User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Koridor Puspiptek memiliki beberapa keunggulan dari wilayah sekitar di lingkar luar BSD City. Hunian dengan harga sekitar Rp400-an juta masih mudah dijumpai dibandingkan dengan kawasan lain di sekitar Serpong.
Nama Serpong ibarat magnet yang daya tariknya begitu kuat untuk orang-orang yang sedang mencari hunian sebagia tempat tinggal. Rasanya belum ada nama kawasan yang begitu  diidam-idamkan orang untuk tempat tinggal selain Serpong. Serpong punya icon hunian skala kota mandiri sebut saja ada Alam Sutera, Gading Serpong dan BSD City yang kini telah lengkap dengan berbagai sarana dan fasilitas untuk hunian skala kota
Tetapi semua sudah maklum harga landed di tiga kota mandiri ini sudah begitu tinggi.  Sementara yang ingin tinggal di Serpong tidak pernah berkurang. Yang terjadi kemudian pilihannya adalah hunian di sekitar Serpong, tetapi masih masuk kawasan Serpong. Di luar wilayah Serpong, tetapi karena lebih dekat dengan Serpong, orang lebih nyaman menyesebut masih masuk Serpong. Sebagian pengembang menyebutnya lingkar luar Serpong. Koridor di sepanjang lingkar luar Serpong inilah yang kini semarak ditumbuhi perumahan-perumahan baru dengan harga yang relatif lebih terjangkau oleh masyarakat menengah dan menengah bawah.

Baca Juga

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda, Sejak 2014 lalu sudah memprediksi bahwa tinggihnya harga tanah dalam kawasan kota mandiri di Serpong, khususnya BSD, akan berdampak melebarnya pengembangan pemukiman baru ke wilayah Puspiptek, Legok, Kelapa Dua. “Perkembangan Serpong tidak hanya sebatas BSD dan sepanjang jalan raya Serpong, tapi melebar ke wilayah Puspitek, Legok, Kelapa Dua. Dengan semakin tingginya harga tanah, pasar properti wilayah Serpong mulai terjadi transformasi dari landed residential ke hunian vertikal,” ungkap Ali ketika itu. Namun Ali mengingatkan bahwa pergerakan properti di kawasan ini tidak akan berlanjut ke arah Pamulang karena karakteristik pasarnya sudah berbeda.
Benar saja, pengembangan pemukiman-pemukiman baru di lingkar luar BSD City kian menjamur. Terutama di area sekitar kawasan riset terbesar di Indonesia, yakni Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) hingga mengarah ke Gunung Sindur, Bogor. Hampir di semua sisi kawasan ini telah tumbuh pemukiman-pemukiman dengan luas area bervariasi, dari  satu hektaran hingga ratusan hektar. Bahkan area perumahan yang lebih kecil dengan sistem klaster juga tumbuh cukup banyak. Di dua persilangan jalan utama sekitar Jalan Raya Puspiptek dengan Jalan Victor dan Jalan Raya Pasar Jengkol serta di persilangan dengan Jalan Raya Serpong dan Jalan Muncul. Bahkan beberapa pengembang telah menyiapkan lahan-lahan potensialnya untuk membangun area-area komersial dan pemukiman kelas atas.
“Pengembang menengah dan kecil tentunya akan menjadikan hal ini sebagai strategi bisnisnya dengan ‘menjual’ fasilitas kota mandiri terdekat. Jadi memang keberadaan pengembang besar juga membawa dampak positif bagi pengembang di bawahnya,” kata Presiden Direktur PT Multi Hokkindo Addji (Benhokk), Nurul Yaqin kepada Property and The City.
Menurut Nurul, ada dua kelompok pola konsumen, yakni yang product sensibility dan price sensibility. Bagi kelompok product sensibility, mereka akan mencari properti dengan brand terbaik. Sedangkan kelompok price sensibility, yang penting bagi mereka adalah keterjangkauan harga properti tersebut. Sehingga product brand terkadang tidak terlalu penting bagi konsumen price sensibility. Yang paling panting bagi orang di kelompok ini adalah mereka juga bisa mengakses berbagai fasilitas lain yang dekat koridor Puspiptek.
“Kalaupun tinggal di sekitar Puspiptek atau bahkan di Gunung Sindur, mereka masih bisa sekolahkan anaknya di BSD atau berbelanja dan rekreasi keluarga di BSD atau Gading Serpong. Bahkan kota mandiri tersebut juga bisa menjadi titik point untuk meeting. Jadi mereka hanya kehilangan brand saja,” ujar Nurul.
Fenomena seperti ini, lanjut Nurul, sebenarnya sudah terjadi sejak lama, seperti dulu di Bintaro yang tumbuh pemukiman baru di Rempoa, Kampung Sawah, Pondok Aren, dan lain sebagainya. Ekspansinya pengembang besar menjadi ceruk bagi pengembang menengah ke bawah, terutama dari sisi pricing. “Jadi misalkan BSD menjual dengan size dan harga tertentu, maka dengan size yang sama pengembang di pinggiran BSD akan menjual dengan harga di bawah itu,” tandasnya.

Lebih Terjangkau
Tumbuhnya kawasan hunian di lingkar luar BSD tidak semata karena terdesak tingginya harga di BSD City. Wilayah sekitar seperti Pamulang, bahkan Cisauk sudah mematok harga yang rata-rata melebihi kawasan Puspiptek dan Gunung Sindur. Perumahan di Pamulang rata-rata sudah memasarkan produknya di kisaran Rp500 jutaan. Seperti Cendana Residence di Pamulang II yang memasarkan rumah tipe 60/45 m2 dengan harga sekitar Rp550 juta. Sedangkan Perumahan Pamulang Regency memasarkan unitnya 80/115 m2 dengan harga Rp650 jutaan.
Adapun Vilamas Bellevue Residence di Jalan Oscar Raya, Bambu Apus, Pamulang, memasarkan beberapa unit tersisa di kisaran mulai Rp700-900 jutaan untuk tipe 45/89 – 70/92 m2. Di Cisauk rata-rata pengembang sudah membanderol dengan harga di kisaran Rp600 jutaan untuk rumah satu lantai. “Rumah dengan tipe yang sama bahkan masih bisa dijumpai dengan harga sekitar Rp400 jutaan di kawasan Puspiptek,” imbuh Nurul.
Meski demikian, beberapa pengembang di Puspiptek dan Gunung Sindur sudah memasarkan perumahan di atas Rp1 miliar, seperti Serpong Natura City, salah satu proyek milik PT Sentul City Tbk seluas 210 hektar di Jalan Raya Serpong, Pengasinan, Gunung Sindur, Bogor, yang hanya berjarak 2,5 km dari persilangan Jalan Raya Puspiptek dan Jalan Muncul. Beberapa klaster baru tengah dipasarkan dengan kisaran Rp700 jutaan hingga Rp3 miliar.
Tidak jauh dari persilangan Jalan Raya Puspiptek ada Banara Serpong dengan luas 4,2 hektar yang memasarkan unit tersisa di atas Rp860-an juta. Sedangkan Spring Terrace Serpong 3 ribu meter persegi yang berada di seberang kedua proyek tersebut mengambil segmen bawah dengan harga di kisaran Rp450 jutaan.
Persis di Jalan Raya PusPitek (Muncul-Pamulang), PT Puricipta Selarasjaya membangun dua kawasan hunian, yakni Puri Serpong 1 dan 2. Adapun Puri Serpong 2 lebih dekat ke Jalan Raya Pasar Jengkol. Pengembang tengah memasarkan unit tipe Freesia di kisaran mulai Rp400-900 jutaan. Masih di koridor Jalan Raya Puspiptek, tepatnya setelah perempatan Victor ada Serpong Jaya dengan luas 50 hektar yang dikembangkan oleh PT Jaya Real Property yang melansir beberapa unit hunian klaster di kisaran Rp800-an juta-Rp2 miliar.
Tidak jauh dari lokasi ini, bahkan lebih dekat ke perempatan Victor ada Paradise Serpong City seluas 150 hektar yang dibangun oleh Progress Group. Saat ini pengembang sedang memasarkan klaster Balmoral, rumah dua lantai (55/60 m2) dengan harga mulai Rp1 miliar. Sementara Bali Resort dengan luas 4,7 hektar oleh MAS Group dipasarkan mulai Rp700 jutaan serta Serpong Lagoon (BSA Land) seluas 30 hektar yang dipasarkan mulai Rp700 juta hingga sekitar Rp2 miliar.
Strategis
Selain unggul karena harga yang relatif lebih terjangkau, kawasan Puspiptek yang dekat ke BSD City juga memiliki kontur tanah dan suasana hijau yang lebih alami. Hal ini juga menjadi pertimbangan sebagian konsumen yang tinggal di kawasan ini. Lebih dari itu, area ini juga masih mungkin dikembangkan bahwa mengarah ke Gunung Sindur. Sementara beberapa perkantoran pemerintah juga sudah pindah ke Puspiptek, seperti BPPT yang kantornya sudah 100 persen pindah ke area tersebut. “Kawasan ini masih akan terus berkembang karena dari sisi perolehan tanah relatif lebih murah. Namun dari sisi pertumbuhannya, masih sedikit kalah dengan area di sepanjang simpul stasiun commuter line seperti di Cisauk,” kata Nurul.
Namun demikian bukan berarti kawasan ini jauh dari akses jalan tol atau transportasi massal lainnya. Area ini memiliki beberapa akses melalui jalan tol, seperti Jalan Tol Alam Sutera dan JORR 1 relatif dekat menuju akses tol Pondok Indah-BSD. Bahkan, ada tiga stasiun commuter line yang mengitari kawasan ini, yakni Stasiun Rawa Buntu, Stasiun Serpong dan Stasiun Cisauk. Beberapa rencana infrastruktur lainnya juga direncanakan melintasi kawasan ini, seperti akan ada Jalan Tol JORR 2, kemudian Jalan Tol Muncul-Maja yang membelah daerah ini, serta rel kereta dari Cikarang ke Maja juga akan melintasi area ini.
“Akses sudah sangat mudah menuju Jakarta dengan beberapa pilihan, baik jalan tol atau commuter line. Sehingga tinggal di sini, sama juga dengan tinggal di BSD, tetapi di sini tentunya dengan harga yang lebih terjangkau,” tambah Andreas Audyanto, Direktur Marketing Banara Serpong. [Pius Klobor] ●

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Koridor Citayam-Cilebut kini tidak lagi diramaikan rumah subsidi, tetapi sudah masuk ke real estate. Makin nyamannya naik commuter line menjadi daya tarik koridor ini.

Kota-kota penyangga Jakarta kian diminati oleh pemburu properti, baik untuk tempat tinggal maupun berinvestasi. Harga biasanya menjadi pertimbangan utama untuk membeli landed di pinggir Jakarta. Apalagi saat ini moda transportasi commuter line makin nyaman dengan jumlah keberangkatan makin banyak. Seperti di perlintasan commuter line Jakarta-Bogor, tepatnya di koridor Stasiun Citayam, Bojonggede hingga ke Stasiun Cilebut. Bahkan pertumbuhan perumahan yang mengitari ketiga stasiun tersebut tumbuh bak jamur di musim hujan.

Yang menarik di koridor Citayam-Cilebut, sejauh pengamatan Property and the City, pengembangan landed house didominasi segmen menengah ke bawah. Perumahan dengan skala lebih kecil memang telah menguasai kawasan di koridor Citayam-Cilebut. Bahkan rata-rata adalah perumahan dengan sistem klaster. Fenomena ini menurut konsultan properti, Ferry Supandji, sangat lumrah lantaran sebagian besar pekerja di Jakarta adalah kelas menengah ke bawah. Sehingga pilihan mereka adalah daerah penyangga, termasuk ke wilayah Depok dan Bogor. “Pagi atau sore hingga malam, pasti stasiun tersebut padat sekali. Itu karena mereka memang memilih untuk tinggal di wilayah sekitar itu,” ujar Ferry, kepada Property and The City.

Menurut Ferry, kondisi jalan di Jakarta yang semakin padat membuat waktu tempuh dengan kendaraan pribadi juga semakin lama. Di sisi lain, pelayanan commuter line Jakarta-Bogor semakin baik. Ini menjadi pertimbangan untuk ke daerah penyangga. “Selling point bagi pengembang properti sekitarnya transportasi massal tersebut. Apalagi commuter line juga lebih cepat dan relatif lebih tepat waktu,” ujarnya.

Beberapa pengembang yang disambangi oleh Property and the City, mengakui akses yang dekat ke stasiun commuter line menjadi daya tarik utama bagi konsumen. Bahkan beberapa proyek baru telah diluncurkan lantaran permintaan yang terus meningkat. Sebut saja PT Mitra Selaras Sejati yang membangun Cilebut Residence 1 di atas lahan12 hektar. Lebih dari 600 unit landed dalam 3 klaster sudah terjual habis. Lokasi yang hanya berjarak 1 km dari Stasiun Cilebut menjadi nilai jual tersendiri. Bahkan, kini tengah memasarkan Cilebut Residence 2. “Hampir semua pembeli kami end user dan mereka tertarik karena dekat dengan stasiun,” ungkap Tino, staf pemasar Cilebut Residence.

Hal senada disampaikan oleh Adnan, Marketing Communication Sentra Danau Kemuning yang mengembangkan beberapa proyeknya sekitar Stasiun Bojonggede, termasuk 63 unit hunian klaster di Sentra Danau Kemuning. Proyek di atas lahan 1,5 hektar yang digarap sejak tahun 2015 telah memasuki fase akhir dan tersisa hanya beberapa unit ruko 2 dan 3 lantai. Sentra Danau Kemuning terakhir memasarkan unitnya di kisaran Rp455 juta. “Kebanyakan yang beli di sini karena akses dan lokasi yang dekat dengan stasiun. Dan hampir tidak ada pembeli dari orang Bogor. Semuanya pekerja yang setiap hari dengan commuter line ke Jakarta,” kata Adnan.

Transformasi Komersial

Semakin tingginya permintaan perumahan di koridor Stasiun Citayam-Cilebut sejalan pula dengan meningkatnya harga landed dan tanah. Bahkan perumahan subsidi yang 3-4 tahun lalu masih mudah dijumpai setidaknya dalam radius 2 km dari stasiun sudah tak nampak lagi. “Peminatnya semakin tinggi, sehingga harga rumah subsidi sudah tidak masuk lagi. Kami jual yang komersial (real estat-red) dengan tipe yang sama tapi selisihnya hampir Rp200 juta,” sebut Maman, marketing di sebuah perumahan yang hanya sekitar 1 km dari Stasiun Citayam.

Sebagai perbandingan dia mencontohkan, pertengahan 2016 lalu rumah subsidi tipe 22/60 dipasarkan dengan Rp130 juta. Namun sejak awal 2017, tipe yang sama dijual dengan Rp210 juta. Bahkan kini sudah di angka Rp325 juta. Sementara tipe 36/60 di kisaran Rp400 jutaan. “Lokasinya memang lebih ke depan gerbang, tetapi luas tanah tetap sama,” kata Maman.

Perumahan Ambar Waringin Elok dan Puri Artha Sentosa yang cukup dekat ke Stasiun Bojonggede pun sudah tak ada lagi stok rumah subsidi. Padahal kedua perumahan ini sudah memasarkan ratusan unit rumah subsidi sejak beberapa tahun lalu. Ambar Waringin Elok kini memasarkan rumah dalam klaster, tipe 36/72 seharga Rp320 juta. Kemudian di Teras Country sekitar 5 km dari Stasiun Bojong Gede juga kini memasarkan unit tersisanya mulai Rp335 juta tipe 36/72.

Sedangkan Cluster Diamond Citayam (CDC) sejak awal Januari 2018 sudah merevisi harganya, dari Rp200-an juta pada akhir tahun lalu menjadi Rp290-an juta untuk tipe 36/71. Gerak naik juga dijumpai di Perumahan Pesona Intiland seluas 7 hektar yang berjarak 3 km dari Stasiun Cilebut. Tahun 2010 lalu harga tanah masih di kisaran 120 ribu per meter persegi, kini sudah di angka Rp2 juta per meter persegi. Harga rumahnya pun naik dari Rp200 jutaan menjadi Rp450 juta untuk tipe 40/60. Sementara tipe 110/120 naik dari Rp500 juta menjadi Rp1,5 miliar.

Bagi masyarakat yang ingin membeli rumah subsidi, bisa bergeser sedikit lebih jauh, seperti ke Perumahan Green Citayam City (GCC) yang dikembangkan oleh PT Green Construction City. Di sini, rumah tipe 27/72 masih terjangkau sekitar Rp141 juta.

Sedangkan kawasan Perumahan Twins City di Tajurhalang, Bogor, seluas 40 hektar berjarak sekitar 9 km ke Stasiun Bojonggede, masih tersisa beberapa unit rumah subsidi dari total sebanyak 160 unit. “Akses semakin terbuka sehingga harga pun naik, saat ini harga mulai Rp250-300 jutaan,” kata Fahrul Roji, Direktur Utama PT Kembar Intiland. Perumahan Sentra Tajur Halang pun kini beralih ke real estat dengan kisaran harga Rp395 juta. [Pius Klobor]

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Sentul sudah lama diprediksi bakal berkembang. Kini, dengan dibangunnya LRT makin mengkokohkan kawasan ini sebagai kota mandiri di luar Bogor.

Sejak awal tahun 2000-an, Sentul sudah disebut-sebut bakal menjadi daerah yang berkembang sebagai imbas dari melebarnya properti hunian dari Bogor. Perkembangan properti hunian di Bogor sudah tidak memungkinkan lagi ke tengah Kota Bogor, tetapi akan melebar ke kawasan yang terletak antara Jakarta dan Bogor. Melesatnya nama Sentul ditandai dengan dibangunnya kota mandiri Sentul City yang memiliki lahan seluas 14 ribu hektar. Yang kemudian diikuti pengembang lainnya membangun properti hunian di Sentul.
Tentu melesatnya Sentul ditopang oleh infrastruktur yang sudah terbangun yaitu tol Jagorawi. Inilah akses utama yang menghubungkan Jakarta-Bogor, selain jalur commuter line. Seperti diungkap Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch, Sentul yang kini menjelma menjadi kawasan modern tidak lepas dari keberadaan jalan Tol Jagorawi dan rencana infrastruktur lainnya.
Ali tidak menampik bahwa perkembangan properti di Bogor termasuk di Sentul tidak secepat dan semasif seperti di Serpong atau bahkan di Bekasi karena pembangunan infrastrukturnya lebih lambat dibandingkan dua daerah tersebut. Tetapi dengan mulainya pembangunan LRT (light rail transit), kawasan antara Bogor-Jakarta, seperti Sentul akan kembali menggeliat. “Nanti jika LRT sudah beroperasi, tentu kawasan ini akan semakin berkembang pesat,” ujar Ali.
Sentul City, yang disebut-sebut bakal menjadi tempat stasiun LRT, tentu menyambut antusias dibangunnya jaringan LRT yang melewati Sentul City. “Pembangunan LRT akan mempercepat pertumbuhan Sentul City sebagai Kota Mandiri dan sekaligus menggerakan banyak investasi baru di kawasan Sentul City,” ujar Keith Steven Muljadi, Presiden Direktur PT Sentul City Tbk.

Tentu bukan hanya Sentul City yang bakal menikmati hadirnya LRT yang melewati Sentul. Ada perumahan Mutiara Sentul yang masih memasarkan tipe-tipe terbarunya. Sentul Alaya yang dikembangkan PT Karya Bintang Gemilang, berdiri di atas lahan seluas 110 hektar di dalam kawasan Sentul City. Vivo Sentul dengan luas 17 hektar yang dikembangkan Megapolitan Development. Masih ada perumahan-perumahan lainnya, yang siap ambil untung dari hadirnya LRT.
Komersial Area
Sentul City, seperti juga BSD City di Serpong, yang menjadi jangkar pengembangan kawasan Sentul, tidak hanya penyediakan hunian tetapi juga kawasan komersial, bisnis, belanja dan wisata. Perpaduan ini yang menjadikan Sentul City menjadi icon di kawasan Sentul. Sentul telah memiliki Sentul International Convention Center sebagai salah satu gedung konvensi terbesar, semakin diramaikan dengan hadirnya pusat-pusat perbelanjaan baru.
Pembangunan central business district (CBD) pertama seluas 30 hektar. Pada tahap awal, dibangun superblok Centerra seluas 8.8 hektar yang menelan investasi Rp 2,8 triliun. Kawasan Centerra juga akan dilengkapi dengan office tower, hotel Aeon Mall seluas 103.000 m2 yang direncanakan mulai beroperasi  tahun 2018 mendatang, serta menara Universitas Trisakti. “Centerra akan menjadi superblok terintegrasi yang menyatukan konsep kerja, hidup dan bermain,” ujar Andy Natanel, Wakil Presiden Direktur PT Sentul City Tbk.


Keberadaan berbagai fasilitas di Sentul City ini nampaknya menjadi kemudahan bagi Sentul Alaya menawarkan ruko Harmony Park 2 lantai (95/61,5 m2) sebanyak 38 unit dengan harga mulai Rp1,6 miliar. Vivo Sentul saat ini sedang mengerjakan proyek perniagaan yaitu Galleria Mall Vivo Sentul dan Ruko Bizpark seluas 7,3 hektar. Galleria Mall ditargetkan mulai beroperasi di tahun 2018. “Ada tiga konsep pernigaan di Galeria ini, yaitu Galleria Kiosk yang menghadirkan trade center dalam lingkungan pusat perbelanjaan premium. Pusat perbelanjaan dan ritel modern Vivo Mall, juga area kuliner al fresco dining Vivo Walk,” terang Radian Wena Wahyudi, Director – Head of Business Unit Bogor dan Karawaci.
Tidak hanya itu, tempat rekreasi dan permainan anak-anak juga menjadi daya tarik tersendiri bagi kawasan Sentul. Lokasinya yang tidak jauh dari Jakarta membuat Sentul menjadi pilihan favorit warga Jakarta dan sekitarnya untuk bermain bersama keluarga. Ada Jungleland yang merupakan salah satu obyek wisata dan rekreasi untuk anak-anak. Ada pula Eco Art Park Sentul yang menjadi tempat bersantai sekaligus belajar sains bagi anak-anak. Wisata kuliner yang juga nampaknya punya daya tarik tersendiri, seperti di Pasar Ah Poong yang terkenal dengan keunikannya.
Hunian
Berbagai sarana dan fasilitas yang dikembangkan termasuk keberadaan area-area komersial tentu menjadi magnet bagi konsumen. Megapolitan Development menerapkan strategi ini melalui pengembangan kawasan bisnis, menyusul pengembangan hunian tapak dan vertikal. Respon penjualan komersial yang cukup baik ini tentunya menjadi angin segar untuk segera pula mematangkan konsep hunian yang akan ditawarkan.  
“Unit residensial belum bisa kami pasarkan karena masih dalam tahap pematangan konsep,” ucap Desi Yuliana, Director of Sales And Marketing Megapolitan Development. Namun demikian Desi memastikan tidaklah sia-sia berinvestasi di kawasan Vivo Sentul karena adanya akses tol dan stasiun LRT yang hanya berjarak 2 km.
Sementara Sentul City nampaknya kini lebih berkonsetrasi merampungkan pembangunan 4 tower apartemen (Saffron) dalam kawasan Centerra. Hunian jangkung ini menambah portofolio pengembang yang sudah lebih dahulu merampungkan Sentul Tower Apartment (STA) dalam CBD pertama itu. Adapun STA sudah terjual habis dan akan diserahterimakan Juni tahun ini. “Target market apartemen Saffron memang di atas STA,” kata Andy Natanael.
Saat ini tengah dipasarkan tower apartemen pertama, Saffron Noble sebanyak 728 unit yang terdiri atas tiga tipe, yakni suite (34,5 m2), satu kamar tidur (52,6 m2), dan dua kamar tidur (63,8 m2). Harga jualnya antara Rp600 juta hingga Rp1 miliar per unit. Penjualan tahap pertama ini sudah mencapai 70 persen. Rencananya di akhir semester I ini Sentul City juga akan meluncurkan hunian menengah Rp 300 jutaan yang juga tidak jauh dari Aeon Mall.


Sedangkan Sentul Alaya tengah merampungkan pembangunan 6 klaster hunian di area 34 hektar tahap pertama. Adapun klaster pertama Allegro merupakan rumah 1 lantai sebanyak 173 unit yang sudah 90 persen terbangun. Klaster kedua, Grandioso sebanyak 111 unit 2 lantai yang kini dalam proses pembangunan. Serta klaster ketiga, Cadenza yang direncanakan sebanyak 140 unit. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp 800 jutaan hingga di atas Rp 1 miliar. “Pertama kali kami jual di tahun 2012 dengan harga mulai Rp 400 jutaan,” kata Yenius Laoli, Sales Manager Sentul Alaya. [Pius Klobor]

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Ilustrasi - Jalur kereta api // Foto: Pius

PT Kereta Api Borneo (PT KAB) - anak perusahaan Russian Railway - kembali menegaskan komitmennya untuk merealisasikan pembangunan jalan kereta api di utara dan selatan Kalimantan Timur (Kaltim). Dua proyek yang segera digenjot tersebut, yakni Kutai Karta Negara – Kutai Timur untuk Jalur Utara dan Kutai Barat – Penajam Paser Utara, untuk Jalur Selatan.

“Prioritas kami saat ini adalah pengembangan di Jalur Selatan, yakni pembangunan pelabuhan di Buluminung, Penajam Paser Utara, yang diproyeksikan untuk penyimpanan dan pengolahan batu bara, serta kargo lainnya dengan kapasitas per tahunnya hingga 5 juta ton dan kargo lainnya hingga 1,5 juta ton,” ujar Direktur PT KAB, Sergey Kuznetsov, dalam beritanya kepada media.

Pelabuhan ini, lanjut Sergey, akan menjadi pintu masuk bagi masuknya alat-alat berat dan material yang dibutuhkan untuk pembangunan jalur KA nantinya. Untuk fase pertama, saat ini tengah dilakukan beberapa langkah seperti persiapan lahan untuk pembangunan pelaksanaan survei engineering, design, dan pekerjaan persiapan untuk memulai pembangunan.

Pembangunan pelabuhan direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2017-2018. Sedangkan pengoperasiannya direncanakan akan dimulai tahun 2019. Sementara itu, secara bersamaan juga dilakukan pekerjaan untuk Jalur Utara.

“Pemerintah setempat, melalui gubernur mendukung segera teralisasinya proyek-proyek PT KAB ini,” tegas Sergey. [Pio]