×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

MAHAL TERJUAL MURAH TERABAIKAN

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

MAHAL TERJUAL MURAH TERABAIKAN

PropertyMindGamesProperti kelas atas ternyata tidak hanya bicara perihal lokasi,
namun lebih pada status sosial, prestise, dan gengsi.

Ketika itu ada sebuah perusahaan pengembang di DKI Jakarta sedang memasarkan sebuah komplek perumahan klaster eksklusif dengan banderol harga sangat tinggi senilai Rp 10 miliar untuk sebuah rumah 2 lantai dengan luas lahan sekitar 500 m2. Hal ini masih wajar bila lokasinya masih berada di dalam kota dengan harga tanah yang tinggi. Memang lokasi proyek tersebut terbilang masih termasuk wilayah elit, meskipun harga tanah belum setinggi pusat kota.

Tidak disangka dalam waktu 1 bulan, telah terjual 28 unit dari 30 unit yang dipasarkan. Sangat luar biasa. Terlepas dari strategi marketing yang diterapkan, ternyata properti rumah dengan harga Rp 10 miliar mempunyai peminat yang sangat banyak di kalangan atas. Apa yang akan mereka lakukan terhadap rumah tersebut? Sekedar membeli karena kelebihan uang, investasi, atau untuk ditinggali? Semuanya kembali dengan jawaban bahwa apapun motifnya, properti akan mencerminkan status sosial mereka.

Dengan tanggapan pasar yang sangat baik, pengembang tidak mau kehilangan momen dengan segera mengembangkan proyek serupa yang kebetulan persis bersebelahan dengan proyek lama. Kali ini mereka membangun dengan ukuran yang lebih kecil dengan mematok harga Rp 5 miliar untuk sebuah unit rumah. Permintaan pasar pada proyek sebelumnya sangat tinggi, apalagi bila harganya lebih murah, pasti habis dalam sekejap, begitu pikir pengembang.

Satu bulan berjalan....Dua bulan berjalan. Tanda tanya besar. Penjualan tidak juga menunjukkan tren yang baik. Dari 50 unit yang direncanakan, baru terjual 8 unit, itupun dengan effort yang sangat keras dari pemasaran, dengan discount dan gimmick yang bertaburan. Apa yang sedang terjadi di pasar?

Pengembang segera melakukan survei persaingan yang ternyata juga tidak ada pesaing sejenis di pasar. Apakah pasar di segmen ini telah habis? Namun kayaknya tidak masuk akal bila kalangan atas di Jakarta hanya berjumlah 28 orang yang sudah membeli unit rumah sebelumnya.

Di awal pembangunan proyek, sempat saya diajak berdiskusi mengenai potensi proyek eksklusif tersebut dan sempat saya ingatkan masalah prestise yang merupakan roh untuk properti kelas atas. Prestise berdekatan dengan kata gengsi.

Apa yang dilakukan oleh pengembang dengan merubah ukuran lebih kecil sepertinya masuk akal untuk memperbesar pasar konsumen. Namun ternyata pasar melakukan penolakan dan logika pasar khususnya untuk kelas atas sering terbalik-balik. Diperkirakan pasar kalangan atas ‘yang lain’ tidak mau membeli rumah, jika di sebelahnya terdapat rumah dengan harga yang lebih tinggi dari yang dia beli. Masa sih membeli rumah yang lebih murah! Gengsi dong!

Malah untuk properti kelas atas, semakin mahal semakin dicari karena akan menaikkan prestise dan gengsi! Tidak percaya? (Jkt,15/10/2015)

You have no rights to post comments