NEVER TOO LATE

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Ronny Wuisan, Host Property SMARTALK

"Carilah pekerjaan yang paling Anda cintai, karena jika Anda mencintai pekerjaan itu, maka sejujurnya Anda tidak perlu bekerja lagi. Anda akan melalui hari-hari Anda dengan sangat enteng tanpa terbebani oleh pekerjaan tersebut."

Saat ini saya masih membangun. Umur 44 tahun dan hampir memasuki masa senja. Anak-anak masih kecil dan istri saya bisa memaklumi, jadi itu adalah harga yang harus saya bayar. Never too late. Mari kita memulai apa yang harus kita lakukan. Dan memang harus ada pengorbanan.

Gaya bicaranya tegas, lugas, dan begitu bersemangat. Bahkan tak jarang dia harus menyampaikan pendapatnya itu sembari berdiri, meski tidak sedang mempresentasikan sebuah materi atau memberi motivasi. Talent sebagai public speaker terasa kental ada didirinya. Meski terbilang baru di jagad properti, namun kepiawaiannya berbicara dengan segudang pengetahuan yang telah dimilikinya, menjadi modal kuat menekuni pekerjaannya. Karir barunya kini berangkat dari kegalauan pria 44 tahun ini melihat sederet persoalan yang mengitari bisnis properti di tanah air.

Ronny adalah satu diantara beberapa pelaku bisnis properti yang akhirnya menemukan hasrat bisnisnya di bidang ini. Sebelumnya, Ronny yang lulusan Manajemen Perhotelan dari Les Roches International School, Swiss ini telah bekerja di beberapa Hotel di Eropa, semasa kuliah hingga tahun 1995 silam. Selanjutnya, sekira 15 tahun dia bergelut di beberapa perusahaan multinasional berbasis produk fast moving consumer goods (FMCG), seperti di Nestle Indonesia dan Danone Aqua Indonesia.

“Saya belajar manajemen perhotelan di kampus, tapi saya bisa memeroleh banyak pengetahuan di luar, seperti pengalaman di perusahaan saya bekerja,” kisah Ronny dalam percakapannya dengan Property and The City, medio Mei 2016 lalu.

Rupanya pria kelahiran Surabaya, 5 Mei 1972 ini sudah banyak belajar bagaimana membangun jaringan dan komunikasi, belajar menjadi penjual andal, hingga ilmu marketing di beberapa perusahaan yang dia singgahi. Bahkan kini dia tak sungkan membagi tips dan motivasinya kepada banyak orang, sebagai seorang entrepreneur dan konsultan properti.

Ubah Mindset

Properti adalah bisnis kepercayaan. Ronny mengingatkan, terutama para developer baru agar intens membangun kepercayaan kepada agen dan konsumen. Caranya, sebut Ronny adalah terlebih dahulu membangun strategi marketing ketimbang memikirkan penjualan produk. “Hanya marketing yang bisa membuat konsumen menentukan pilihan ke Anda. Karena di situ, Anda memberikan penjelasan pada sebuah pertanyaan yang paling fundamental pada saat konsumen harus mengambil sebuah keputusan. Kenapa konsumen harus membeli produk Anda. The reason why? Dan itu tidak bisa dilakukan seorang sales, hanya bisa dilakukan orang marketing,” jelas Ronny.

Marketing dan sales adalah dua dunia yang berbeda. Menurut Ronny, marketing adalah jantung dari sebuah perusahaan. Marketinglah yang akan memberikan perbedaan sebuah produk maupun proyek di mata konsumen. Sementara sales adalah prajurit yang siap mengeksekusi penjualan di lapangan. Dengan demikian, kesalahan sepenuhnya tidak berada di seorang sales ketika penjualan perusahaan sedang turun. Terbukti, banyak developer yang bertahun-tahun hanya mengandalkan sales, tetapi mandek juga.

“Saya seorang sales tetapi percaya dengan marketing. Sales adalah tentara, tapi marketing adalah jantung dari sebuah usaha. Makanya ubahlah cara pikir Anda, ubahlah paradigma Anda, ubahlah konsep manajemen Anda menjadi perusahaan marketing,” kata Ronny.

Ronny juga menyarankan agar para pekerja marketing harus bisa meninggalkan strategi lama yang hanya bermain di pusaran harga dan cara bayar. Meski tidak dipungkiri kedua hal tersebut tetap menjadi strategi menarik namun lebih mengedepankan keunikan sebuah produk maupun proyek yang akan ditawarkan. “Anda harus punya unique selling proposition (USP). Setiap produk pasti mempunyai USP. Bahkan Anda bisa membuat suatu perbedaan di suatu barang yang paling komoditas. Salah satunya adalah servis termasuk hingga after sales,” jelasnya.

Menurut dia, banyak developer yang masih mengandalkan feeling bahkan secara instan dalam menawarkan sebuah produk. Padahal butuh sebuah proses, terutama melalui riset dan penelitian pasar sebelum produk mulai ditawarkan ke khalayak. “Jadi tidak ada jalan pintas atau keajaiban di dunia marketing atau sales. Harus ada proses untuk dapat menjual suatu produk.”

Passion di Properti

Bagi Ronny, properti bukanlah dunia yang asing, meski dia baru benar-benar terjun dan bekerja di sebuah perusahaan properti nasional, pada Januari 2015 lalu. Sebelumnya, Ronny sudah cukup intens menjalin komunikasi dengan para pelaku dan broker properti, terutama dalam wadah Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI). Ronny yang juga Pengurus DPP AREBI tersebut pun pernah dipercaya sebagai Ketua Panitia Real Estate Summit 2015 lalu.

“AREBI ini adalah awal langkah saya masuk ke dunia properti. Dari situ akhirnya saya benar-benar terjun dan bekerja di perusahaan properti,” katanya. Sejak saat itu, Ronny pun menikmati pekerjaannya yang dibilangnya sebagai sebuah passion. “Di sinilah saya menemukan passion terbaru saya. Saya bisa memberikan kontribusi lebih dari pengalaman dan cara pandang yang saya bawah dengan cara metodologi consumer goods di dunia properti,” terang anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Menurut Ronny, antara dunia properti dan consumer goods memiliki beberapa kesamaan prinsip, dan cara kerja, terutama di bidang sales dan marketing. Meski demikian, diakuinya bahwa consumer goods jauh lebih maju dalam hal brand management, brand communication, public relations-nya. “Kalau kita lihat, produk consumer goods tersebar hingga ke berbagai pelosok Indonesia. Dengan demikian sehingga strategi komunikasi, manajemen, maupun implementasinya lebih masif. Sementara properti lebih bersifat lokal, sehingga komunikasinya pun lebih terbatas di suatu wilayah saja. Jarang sekali sebuah produk properti di Serpong kemudian komunikasinya sampai ke seluruh Indonesia.”

Kini, Ronny telah memutuskan untuk berkecimpung di dunia properti yang sudah sangat dicintainya. Dia bertekad untuk terus berkiprah membantu banyak orang, terutama para developer dan konsumen properti. “Jadi ini adalah, passionate. Saya sangat bersemangat bekerja di bidang ini,” tegasnya.

Panggilan Hati

Meski cukup nyaman menjalankan tugasnya sebagai Associate Director of Sales di sebuah perusahaan properti nasional, namun lagi, panggilan hatinya untuk kembali menjadi entrepreneur. Sekitar setahun terjun langsung dan menjalankan bisnis properti, dia pun beralih dan terlibat dalam sebuah rencana bisnis sebagai terobosan baru di bidang properti, memanfaatkan kemajuan teknologi saat ini. Namun lagi, niat besarnya untuk dapat membantu secara langsung para developer, broker, maupun konsumen, menggodanya kembali ke khittah.

Sejatinya pilihan entrepreneur sudah sejak lama diimpikannya. Selama 15 tahun bekerja sebagai karyawan dengan income yang relatif stabil menumbuhkan hasrat berwirausaha. Tahun 2010 lalu, Ronny pernah membangun dan menjalankan sebuah usahanya sendiri. Investasi besar pada bisnis barunya itu harapnya membawa keuntungan besar pula. Namun, coretan hitam di atas kertas rancangannya itu berbanding terbalik pada kenyataan di lapangan. Jauh panggang dari api, kenyataan tak sesuai dengan harapan. Niat Ronny menjadi seorang entrepreneur kala itu pun pupus, setelah lebih dari dua tahun menjalankan bisnisnya tersebut.

“15 tahun saya bekerja sebagai karyawan, dengan income yang stabil. Saya ingin menjadi entrepreneur. Saya bangun sebuah bisnis dengan investasi besar, tapi akhirnya semakin turun dan turun. Mengambil keputusan untuk menghentikannya itu berat sekali,” kisah Ronny.

Kegagalan itu memang pahit, tetapi bagi Ronny menjadi sebuah pengalaman berharga untuk bangkit dari keterpurukan tersebut. Ronny tak lantas berhenti mewujudkan ambisinya menjadi seorang entrepreneur. Bahkan dia tak segan mengumbar sosok Ir Ciputra sebagai tokoh inspiratif yang membangun kerajaan bisnisnya dari nol dengan penuh pengorbanan. Bagi dia, Ciputra adalah developer mapan yang sudah sangat berhasil membangun track record-nya dengan brand yang mendunia. “Kekuatan dari Ciputra Group adalah brand. Jadi aset paling mahal dari Ciputra Group, bukan di propertinya tapi the brand. Ciputra itu sudah seperti sekolahnya properti,” ucapnya bersemangat.

“Jadi memang harus ada pengorbanan, sebagaimana kalau kita lihat seorang CEO perusahaan besar, pengorbanannya pasti sangat luar biasa. Saya pun tentu punya rencana terhadap beberapa bisnis baru,” Ronny menambahkan.

Ronny memang ingin lebih mandiri, berdiri di atas kakinya sendiri, dengan caranya sendiri pula untuk mewujudkan niat mulianya itu. Menjadi entrepreneur bagi dia, tidak sebatas hanya mendirikan sebuah usaha dan menjalankannya. Lebih jauh, Ronny memandang bahwa entrepreneur adalah sebuah pilihan mulia untuk dapat membantu lebih banyak orang. Maka pilihannya kini pun terbilang jauh dari prediksi banyak orang. “Saya jalankan saja. Saya sudah putuskan menjadi misi saya untuk membantu sebanyak mungkin orang dengan pengetahuan, network, dan skill saya,” kata Ronny.

Ronny Wuisan, yang sebelumnya juga bergabung di perusahaan IT yang mengembangkan aplikasi properti PROJEK, memilih untuk menjadi host, pembawa acara di sebuah stasiun televisi swasta nasional bertajuk “Property Smart Talk” – acara diskusi bisnis properti yang menampilkan CEO dan pucuk pimpinan developer properti nasional. Acara yang tayang perdana pada Jumat, 3 Juni 2016 lalu ini menjadi pekerjaan baru yang digeluti oleh ayah dua anak ini. “Di sini diskusinya lebih smart, sharp dan intelektual. Jadi di acara ini kita bisa mengenal sebuah developer properti beserta pemimpinnya, apa yang sudah dikerjakan, juga produk-produknya,” jelas Ronny.

Ronny memandang bahwa saat ini banyak konsumen dan broker properti yang sudah semakin kritis, sehingga sebelum membeli, mereka ingin tahu siapa developer properti, siapa team utamanya, apa yang sudah dikerjakan, dan kenapa mereka bangun proyek tersebut. “Jadi pembeli dan broker ingin dapat Informasi yang lengkap. Saya buat acara talkshow dan semuanya dijawab di acara ini,” tegasnya.

Ronny berharap melalui acara yang dipandunya sekira satu jam itu bisa membantu para developer properti untuk melakukan komunikasi marketing dengan lebih smart, sharp dan intelektual dan juga affordable. Lebih dari itu, dia pun berharap agar melalui acara tersebut dapat pula membantu pasar properti nasional untuk bisa segera bangkit. “Pada akhirnya semua ini saya lakukan karena ingin bantu developer properti. Semoga properti nasional juga bisa segera bangkit dengan memberikan edukasi dan informasi yang tepat dan menarik,” kata Ronny mengakhiri obrolan. [pius klobor] 

You have no rights to post comments