepemimpinannya menjadi peringkat ke-6 per Juni 2017. Ini menambah keyakinan Maryono dengan visi Bank BTN harus menjadi bank pembiayaan perumahan yang terdepan dan memberikan pelayanan dengan level world class service.
Bagi bankir professional, pernah memegang berbagai bank bisa menjadi pengalaman yang berharga. Tantangan di setiap bank pasti ada. Tetapi pria kelahiran 62 tahun silam ini selalu mampu membawa bank-bank yang dipimpinnya, seperti ketika menjadi Direktur Utama Bank Mutiara. Kepiawaiannya memimpin bank yang terekam dalam jejak karir Maryono pun berlanjut di Bank BTN. Tidak heran bila jebolan Sarjana Ekonomi, Universitas Diponegoro, Semarang, ini dipercaya untuk kembali menjadi nakhoda Bank BTN. Apa yang akan dilakukan Maryono di periode kedua memimpin Bank BTN, berikut petikan wawancaranya dengan Property and the City di ruang kerjanya.
Terpilihnya kembali sebagai Direktur Utama Bank BTN bisa dinilai karena berhasil di periode pertama. Kebijakan apa di periode pertama yang dianggap berhasil ?

Pertama, ini sebagai amanah.  Kedua, sebagai kepercayaan dari owner dalam hal ini shareholder kepada kami. Ketiga, mungkin melihat dari hasil kinerja, apa yang kami hasilkan selama satu periode yaitu, menaikkan aset BTN. Pada waktu saya pertama masuk ke BTN, aset BTN di ranking 10 secara nasional perbankan. Sekarang sudah masuk ranking 6. Saya kira ini suatu lompatan. Dalam 4 tahun belakangan ini menunjukkan pertumbuhan baik dari kredit maupun laba. Padahal, dalam situasi (ekonomo-red) yang sangat tidak bersahabat. Kita bisa lihat ekonomi global.
Tetapi kita bisa mempertahankan pertumbuhan secara sistem dan peningkatannya jauh di atas pertumbuhan rata-rata industri perbankan. BTN  juga bisa menurunkan kualitas NPL yang semakin hari semakin menurun. Ini mungkin yang dilihat sebagai salah satu kinerja keuangan kita. Di samping itu ada perbaikan-perbaikan dari sisi kualitas, seperti kualitas dari risk management, good corporate governance, dan complaint dari masyarakat. Ini semua menunjukkan suatu perbaikan.
Sampai kita mendapatkan penghargaan dari Asia Scorecard, bahwa BTN mempunyai suatu most improvement di tingkat regional di dalam implementasi  good corporate governance. Ini suatu kebanggaan, BTN yang mungkin sebelumnya dikatakan sebagai bank yang perlu perbaikan-perbaikan. Termasuk mendapatkan ARA 2015 yaitu suatu penilaian report financial yang bergengsi dimata perusahaan-perusahaan di Indonesia, khususnya di perusahaan yang go public. Kita mendapatkan award untuk juara 1. Mungkin ini juga termasuk yang dilihat kinerja kita oleh shareholder. Ketika menjadi dirut Bank BTN di periode pertama, problem terbesar apa yang dihadapi ?
Ada beberapa problem yang saya hadapi, yaitu menyangkut NPL (non performing loan-red), masalah bisnis proses, dan masalah SDM. Secara pelan-pelan selama periode pertama saya perbaiki NPL. Artinya, sudah kita turunkan. Kemudian bisnis proses sudah kita perbaiki, misalnya, yang sangat signifikan setiap keputusan approval kredit sekarang menganut prinsip di dalam risk management. Ini yang paling utama.
Untuk SDM secara rutin kita lakukan perbaikan, misalnya, dengan melakukan training untuk meningkatkan skill, meningkatan sales. Selain itu, kita juga melakukan penilaian karyawan dengan berbasis kinerja. Menggunakan remunerasi yang berdasarkan basis kinerja. Kita juga  memberikan reward and punisment. Inilah yang membuat SDM kita makin baik. Apalagi kita sudah melakukan perubahan budaya kerja.
Seperti apa perubahan budaya kerja di Bank BTN ?
Dulu memang sudah punya budaya kerja, kemudian kita lakukan perbaikan. Budaya kerja ini kita ambil dari budaya-budaya kerja yang sudah ada di BTN,  Kemudian kita kolaborasi dan susun. Yang terbaru juga  berasal dari orang-orang BTN. Sehingga muncul suatu rangkuman budaya kerja yang disebut SIIPS, yang bisa diartikan sebagai sinergi, inovasi, inisiatif, profesional dan straight excellent.
Apa yang akan ditingkatkan di periode kedua memimpin BTN?
Kita kembangkan BTN menjadi lebih besar, ingin BTN asetnya masuk lima besar. Visinya tetap menjadi bank pembiayaan perumahan terkemuka.  
Ada kesan di masyarakat dalam soal kecepatan pelayanan bank pemerintah lebih lambat dibandingkan dengan bank swasta. Apa seperti itu?
Mungkin masyarakat banyak yang belum tahu, Presiden Joko Widodo punya keinginan agar BUMN menjadi tiang negara di dalam menggerakan roda perekonomian. Disamping itu, bagaimana BUMN tidak hanya menggerakkan bisnis tetapi bisa meratakan perekonomian yang ada di Indonesia. Dengan memberikan konsentrasi kepada rakyat kecil. Kesannya BUMN ini disetarakan dengan birokasi yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Padahal, BUMN sekarang berbeda jauh.
BUMN sekarang berbasis pada kinerja.  Semua proses bisnis kita perbaiki dengan suatu  proses yang betul-betul mengacu kepada bisnis murni. Yang membedakannya adalah shareholder dari BUMN adalah pemerintah. Artinya, BUMN tidak semata-mata hanya mengambil keuntungan, tetapi juga berbakti kepada bangsa dan negara. Istilahnya BUMN hadir untuk negeri.  
Sebagai pimpinan BTN, apa keluhan yang bapak tangkap dari konsumen?
Konsentrasi BTN memang di pembiayaan perumahan, bank hanya memberikan pembiayaan baik dari sisi supply maupun demand. Tetapi bukan semata-mata menyangkut perumahan kemudian menjadikan semua kewenangan ada di bank. Kewenangan itu, misalnya, masalah perizinan, developer, konsumen yang terkait dengan pihak lain. Yang paling banyak terjadi adalah masalah sertifikat. Sertifikat ini banyak menjadi complaint dari konsumen. Untuk itu, kita akan mengadakan kerjasama dengan menteri BPN atau ATR, misalnya, kalau KPR subsidi bisa diberikan kemudahan, yaitu kalau sudah lunas bisa langsung  diberikan sertifikat.  Sehingga bisa memberikan kepastian hukum dan keamanan dari end user. Tetapi bukan berarti kita menyalahkan kementerian (BPN-red). Dari awal kita mengutamakan bagaimana sertifikat ini sebagai dasar utama untuk pencairan kredit. Ini yang akan kita perbaiki.
Bagaimana dengan kecepatan proses pengajuan KPR di BTN,  apakah tidak ada keluhan di masyarakat?
Memang ada, ini dari sisi pelayanan dalam proses pengajuan KPR. Saya sudah melakukan perbaikan-perbaikan. Saya minta agar proses ini menggunakan elektronik yaitu menggunakan e-loan. Di samping itu kita juga memberikan fasilitas kemudahan berupa portal porperti. Para pemohon bisa melakukan proses pengajuan KPR melalui portal. Sehingga bisa men-down load 24 jam. Tetapi bukan berarti kita melakukan approval di tengah malam.
Banyak pelayanan-pelayanan yang sudah kita perbaiki. Termasuk proses reguler yang  disebut 1:5:1, artinya satu permohonan bisa diproses dalam waktu 5 hari keja dan proses pencairannya dalam waktu satu hari. Tetapi ini juga banyak complaint dari konsumen, seperti sudah 2 minggu mengajukan belum juga diputus. Saya dengar ini, tidak ada masalah. Mungkin perlu kita jelaskan kalau kita komitmen dengan 1:5:1, artinya dokumennya lengkap sesuai dengan standar bank.
Selama standar bank belum terpenuhi, kami tidak bisa memroses, karena bank harus taat asas, taat pada ketentuan-ketentuan regulator. Misalnya, kita perlu konfirmasi dari Bank Indonesia, apakah debitur ini lancar atau tidak. Ini perlu sebagai syarat awal yang harus dipenuhi. Jadi, jangan semua kelambatan disalahkan kepada bank karena kita bekerja saling terkait. Ini yang perlu diketahui masyarakat. Tetapi bank tetap akan memberikan penjelasan dan sosialisasi. Apapun kita akan memberikan pelayanan yang terbaik.
Kalau semua persyaratan sudah terpenuhi tetapi belum juga selesai, tentu akan kami tegur staf kami. Kita akan tegas kalau kita punya staf atau anak buah yang tidak bisa memberikan pelayanan yang terbaik. Saya istilahkan di non-jobkan.
Apakah di periode kedua ini akan mengambil kebijakan yang sama seperti periode pertama?
Kita tidak ingin BTN hanya sebagai bank. Kita mempunyai satu visi bahwa BTN harus menjadi bank pembiayaan perumahan yang terdepan dengan memberikan suatu pelayanan yang levelnya world class service. Sebetulnya saat ini kita sedang melakukan transformasi yang akan berakhir di tahun 2022, dan bisa dilanjutkan pada periode berikutnya. Sekarang kita konsentrasi bagaimana BTN bisa masuk sebagai bank yang produk-produknya digital banking. Digital banking yang selama ini ada dari sisi transaksi pembayaran dan pelayanan. Kita tidak ingin sebatas ini. Akan lebih luas lagi memberikan layanan semua transaksi baik dengan nasabah maupun dengan mitra menggunakan elektronik.
Untuk sampai ke sana butuh SDM yang kuat. Bagaimana dengan SDM di  BTN?  
Ya, SDM sangat penting. Alhamdulillah, SDM sudah kita siapkan 3-4 tahun ini kita mulai melakukan recruitment. Sehingga komposisi karyawan kita hampir 60 persen generasi muda. Dengan generasi muda ini kita perbaiki dan tingkatkan skill mereka. Baik dalam profesionalisme, sales skill, risk management skill.  Ini semua kita lakukan. Kedua, kita akan perbaiki dengan membuat SDM bisa lebih sejahtera, jenjang karirnya, remunerasinya. Ini yang akan kita lakukan ke sana.
Saat ini sudah berjalan?
Sudah.  Permasalahan dan langkah-langkah yang harus kita lakukan mulai dari soal SDM, IT sudah kita perbaiki. Kita sekarang sudah punya produk-produk digital banking. Baik internet banking, sms banking, portal properti. semuanya merupakan proses untuk menuju digital banking.
Apakah setiap kebijakan pemerintah terhadap pembiayaan perumahan, BTN yang paling merasakan imbasnya?
Bisnis BTN adalah perumahan yang merupakan salah satu program Presiden Joko Widodo yaitu bagian dari Nawa Cita, seperti mempercepat program 1 juta rumah. Pemerintah mengeluarkan kemudahan-kemudahan untuk melaksanakan program ini, misalnya, kemudahan dalam mendapatkan perizinan, kemudahan mendapatkan subsidi KPR yang anggarannya setiap tahun makin meningkat. Jadi, sangat memberikan pengaruh pada BTN. Sebagai contoh KPR subsidi BTN meningkat luar biasa dengan adanya program Nawa Cita ini.
Kalau ada kebijakan yang kurang friendly, apakah  BTN paling merasakan dampaknya?
Kalau itu terkait dengan perumahan pasti akan memberikan pengaruh yang besar pada BTN. Ada kebijakan-kebijakan pemerintah yang dibuat tidak memberikan dampak secara langsung pada BTN, tetapi mempunyai pengaruh secara tidak langsung. Ini juga ada, misalnya, pemerintah membangun infrstruktur dampaknya besar sekali. Bisa secara langsung membantu BTN, karena dengan adanya infrastruktur seperti jalan tol, akan peningkatan demand rumah-rumah yang ada di pinggir tol, dan demand ini tidak ditemukan sebelum ada tol itu.
Sekarang Anda berapa tahu harga tanah dan harga rumah yang ada di pinggiran jalan tol antara Jakarta sampai Tegal yang baru selesai. Itu luar biasa pembangunan rumah-rumah baru. Siapa yang menyangka sekarang muncul rencana pembangunan hunian TOD (transit oriented development-red) yang ada di stasiun. Dulu  tidak ada. Tapi sekarang permintaan hunian TOD luar biasa.
Soal pemangkasan FLPP apakah BTN paling merasakan?


KPR subsidi tidak perlu dipermasalahkan apakah menggunakan FLPP atau SSB (Subsidi Selisih Bunga-red). Kenapa, karena untuk mendapatkan fasilitas FLPP dan SSB kriterianya sama. End user-nya tidak ada bedanya. Sebetulnya pemerintah memberikan alternatif kepada end user, apakah akan menggunakan FLPP atau SSB. Tetapi secara unit tidak mengalami perubahan. Jadi, end user tidak perlu resah karena semuanya sama, suku bunga tetap5 persen, uang muka 1 persen. Baik itu FLPP maupun SSB. Jumlah unitnya juga tidak berubah,  malah bisa meningkat.
Kenapa kita katakan meningkat, karena kalau FLPP yang dibantu adalah pokoknya. Sementara SSB yang dibantu bunganya. Sehingga kalau pemerintah mengeluarkan Rp120 juta , kalau FLPP hanya bisa membantu 1 unit. Tapi kalau SSB dengan Rp100 juta bisa membayar sepuluh kali lipat atau 20 kali lipat. Artinya, bantuan kepada masyarakat secara unit bisa lebih banyak. Sebetulnya memilih FLPP atau SSB ada di masing-masing bank. Mungkin tahun depan BTN akan memilih FLPP lagi karena tahun kemarin BTN juga memilih SSB. Pembiayaan tahun kemarin 80 persen lewat SSB. Jadi, sebetulnya ini hanya pembayaran alternatif, bank tinggal memilih. Jadi, bukan nilainya yang dipangkas. Yang penting unitnya tidak dipangkas.
Menteri BUMN mendorong agar karyawan BUMN yang belum punya rumah mengambil KPR di bank pemerintah. Apakah ini bisa disebut bantuan dari pemerintah?
Inilah yang saya katakan sekarang BUMN sudah berubah. Sekarang BUMN sudah bersinergi. Salah satu sinerginya adalah kerjasama dengan BTN, misalnya, bagaimana pegawai BUMN yang ingin mengambil rumah lewat KPR di BTN.  Dengan kita memberikan KPR kepada pegawai BUMN, bisnis kita makin berkembang. Kita katakan BTN berkembang ke depan karena kita tidak hanya konsentrasi di subsidi tapi juga yang non subsidi. Sehingga segmentasi kita akan menjadi lebar. Kalau segmentasinya menjadi lebar, artinya bisnisnya semakin banyak. Volumenya juga makin banyak. Inilah yang bisa mempercepat  peningkatan aset dari BTN.
Tidak banyak pengembang yang mau membangun rumah FLPP.  Apa yang bisa dilakukan BTN untuk mendorong para pengembang mau membangun rumah FLPP?
Begini, tidak semuanya ditimpakan kepada BTN. Artinya, BTN memang integrator tapi dari sisi pembiayaan. Baik di pembiayaan kontruksi maupun di KPR.  Tetapi untuk bisa mempercepat ini BTN tidak tinggal diam. Untuk itu BTN menjalin kerjasama, baik dengan BUMN karya, yang fokus pada perumahan, kerjasama dengan asosiasi-asosiasi perumahan, seperti REI, Apersi, perumnas.  
Termasuk BTN menciptakan suatu pendidikan untuk mencetak developer-developer pemula yang disebut Housing Finance Center (HFC). Sudah berjalan dan kita sudah mencetak kurang lebih 1400 calon developer.  Ini kerjasama dengan ITB. Jadi kita tidak tinggal diam.
Sebagai pimpinan BTN bagaimana meyakinkan karyawan BTN bahwa visi Bapak layak diikuti?
Ini menyangkut kapabilitas dan leadership. Kita ciptakan budaya kerja yang penuh disiplin. Ketika kita ciptakan role model, seperti direksi atau kepala cabang jadi role model. Sehingga memberikan dampak dan motivasi yang bisa menggerakan seluruh karyawan-karyawan  BTN. Kita sudah ciptakan yang namanya reward dan punishment. Ini penting kita lakukan, serta kita praktikkan dan menunjukkan suatu perbaikan-perbaikan.
Dan visi itu sudah berjalan?
Saya lihat sekarang sudah berjalan semuanya, mulai dari direksi sampai kepala cabang. Tinggal kita melakukan motivasi-motivasi bagaimana pencapaian target bisa sesuai.
Sering keliling ke daerah?
Pasti, bukan hanya hari kerja. Hari sabtu dan minggu pun keliling. Ini hal biasa. Saya selalu bertemu dengan pegawai-pegawai kita, termasuk konsumen BTN. Kita berikan penjelasan bahwa BTN sekarang sudah berubah. Kita punya masa depan. Karyawan juga kita motivasi. Kadang-kadang ketika saya dijemput dengan mobil, belum satu menit duduk di dalam mobil, sudah saya tanya, target kamu berapa, berapa jumlah kredit, berapa NPL, berapa laba kamu. Ini pasti saya tanya ke mana saya datang. Kadang-kadang karyawan agak bingung ditanya. Padahal saya baru duduk di mobil. Mereka harus siap menjawab. Kalau jawabannya agak grogi, kelihatan bahwa orang tersebut tidak menguasai. Hahahaha ……
Sebagai bankir dengan posisi direktur utama di sebuah bank, apakah ini  puncak karir atau masih ada puncak lain yang harus dicapai?
Saya kerja itu nothing to lose, yang penting kerja dengan ikhlas. Semua kita anggap sebagai amanah. Saya tidak punya mimpi menjadi dirut di bank. Saya ikuti saja.
Kenapa?
Karena saya punya keyakinan kalau saya bekerja dengan baik, tulus, orang lain akan melihat, oh, ada orang seperti ini. Orang lain yang akan menentukan, bukan saya yang menentukan karena saya sebagai pekerja, dan itu mulai dari awal saya masuk di bank sampai sekarang.
Dulu cita-citanya ingin menjadi bankir atau kebetulan saja?
Hahaha …. . Dulu waktu SMA sebetulnya ingin menjadi dokter. Tapi nyatanya jadi bankir. Yang penting saya bekerja dengan keras, tulus, dan hasilnya bisa dirasakan masyarakat banyak. Sebetulnya cita-cita menjadi dokter berangkatnya dari filosofi ini. Kalau menjadi dokter bisa menyembuhkan orang. Kalau orang sakit menjadi sembuh, itu menjadi kepuasan batin saya. Kalau sekarang menjadi bankir, karyawannya sejahtera, nasabahnya lancar semua, itu kebanggaan saya juga. Sama juga tapi dari sisi yang lain.
Sekarang kesejahteraan karywan BTN oke?
Insyaallah, kesejahteraan karyawan BTN sekarang ada peningkatan. Dikatakan sejahtera semua saya kira belum karena ini suatu proses.
Pernah bekerja di berbagai bank, mana yang paling berat dirasakan?
Yang paling berat tentu di Bank Mutiara. Di Bank Mutiara sama dengan kita diminta untuk melaksanakan fit and proper yang kelas dunia.  Karena di dunia tidak ada fit and proper seperti di Bank Mutiara, hahaha……..
Apa pengalaman yang bisa diambil dari memimpin Bank Mutiara?
Banyak sekali. Di situlah kita bisa melihat kalau tidak hati-hati, tidak taat asas, kalau tidak mudah percaya dengan orang. kita juga banyak tahu di sana (Bank Mutiara-red) orang bekerja hanya diperintah oleh atasan.
Banyak (di Bank Mutiara-red) pengalaman yang bisa kita petik. Bukan hanya kejadiannya, tetapi karena pada waktu saya di sana, ditemukan ada  permasalahan-permasalahan. Sehingga permasalahan itu sekarang bisa kita jadikan pegangan. Bahwa kita masuk di manapun, bagaimana agar permasalahan seperti di (Bank Mutiara-red) tidak muncul. Kita tahu masalah, tahu solusi, maka bisa kita selesaikan.l

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

SANNY ISKANDAR, KETUA UMUM HIMPUNAN KAWASAN INDUSTRI INDONESIA (HKI)

Dua kali terpilih sebagai Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), membuktikan Sanny Iskandar mampu berperan di tiga posisi, yang diakui tidak mudah menjalankannya.

Peran yang dilakukan Sanny Iskandar terbilang unik, sebagai tenaga ahli Menteri Perindustrian yang memberikan advice kepada Menteri, dan sebagai Ketua Umum HKI, Sekjen APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) Nasional, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Kawasan Ekonomi, serta sebagai Direktur Kawasan Industri KIIC (Karawang International Industrial City), yang juga sama-sama bersaing dengan kawasan-kawasan industri lainnya. Tetapi pria kelahiran, Malang, 8 Desember 1962 ini, mampu bermain cantik, dan diterima semua pihak.

Kepada Property and the City, jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Bali dan Prasetya Mulya Business School ini bercerita banyak mulai dari HKI sampai beberapa tugas pekerjaannya baik di unit bisnis di Sinar Mas Land maupun di Sinar Mas President Office.

Anda terpilih kembali untuk kedua kalinya sebagai Ketua Umum HKI?

Ya, waktu Munas HKI di bulan Oktober 2016 saya terpilih kembali secara aklamasi. Para anggota HKI meminta saya untuk kembali melanjutkan sebagai Ketua Umum HKI. Ini baru pertama kali bisa aklamasi dalam sejarah HKI sejak Ketua Umum pertama Halim Shahab. Biasanya persaingan untuk menjadi Ketua Umum HKI cukup ketat. Entah anggota yang lain tidak mau pusing (menjadi pengurus-red) atau mungkin saya dianggap bisa menghasilkan sinergi bagi asosiasi melalui keterlibatan saya di beberapa tempat. Anggota melihat saya ada di Kadin, Apindo, dan di pemerintahan juga. Jadi, saya dianggap bisa menjembatani kepentingan antara pengusaha dan pemerintah, serta lebih mudah mengkoordinasikan.

Mungkin juga saya dianggap generasi terakhir dari satu generasi awal yang sebelumnya selalu bersama-sama di kepengurusan HKI sejak berdirinya di akhir tahun 80-an. Waktu saya menjadi ketua umum pada periode pertama, jabatan wakil ketua umum hanya satu orang. Saat ini, di periode kedua, saya mengangkat wakil ketua umum lima orang. Ini saya maksudkan untuk kaderisasi agar mereka siap pada periode berikutnya, karena maksimal jabatan ketua umum HKI hanya dua periode.

Anda juga saat ini di posisi pemerintah sebagai tenaga ahli Menteri Perindustrian. Bagaimana menyeimbangkan dua pekerjaan ini?

Harus bisa menempatkan diri kita bahwa semua ini adalah untuk kepentingan nasional. Di satu sisi ada kepentingan pengusaha, di sisi lain ada kepentingan pemerintah. Semua ini harus disinkronkan, kalau tidak maka tidak ada titik temu. Bisa saja pemerintah mengeluarkan segala macam peraturan yang susah dilaksanakan oleh pengusaha. Nah, kalau seperti ini maka tidak efektif juga peraturan tersebut. Kebetulan saya ada di tiga posisi, yang satu sama lain sebetulnya untuk mencapai sinergi.

Apakah pernah mengalami konflik kepentingan karena berdiri di tiga posisi?

Kalau seperti ini saya berusaha menahan diri untuk buru-buru mengambil sikap. Biasanya saya panggil dulu teman-teman dari dunia usaha, kemudian dari pihak Kementerian Perindustrian. Jadi, sebelum ketemu Menteri Perindustrian persoalan sudah diselesaikan lebih dulu. Misalnya, terkait rumusan kebijakan yang bisa diambil bersama. Jadi, intinya mencari titik temu.

Sebagai ketua umum HKI, tentunya saya merumuskan aspirasi yang menjadi kepentingan bersama, seperti yang terkait pada masalah perizinan, standar teknis di kawasan industri, bagaimana menghadapi demo para buruh di dalam kawasan industri. Tetapi kalau yang terkait dengan penjualan, kita di sini sama-sama bersaing.

Sebagai Sekjen Apindo bagaimana sikap Anda ketika menghadapi permasalahan hubungan industrial?

Kuncinya untuk bisa mengatasi permasalahan dengan jernih, maka kita harus keluar dari permasalahan tersebut. Kita tidak boleh masuk ke salah satu pihak yang sedang bertikai. Walaupun saya mewakili pengusaha, saya berusaha keluar dari posisi sebagai pengusaha. Di satu sisi saya tahu kepentingan perusahaan seperti apa, tapi saya juga berusaha memahami kepentingan dari sisi pekerja. Saya berusaha keluar dan memposisikan diri sebagai pihak ketiga. Kemudian mengajak bicara pihak yang bertikai, untuk mendapatkan solusi yang fair. Mudah-mudahan dengan pendekatan ini bisa diselesaikan, asalkan masing-masing pihak punya itikad yang baik. Kadang-kadang ada pihak serikat pekerja yang maunya pokoke, kalau tidak begini, tidak mau. Kalau sudah seperti ini susah menemukan titik temu.

Pernahkah sebagai Ketua Umum HKI atau pengelola kawasan mendapat complaint dari investor atau tenant di dalam kawasan industri kalau ada masalah yang muncul?

Ya tentu, karena posisi kami bukan sebagai pengembang saja, tapi juga pengelola kawasan. Kami harus memberikan layanan yang terbaik bagi para investor, baik dari masalah perizinan, penyediaan infrastruktur dan utilitas, pengendalian pencemaran lingkungan, hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar serta keamanan kawasan.

Dalam soal demo buruh atau masalah lain di kawasan apakah Anda berusaha meyakinkan mereka agar tidak keluar dari Indonesia atau ikut mendorong pemerintah?

Tergantung permasalahannya, kalau yang terkait dengan hal-hal yang memberatkan industri, misalnya masalah hubungan industrial yang tidak fair, birokrasi perizinan, tarif utilitas yang tinggi, maka dalam hal ini asosiasi harus menyuarakan juga ke pemerintah. Kalau permasalahannya terkait di internal perusahaan, maka saya akan melakukan penanganan yang berbeda.

Pernah juga menerima complaint dari pemerintah kepada Anda sebagai ketua umum HKI?

Kalau konteksnya demo buruh, tidak karena kita yang justru menuntut pemerintah khususnya aparat kepolisian untuk memberikan jaminan keamanan yang memadai. Tekanan dari pemerintah, misalnya, dalam soal pembuangan limbah dari pabrik karena masalah lingkungan ada dalam kontrol kami sebagai pengelola kawasan industri, karena memang tidak menutup kemungkinan ada perusahaan yang nakal membuang limbah di atas ambang batas yang sudah kita tentukan.

Anda pernah menyebut perlunya standarisasi kawasan industri, apa pentingnya standarisasi?

Standarisasi itu sudah masuk dalam konsep pengembangan kawasan industri sejak awal keluarnya Kepres No. 53 tahun 1989 tentang Kawasan Industri dan kemudian  ditegaskan kembali oleh pemerintah sejak sekitar 4 tahun yang lalu (melalui Permenperin No 35 tahun 2010-red). Standarisasi kawasan industri itu sangat penting sekali karena kita menjual lahan untuk kepentingan investor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Standarisasi dibuat agar kawasan-kawasan industri yang ada seluruhnya punya standar yang minimal, sehingga tidak mencoreng muka Indonesia di mata investor.

Kriteria kawasan industri yang baik, di antaranya memiliki lahan yang memang peruntukannya untuk kawasan industri sesuai dengan RTRW (rencana tata ruang wilayah-red). Ada badan pengelola kawasan dengan struktur yang lengkap dan kemudian harus menyediakan infrastruktur atau sarana dan prasarana yang memadai (Instalasi pengolahan air bersih dan air limbah, suplai daya listrik dan gas industri, jaringan ICT-red) dan fasilitas penunjangnya seperti sarana perkantoran dan komersial, logistik atau pergudangan, sarana dan akomodasi.

Apakah standarisasi yang disebutkan di atas sudah dilaksanakan oleh semua kawasan industri?

Belum sepenuhnya, tapi sekarang ini sudah mulai menjadi perhatian dari semuanya. Nanti akan ada tim dari Kementerian Perindustrian yang akan datang mengecek. Jujur saya mengatakan memang tidak semua (kawasan industri-red) sudah mengikuti, tetapi karena sudah ada peraturannya, maka semua perusahaan kawasan industri harus mengarah ke sana.

Bagaimana menghadapi pengusaha asing, seperti dari Jepang ketika ingin masuk ke kawasan industri?

Kalau perusahaan asal Jepang untuk mengambil keputusan agak panjang dan sangat detail juga jeli. Saat mereka akan berinvestasi di Indonesia, mereka melakukan survei dari jauh-jauh hari. Mereka mengirim tim survei secara bertahap, dan terakhir baru pimpinannya. Intinya proses pengambilan keputusan oleh suatu perusahaan asal Jepang sangat panjang, namun begitu keputusan sudah firm diambil, mereka langsung melakukan pengurusan izin-izin sehingga pabrik dapat langsung dibangun. Jadi dalam menghadapi mereka kita harus sudah mempersiapkan data dan informasi yang dibutuhkan dan harus sabar.

Ketika pemerintah memutuskan China yang akan membangun kereta api cepat Jakarta-Bandung, apakah Anda merasakan tekanan atau suasana tidak enak dari pengusaha Jepang?

Ya merasakan, karena sebelumnya studinya dilakukan oleh pihak Jepang juga. Waktu ditenderkan ternyata pihak China yang menang. Bukan tanpa alasan juga pemerintah kita menunjuk China. Jepang dalam hal ini mengajukan persyaratan yang terlalu banyak. Akhirnya pemerintah menunjuk China, yang kemudian menimbulkan suasana yang kurang baik. Mungkin ada rasa kecewa dan sebagainya, tetapi Presiden Joko Widodo sudah menjelaskan soal itu dan masih banyak kesempatan mengerjakan proyek-proyek infrastruktur strategis yang lain. Saya pikir investasi industri Jepang di Indonesia sudah sangat besar, sehingga pasti segala sesuatunya ada pertimbangan-pertimbangannya.

Seperti apa sebetulnya persaingan di kawasan industri?

Kita tentu ingin kawasan-kawasan industri di Indonesia punya standar yang baik. Kalau ada perusahaan asing memutuskan untuk masuk ke Indonesia, mungkin karena iklim investasi kita bagus. Setelah mereka memutuskan untuk masuk ke Indonesia, baru terjadi kompetisi di antara perusahaan kawasan industri. Dalam kompetisi ini sebetulnya investor  sudah melakukan studi apakah mereka mau masuk ke Jawa Barat, Jawa Timur, Batam atau daerah lainnya. Misalnya, masuk ke Jawa Barat, ada beberapa kawasan industri di Jawa Barat, ini juga sudah terpetakan. Setiap kawasan ada segmentasi pasar dan postitioningnya, seperti hotel ada bintangnya.

Kalau ada kawasan yang bekerja sama dengan asing, biasanya standarnya lebih baik, karena mereka lebih ketat dalam pengelolaan kawasan dan layanan. Apalagi kalau asingnya dari Jepang. Sehingga  pilihan kawasan industri hanya tiga sampai empat kawasan industri saja, dan itupun tidak semua lahannya ada. Kadang-kadang ada satu kawasan yang lahannya sudah habis, dan masih mencari perluasan lahan baru. Bisa jadi akhirnya yang berkompetisi hanya tinggal dua atau tiga kawasan saja. Silakan masing-masing kawasan industri bernegoisasi dengan calon perusahaan asing yang akan masuk. Yang menentukan memang dari masalah layanan, kelengkapan infrastruktur, harganya,  lokasi kavling  di dalam kawasan, dan bentuk kavlingnya.

Dulu pertama kali kerja langsung ke Sinar Mas Group?

Tahun 1985 sampai tahun 1992 saya bekerja di Seafer General Foods, industri pengolahan hasil-hasil perikanan untuk tujuan ekspor yang juga merupakan kerjasama dengan Jepang. Awal tahun 1993 baru bergabung dengan Sinar Mas.

Apa yang membuat betah di Sinar Mas sampai 24 tahun?

Mungkin diberikan kepercayaan dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Kebetulan Sinar Mas punya partner dari Jepang, sehingga dipercaya mewakili Sinar Mas. Di samping itu, saya suka dengan bidang yang saya tangani karena mengembangkan dan mengelola kawasan industri yang banyak aspeknya. Kebetulan saya suka berhubungan dengan banyak pihak.

Di dalam menangani kawasan industri aspeknya banyak sekali, mulai dari aspek teknis, seperti urusan listrik, telekomunikasi, akses jalan. Ada aspek legal terkait dengan pertanahan, perizinan, hubungan dengan investor, sampai urusan sosial kemasyarakatan melalui program-program community development.

Tidak terpikir untuk mencari tantangan di luar Sinar Mas?

Ya, beberapa kali ada kesempatan untuk mengembangkan karir di tempat lain, bukan saya yang minta tapi pihak lain yang meminta saya. Tapi setiap kali juga diminta oleh Sinar Mas untuk bertahan di Group. Prinsip saya dalam bekerja mencari suasana yang baik. Tidak ada konflik. Kebetulan di Sinar Mas saya memahami lingkungannya. Juga diberi kesempatan untuk mengembangkan diri. Saya pikir ini yang terbaik buat saya.

Apa yang membuat Anda berat meninggalkan Sinar Mas selain diberi kesempatan berkembang?
 
Jujur saja, yang paling berat bagi saya adalah meninggalkan tim yang selama ini sudah mendampingi saya sekian lama. Apalagi kami bermitra dengan pihak Jepang, yang seringkali membutuhkan pendampingan. Sistem yang saya bangun adalah sistem kekeluargaan dan ini juga yang membuat saya nyaman, bekerja bersama tim. Tetapi sekarang yang saya kader sudah banyak yang mampu. Bahkan, yang lebih mampu dari saya juga sudah ada. Saat ini saya sifatnya lebih memfasilitasi supaya teman-teman di dalam tim bisa berkembang juga dan saya lebih banyak mensupport kepentingan group yang memiliki pilar-pilar bisnis lainnya.

Apakah ingin menghabiskan karir di Sinar Mas?

Sampai saat ini belum ada pemikiran ke tempat lain, saya tekuni saja yang saat ini berjalan. Kesempatan mengembangkan diri ke depannya dalam bentuk lain, saya rasa terbuka. Dengan kapasitas yang saya miliki, dengan dukungan teman-teman.

Ingin masuk ke dunia politik praktis?

Tidak ada pemikiran ke arah sana. Orang yang masuk partai harus orang yang mempunyai mental luar biasa, karena banyak tantangan dan godaan. Mungkin godaannya lebih banyak. l

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Kezia Agustina Pariury, Associate Director Puri Botanical

PropertyFigure1

"Sukses bagi saya tidak akan bernilai jika kamu bisa bangga dengan semua yang kamu punya tanpa kamu jadi berkat buat orang lain."

“Ikan hidup akan melawan arus, hanya ikan mati yang akan mengikuti arus.”
Hidup penuh gejolak dan tantangan, melawan, dan bahkan menggebrak kebiasaan yang ada, menjadi prinsip hidup wanita 33 tahun asal Ambon ini. Bahkan diapun dijuluki Iron Lady.

Di usia 15 tahun, gadis belia ini sudah harus ‘dibuang’ ke Surabaya, Jawa Timur, melanjutkan sekolah menengah atas (SMA) di tempat yang teramat asing baginya. Hidup bak sebatang kara. Hanya seorang pembantu yang setia menemaninya. Rasa sepi menggelayut hari-harinya. Sempat dia merasa iri dan bertanya pada diri, “Kenapa aku harus ‘diasingkan’ sendiri, kenapa aku harus dididik berbeda dengan saudaraku? Siapakah aku sehingga harus merantau jauh?”

Tapi kini, terjawablah sudah. Didikan disiplin dan tegas dari kedua orang tuanya melahirkan wanita tangguh. Dia telah tumbuh mandiri menjadi berdikari. Wanita perkasa, Kartini masa kini yang berani menerobos, melawan arus, meski dia terbilang paling muda diantara yang muda.

Wanita berparas ayu itu, Kezia Agustina Pariury, perempuan blasteran Ambon dan Jawa. Terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara di Ambon, 19 April 1983, tentu dianggap sebagai pilar yang bakal menuntun kedua adiknya. Didikan keras dari sang Ayah kini melahirkan Kezia - demikian akrab dia disapa - masuk ke level atas, top management di hampir semua perusahaan yang pernah disinggahi.

Hotel ke Properti

Setelah meraih gelar Bachelor of Arts (BA), Hospitality Management dari The Ohio State University, Juni 2004 lalu, Kezia pun mulai terjun ke dunia kerja. Dia bekerja di Grand Hyatt Hotel Downtown, Columbus di Ohio sekira enam tahun lamanya dengan posisi terakhir Room Division Manager. Kezia adalah satu-satunya wanita asal Asia yang dipercaya dan diserahi tanggung jawab besar saat itu. Meski berada di jajaran top management, yang ditunjang dengan berbagai fasilitas yang serba ada, namun ternyata tidak membuat Kezia betah. “Di sana sudah terlalu comfortable. Saya tiba di point dimana merasakan zona kenyamanan itu sangat tidak nyaman. Bagi saya, pertumbuhan itu tidak terjadi di area ini,” ujar Kezia kepada Property and The City, di Setiabudi Sky Garden, Kuningan, Jakarta Selatan, medio Juni 2016.

Ini pula yang menjadi alasan Kezia untuk kembali ke tanah air, 2007 silam. Tidak hanya itu, misi besar dibawa perempuan asal Ambon tersebut untuk dapat menginspirasi anak muda Indonesia, menjadi agen perubahan di tanah sendiri. Di tahun itu, Kezia mulai bekerja di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Cukup sulit rasanya ketika dia harus menerima bayaran yang jauh dari penghasilannya di Ohio, Amerika Serikat. Di sana Kezia menerima bayaran 2.500 Dollar Amerika, sementara di Indonesia hanya sebesar Rp 4 juta. “Untung saya masih punya tabungan. Tidak apa meski memulai dari bawah. Tapi saya punya target bahwa dalam enam bulan saya harus mencapai level tertentu dan menerima promosi,” jelas Kezia. Dan target itu tercapai, usaha dan kerja kerasnya berbuah sebuah penghargaan dan promosi ke grup hotel yang sama di Singapura. Namun Kezia tak menerima tawaran tersebut dan memilih bertualang ke ladang baru. Tahun 2008 Kezia bekerja di FX Sudirman hingga pertengahan 2009.

Masih di tahun itu, Kezia beralih profesi dari perhotelan ke bisnis properti. Dia dipercaya dalam sejumlah proyek sebagai Business Tourism Development Division Head PT Sentul City, Tbk. “Saya mencintai apapun yang saya lakukan, saya menyukai tantangan ini. Bagi saya juga sudah sangat cukup dengan pencapaian di karir sebelumnya sebagai hotelier. Jadi buat apa saya harus ke sana lagi, saya mau belajar sesuatu yang benar-benar baru. That’s why I’m coming in to property,” ujarnya.

Ikon Kota Palembang

Karir propertinya pun terus melejit. Tahun 2011, Kezia menerima tawaran tantangan terbesar dalam perjalanan karirnya. Tawaran itu datang dari PT Griya Inti Sejahtera Insani, untuk mengembangkan mega proyek mixed use development Palembang Icon di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Melalui perjalanan, perjuangan dan kerja keras yang tiada henti, proyek senilai Rp 350 miliar tersebut di-support oleh James Riyadi sebagai partner yang memberikan kepercayaan penuh pada Kezia dalam pengembangan proyek prestisius tersebut.

Minim pengalaman, Kezia tetap berjalan ke depan, menantang arus, menjawab tantangan tersebut. Didahului dengan riset dan survei ke Palembang, peluang besar didapatnya. Momen Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games) 2011 menjadi menarik untuk dimanfaatkan dalam pengembangan proyeknya tersebut. “Awalnya mau bangun hotel, mall, dan convention. Tapi kemudian berubah dan kita bangun mall terbesar dan convention standar internasional yang menjadi ikon Kota Palembang,” terang Kezia.

Dalam proyek ini, Kezia benar-benar belajar dari nol. Tidak mengerti dan belajar ekstra keras dari pengalaman. Dia pun terjun langsung ke lapangan dan berjibaku mengurusi semua persoalan demi kelancaran proyeknya. Mulai dari riset, proses perizinan, konstruksi, pembangunan, penjualan, pemasaran, operasional, hingga tahap perampungan mega proyek tersebut. Proyek ini pun sukses besar dengan membawahi 50 brand outlet retail pertama di Sumsel, serta menjadi mall termewah dan terbagus di Sumsel. Palembang  Icon pun resmi diluncurkan pada tahun 2014 lalu. “Thank God saya mendapat feedback yang sangat memuaskan dari para tenant, pemerintah setempat, juga dari owner. Ini proyek pertama dalam karir properti saya dan ternyata saya cukup puas melihat banyak pihak turut bangga dengan kesuksesan proyek ini,” terang Kezia. Bahkan Gubernur Sumsel pun mengakui ketangguhan wanita berdarah Ambon ini, “Luar biasa, seorang nona manise yang merantau dan menjadi salah satu pionir proyek pembangunan ikon Kota Palembang yang telah membuat impact besar bagi Sumsel.”

Sukses besar yang diraih tersebut, ternyata menyimpan sejumlah kisah menarik yang tak pernah lepas dari ingatan wanita penyuka olahraga tersebut. Awalnya banyak yang pesimis bahkan tak jarang dia mendapat cibiran. Paras ayu Kezia pun sempat dianggap sebagai wanita yang memiliki hubungan dekat dengan pejabat setempat, lantaran proses perijinan yang terbilang tidak sesulit biasanya untuk didapatkan. Bahkan dia pun pernah ditodong senjata tajam lantaran berusaha menjadi jembatan dalam pembebasan lahan untuk proyek itu.

Setelah sukses dengan Palembang Icon, karir pekerjaan Kezia di bidang properti terus berlanjut. Kezia menerima tawaran sebagai Chief Operating Officer di proyek senilai Rp 750 miliar dari Palembang City Center. Sekira setahun di sini, Kezia mampu menciptakan sebuah konsep baru pengembangan properti di Palembang, yakni 5 in1 Superblock. “Setelah saya sukses dengan proyek Rp 350 miliar, saya doa minta Tuhan berikan saya kesempatan besar lainnya, eh malah dikasi proyek yang nilai nya double yaitu Rp 700 miliar.”

Februari 2016, dia mendapatkan kesempatan dan kepercayaan ‘menggebrak’ proyek pengembangan CBD di Puri Botanical, yang merupakan anak usaha dari PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSI). “Saya suka membangun. Ciri-ciri kehidupan adalah berkembang biak, bertumbuh, dan mereproduksi. Kalau kita jadi developer, jadi pribadi yang tidak reproduktif, berarti kita mati. Saya rasa saya tidak dilahirkan untuk itu. Saya mau menciptakan sesuatu gebrakan, saya mau ada dalam proses reproduksi itu, berkarya, membangun.”

Berbagi

Hidup mesti berbagi. Kezia menyadari bahwa kesuksesannya yang diraih hingga kini tak lepas dari support dan dukungan berbagai pihak. Untuk ini, Kezia berkeinginan untuk menjadi agen perubahan, yang menginspirasi anak-anak muda, terutama perempuan Indonesia. “Saya percaya bahwa hidup itu harus berbuah. Kalau tidak berbuah berarti mati. Yang penting bisa menghasilkan buah untuk orang lain,” ujarnya. Untuk itu, Kezia ingin sekali menjadi inspirasi bagi anak muda, khususnya perempuan. Kezia pun meyakini bahwa sebuah perubahan harus dilakukan dari hal kecil. “Saya percaya sekali, kalau kamu setia dalam hal kecil, pasti dikasih tantangan dua kali lipat, tapi Tuhan kita tahu kita pasti bisa, asal kita setia, dan pantang menyerah,” tegasnya.

Kini Kezia adalah inspirasi bagi banyak orang, terutama anak muda. “Saya masih jauh dari sempurna dan pintar, saya ingin bisa lebih banyak belajar dari orang lain, dari kehidupan ini, dari banyak hak di sekeliling saya, belajar dari orang-orang sukses dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jangan sukses di masa tua, jadi inspirasi di masa muda,” tegasnya. Kezia pun punya obsesi besar untuk bisa melayani dan berbagi dengan lebih banyak orang di bidang sosial dan bahkan pemerintahan.

“Kalau ada kesempatan, saya tidak akan sia-siakan. Kesempatan dan kepercayaan. Maka dari itu sekarang waktunya untuk terus belajar mengejar mimpi dan ingat, selalu menjadi inspirasi bagi generasi muda bangsa Indonesia. Saya ingin bisa seperti Mari Elka Pangestu, Karen Agustiawan, atau Aung San Suu Kyi. Buat saya mereka itu pemimpin-pemimpin wanita yang super hebat, yang jarang sekali ditemukan di pemerintahan. I wish one day saya bisa di level menteri. Kenapa tidak bisa? Pertanyaannya, kapan? hahaha...,” tegas perempuan yang saat ini masih single. Semoga tercapai!
[pius klobor]